Olwen di Pantai Tanjung Pendam, Tanjung Pandan, Belitong
Olwen di Pantai Tanjung Pendam, Tanjung Pandan, Belitong.


  

 

 

“Di tengah angin senja yang mendesak, aku merasakan kekuasaan waktu,

yang tanpa pandang bulu mengubah segalagalanya.”

—Seno Gumira Ajidarma—

 

 

 

 

 

Dalam bingkai sisa matahari terbenam, Yunis tiba di Pantai Tanjung Pendam. Hitungannya transit sebentar sebelum kembali ke hotel usai seharian menyambangi beberapa tempat di Belitong Timur. Berada di pusat kota, di Jalan Kemuning, Desa parit, Tanjung Pandan. Area pantai ini berbayar, Rp.3000,- rupiah tiket masuk perorang, dan Rp.5000,- rupiah untuk tiket masuk kendaraan roda empat. Sebetulnya pantai ini terlihat dengan jelas dari pinggir jalan dengan tembok dan pagar besi sebagai pembatas.

 

Pantai Tanjung Pendam, Belitong
Dok pribadi - Penanda Pantai Tanjung Pendam, Belitong.

Lampulampu penerangan membiaskan cahaya menghias area parkir yang cukup luas dan tetaman. Dalam jarak pandang terbatas, Yunis bisa melihat area panggung hiburan yang kosong, deretan kios yang telah tutup—menurut Pak Sugeng, merupakan kios pasar seni yang menjual beragam karya seni lukis dan cinderamata khas Belitung—tempat makan, serta fasilitas peribadatan.

 

Senja syahdu di Tanjung Pendam, Belitong
Dok pribadi - Senja syahdu di Tanjung Pendam, Belitong.

Jika anda ingin merasakan pengalaman lengkap menikmati segala fasilitas dengan aktivitas out door/olahraga—bersepeda, sepatu roda, dan mobil mini—melihat langsung seniman melukis, dan lain sebagainya, anda bisa datang di siang hari. Namun untuk panggung hiburan dan acara kesenian khas Belitung hanya ada pada waktuwaktu tertentu saja.

 

Meski senja hampir usai berganti malam, beberapa pengunjung terlihat betah berlamalama menikmati suasana. Pada pergantian waktu terang gelap, lanskap pantai syahdu menyentuh kalbu. Jadilah penawar lelah menutup perjalanan hari ini. Selamat malam Tanjung Pendam, terima kasih untuk kehangatan ini.yk[]

 


Yunis Kartika dan sisa senja di Pantai Tanjung Pendam, Belitong
Foto by Pak Sugeng - Yunis Kartika dan sisa senja di Pantai Tanjung Pendam, Belitong.
  

 

 

“Aku melintasi kehidupan dan kala. Aku berlayar menembus senja.

Kuberanikan diri menulis untuk mengabadikan momen hidup dalam lembaran kertas.”

—Iwan Setyawan—

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PS : sila menulis komentar, membagikan, atau meninggalkan alamat web/blog-nya untuk bertukar sapa dan saling mengunjungi. Terima kasih sudah mampir ^_^

 

 

3Some Travelers di Pantai Tanjung Tinggi Belitong
3Some Travelers di Pantai Tanjung Tinggi Belitong.


  

 

“Pada pasir membekas jejak | mungkin jejakmu.”

—Wayan Jengki Sunarta—

 

 



 

Dalam Film Laskar Pelangi, terdapat adegan yang mengambil lokasi syuting di Pantai Tanjung Tinggi. Dimana untuk pertama kalinya penonton diberikan informasi tentang apa yang melatarbelakangi panggilan “Laskar Pelangi”. Sebuah panggilan yang diberikan oleh seorang guru bernama Bu Mus kepada 10 orang muridmurid peyuka pelangi yang kala itu tengah menghabiskan waktu bermain bersama di Pantai Tanjung Tinggi. Adegan berdurasi singkat ditutup dramatis bertepatan dengan para murid memandang pelangi membingkai pantai. Booming-nya film Laskar Pelangi berdampak positif pada tempattempat yang dijadikan lokasi pengambilan gambar film tersebut, termasuk Pulau Belitung sendiri. Tugu pengingat momen tersebut bahkan dibangun di sini menjadi ikon kebanggaan.

 

3Some Travelers dan pantai tanjung tinggi belitong
Dok 3Some Traveler - Pantai dengan bebatuan besar, pasir putih, dan ombak jinak.

Pantai Tanjung Tinggi adalah pantai yang diapit oleh dua semenanjung, yaitu Tanjung Kelayang dan Tanjung Pendam. “Tanjung” berarti semenanjung atau daerah yang menjorok ke laut, dan “Tinggi” berarti pantai yang memiliki bebatuan yang tinggitinggi. Letaknya tidak jauh dari Pantai Tanjung Kelayang dan berjarak sekitar 31 km dari kota Tanjung Pandan. Sehubungan pantai ini pernah dijadikan lokasi syuting film Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi, sehingga penduduk setempat dan para wisatawan sering menyebutnya sebagai “Pantai Laskar Pelangi”.

*Dari berbagai sumber

 

Saya tiba sekitar pukul 14.00 waktu setempat dengan cuaca yang sangat cerah ke panas. Tidak banyak orang melakukan kegiatan bermain air, kebanyakan wisatawan lebih memilih menapaki bebatuan dan mendokumentasikannya. Pantai dengan bebatu besar, pasir putih, dan ombak yang jinak, sebetulnya mengoda saya untuk menceburkan diri berenang. Namun, saya memilih untuk tidak nantang sengatan matahari yang akan menggosongkan kulit, xoxoxo

 

Berbagai penanda di Pantai Tanjung Tinggi Belitong
Dok 3Some Travelers - Berbagai penanda di Pantai Tanjung Tinggi Belitong.

3Some Travelers dan batu Pepaya di pantai tanjung tinggi
Foto by 3Some Travelers - Icky dengan latar batu Pepaya.

Sejak awal memasuki area pantai, sekumpulan batu besar menarik perhatian. Serupa pepaya tersusun dalam formasi berdiri menjulang, oval berbalut lumut hijau kecoklatan. Di pantai ini, penduduk menamai bebatuannya sesuai tingkat kemiripan terhadap suatu objek, misalnya batu pepaya, batu kodok, batu gantung, batu bakpao, batu bebek, dan lain sebagainya.

 

Beragam bentuk bebatuan besar yang tersebar di Pantai Tanjung Tinggi Belitong
Dok 3Some Travelers - Beragam bentuk bebatuan besar yang tersebar di Pantai Tanjung Tinggi Belitong.

Tak perlu khawatir perut keroncongan, di sini terdapat warungwarung yang menawarkan ragam makan aneka hidangan laut ataupun makanan ringan sebagai camilan. Fasilitas penunjang lainnyapun cukup lengkap. Papan dengan tulisan “Free WiFi” berdiri tegak di tengah area, terdapat pula sewaan pelampung, serta alas duduk.

 

warungwarung di pantai tanjung tinggi belitong
Dok 3Some Travelers - Warungwarung dengan aneka hidangan siap memanjakan perut kita.

Seolah menjadi bagian dari sebuah peristiwa fiksi emosional yang terjeda beberapa waktu lamanya, saya merasai pasukan Laskar Pelangi tengah menghabiskan waktu di Pantai Tanjung Tinggi. Nyatanyata Riri Riza berhasil menghidupkan para tokoh melalui filmnya. Jejakjejak Laskar Pelangi masih tertinggal dan hidup dengan kesan mendalam.yk[]

 


Yunis Kartika/3Some Travelers di Pantai Tanjung Tinggi Belitong
Foto by Icky - Yunis Kartika/3Some Travelers di Pantai Tanjung Tinggi Belitong.
 

 

“Dengan sajak kutitipkan rindu |

laut pada pantai yang menggaramkan buihnya.”

—Jamal T. Suryanata—

 

 

 

 



 

 

 

PS : sila menulis komentar, membagikan, atau meninggalkan alamat web/blog-nya untuk bertukar sapa dan saling mengunjungi. Terima kasih sudah mampir ^_^

 

Pantai Tanjung Kelayang Belitong
Dok pribadi - Olwen di Pantai Tanjung Kelayang Belitong.

  

 

“Kenal akan keindahan dan sanggup menyatakan keindahan itu 

kepada orang lain,  adalah bahagia.”

—Buya Hamka—

 

 

 

 

Masih berada di Kecamatan Sijuk, perjalanan bergerak menuju Pantai Tanjung Kelayang. Pantai yang merupakan tempat persinggahan sebelum berkeliling menjelajahi pulaupulau kecil di sekitarnya atau biasa disebut island hopping. Hari ini kami tidak berencana untuk melakukan kegiatan tersebut, karena datang terlalu siang. Ditambah rinai tipis—namun cukup membuat basah—menyelubungi wilayah pantai. Anggap saja jajal suasana untuk besok kami datang kembali dan mempersiapkan kirakira apa yang harus kami kenakan atau bawa.

 

Suasana Pantai Tanjung Kelayang Belitong
Dok pribadi - Suasana Pantai Tanjung Kelayang Belitong.

Lokasi wisata Pantai Tanjung Kelayang cukup luas, bersih dan terawat. Bangunan dan sarana penunjang kebutuhan wisatawan seperti mushola, toilet, warung jajanan, penginapan, dan gerai oleholeh dibangun dengan sangat memadai. Terdapat lahan lapang—semacam amphitheater—dengan cat warnawarni yang menjadi pusat aktivitas seni budaya pada harihari tertentu atau hari besar. Papanpapan informasi mengenai geosite Pantai Tanjung Kelayang dan pulaupulau sekitarnya berjejer rapih serta sangat informatif.

 

pantai tanjung kelayang
Dok pribadi - Perahuperahu yang siap mengantar anda island hopping.

Pantai Tanjung Kelayang
Dok pribadi - Dermaga kayu untuk menambatkan perahuperahu.

Jadi, granit penyusun Pulau Belitung berumur Tria (213 s.d 248 juta tahun). Granit adalah batuan beku dalam (plutonik) yang mempunyai kristalkristal kasar, terjadi dari hasil pembekuan magma berkomposisi asam pada kedalaman tertentu dari permukaan bumi. Granit umumnya bersifat masif dan keras, berpori, terdiri atas mineral kuarsa, ortoklas, plagioklas, biotit, dan hornblende. Berwarna abuabu berbintik hijau dan hitam, kehijauhijauan dan kemerahmerahan. Granit yang berbentuk bongkahan terjadi akibat pengaruh proses pelapukan dan erosi pada retakanretakan bebatuan granit yang terisi oleh air dan panas matahari.

 

Batu granit berumur jutaan tahun yang lalu tidak begitu saja terbentuk, tetapi melewati berbagai proses. Dikatakan dalam ilustrasi bahwa proses pembentukan bongkahan granit dibagi menjadi tiga tahapan, yaitu pertama, batuan granit mengambang sebagai respon terhadap tekanan dan retakan akibat gaya dari dalam bumi (endogen). Kedua, pelapukan di dalam batuan granit dikendalikan oleh rekahan antar batuan, air hujan, dan panas matahari. Ketiga, erosi pada granit yang lapuk menyebabkan inti batu terekspos menjadi bongkahan granit.

*informasi didapat langsung dari geosite Pantai Tanjung Kelayang


Pantai Tanjung Kelayang sendiri memiliki karakteristik pantai berpasir putih dengan laut cenderung tenang berwarna biru jernih. Pepohon kelapa menjadi dekorasi indah di sepanjang pesisir pantainya. Jika hari cerah, pantai ini menjadi tempat yang tepat untuk menanti matahari terbenam sambil bermain air, atau duduk ditemani kopi di warung sekitar. Angin mengibas, rinai pun telah berhenti. Kami beranjak kembali dengan doa; semoga besok cerah, sebab ada pulaupulau kecil yang ingin kami sambangi dengan perahu.yk[]

 



Yunis Kartika di Pantai Tanjung Kelayang Belitong
Foto by Icky - Yunis Kartika di Pantai Tanjung Kelayang Belitong.


 

“Pergilah ke luar di tengahtengah keindahan alam yang sederhana,

 dan ketahuilah bahwa selama tempattempat seperti ini ada,

akan ada kenyamanan bagi setiap kesedihan. Apa pun kondisinya.”

—Anne Frank—

 

 

 




 

 

 

PS : sila menulis komentar, membagikan, atau meninggalkan alamat web/blog-nya untuk bertukar sapa dan saling mengunjungi. Terima kasih sudah mampir ^_^

 

 

Penanda masuk Kawasan Permukiman Nelayan Tanjung Binga Belitung
Dok pribadi - Penanda masuk Kawasan Permukiman Nelayan Tanjung Binga, Belitung.


  

 

“Para nelayan tahu bahwa laut itu berbahaya dan badai itu mengerikan.

Tetapi, mereka tidak pernah menemukan bahaya untuk alasan bertahan di darat.”

—Vincent Van Gogh—

 

 


 

 

Dari pantai Bukit Berahu, kami—Yunis, Icky, dan Pak Sugeng—mampir ke Kawasan Permukiman Nelayan Tanjung Binga yang letaknya memang berdekatan. Pak Sugeng bilang, kalau permukiman nelayan ini dihuni tidak lebih dari 100 kepala keluarga yang mayoritas merupakan pendatang dari beberapa tempat di Indonesia terutama dari Sulawesi, dan setelah beberapa lama ada juga pendatang yang kawin mawin dengan orang lokal.

 

Kawasan Permukiman Nelayan Tanjung Binga Belitung
Dok pribadi - Suasana pantai di Kawasan Permukiman Nelayan Tanjung Binga, Belitung.

Mayoritas kegiatan harian masyarakat kampung adalah menangkap ikan—kebanyakan jenis ikan Lais—kemudian mengolahnya menjadi ikan asin. Oleh karena itu, kawasan ini dikenal sebagai penghasil ikan asin terbesar di Belitong. Biasanya hamparan ikan dijemur menjadi salah satu pemandangan unik memikat. Namun harihari belakang dengan cuaca tak menentu membuat nelayan tidak melaut. Hingga hampir tak ada ikan untuk diolah menjadi ikan asin. Menyisakan jemuran ikan dari persedian sebelumnya yang juga tak banyak.

 

Sudah hampir tengah hari, cuaca tergolong adem dengan angin bertiup kencang. Tak ada tandatanda matahari akan meninggi, muncul sekelebatan kemudian tertutup awan lagi. Yunis dan Icky berjalan menuju dek tempat perahuperahu nelayan ditambatkan. Dua orang nelayan yang tengah sibuk dengan perahunya melirik kami. “Mau keliling pulau pak?” tanya salah seorang kepada kami. “Sewa perahu berapa pak? Bisa ya dari sini keliling pulau?”, jawab Yunis balas bertanya. “Perahunya tidak dipakai melaut?”, Icky ikut bertanya. “Cuaca sedang ekstrim. Angin kencang, jadi tidak bisa melaut.”, jawab seorang nelayan berkaos putih.

 

Kawasan Permukiman Nelayan Tanjung Binga Belitung
Dok. pribadi - Icky tengah berbincang dengan salah seorang nelayan di Kawasan Permukiman Nelayan Tanjung Binga.

Kawasan Permukiman Nelayan Tanjung Binga Belitung
Dok pribadi - Perahuperahu nelayan di Kawasan Permukiman Nelayan Tanjung Binga, Belitung.

Rupanya jika tidak bisa melaut, perahuperahu penangkap ikan tersebut disewakan kepada pelancong untuk dipergunakan kegiatan keliling pulaupulau kecil atau biasa disebut hopping. Besaran biaya yang dikenakan untuk menyewa satu buah perahu adalah Rp.500.000,- dengan durasi waktu sekitar 3 – 6 jam. Tidak ada perbedaan harga sewa antara hari biasa dengan hari libur, para nelayan ini siap mengantar anda berkeliling dengan suka cita. Dari kampung nelayan ini dapat terlihat pulaupulau kecil, seperti pulau lengkuas, pulau burung dan pulaupulau kecil sekitarnya.

 

Sejauh mata memandang, perahuperahu nelayan mengapung di tepi pantai, tertambat pada pancangpancang tiang dan berjajar di sekitar dek. Angin bertiup semakin kuat, kami pun berpamitan pada kedua nelayan yang tak terusik dengan kehadiran kami. Dengan senyum ramah, mengangguk membalas salam kami, kemudian menekuri kembali perahunya.yk[]

 



Yunis Kartika di Kawasan Permukiman Nelayan Tanjung Binga Belitung
Foto by Icky - Yunis Kartika di Kawasan Permukiman Nelayan Tanjung Binga, Belitung.


 

 

“Di sini baru aku mengerti,

kenapa nelayan membelah perahunya menjadi kayu api

dan mengiris pukatnya untuk sarapan pagi.”

—Awang Abdullah—

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PS : sila menulis komentar, membagikan, atau meninggalkan alamat web/blog-nya untuk bertukar sapa dan saling mengunjungi. Terima kasih sudah mampir ^_^

 

 
sepatusepatuyunis di pantai bukit berahu
Olwen di Pantai Bukit Berahu, Belitung Utara.


  

 

“Hidup tak hanya senyum, kembang dan kelam |

tapi juga | keringat, air mata dan laut.”

—D. Zawawi Imron—

 

 

 


 

Kalau anda berencana berlibur ke pantai dengan pemandangan indah, berpasir putih, tapi tidak menyukai keramaian alias ingin menyepi, pantai Bukit Berahu atau Berahu Hills di Belitung Utara bisa jadi pilihan yang cocok untuk anda. Pantai ini berada di balik Bukit Perahu sehingga cukup tersembunyi, dan anda harus berjalan menuruni cukup banyak anak tangga untuk tiba di bibir pantai ini.

 


pantai bukit berahu belitung utara
Dok pribadi - Suasana cottage dan tangga menuju pantai Bukit Berahu, Belitung Utara.

cottage pantai bukit berahu belitung utara
Dok pribadi - deretan rumah peristirahatan menghadap pantai.

Pantai Bukit Berahu dikenal juga dengan nama Berahu Hills, namun penduduk setempat menyebutnya dengan Pantai Tanjung Binga, karena letaknya yang berdekatan dengan Kawasan Pemukiman Nelayan Tanjung Binga. Pantai ini berada dalam hak pengelolaan istimewa sebuah resort, hampir sama dengan beberapa pantai lainnya yang pernah Yunis tulis (baca : Pantai Parai Tenggiri Yang Menghipnotis_ Edisi Olwen | sepatusepatu yunis) atau Pesona Unik De Locomotief Sungailiat_ Edisi Olwen | sepatusepatu yunis ataupun Pantai Tanjung Pesona Sungailiat_ Edisi Olwen | sepatusepatu yunis). Pantai Bukit Berahu dilengkapi dengan cottage, restoran, dan kolam renang yang semuanya menghadap ke lepas pantai.

 

pantai bukit berahu belitung utara
Dok pribadi - Bebatu granit, perahu nelayan, dan arah pantai, suasana yang cocok untuk menyepi.


pantai bukit berahu belitung utara
Dok pribadi - bebatu granit dan pasir putih.

Keistimewaan pantai ini selain yang sudah disebutkan di atas, anda dapat menikmati semua itu sambil dudukduduk di bebatuan granit yang memagari sebagian besar wilayah bibir pantai, atau selonjoran santai di pasir putihnya sambil memandang perahuperahu nelayan dari Desa Nelayan Tanjung Binga yang berderet di batas pantai. Riak tenang ombak juga sangat aman untuk bermain air. Di pantai ini anda dapat menemui matahari terbenam. Menginap dan tinggal di cottage ini opsional saja, anda tetap bisa menikmati keindahan pantai dan merasakan sepinya suasana selama anda membayar tiket masuk seharga Rp.10.000,- rupiah perorang yang bisa ditukar dengan air mineral. Oya, belilah kacang yang tersedia di resto—harganya tidak mahal—kemudian taruhlah di meja kayu yang terdapat di sekitar teras resto di bawah pepohon besar, maka anda akan dapat menyaksikan tupaitupai turun dari pohon dan memakan kacangkacang tersebut dengan menggemaskan. Tapi jangan berusaha untuk menyentuhnya ya, cukup diabadikan melalui lensa kamera.

 

pantai bukit berahu belitung utara
Dok pribadi - pasir pantai Bukit Berahu yang putih dan bersih.

Seringkali kita bepergian untuk mendapatkan perubahan suasana dan meningkatkan motivasi agar bisa beraktivitas kembali serta melanjutkan hari. Pantai bersih dan terawat yang satu ini mungkin bisa menjadi mood booster anda. Datanglah pada harihari di luar musim liburan, hanya anda, pasir putih, tupai, dan sepi.yk[]

 


Foto by Icky, Yunis Kartika di tepi pantai Bukit Berahu, Belitung Utara.


  

 

“Karena laut tak pernah takluk, lautlah aku.

Karena laut tak pernah dusta, lautlah aku.

Terlalu hampir terlalu sepi. Tertangkap sekali terlepas kembali.”

—Toto Sudarto Bachtiar—

 

 

 



 

 

 

 

 

PS : sila menulis komentar, membagikan, atau meninggalkan alamat web/blog-nya untuk bertukar sapa dan saling mengunjungi. Terima kasih sudah mampir ^_^

 

 

 

 

 

Barista Kong Djie Coffee Siburik
Dok pribadi - Kakak Barista di Warung Kopi Kong Djie Siburik Tanjung Pandan, Belitung.


  

 

“Kurang atau lebih, setiap rezeki perlu dirayakan dengan secangkir kopi.”

—Joko Pinurbo—

 

 



 

 

Lagilagi saya tertidur dalam mobil di antara perjalanan satu tempat ke tempat lainnya. Ketika Icky menepuk halus tangan saya untuk membangunkan, terdengar suara Pak Sugeng yang entah bagaimana masih saja terdengar ceria. “Sudah sampai tempat ngopi,” ujarnya seraya mematikan mesin mobil. Saya memang meminta beliau untuk mampir ke warung kopi tradisional sebelum pulang ke hotel. Saya duduk lebih tegak, menengok ke kirikanan yang sebagian besar gelap tanpa penerangan cukup seraya menggenapkan diri. Icky dan Pak Sugeng beranjak hampir bersamaan, saya pun segera mengikuti setelah meregangkan tubuh.

 

warung kong djie coffee
Dok pribadi - Papan nama warung Kong Djie Siburik dengan tekoteko tingginya yang klasik.

dekorasi figura di Kong Djie Coffee Siburik
Dok Pribadi - Dekorasi figurafigura foto di Kong Djie Coffee Siburik, Tanjung Pandan, Belitung.

Adalah warung kopi Kong Djie, tempatnya berada di ujung pertigaan Jl. Siburik, Tanjung Pandan. Salah satu warung kopi legendaris yang ada di pulau Belitung. Malam itu pengunjung di dalam warung terlihat cukup ramai, sehingga menyisakan beberapa tempat duduk saja yang berada di luar. Kami memilih tempat agak di sudut berbatasan dengan pagar tanaman.

 

Warung kopi Kong Djie tidak terlalu besar, dalam pencahayaan lampu pijar kesan padat dan jadul kental terasa. Pada dinding berwarna kuning, coklat, dan putih lusuh, figurafigura foto terpasang menjadi dekorasi sederhana. Orangorang duduk berkelompok dengan ceritanya masingmasing sambil sesekali menyeruput kopi serta menikmati penganan. Kami pun memesan menu andalan khas Kong Djie; kopi susu, pisang bakar dan mie goreng. Sambil menunggu, Pak Sugeng bercerita tentang sejarah warung kopi ini. Meskipun asli keturunan Jawa, Pak Sugeng sudah puluhan tahun menetap di Belitung, sehingga hapal betul selukbeluk pulau tersebut, termasuk sejarah warung kopi Kong Djie.

 

Sebelum dijalankan secara waralaba seperti sekarang, warung kopi Kong Djie pertama kali dibuka tahun 1943 sebelum masa Indonesia merdeka oleh penduduk asli keturunan yang bernama Ho Kong Djie, yang pada mulanya bermigrasi dari Pulau Bangka. Penamaan warung “Kong Djie” diambil dari namanya sendiri. Di warung inilah masyarakat sekitar kota Tanjung Pandan memulai tradisi minum kopi sambil kongkow dan bertukar cerita. Biji kopinya sendiri didatangkan dari Pulau Sumatera dan Jawa. Pada waktu itu, Pulau Bangka Belitung tidak memiliki perkebunan kopi sendiri—saat ini di beberapa tempat terdapat kebun kopi berjenis robusta—sehingga pasokan kopi otomatis harus didatangkan dari luar pulau. Kongkow dan minum kopi di warung kopi kemudian menjadi budaya yang menyebabkan menjamurnya warungwarung kopi di Tanjung Pandan. Hal inilah yang membuat Tanjung Pandan mendapat julukan “Kota 1001 Warung Kopi”.

 

kakak barista Kong Djie Coffee di antara tekoteko kopi tinggi
Dok pribadi - Senyum ramah kakak barista Kong Djie Coffee di antara tekoteko kopi tinggi. 

Menu kopinya sendiri hanya dua jenis saja; Kopi O atau Kopi Hitam, dan Kopi Susu. Kedua kopi ini biasanya dihidangkan dengan singkong goreng atau pisang goreng, dengan harga jual yang terjangkau. Dalam tahuntahun perkembangannya, menu camilan pun turut berkembang dan semakin bervariasi bergantung dari lokasi dan daerah Kong Djie berada. Kenapa saya katakan ‘segelas’, bukan ‘secangkir’? Karena penyajian kopi di warung Kong Djie Siburik ini menggunakan gelas bening—berbagai ukuran dari yang sedang hingga tinggi—tidak menggunakan cangkir yang memiliki telinga pada salah satu sisinya.

 

Pesanan kami tiba, asap mengepul dari gelasgelas menguarkan aroma kopi mengundang selera ditingkahi pisang bakar yang juga menguarkan aroma tak kalah menggoda. Tangan saya sibuk mengaduk endapan susu tebal di dasar gelas, Icky meniupniup mie gorengnya yang bertoping telur mata sapi, dan Pak Sugeng menjawil sepotong pisang goreng. Malam masih akan panjang, celoteh dan gelak tawa pengunjung menjadi latar di belakang. Cukuplah, segelas kopi menjadi penutup hari ini dengan rasa syukur atas pertemuan, pertemanan, dan perjalanan yang luar biasa. Semoga besok lusa masih akan ada gelasgelas kopi lain menjadi penanda hari.yk[]

 



 

Yunis Kartika di Kong Djie Coffee Siburik
Swafoto - Yunis Kartika, Icky dan Pak Sugeng di warung kopi Kong Djie Siburik, Tanjung Pandan, Belitung.

 

  

 

“Tak ada yang mudah dalam hidup,

bahkan untuk menikmati secangkir kopi diperlukan perjalanan panjang.”

—Yunis Kartika—

 

 

 

 

 

 

 

 

 



PS : sila menulis komentar, membagikan, atau meninggalkan alamat web/blog-nya untuk bertukar sapa dan saling mengunjungi. Terima kasih sudah mampir ^^