sepatualang_pulau kemaro, palembang
Raya di bawah Pagoda Pulau Kemaro dan langit Palembang yang mendung.


 

“Pulau kecil itu berdiri tenang di tengah Sungai Musi, seolah telah terlalu lama menyaksikan manusia jatuh cinta, karam, lalu kembali lagi.”

—Sepatualang—

 


 

Ada detak yang berbeda setiap kali tubuhku menapak di atas tanah Palembang. Berkali-kali Yunis membawaku melintasi kota ini—melewati jalan-jalan yang panas, trotoar yang sibuk, dan bayang-bayang besar Jembatan Ampera yang seperti tak pernah tidur—namun selalu saja ada sesuatu yang membuat langkah kami tertunda sebelum benar-benar sampai ke Pulau Kemaro. Seolah pulau kecil di tengah Sungai Musi itu belum ingin kami datangi terlalu cepat.

Hingga akhirnya, Sabtu siang, 16 Mei 2026, di bawah langit kelabu yang menggantung rendah di atas kota, kami benar-benar berdiri di dermaga belakang Pasar 16 Ilir. Tempat yang ramai, sempit, berisik, namun justru terasa hidup dengan cara yang sulit dijelaskan. Aku suka tempat seperti ini. Tempat yang membuatku ingin terus berjalan. Tempat yang membuatku ingin menarik langkah Yunis sambil berbisik: ayo, jangan lama-lama diam… kita jalan lagi.


sepatualang_pulau kemaro, palembang
Menuruni dermaga Pasar 16 Ilir, menuju lorong waktu bernama Sungai Musi.


Kami menuruni dermaga apung yang sempit, dengan lantai besi yang sedikit bergoyang setiap kali diinjak. Tepat di atas kepala kami, tiang merah raksasa Jembatan Ampera berdiri seperti penjaga tua Sungai Musi. Jarum jam di menara Ampera hampir menyentuh pukul satu siang ketika Yunis melangkah hati-hati sambil menggenggam kameranya.

Di bawah jembatan itu, Palembang terasa berbeda. Bau solar bercampur dengan aroma sungai, ikan, pasar, dan kayu perahu yang lembap. Para pengemudi ketek dan speedboat berseru menawarkan jasa mereka, suara mesinnya saling bersahutan dengan bunyi klakson kendaraan dari atas jembatan. Di tempat ini, kota modern dan kehidupan sungai seperti hidup berdampingan tanpa saling mengganggu. Di atas sana kendaraan melaju cepat mengejar waktu, sementara di bawah sini orang-orang masih menggantungkan hidup pada arus Musi yang tua.

Yunis dan suaminya akhirnya menyewa sebuah speedboat. Tiga ratus ribu rupiah untuk perjalanan pergi-pulang menuju Pulau Kemaro. Bagiku, itu bukan sekadar ongkos menyeberang. Itu seperti membeli tiket kecil untuk masuk ke lorong waktu Palembang.

Begitu mesin dinyalakan dan perahu mulai bergerak meninggalkan tepian Pasar 16 Ilir, aku langsung terdiam. Dari atas jembatan, Musi memang selalu tampak besar. Namun dari atas perahu kecil seperti ini, sungai itu terasa jauh lebih raksasa. Airnya cokelat pekat, bergerak deras sambil membawa ranting, lumpur, dan entah berapa banyak cerita yang sudah hanyut selama ratusan tahun.


sepatualang_pulau kemaro, palembang
Mesin boleh mati, tapi petualangan selalu menemukan jalannya untuk terus berjalan.


Aku bisa merasakan tenaga sungai itu bahkan dari telapak tubuhku. Perahu kecil kami seperti hanya serpihan kayu yang sedang menumpang lewat di tubuh raksasa tua bernama Musi. Namun rupanya sungai ini ingin mempermainkan kami sedikit. Baru beberapa menit perjalanan, mesin speedboat tiba-tiba batuk keras, lalu mati begitu saja. Suasana mendadak sunyi. Tak ada lagi suara raungan mesin. Yang tersisa hanya bunyi air menghantam lambung perahu dan desir angin sungai yang lembap. Kak Wandi, pengemudi perahu kami, mencoba menyalakan mesin berulang kali, tetapi perahu itu tetap diam mengambang di tengah arus.

Aku memandangi sekitar. Di dekat kami berdiri kapal-kapal logistik raksasa dan tanker batu bara dengan tubuh besi yang tinggi menjulang. Perahu kami terlihat sangat kecil di samping mereka. Kontras itu terasa aneh. Di jalur air yang dahulu membawa pedagang dan pelaut Sriwijaya, kini kapal industri modern melintas tanpa henti membawa muatan tambang dan logistik.

Akan tetapi Musi tetaplah Musi. Ia tetap mengalir dengan wajah tuanya sendiri. Cukup lama kami terombang-ambing di tengah sungai. Anehnya, Yunis dan suaminya justru tampak menikmati keadaan itu. Yunis beberapa kali tertawa kecil sambil memotret kapal-kapal besar dan arus sungai yang bergulung pelan. Sementara aku… entahlah. Aku justru merasa senang karena akhirnya kami dipaksa berhenti. Kadang perjalanan memang perlu jeda agar manusia mau benar-benar melihat.

Tak lama kemudian sebuah speedboat lain mendekat. Seutas tali dilemparkan, lalu perahu kami mulai ditarik perlahan membelah arus. Di tengah gerakan lambat itu, aku merasa seperti sedang memasuki lapisan lain dari Palembang. Lapisan yang tidak bisa ditemukan di mal, hotel, atau jalan raya. Lapisan yang masih menyimpan napas sungai. Di sanalah, di kejauhan yang mulai mendekat perlahan, Pulau Kemaro akhirnya muncul.

Shoe footprints



sepatualang_pulau kemaro, palembang
Gerbang klenteng dengan pilar-pilar merah dan deretan lampion.

 

Nama “Kemaro” konon berasal dari kata kemarau—pulau yang tetap muncul meski Sungai Musi sedang pasang tinggi. Ketika langkah pertama kami menyentuh daratannya, aku langsung merasakan suasana yang berbeda. Angin di pulau ini lebih tenang. Udara terasa lebih lembap, namun juga lebih pelan.

Gerbang klenteng berdiri menyambut dengan pilar-pilar merah dan deretan lampion yang menggantung di langit-langitnya. Tulisan “SERIWIJAYA PALEMBANG” membentang tegas di atas gerbang, seolah mengingatkan siapa saja bahwa tempat ini bukan sekadar pulau kecil wisata. Ini adalah potongan ingatan kota tua.

Yunis berdiri cukup lama di depan gerbang itu. Blus cokelat mudanya bergerak pelan tertiup angin sungai, sementara kameranya sibuk merekam detail-detail kecil yang mungkin luput dari mata orang lain.

Lalu aku melihat pagoda itu. Menjulang tinggi dengan warna merah, hijau, dan emas di bawah langit mendung yang kelabu. Cantik sekali. Aku segera menarik langkah Yunis lagi. Ayo… jalan lagi.

Setelah terlalu lama duduk di atas perahu yang rusak tadi, akhirnya aku kembali bebas menyentuh tanah. Yunis meluruskan kakinya di atas konblok merah halaman pulau, sementara aku merebah santai menikmati sejuk Kemaro. Dari bawah sini, pagoda sembilan lantai itu tampak jauh lebih megah. Seolah tumbuh langsung dari tubuh Sungai Musi menuju langit.


sepatualang_pulau kemaro, palembang
Lampion, angin sungai, dan langkah-langkah pelan yang mengendap di tanah tua.


Kami berjalan mengelilingi pulau itu. Sekali. Lalu dua kali. Aku memang selalu suka berjalan lebih jauh daripada yang direncanakan. Kami melewati pohon cinta, makam tua, altar sembahyang, dan sudut-sudut sunyi yang dipenuhi aroma dupa samar. Di sela langkah-langkah itu, Pulau Kemaro terus membisikkan kisah lama tentang Tan Bun An dan Siti Fatimah—tentang cinta yang karam bersama Sungai Musi dan akhirnya berubah menjadi legenda yang terus hidup sampai sekarang.


sepatualang_pulau kemaro, palembang
Ada rasa damai yang sulit dijelaskan ketika dupa, doa, dan angin sungai bertemu di tempat yang sama.


Makam muslim dan klenteng berdiri berdampingan tanpa terasa saling menjauh. Warung-warung kecil tetap hidup dari para peziarah dan wisatawan yang datang silih berganti. Perahu-perahu tetap hilir mudik membawa orang-orang yang ingin melihat sejarah dari dekat. Semuanya mengalir saja seperti air sungai.

Sebelum pulang, kami sempat singgah di sebuah warung terapung di tepi Musi. Yunis dan suaminya duduk berdampingan di kursi plastik jingga sambil menikmati pindang ikan baung, nasi putih hangat, dan es jeruk dingin. Aku menyukai momen seperti itu. Bukan tentang tempat mewah atau makanan mahal, tetapi tentang jeda setelah perjalanan.

Sore mulai turun ketika kami kembali menaiki speedboat. Dan kali ini, mesin perahu bekerja terlalu baik. Kak Wandi memacu perahu dengan kecepatan penuh membelah arus Musi yang bergelombang. Perahu kami melompat-lompat di atas air, sementara cipratan sungai berkali-kali menghantam tubuh Yunis dan suaminya hingga pakaian mereka basah. Aku ikut basah. Namun aku menyukainya. Air sungai terasa dingin dan liar. Di tengah hantaman itu, suami Yunis menyeka wajahnya sambil tertawa keras. “Jadi wong Plembang nian lah minum air Sungai Musi.” Kami semua tertawa.

Namun di balik candaan itu, ada kepercayaan lama yang diam-diam terasa hangat di hati. Orang-orang Palembang percaya, siapa pun yang pernah meminum air Musi, suatu hari nanti akan kembali lagi ke kota ini. Dan mungkin sore itu, tanpa sadar, Musi memang sedang menandai kami. Membasahi tubuh kami. Mengikat langkah kami. Membisikkan bahwa suatu hari nanti kami akan datang lagi.

Aku tahu itu. Karena bahkan ketika perahu mulai mendekati dermaga Pasar 16 Ilir dan perjalanan perlahan selesai, aku masih ingin terus berjalan. Masih ingin menarik langkah Yunis pelan-pelan sambil berkata: Ayo… kita jalan lagi.[yk]

 


 

“Dan mungkin benar kata orang-orang Palembang: sekali saja Musi menyentuh tubuhmu, sebagian langkahmu akan selalu tertinggal di sana.”

—Sepatualang—

 

 


 

Catatan Perjalanan Menuju Pulau Kemaro :

Jika suatu hari langkahmu membawamu ke Palembang, cobalah datang ke tepian Musi dari belakang Pasar 16 Ilir atau kawasan Benteng Kuto Besak (BKB). Dari sana, denyut sungai terasa jauh lebih nyata dibanding sekadar memandangnya dari atas Jembatan Ampera. Perahu-perahu ketek dan speedboat biasanya sudah berjajar sejak pagi.

¨     Kami berangkat sekitar pukul satu siang menggunakan speedboat dengan tarif Rp300.000 untuk perjalanan pulang-pergi menuju Pulau Kemaro. Tarif bisa berubah tergantung jenis perahu, jumlah penumpang, dan kemampuan menawar. Perahu ketek tradisional umumnya sedikit lebih murah, sementara speedboat membuat waktu tempuh lebih singkat.

¨     Dalam kondisi sungai yang bersahabat, perjalanan biasanya hanya memakan waktu sekitar 10–15 menit. Namun Sungai Musi kadang punya kehendaknya sendiri. Arus deras, lalu lintas kapal logistik, atau mesin perahu yang tiba-tiba rewel bisa membuat perjalanan lebih lama dari perkiraan. Dan justru di situlah petualangannya terasa.

¨     Pulau Kemaro sendiri dibuka untuk umum setiap hari. Waktu terbaik untuk datang menurutku adalah pagi menjelang siang atau sore hari ketika cahaya matahari mulai lembut dan angin sungai terasa lebih ramah untuk berjalan kaki mengelilingi pulau.

¨     Di sana sudah tersedia jalur pedestrian, warung kecil, area klenteng, pagoda sembilan lantai, makam bersejarah, hingga beberapa toko suvenir sederhana. Jangan berharap suasana wisata modern yang terlalu rapi. Daya tarik Kemaro justru terletak pada kesederhanaannya—pada rasa tua yang masih tinggal di sela pepohonan, dupa, dan angin sungai.

¨     Dan satu hal lagi. Jika menaiki speedboat saat sore hari, siapkan pelindung kamera atau kantong antiair. Gelombang Musi bisa cukup liar, dan cipratannya sering datang tanpa aba-aba. Siapa tahu, Sungai Musi juga sedang ingin “menandai” langkahmu seperti yang ia lakukan kepada kami sore itu.


sepatualang_balai adat melayu riau pekanbaru
Di hadapan takhta, Uwak Julir berdiri bukan sebagai raja, melainkan penjaga marwah.

 

 

“Melayu bukan sekadar tanjak yang tegak atau ukiran yang indah di dinding balai.

Ia hidup pada budi pekerti, pada cara menjaga marwah, dan pada kesetiaan merawat warisan yang nyaris dilupakan zaman.”

—Sepatualang—

 

 

Pekanbaru selalu punya cara untuk mengingatkan bahwa ia adalah kota yang tumbuh dari pertemuan air, keringat, dan doa. Kota ini tidak dibangun di atas tanah yang langsung padat; ia menuntut ketabahan untuk menimbun rawa, mengalirkan sungai, hingga akhirnya bangunan-bangunan megah bisa berpijak.

Waktu menunjukkan pukul 14.30 WIB ketika langkah saya tertahan di depan sebuah gerbang di Jalan Diponegoro. Matahari Riau sedang terik-teriknya menyengat kulit. Di hadapan saya berdiri Balai Adat Melayu Riau. Gedungnya kokoh, dengan warna kuning dan hijau yang mencolok—warna yang dalam filosofi Melayu melambangkan kejayaan dan kesuburan. Namun, ada sesuatu yang lebih dari sekadar arsitektur yang memanggil saya untuk masuk hari itu: sebuah aroma sejarah yang rasanya belum tuntas diceritakan oleh buku-buku teks sekolah.

Di sanalah saya bertemu Uwak Julir. Atau sebagaimana ia memperkenalkan dirinya dengan jenaka, “Panggil saja Uwak Julir, bulan Juli tambah ujungnya R,”. Tawanya renyah, khas orang yang sudah kenyang makan asam garam kehidupan namun tetap memilih untuk tetap membumi. 

Shoe footprints

 


sepatualang_balai adat melayu riau pekanbaru
Ruangan ini tidak hanya menyimpan suara upaca, tetapi juga jejak ingatan sebuah bangsa.

Tanah yang Berangkat dari Rawa

Kami duduk bersila—atau duduk selo sebagaimana istilah masyarakat di sini—di atas lantai balai yang sejuk. Di tengah ruangan yang luas dan tenang, Uwak Julir mulai membentangkan peta masa lalu. Bagi banyak orang, Balai Adat ini mungkin hanya gedung protokoler tempat upacara adat formal dilangsungkan. Namun bagi Uwak, setiap jengkal tanah di bawah kaki kami adalah saksi hidup sebuah perjuangan fisik yang luar biasa.

"Waktu itu ini dibangun tahun 82. Tanah ini 6 meter timbunannya," kenang Uwak Julir sambil matanya menerawang ke arah langit-langit balai. Ia menceritakan bagaimana kawasan ini dulunya adalah "paru-paru penyaringan kota", sebuah hutan kota dengan anak sungai yang mengalir tenang.

Proses menimbun rawa sedalam itu bukan perkara mudah. Uwak berkisah betapa beratnya membawa tanah timbun untuk menutup lubang-lubang rawa agar fondasi bangunan ini tidak goyah. Baginya, Balai Adat ini bukan sekadar bangunan semen dan batu, tapi adalah simbol bagaimana identitas Melayu "ditimbun" sedikit demi sedikit dengan kesabaran hingga ia bisa berdiri tegak.

 

Penjaga Nyala Api dan Marwah Pakaian

Uwak Julir bukan sekadar pengelola; ia adalah penjaga nyala api. Ia bercerita tentang masa-masa awal pembangunan, saat listrik belum menyentuh sudut-sudut ruangan ini. Di malam hari, ia harus mengukir dan mengecat detail bangunan hanya dengan bantuan lampu teplok atau lilin yang apinya bergoyang diterpa angin.

Kesungguhan Uwak tidak hanya terlihat dari cara ia merawat gedung, tapi juga dari caranya membawa diri. Sore itu, meski cuaca sedang panas, Uwak tetap terlihat bersahaja namun rapi. Ia bercerita betapa ia sangat menjunjung tinggi tata cara berpakaian adat. Bagi Uwak, memakai baju adat bukan sekadar formalitas, tapi soal marwah. Ia memastikan kain sampingnya terpasang dengan lipatan yang benar, kancing yang genap, dan tanjak yang tegak.

"Baju ini identitas, bukan kostum," seolah itulah pesan tersirat dari kerapiannya. Ia tidak akan membiarkan dirinya terlihat sembarangan di dalam gedung ini, karena baginya, pakaian adalah cara manusia menghargai tempat dan leluhurnya.

Berbicara dengan Uwak Julir adalah berbicara tentang prinsip. Di balik keramahannya, ia adalah sosok yang tegas, terutama jika menyangkut aturan di Balai Adat. Uwak memiliki semacam "kontrak batin" dengan gedung ini. Ia bercerita bahwa siapa pun yang ingin menggunakan gedung ini harus mengikuti aturan kebersihan dan ketertiban yang ditetapkan.

Baginya, menjaga kebersihan balai adalah bagian dari menjaga kehormatan adat itu sendiri. Jika seseorang tidak bisa menghargai gedung ini, maka mereka tidak berhak menikmatinya. Ketegasan ini muncul dari rasa memiliki yang sangat dalam; Uwak merasa bertanggung jawab kepada Tuhan dan para pendahulu atas setiap sudut ruangan ini.

 

sepatualang_balai adat melayu riau pekanbaru
Warna-warna ini bukan sekadar penghias ruang, melainkan simbol doa dan kemuliaan.

Simbolisme dalam Setiap Ukiran dan Doa

Saya mengalihkan pandangan ke sekeliling ruangan. Di dinding-dinding yang tinggi, mata saya dimanjakan oleh detail ukiran Pucuk Rebung yang berderet rapi. Uwak juga menunjuk ke arah Takbir—kain-kain hiasan berwarna-warni yang menjuntai rapi di sela-sela tiang. Kain-kain ini menciptakan suasana sakral namun hangat.

Satu hal yang paling menarik perhatian saya adalah penjelasan Uwak mengenai tradisi Tepuk Tepung Tawar. Uwak menjelaskan dengan detail lima jenis bahan yang digunakan: bertis (padi gonseng yang meletup), beras kunyit, beras putih, bunga rampai, dan air bedak yang kental. Angka-angka di sini tidak boleh sembarangan; harus ganjil—3, 5, 7, hingga 9 orang yang menepuk. "Itu doa, Yunis. Setiap taburan adalah harapan agar segala hajat berjalan sukses," katanya pelan.

 

sepatualang_balai adat melayu riau pekanbaru
Petuah-petuah lama masih menggema dari dinding balai.

Refleksi dan Warisan Kata-kata

Mendengar cerita Uwak Julir, saya tersadar bahwa adat bukan hanya soal gelar-gelar mentereng. Di tengah zaman ketika adat kadang tampil semakin seremonial, saya justru menemukan ruhnya pada sosok-sosok seperti Uwak Julir. Ia mengingatkan bahwa inti dari adat adalah "Budi Pekerti" dan pendidikan karakter.

Uwak Julir sendiri adalah personifikasi dari kesetiaan itu. Ia telah mengikuti perjalanan tokoh budayawan besar Riau, almarhum Pak Tenas Effendy, hingga ke mancanegara. Meski anak-anaknya kini telah sukses meniti karier di dunia perbankan, Uwak tetap memilih di sini.

Di akhir pertemuan kami, Uwak memberikan sesuatu yang bagi saya jauh lebih berharga daripada cinderamata fisik mana pun. Ia memberikan saya dua buah buku karya almarhum Tenas Effendy: “Syair Nasib Melayu” dan “Kearifan Pemikiran Melayu”.

"Jangan sembarangan baca sejarah, Yunis. Cari yang lurus," pesannya singkat namun dalam. Ia ingin memastikan bahwa siapa pun yang datang dari jauh untuk belajar tentang Riau, tidak pulang dengan cerita yang dangkal. Ia menjaga kejujuran sejarah dengan cara yang paling fundamental: literasi. Buku-buku itu kini ada di tangan saya, menjadi beban sekaligus kehormatan untuk saya pelajari lebih lanjut.

Shoe footprints

 


sepatualang_balai adat melayu riau pekanbaru
Di ruang inilah sejarah tidak hanya diceritakan, tetapi dirawat.

Sore itu, saat saya melangkah keluar dari gerbang Balai Adat, matahari sudah mulai melandai. Cahayanya yang kemerahan memantul di dinding balai, membuatnya tampak lebih megah dari saat saya datang tadi. Saya meninggalkan Balai Adat dengan satu pemahaman baru yang menghujam: bahwa di bawah lantai keramik yang dingin itu, tersimpan ribuan meter kubik tanah timbun yang dibawa dengan peluh. Di dalamnya tertanam keringat dan doa dari mereka yang membangunnya dengan bantuan lampu minyak teplok.

Dan selama masih ada orang-orang seperti Uwak Julir—yang menjaga marwah bukan dengan teriakan, melainkan dengan pengabdian—maka identitas Melayu tidak akan pernah lari dari tanahnya. Ia akan tetap di sana, setegar tiang-tiang balai yang dipancang di atas rawa yang kini telah menjelma menjadi sejarah.[yk]

 

 

“Dan sore itu saya belajar, menjaga balai adat sesungguhnya bukan hanya menjaga bangunan, melainkan menjaga ingatan sebuah bangsa.”

—Sepatualang—

 

 

 

Informasi Pengunjung & Lokasi:

·       Nama Tempat: Balai Adat Melayu Riau (Gedung LAM Riau)

·       Lokasi: Jl. Diponegoro No. 8, Kota Tinggi, Kec. Pekanbaru Kota, Kota Pekanbaru, Riau.

·    Petunjuk Arah: Terletak di jantung kota Pekanbaru, berada di kawasan protokol Jalan Diponegoro. Posisinya sangat strategis, tak jauh dari Masjid Raya An-Nur dan berseberangan dengan beberapa gedung pemerintahan penting. Kamu bisa dengan mudah menemukannya menggunakan kendaraan pribadi atau transportasi daring.

·     Waktu Kunjungan: Area luar gedung biasanya dapat dinikmati setiap hari. Namun, untuk melihat bagian dalam atau berdiskusi lebih dalam tentang adat, disarankan datang pada jam kerja (Senin–Jumat) atau saat ada agenda kegiatan kebudayaan tertentu.

·   Tips Sepatualang: Jika beruntung bertemu Uwak Julir, jangan ragu untuk menyapa dan berbincang. Cerita-cerita lisan dari beliau seringkali lebih kaya daripada apa yang tertulis di papan informasi. Jangan lupa untuk tetap menjaga tata krama dan kebersihan selama berada di area balai.


sepatualang-kopi lim kok tong pekanbaru
Penanda kopi Lim Kok Tong yang ikonik.

 


"Sebab perjalanan bukan sekadar perpindahan raga, melainkan cara kita menyeduh ingatan yang mulai mendingin di cangkir waktu."

—Sepatualang—

 

 

 

Pukul setengah sepuluh pagi di Bandara Sultan Syarif Kasim II (SSK II), Pekanbaru, adalah waktu di mana cahaya matahari menyelinap masuk melalui kaca-kaca besar terminal, menciptakan garis-garis emas yang menari di atas lantai marmer. Suasana belum terlalu hiruk-pikuk, namun denyut keberangkatan sudah mulai terasa kencang. Saya berjalan beriringan dengan suami, langkah kaki kami bergema pelan di antara keriuhan pengumuman jadwal penerbangan yang bersahutan. Di sela-sela kepadatan jadwal dan tumpukan bagasi, kami mencari sebuah jeda—sebuah titik koordinat yang mampu menenangkan debar jantung sebelum raga ini dibawa melesat ke angkasa.

Shoe footprints

 

sepatualang-kopi lim kok tong pekanbaru
Menanti keberangkatan dengan menikmati cita rasa kopi Pematangsiantar.


Pencarian kami berhenti pada sebuah pendar cahaya neon yang hangat di salah satu sudut ruang tunggu keberangkatan. Di sana, tertulis dengan jelas: Wayang Coffeeshop by Lim Kok Tong. Nama itu seperti magnet bagi para pengelana yang mengenal sejarah. Aroma robusta yang dipanggang dengan cara klasik segera menyergap indra penciuman, seolah-olah membawa sepotong udara dari Pematangsiantar langsung ke jantung kota Pekanbaru.


sepatualang-kopi lim kok tong pekanbaru
Nazif bukan hanya melayani tapi ia mengajak setiap orang untuk tinggal lebih lama.


Di sinilah saya bertemu dengan Nazif Arifin. Sebagai manager yang memegang kendali di kedai ini, ia menyambut kami dengan ketenangan yang ganjil di tengah lingkungan bandara yang serba terburu-buru. Nazif memiliki sorot mata yang bangga akan jenama yang ia jaga. Sambil mempersilakan kami duduk di kursi kayu yang masih mengilap, ia mulai merajut kisah tentang sebuah dinasti kopi yang telah bertahan melewati berbagai zaman.

"Sejarah kopi ini dimulai jauh sebelum republik ini merdeka, tepatnya pada tahun 1925," ujar Nazif membuka percakapan, suaranya mantap namun rendah. Ia bercerita tentang Lim Kok Tong, sang perintis, yang memulai segalanya dari sebuah kedai kecil bernama Heng Seng di persimpangan jalan di Pematangsiantar. Di masa itu, kedai kopi lebih dari sekadar tempat minum; ia adalah balai pertemuan sosial, tempat bertukar kabar antara mandor perkebunan, pedagang lintas daerah, hingga penduduk lokal.

Lim Kok Tong membangun reputasinya di atas satu pilar: konsistensi. Biji kopi robusta pilihan dari dataran tinggi Sumatra Utara diproses dengan teknik tradisional yang sangat dijaga kerahasiaannya. "Nama Lim Kok Tong sendiri sebenarnya diambil dari nama anak kedua," Nazif menjelaskan, merujuk pada estafet kepemimpinan keluarga yang kini sudah memasuki generasi keempat. Perpecahan nama antara Masa Kok Tong dan Lim Kok Tong di masa lalu bukan karena konflik, melainkan cara lain untuk menjaga warisan agar setiap cabang keluarga tetap bisa menghidupkan api tradisi di bawah satu bendera rasa yang sama.

Lim Kok Tong adalah ruang peleburan yang luar biasa. Di Siantar, tidak ada kasta di depan cangkir kopi mereka. Pejabat dan rakyat jelata duduk semeja, menghirup aroma yang sama. Membawa konsep ini ke bandara internasional—ruang yang sangat kental dengan nuansa ekonomi kelas menengah ke atas—memiliki tantangan tersendiri. Namun, Lim Kok Tong berhasil mempertahankan jiwanya sebagai kedai rakyat yang bersahaja di bawah pendar lampu modern.

Shoe footprints

 

Di meja kami, pesanan mulai berdatangan. Suami saya, yang selalu setia pada rasa-rasa yang klasik dan hangat, memesan segelas kopi susu panas. Cangkirnya keramik putih dengan logo wajah Lim Kok Tong yang ikonik, mengepulkan uap yang membawa aroma tanah dan cokelat gelap. Di sisi lain, saya memilih es kopi susu—sebuah kontras yang segar untuk pagi yang mulai menghangat.


sepatualang-kopi lim kok tong pekanbaru
Menyaksikan kopi diseduh melalui ketekunan dan keahlian tangan sang barista.


Saya memperhatikan gelas es kopi susu di depan saya. Buih kecokelatannya tebal, menandakan kopi ini ditarik dengan teknik yang pas menggunakan saringan kain panjang. Dari tempat saya duduk, saya bisa melihat Nazif sesekali memantau barista pria di balik bar. Barista itu tampak sangat fokus, tangannya lihai menuangkan aliran kental manis yang berwarna keemasan ke dalam cangkir. Gerakannya begitu mekanis namun penuh perasaan, sebuah koreografi kecil yang telah dilatih ribuan kali.


sepatualang-kopi lim kok tong pekanbaru
Susu kopi dingin; kontras manis dan pahit yang pas di lidah.


"Kami menggunakan kental manis pilihan, bukan sembarang merek," Nazif menambahkan, menyadari ketertarikan saya pada detail pembuatannya. "Perbandingannya adalah 70 persen kopi dan 30 persen susu. Kami ingin rasa kopinya tetap dominan, tetap nendang, namun lembut di akhir." 

Suami saya menyesap kopi panasnya dan mengangguk pelan. Ada kepuasan yang muncul di wajahnya. Memang, kopi Lim Kok Tong memiliki karakter beraroma asap yang khas, hasil dari teknik pemanggangan manual yang tidak berubah sejak tahun 1925. Teknik ini membuat kopinya terasa 'lekat' di lidah, meninggalkan jejak kepahitan yang jujur namun bersih.

Kehadiran Lim Kok Tong di Bandara SSK II Pekanbaru sejak Februari tahun lalu terasa seperti sebuah pernyataan. Di tengah gempuran franchise kopi internasional yang menawarkan kemewahan instan, Lim Kok Tong berdiri sebagai benteng kearifan lokal. Ini adalah bukti nyata bahwa ekonomi kreatif berbasis warisan budaya memiliki daya tahan yang luar biasa jika dikelola dengan manajemen yang modern tanpa mencabut akarnya.

"Awalnya kami harus beradaptasi dengan lidah orang Pekanbaru yang sudah sangat akrab dengan legenda lokal seperti Kim Teng," Nazif mengakui. "Tapi ternyata, pasar di sini sangat terbuka. Mereka menghargai kualitas. Bahkan banyak petugas bandara dan kru pesawat yang menjadi pelanggan tetap kami karena mereka tahu rasa kopi yang benar-benar kopi."


sepatualang-kopi lim kok tong pekanbaru
Oleh-oleh aroma Pematangsiantar yang siap diterbangkan menuju rumah.


Keberhasilan Lim Kok Tong juga terlihat dari deretan produk kemasannya. Sebelum meninggalkan kedai, saya dan suami memutuskan untuk membeli beberapa kemasan kopi bubuk 500 gram. Di mata saya, ini bukan sekadar oleh-oleh; ini adalah cara saya membawa pulang sepotong sejarah Siantar dan kehangatan Pekanbaru untuk diseduh kembali di rumah. Di atas meja kasir, kantong-kantong kopi berwarna cokelat tua itu berderet rapi, siap diterbangkan ke berbagai penjuru dunia oleh para penumpang.

Shoe footprints

 

Duduk di sini bersama suami, di antara tawa kecil dan aroma kopi, saya merasa bahwa perjalanan Sepatualang kali ini telah menemukan salah satu maknanya. Sebagai penulis, saya sering kali merasa seperti butiran kopi yang dipanggang oleh keadaan—terkadang panas membara, terkadang pahit tak tertahankan. Namun, seperti filosofi Lim Kok Tong, barangkali kepahitan itulah yang memberi kita karakter. Tanpa proses panggang yang tepat, kopi hanya akan menjadi biji yang tawar. Tanpa kepahitan, rasa manis tak akan pernah terasa istimewa.

Nazif Arifin telah berhasil menerjemahkan dialek Siantar ke dalam pelayanan yang ramah di Pekanbaru. Ia tidak hanya mengelola sebuah kedai, ia mengelola ekspektasi dan kerinduan. Bagi banyak penumpang yang transit, Lim Kok Tong adalah aroma 'pulang' yang mereka cari sebelum mereka benar-benar sampai di rumah.

Jam keberangkatan kami semakin dekat. Saya berpamitan pada Nazif, menjabat tangannya yang mantap. Ia kembali mengingatkan saya untuk mampir lagi jika suatu saat kaki ini kembali menginjakkan kaki di tanah Riau. Kami melangkah meninggalkan kedai, membawa serta kantong-kantong kopi seberat 500 gram itu sebagai bekal ingatan.

Saya berjalan menuju gerbang keberangkatan dengan langkah yang lebih ringan. Aroma kopi yang masih tertinggal di ujung baju seolah menjadi jimat pelindung. Perjalanan memang tentang pergi menjauh, tapi esensinya adalah tentang apa yang kita simpan di dalam hati untuk dibawa kembali pulang.[yk]


 

 

Petunjuk Arah Menuju Kedai Wayang / Lim Kok Tong Bandara SSK II Pekanbaru, bagi para pengelana yang ingin menyesap kehangatan sejarah ini, Anda bisa menemukannya dengan mudah:

·       Setelah Check-in, melangkahlah ke area pemeriksaan keamanan (Security Check Point) kedua.

·       Menuju Ruang Tunggu (Boarding Lounge): Setelah melewati pemeriksaan, Anda akan masuk ke area keberangkatan domestik.

·       Titik Koordinat: Kedai Wayang Coffeeshop by Lim Kok Tong terletak di lantai dua, tepat di area ruang tunggu keberangkatan. Posisinya sangat strategis, berada di antara deretan gerai makanan dan dekat dengan pintu keberangkatan utama. Carilah papan nama bercahaya "Wayang" dengan logo wajah Lim Kok Tong yang ikonik.

 

 

 

"Pulang bukan selalu soal alamat di KTP,

adakalanya ia adalah rasa pahit dan manis yang paling kita kenali di dasar gelas kopi."

—Sepatualang—