Menjaga Kapal Selam Tetap Berlayar_ Penikmat Kopi

 

sepatualang_toko kopi kapal selam bandung
Dari luar ia tampak sederhana. Namun di balik pintunya tersimpan hampir satu abad sejarah perkopian Bandung.


   

"Waktu dapat mengubah wajah sebuah kota, memindahkan pusat keramaian, bahkan menghapus jejak banyak tempat dari ingatan manusia. Namun selalu ada segelintir orang yang memilih bertahan, menjaga apa yang diwariskan kepada mereka."

—Sepatualang—

 


 

Aroma panggangan biji kopi seketika menyergap indra penciumanku begitu langkah kaki melewati pintu kayu yang kokoh. Ada perasaan yang sulit dijelaskan setiap kali aku memasuki ruang-ruang yang seolah menolak tunduk pada waktu. Ruang-ruang seperti itu selalu menyimpan cerita yang tak tertulis di buku sejarah. Ia hidup dalam benda-benda yang masih digunakan, dalam kebiasaan yang diwariskan, dan dalam manusia-manusia yang memilih bertahan menjaga apa yang pernah dititipkan generasi sebelumnya.

Shoe footprints

 

Sore itu, di tengah langit Bandung yang perlahan meredup, langkahku berhenti di sebuah toko yang bersahaja namun menyimpan lapisan sejarah perkopian kota ini yang begitu tebal: Toko Kopi Kapal Selam.


sepatualang_toko kopi kapal selam bandung
Melangkah melalui pintu ini serasa memasuki ruang yang berjalan dengan ritme waktunya sendiri.


Dari luar, bangunannya tampak sederhana. Sebuah papan nama usang bertuliskan 'Toko Kopi Kapal Selam' melekat bersahaja di dinding atasnya, dikepung oleh jalinan kabel kota yang semrawut. Di bawah kanopi seng tua yang mulai legam dimakan usia, pintu masuknya tampak teduh, sedikit terhalang oleh gerobak jajanan di pelatarannya. Tidak ada kemewahan yang dipamerkan. Tidak ada sudut yang sengaja dirancang untuk menjadi latar swafoto. Namun justru kesederhanaan itulah yang membuat tempat ini terasa jujur. Rak-rak kayu yang telah lama digunakan, karung-karung kopi yang tersusun di beberapa titik ruangan, timbangan, mesin giling, dan berbagai perlengkapan kerja lainnya hadir bukan sebagai dekorasi, melainkan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.


sepatualang_toko kopi kapal selam bandung
Koko Chandra, generasi ketiga Toko Kopi Kapal Selam.


Di balik meja kasir kayu yang tampak setia menemani perjalanan waktu, berdiri seorang pria paruh baya dengan masker medis menutupi sebagian wajahnya. Beliau adalah Koko Chandra, generasi ketiga pengelola Toko Kopi Kapal Selam.

Awalnya, percakapan kami berjalan hati-hati. Ada jarak yang wajar antara dua orang yang baru bertemu dan bertegur sapa. Aku bisa memahami hal itu. Barangkali terlalu banyak orang datang untuk memotret, mengunggah, lalu pergi tanpa pernah benar-benar mendengar cerita yang tersimpan di balik sebuah tempat.

Namun suasana perlahan berubah ketika aku menunjukkan beberapa tulisan tentang toko kopi di laman blog pribadiku yang juga menjadi isi buku Sepatualang dan menjelaskan niatku untuk merekam kisah-kisah kopi legendaris Nusantara. Dari tarikan mata dan pipinya yang tak tertutup masker, aku melihat Koko Chandra mulai tersenyum. Percakapan yang semula singkat berkembang menjadi obrolan hangat tentang kopi, keluarga, dan perjalanan sebuah usaha yang telah melewati berbagai zaman.

            “Toko ini sudah ada sejak tahun 1930-an,” ujar beliau membuka cerita.

Pikiranku langsung melayang ke Bandung pada masa kolonial. Tahun-tahun ketika kota ini berkembang sebagai pusat perdagangan dan perkebunan di Priangan. Di tengah perubahan zaman itulah keluarga Koko Chandra memulai usahanya. Menariknya, Toko Kopi Kapal Selam tidak lahir sebagai toko kopi semata.

“Dulu bukan cuma kopi, tapi hasil bumi. Apa saja dijual, termasuk beras.”

Seperti banyak toko keluarga pada masanya, usaha mereka tumbuh mengikuti kebutuhan masyarakat. Kopi hanyalah salah satu bagian dari aktivitas perdagangan yang dijalankan. Baru kemudian, seiring perjalanan waktu, fokus usaha mengerucut hingga akhirnya dikenal sebagai toko kopi seperti sekarang.

Koko Chandra sendiri mulai memegang kendali usaha keluarga ini sejak awal tahun 2000-an. Di tangannya, warisan yang telah dibangun selama tiga generasi terus dijaga dan dirawat. Saat berbincang dengannya, aku tidak menemukan sosok yang gemar membesar-besarkan sejarah keluarganya. Bahkan ketika kutanya bagaimana rasanya meneruskan usaha yang telah berjalan puluhan tahun, jawabannya singkat.

“Biasa-biasa aja.”

Jawaban itu terdengar sederhana. Namun justru dari kesederhanaan itulah aku merasakan ketulusan. Kadang-kadang, orang yang benar-benar menjalani sejarah tidak merasa perlu mengumumkan bahwa dirinya sedang menjaga sesuatu yang berharga. Mereka hanya melakukannya setiap hari.


sepatualang_toko kopi kapal selam bandung
Bukan sedang berpose untuk kamera.
Beliau sedang melakukan apa yang telah dijalani selama bertahun-tahun: menggiling kopi untuk pelanggan.


Di sela-sela percakapan, Koko Chandra melayani pesananku. Aku memilih membeli seperempat kilogram kopi Yellow Caturra yang digiling langsung di tempat. Jemarinya bergerak cekatan di antara timbangan, mesin giling, dan berbagai jenis kopi yang memenuhi ruangan. Gerakan yang tampak begitu akrab, seolah telah diulang ribuan kali selama bertahun-tahun. Ketika pembicaraan beralih pada filosofi pengelolaan kopi, aku menemukan sesuatu yang menarik.

“Kalau saya beda sama toko lain,” katanya. “Saya enggak mau menyimpan kopi mentah terlalu lama. Maksimum tiga tahun harus sudah habis.”

Pernyataan itu membuatku memahami bahwa setiap rumah kopi memiliki cara pandangnya sendiri terhadap rasa. Bagi Koko Chandra, kopi yang terlalu lama disimpan berisiko kehilangan sebagian karakter alaminya. Beliau lebih memilih menjaga kesegaran rasa yang lahir dari tanah tempat kopi itu tumbuh. Semacam penghormatan terhadap karakter asli biji kopi yang membuatnya memilih jalur berbeda.

Di toko itu tersedia berbagai jenis kopi dari banyak daerah. Nama-nama seperti Gayo, Toraja, Ciwidey, hingga Lembang menjadi bagian dari keseharian yang terus berputar di ruang tersebut. Setiap daerah membawa karakter rasa yang berbeda, dan Koko Chandra tampak mengenal semuanya dengan baik. Namun yang paling menarik bagiku bukanlah daftar asal kopi itu, melainkan hubungan yang terjalin di baliknya.

“Petani-petani itu sudah turun-temurun,” ujar Koko Chandra. “Dulu orang tua mereka yang kirim ke orang tua saya. Sekarang anak-anaknya yang kirim ke saya.”

Kalimat itu membuatku terdiam beberapa saat. Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, hubungan seperti ini terasa semakin langka. Hubungan yang tidak hanya dibangun oleh transaksi, tetapi juga oleh kepercayaan yang diwariskan lintas generasi. Orang tua petani menjual kopi kepada orang tua Koko Chandra. Anak-anak mereka melanjutkan hubungan yang sama. Tahun berganti. Generasi berubah. Namun kepercayaan itu tetap hidup. Di situlah aku merasa sedang melihat sesuatu yang lebih besar daripada sekadar perdagangan kopi. Aku melihat sebuah jalinan sosial yang dipelihara puluhan tahun.

Hal serupa tampak pada rak-rak toko yang memajang beberapa botol sirup lawas. Koko Chandra bercerita tentang hubungan keluarganya dengan para pelaku usaha lama di Bandung yang telah saling mengenal sejak zaman orang tua mereka.

Salah satunya adalah sirup Trieste, yang lebih dikenal sebagai Sirup T. Merek itu telah lama menjadi bagian dari sejarah kuliner Bandung. Menurut Koko Chandra, hubungan antar-keluarga itu tetap terjaga hingga hari ini. Di toko ini, kopi dan sirup bukan sekadar barang dagangan. Mereka juga menjadi saksi hubungan antarmanusia yang bertahan lebih lama daripada banyak bangunan modern yang tumbuh di kota.

Namun perjalanan sebuah usaha tentu tidak selalu berjalan mulus. Ketika pembicaraan beralih ke kondisi ekonomi beberapa tahun terakhir, nada suara Koko Chandra berubah lebih pelan.

“Dari Covid sampai sekarang belum normal.”

Pandemi meninggalkan dampak yang tidak kecil. Beliau bercerita bahwa dahulu satu jenis kopi bisa disimpan hingga sekitar satu ton dalam setahun. Kini jumlahnya berkurang cukup jauh.

“Sekarang paling lima ratus sampai enam ratus kilo.”

Perubahan itu bukan hanya dirasakan oleh toko. Para pelanggan mereka pun ikut terdampak. Banyak kedai kopi yang dahulu membeli dalam jumlah besar kini lebih berhati-hati. Jika sebelumnya mereka memesan hingga satu kilogram atau lebih, sekarang sebagian hanya membeli seperempat kilogram. Beberapa bahkan terpaksa menghentikan usahanya. Koko Chandra tidak mengucapkan keluhan panjang. Tidak ada nada menyalahkan keadaan. Yang ada hanyalah pengakuan jujur tentang perubahan yang sedang dihadapi. Salah satu cerita yang paling membekas bagiku adalah ketika beliau mengenang suasana kawasan sekitar toko sebelum pandemi.

“Dulu sebelum Covid, di depan itu ramai sekali.”

Beliau lalu bercerita tentang angkot-angkot yang berhenti di depan toko. Ada yang menitipkan barang. Ada yang menurunkan penumpang. Ada pula yang sekadar singgah sebentar sebelum melanjutkan perjalanan. Klakson kendaraan saling bersahutan. Orang datang dan pergi. Barang diangkut keluar masuk. Kawasan Pasar Baru berdenyut dengan ritmenya sendiri. Kini suasananya memang berbeda.

“Sekarang sejam baru ada satu angkot lewat.”

Aku memandang ke arah luar toko. Jalanan tetap hidup. Kendaraan masih berlalu-lalang. Namun cerita Koko Chandra membuatku membayangkan Bandung yang lain—Bandung yang pernah begitu akrab dengan ritme perdagangan tradisional dan hiruk-pikuk angkot yang menjadi nadi pergerakan kota.

Meski begitu, saat memandang ke sekeliling toko sore itu, aku tidak melihat sebuah tempat yang menyerah pada keadaan. Aku melihat mesin giling yang masih berputar. Aku melihat karung-karung kopi yang masih tersusun. Aku melihat pelanggan yang tetap datang. Dan aku melihat Koko Chandra yang masih berdiri di balik meja yang sama, menjaga warisan keluarganya.

“Kopi itu untungnya semua orang minum,” katanya menjelang akhir percakapan. “Cuma mungkin sekarang bukan prioritas utama lagi.”

Kalimat sederhana itu terasa seperti ringkasan pengalaman puluhan tahun. Ada kebijaksanaan seorang pedagang yang telah menyaksikan berbagai perubahan ekonomi, berbagai pergantian tren, dan berbagai dinamika masyarakat.

Sebelum berpamitan, aku meminta izin untuk berfoto bersama. Koko Chandra mengangguk ramah. Aku berdiri di sampingnya, di tengah ruang yang telah menjadi saksi perjalanan tiga generasi keluarga mereka. Di hadapan kami terbentang meja kayu tua yang setiap hari menjadi tempat bertemunya manusia, kopi, dan cerita.

Ada perasaan hangat yang sulit dijelaskan. Mungkin karena sepanjang sore itu aku tidak hanya mendengar kisah tentang kopi. Aku mendengar kisah tentang kesetiaan. Tentang keberlanjutan. Tentang bagaimana sebuah usaha keluarga tetap dijaga meskipun dunia di sekelilingnya terus berubah.

Shoe footprints

 

sepatualang_toko kopi kapal selam bandung
Seperempat kilogram Yellow Catura yang kubawa pulang, bersama segenggam cerita dari Pasar Baru.

Tak lama kemudian hujan turun cukup deras. Aku berpamitan dan melangkah keluar dari toko. Bulir-bulir air membasahi jalanan Bandung sore itu. Namun ada sesuatu yang lebih lama tinggal dalam ingatanku dibanding dinginnya hujan.

Aku datang ke Toko Kopi Kapal Selam untuk mencari cerita tentang kopi. Namun aku pulang membawa cerita tentang ketekunan. Tentang hubungan antara petani dan pembeli yang diwariskan lintas generasi. Tentang botol-botol sirup tua yang diam-diam menyimpan sejarah persahabatan. Tentang klakson angkot yang pernah bersahutan di depan toko. Tentang seperempat kilogram Yellow Caturra yang kugenggam dalam plastik bening sederhana, dan tentang seorang lelaki yang memilih tetap menjaga warisan keluarganya.

Di tengah perjalanan pulang, diam-diam aku memanjatkan sebuah doa. Semoga Kapal Selam tetap berlayar. Tidak harus menjadi yang paling besar. Tidak harus menjadi yang paling ramai. Cukuplah tetap ada, agar generasi setelah kita masih dapat mengenal aroma kopi yang dijaga dengan kesetiaan selama puluhan tahun.

Dan semoga Koko Chandra selalu diberi kesehatan dan kekuatan untuk meneruskan pelayaran itu selama mungkin. Sebab selama masih ada orang-orang yang bersedia menjaga warisan dengan sepenuh hati, sejarah tidak akan pernah benar-benar hilang. Ia akan terus hidup, tersimpan dalam cerita, dalam kenangan, dan dalam secangkir kopi yang diseduh penuh rasa hormat.[yk]

 

 

"Dan ketika hujan sore itu perlahan menghapus jejak langkah di jalanan Bandung,

ada satu harapan yang tetap tinggal: semoga Kapal Selam terus berlayar,

membawa aroma dan cerita yang tak sempat disimpan oleh waktu."

—Sepatualang—

 



 

 

Catatan Perjalanan :

·       Toko Kopi Kapal Selam berada di kawasan Pasar Baru–Kebon Jeruk, Kota Bandung, tidak jauh dari koridor perdagangan tua yang telah menjadi denyut ekonomi kawasan ini selama puluhan tahun. Dari area Braga atau Banceuy, arahkan perjalanan menuju kawasan Pasar Baru melalui Jalan Otto Iskandardinata (Otista), lalu masuk ke Jalan Pasar Barat. Sementara dari Jalan Kebon Jati, cukup menyusuri koridor pertokoan lama menuju Jalan Pasar Barat. Toko Kopi Kapal Selam berada di antara deretan toko-toko lawas yang masih bertahan di kawasan tersebut. Patokan terdekat yang mudah dikenali adalah Pasar Baru Trade Center dan kawasan perdagangan Kebon Jati.

 

·       Toko buka dari pagi hingga sore hari. Waktu terbaik untuk berkunjung adalah pada pagi atau menjelang sore, ketika suasana kawasan Pasar Baru tidak terlalu padat dan pengunjung dapat menikmati aroma kopi yang memenuhi ruang toko dengan lebih leluasa.

0 comments:

Post a Comment