sepatusepatuyunis_rumah bersejarah inggit garnasih
Perempuan yang memilih harga diri daripada kemuliaan yang ditawarkan dunia.

 

 

 

"Sejarah tidak selalu lahir di medan perang.

Kadang ia tumbuh diam-diam di dapur, di ruang tamu yang sederhana, atau di tangan seorang perempuan yang memilih menghidupi mimpi orang lain."

—Sepatualang—

 


 

 

Di antara deretan ruko yang terus bertambah, laju lalu lintas yang nyaris tak pernah benar-benar lengang, dan aroma kopi yang mengepul dari kedai-kedai modern, siapa sangka ada sebuah rumah yang pernah menjadi ruang lahirnya mimpi tentang Indonesia.

Sebagai sepasang sepatu, aku sering diajak Yunis mengunjungi tempat-tempat yang menyimpan sejarah. Tak terkecuali hari itu.

Shoe footprints

 

Siang itu, aku bersama Yunis menyusuri sebuah jalan yang dahulu bernama Jalan Ciateul dan bersalin nama menjadi Jalan Inggit Garnasih. Sebuah perubahan yang terasa begitu simbolis. Dahulu, jalan ini hanyalah bagian dari denyut kehidupan sehari-hari masyarakat Bandung. Kini, setiap orang yang melintasinya tanpa sadar sedang menyebut nama seorang perempuan yang pernah memilih berjalan dalam sunyi.

Di jalan tersebut berdiri sebuah rumah bercat krem dengan atap genteng merah kecokelatan. Halamannya tidak luas. Sebatang tiang bendera berdiri tenang di sisi kanan, sementara pohon-pohon rindang menaungi pelatarannya sehingga cahaya matahari siang jatuh lembut di atas pavingnya.

Kami menapaki halaman dengan langkah yang seolah ikut menyesuaikan ketenangan rumah itu. Di sisi kiri berdiri sebuah panel besar bergambar Inggit Garnasih yang duduk anggun di atas kursi kayu. Senyumnya teduh. Tidak seperti sosok yang pernah berada begitu dekat dengan pusat kekuasaan negeri ini. Lebih menyerupai seorang ibu yang sedang menunggu tamunya pulang. Begitulah kesan pertamaku, hangat, dan tenang. Namun menyimpan begitu banyak cerita.


sepatusepatuyunis_rumah bersejarah inggit garnasih
Pak Jajang, penjaga ingatan yang memastikan rumah ini tak kehilangan suaranya.


Di ambang pintu, kami disambut oleh Pak Jajang dengan senyum ramah. Lelaki bersahaja berambut perak berseragam abu-abu sederhana. Di dada kanannya hanya tertulis satu kata yang sangat biasa. PETUGAS. Ia telah menjaga dan merawat denyut nadi rumah ini sejak tahun 2000. Garis-garis di wajahnya menyimpan ribuan cerita, dan binar matanya memancarkan ketulusan seorang penjaga memori.

"Izin direkam ya, Pak?" tanya Yunis. Suaranya agak bergetar, sebuah tanda yang langsung kutangkap dari caranya menapakkan kaki dengan ragu. Pak Jajang tersenyum hangat dan mengangguk.

"Rumah ini dibeli tahun 1926," buka Pak Jajang, suaranya mengalun tenang di antara dinding-dinding yang dipenuhi replika foto hitam-putih yang menyimpan potongan kehidupan Inggit. "Dulu bentuknya rumah panggung. Di sinilah Kusno—Soekarno muda—menghabiskan masa mahasiswanya, memadukan kasih sayang dan ide-ide kebangsaan bersama Ibu Inggit sebelum dilemparkan ke tengah masyarakat."

Mendengar penuturannya, aku teringat lembar infografis yang berada di dinding samping. Rumah panggung asli tempat mereka bernaung dulu rupanya sempat lumat saat peristiwa Bandung Lautan Api tahun 1946. Rumah yang kami pijaki sekarang adalah bangunan yang didirikan kembali pada tahun 1950, di atas tanah yang sama, ketika Ibu Inggit memutuskan untuk pulang dan menetap lagi di Bandung.


sepatusepatuyunis_rumah bersejarah inggit garnasih
Melangkah melewati pintu ini serasa melintasi selembar halaman sejarah.


Kami menyusuri lantai rumah itu sambil mendengarkan setiap kisah yang mengalir. Ada keanggunan yang getir dalam narasi yang mengalir. Pak Jajang membawa kami melintasi waktu, menceritakan bagaimana takdir Ibu Inggit rajutan demi rajutan dibentuk. Sebelum Kusno datang, ada sosok Haji Sanusi, suami kedua Inggit, seorang saudagar dengan ekonomi mapan yang cintanya begitu luar biasa besar. Ketika Kusno datang memohon izin untuk melamar Inggit pada tahun 1923, Haji Sanusi melepaskannya dengan keikhlasan yang menggetarkan dada. Beliau bahkan membuat perjanjian: jika suatu saat Kusno sudah tidak cinta lagi pada Ingit, jangan disia-siakan, melainkan kembalikan baik-baik kepadanya.

"Luar biasa... sabar ya, Pak..." Yunis menyela, kalimatnya tertahan di tenggorokan. Dari posisiku di bawah, aku tahu jemari kakinya menegang. Kisah keikhlasan Haji Sanusi dan keteguhan Ibu Inggit mulai meruntuhkan pertahanan emosionalnya.

Namun, sejarah mencatat bahwa Inggit memilih jalan yang terjal. Beliau meninggalkan kemapanan material demi mendampingi seorang mahasiswa miskin yang keras melawan Belanda.

"Kalau seandainya apa peran Inggit, ya Inggit mengisi perut daripada Soekarno," ujar Pak Jajang dengan nada serius. "Dengan lapar, pikiran kita tidak akan jernih."

Kalimat itu memukul kesadaranku. Selama 20 tahun pernikahan, Inggit-lah yang menjadi kepala rumah tangga sejati dalam urusan mencari nafkah.

"Pada masa itu... apa... apa usahanya, Pak?" Yunis bertanya dengan terbata-bata. Pertanyaan yang biasanya meluncur mulus kini harus dieja dengan susah payah karena ia sibuk menahan rasa haru.


sepatusepatuyunis_rumah bersejarah inggit garnasih
Kemerdekaan tidak hanya ditempa di medan perjuangan, tetapi juga di atas batu pipisan yang dipenuhi peluh.


Di sudut ruangan, Pak Jajang menunjukkan batu pipisan asli—satu-satunya perkakas yang tersisa untuk membuat bedak dan jamu itu. Saat jemari Yunis menyentuh boks akrilik pelindung batu pipisan, seperti ada hawa dingin yang menjalar. Dari bawah sini aku bisa merasakan langkahnya mendadak kaku karena terenyuh. Di atas batu inilah kemerdekaan Indonesia dicicil dengan peluh seorang perempuan. Beliau menumbuk jamu, membuat bedak dingin, hingga melinting rokok untuk dijual demi membiayai pergerakan politik suaminya.

“Yunis,” bisikku dalam hati, aku merasakan telapak kakinya semakin berat. Barangkali bukan karena lelah, melainkan karena ada sejarah yang sedang menetap diam-diam di dalam dadanya. “Lihatlah batu ini. Kamu sedang berdiri di atas lantai tempat sebuah bangsa ditenun dari ketabahan yang paling sunyi. Jangan menangis dulu, selesaikan tugasmu merekam sejarah ini.”

Yunis termenung, aku pun termenung. Hari ini, Bandung dikenal sebagai salah satu kota kreatif di Indonesia. Kedai kopi tumbuh hampir di setiap ruas jalan. Industri fesyen, kuliner, serta ribuan pelaku UMKM menjadi denyut ekonomi kota ini. Namun jauh sebelum istilah "ekonomi kreatif" dikenal, Inggit telah melakukannya. Ia tidak menyebut dirinya pengusaha. Tidak pula aktivis pemberdayaan perempuan.

Aku membayangkan, jika hari ini orang-orang menyebut perempuan seperti Inggit sebagai pelaku UMKM atau pengusaha kecil, mungkin beliau hanya akan tersenyum pelan. Sebab sejak dulu beliau tidak pernah sibuk memberi nama pada perjuangannya. Beliau hanya melakukan apa yang memang harus dilakukan agar rumah tetap hidup, dapur tetap mengepul, dan cita-cita suaminya terus berjalan.

Semakin lama mendengarkan Pak Jajang, aku mulai mengerti mengapa Yunis lebih suka datang langsung ke tempat-tempat seperti ini daripada hanya membaca buku. Sebab buku menyimpan fakta, sedangkan percakapan menyimpan rasa.

Shoe footprints

 

Kami kemudian beralih ke kamar utama. Udara di kamar itu terasa lebih sunyi dibanding ruangan-ruangan sebelumnya. Bahkan langkah kami seolah mengecil dengan sendirinya. Aku tidak tahu apakah rumah tua memang mempunyai ingatan, atau hanya perasaanku saja. Namun ada kesedihan yang sulit dijelaskan sejak kami melewati ambang pintunya.


sepatusepatuyunis_rumah bersejarah inggit garnasih
Memori yang dibingkai, agar waktu tak pernah benar-benar menghapusnya.


Di sinilah puncak keteguhan seorang Inggit Garnasih diuji. Ketika Soekarno telah melambung tinggi—tokoh besar yang dielu-elukan rakyat, dan meminta izin untuk menikah lagi demi mendapatkan keturunan, Inggit berdiri tegak dengan harga dirinya yang setinggi langit. “Ari kudu dimadu mah, cadu,” begitu prinsipnya dalam bahasa Sunda yang kental. Pantang bagi Inggit untuk dimadu. Beliau memilih menyerahkan kembali Kusno kepada impian-impiannya, lalu meminta dipulangkan ke Bandung dalam kesendirian. Beliau melepaskan status calon ibu negara demi sebuah prinsip keperempuanan yang agung.

Yunis mendengarkan sambil sesekali mengangguk pelan, matanya berkaca-kaca. Ia kehilangan kata-kata, hanya bisa mengeluarkan gumaman pendek pertanda takjub sekaligus perih mendengarnya. Aku tahu, sebagai sesama perempuan dan seorang penulis, dada Yunis bergemuruh hebat mendengar kalimat cadu yang diucapkan Ibu Inggit.

Pak Jajang menghela napas, menatap keluar jendela ke arah halaman belakang tempat produksi rokok dan jamu dulu dilakukan. Ada nada kerinduan sekaligus kegelisahan dalam suaranya. Beliau bercerita tentang mimpinya sejak tahun 2000, saat rumah ini masih kosong dan sepi. Beliau selalu berdoa agar rumah ini kembali ramai dikunjungi, agar generasi muda tidak melupakan bahwa di balik pekik "Merdeka!" yang gempita, ada pengorbanan sunyi dari seorang perempuan di Bandung.

Yunis hanya mengangguk pelan. "Semoga rumah ini semakin banyak didatangi orang, Pak," ucapnya lirih.

Pak Jajang tersenyum. "Aamiin."

Langkah kami berakhir di selasar rumah. Menatap gurat wajah Ibu Inggit pada sebuah foto masa mudanya yang klasik. Nama aslinya adalah Ningsih, namun senyumnya yang membawa keberuntungan dan memikat hati para pemuda membuatnya dipanggil "Inggit," yang konon dihargai setara seringgit pada zamannya.

Ibu Inggit meninggal pada tahun 1984 dalam usia 96 tahun dan dimakamkan di TPU Porib Caringin, Bandung. Beliau pergi tanpa gelar pahlawan nasional yang megah, meski telah tiga kali diajukan. Namun bagi tempat ini, bagi Pak Jajang, bagi Yunis, dan bagiku—Raya, yang menyaksikan segalanya dari sudut bawah, Inggit adalah fondasi yang tak akan pernah runtuh oleh zaman.

Kini aku mengerti, rumah ini bukan sekadar tempat tinggal Inggit Garnasih. Ia adalah pengingat bahwa kemerdekaan tidak hanya dibangun oleh mereka yang berdiri di podium, tetapi juga oleh perempuan-perempuan yang bekerja dalam diam. Perempuan yang menghaluskan jamu dan bedak di atas batu pipisan. Perempuan yang rela menjual apa saja agar dapur tetap mengepul. Perempuan yang memilih pulang daripada menggadaikan harga dirinya.


sepatusepatuyunis_rumah bersejarah inggit garnasih
Tak megah, tetapi menyimpan salah satu kisah terbesar tentang cinta, perjuangan, dan harga diri.


Rumah bersejarah ini terbuka bagi generasi yang ingin memahami bahwa di balik setiap tokoh besar, selalu ada seseorang yang memilih bekerja dalam sunyi. Karena sejarah, pada akhirnya, tidak hanya ditulis oleh mereka yang terkenal. Sejarah juga dititipkan kepada mereka yang setia mengingat.

Saat kami meninggalkan halaman, aku sempat menoleh sekali lagi. Rumah itu kembali tampak teduh di balik rindangnya pepohonan. Kendaraan berlalu seperti biasa, orang-orang datang dan pergi tanpa banyak menoleh. Namun aku tahu, mulai hari itu setiap kali mendengar nama Jalan Inggit Garnasih, yang terlintas di benakku bukan lagi sekadar sebuah alamat di Kota Bandung. Melainkan seorang perempuan yang memilih pulang daripada menggadaikan harga dirinya.

Dan mungkin, justru karena pilihan itulah, namanya akan terus berjalan lebih jauh daripada langkah kaki siapa pun yang pernah melewati jalan ini. [yk]

 

 

 

"Jika sejarah adalah cahaya, maka orang-orang seperti Inggit Garnasih adalah pelitanya. Tidak selalu tampak paling terang, tetapi tanpanya,

banyak jalan mungkin tak pernah menemukan arah."

—Sepatualang—

 


 

 

Catatan perjalanan:

·       Alamat: Jalan Ibu Inggit Garnasih No. 8 (Dulu dikenal sebagai Jalan Ciateul), Kelurahan Nyengseret, Kecamatan Astanaanyar, Kota Bandung, Jawa Barat.

·       Aksesibilitas: Terletak di lokasi yang sangat strategis di pusat kota Bandung, hanya berjarak sekitar 3 km ke arah selatan dari Alun-Alun / Masjid Raya Bandung, dan sangat dekat dengan Kawasan Kuliner Malam Cibadak serta Lapangan Tegallega.

·       Patokan Terdekat: Lapangan Tegallega (Monumen Bandung Lautan Api) atau Museum Sri Baduga. Rumah bersejarah ini letaknya tepat di sebelah utara kawasan Tegallega.

·       Ketersediaan Parkir: Karena letaknya persis di sisi jalan raya Ciateul yang cukup padat, area parkir untuk mobil agak terbatas di bahu jalan. Pengguna sepeda motor dapat parkir dengan lebih mudah di area depan halaman rumah.

 

sepatualang_toko kopi kapal selam bandung
Dari luar ia tampak sederhana. Namun di balik pintunya tersimpan hampir satu abad sejarah perkopian Bandung.


   

"Waktu dapat mengubah wajah sebuah kota, memindahkan pusat keramaian, bahkan menghapus jejak banyak tempat dari ingatan manusia. Namun selalu ada segelintir orang yang memilih bertahan, menjaga apa yang diwariskan kepada mereka."

—Sepatualang—

 


 

Aroma panggangan biji kopi seketika menyergap indra penciumanku begitu langkah kaki melewati pintu kayu yang kokoh. Ada perasaan yang sulit dijelaskan setiap kali aku memasuki ruang-ruang yang seolah menolak tunduk pada waktu. Ruang-ruang seperti itu selalu menyimpan cerita yang tak tertulis di buku sejarah. Ia hidup dalam benda-benda yang masih digunakan, dalam kebiasaan yang diwariskan, dan dalam manusia-manusia yang memilih bertahan menjaga apa yang pernah dititipkan generasi sebelumnya.

Shoe footprints

 

Sore itu, di tengah langit Bandung yang perlahan meredup, langkahku berhenti di sebuah toko yang bersahaja namun menyimpan lapisan sejarah perkopian kota ini yang begitu tebal: Toko Kopi Kapal Selam.


sepatualang_toko kopi kapal selam bandung
Melangkah melalui pintu ini serasa memasuki ruang yang berjalan dengan ritme waktunya sendiri.


Dari luar, bangunannya tampak sederhana. Sebuah papan nama usang bertuliskan 'Toko Kopi Kapal Selam' melekat bersahaja di dinding atasnya, dikepung oleh jalinan kabel kota yang semrawut. Di bawah kanopi seng tua yang mulai legam dimakan usia, pintu masuknya tampak teduh, sedikit terhalang oleh gerobak jajanan di pelatarannya. Tidak ada kemewahan yang dipamerkan. Tidak ada sudut yang sengaja dirancang untuk menjadi latar swafoto. Namun justru kesederhanaan itulah yang membuat tempat ini terasa jujur. Rak-rak kayu yang telah lama digunakan, karung-karung kopi yang tersusun di beberapa titik ruangan, timbangan, mesin giling, dan berbagai perlengkapan kerja lainnya hadir bukan sebagai dekorasi, melainkan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.


sepatualang_toko kopi kapal selam bandung
Koko Chandra, generasi ketiga Toko Kopi Kapal Selam.


Di balik meja kasir kayu yang tampak setia menemani perjalanan waktu, berdiri seorang pria paruh baya dengan masker medis menutupi sebagian wajahnya. Beliau adalah Koko Chandra, generasi ketiga pengelola Toko Kopi Kapal Selam.

Awalnya, percakapan kami berjalan hati-hati. Ada jarak yang wajar antara dua orang yang baru bertemu dan bertegur sapa. Aku bisa memahami hal itu. Barangkali terlalu banyak orang datang untuk memotret, mengunggah, lalu pergi tanpa pernah benar-benar mendengar cerita yang tersimpan di balik sebuah tempat.

Namun suasana perlahan berubah ketika aku menunjukkan beberapa tulisan tentang toko kopi di laman blog pribadiku yang juga menjadi isi buku Sepatualang dan menjelaskan niatku untuk merekam kisah-kisah kopi legendaris Nusantara. Dari tarikan mata dan pipinya yang tak tertutup masker, aku melihat Koko Chandra mulai tersenyum. Percakapan yang semula singkat berkembang menjadi obrolan hangat tentang kopi, keluarga, dan perjalanan sebuah usaha yang telah melewati berbagai zaman.

            “Toko ini sudah ada sejak tahun 1930-an,” ujar beliau membuka cerita.

Pikiranku langsung melayang ke Bandung pada masa kolonial. Tahun-tahun ketika kota ini berkembang sebagai pusat perdagangan dan perkebunan di Priangan. Di tengah perubahan zaman itulah keluarga Koko Chandra memulai usahanya. Menariknya, Toko Kopi Kapal Selam tidak lahir sebagai toko kopi semata.

“Dulu bukan cuma kopi, tapi hasil bumi. Apa saja dijual, termasuk beras.”

Seperti banyak toko keluarga pada masanya, usaha mereka tumbuh mengikuti kebutuhan masyarakat. Kopi hanyalah salah satu bagian dari aktivitas perdagangan yang dijalankan. Baru kemudian, seiring perjalanan waktu, fokus usaha mengerucut hingga akhirnya dikenal sebagai toko kopi seperti sekarang.

Koko Chandra sendiri mulai memegang kendali usaha keluarga ini sejak awal tahun 2000-an. Di tangannya, warisan yang telah dibangun selama tiga generasi terus dijaga dan dirawat. Saat berbincang dengannya, aku tidak menemukan sosok yang gemar membesar-besarkan sejarah keluarganya. Bahkan ketika kutanya bagaimana rasanya meneruskan usaha yang telah berjalan puluhan tahun, jawabannya singkat.

“Biasa-biasa aja.”

Jawaban itu terdengar sederhana. Namun justru dari kesederhanaan itulah aku merasakan ketulusan. Kadang-kadang, orang yang benar-benar menjalani sejarah tidak merasa perlu mengumumkan bahwa dirinya sedang menjaga sesuatu yang berharga. Mereka hanya melakukannya setiap hari.


sepatualang_toko kopi kapal selam bandung
Bukan sedang berpose untuk kamera.
Beliau sedang melakukan apa yang telah dijalani selama bertahun-tahun: menggiling kopi untuk pelanggan.


Di sela-sela percakapan, Koko Chandra melayani pesananku. Aku memilih membeli seperempat kilogram kopi Yellow Caturra yang digiling langsung di tempat. Jemarinya bergerak cekatan di antara timbangan, mesin giling, dan berbagai jenis kopi yang memenuhi ruangan. Gerakan yang tampak begitu akrab, seolah telah diulang ribuan kali selama bertahun-tahun. Ketika pembicaraan beralih pada filosofi pengelolaan kopi, aku menemukan sesuatu yang menarik.

“Kalau saya beda sama toko lain,” katanya. “Saya enggak mau menyimpan kopi mentah terlalu lama. Maksimum tiga tahun harus sudah habis.”

Pernyataan itu membuatku memahami bahwa setiap rumah kopi memiliki cara pandangnya sendiri terhadap rasa. Bagi Koko Chandra, kopi yang terlalu lama disimpan berisiko kehilangan sebagian karakter alaminya. Beliau lebih memilih menjaga kesegaran rasa yang lahir dari tanah tempat kopi itu tumbuh. Semacam penghormatan terhadap karakter asli biji kopi yang membuatnya memilih jalur berbeda.

Di toko itu tersedia berbagai jenis kopi dari banyak daerah. Nama-nama seperti Gayo, Toraja, Ciwidey, hingga Lembang menjadi bagian dari keseharian yang terus berputar di ruang tersebut. Setiap daerah membawa karakter rasa yang berbeda, dan Koko Chandra tampak mengenal semuanya dengan baik. Namun yang paling menarik bagiku bukanlah daftar asal kopi itu, melainkan hubungan yang terjalin di baliknya.

“Petani-petani itu sudah turun-temurun,” ujar Koko Chandra. “Dulu orang tua mereka yang kirim ke orang tua saya. Sekarang anak-anaknya yang kirim ke saya.”

Kalimat itu membuatku terdiam beberapa saat. Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, hubungan seperti ini terasa semakin langka. Hubungan yang tidak hanya dibangun oleh transaksi, tetapi juga oleh kepercayaan yang diwariskan lintas generasi. Orang tua petani menjual kopi kepada orang tua Koko Chandra. Anak-anak mereka melanjutkan hubungan yang sama. Tahun berganti. Generasi berubah. Namun kepercayaan itu tetap hidup. Di situlah aku merasa sedang melihat sesuatu yang lebih besar daripada sekadar perdagangan kopi. Aku melihat sebuah jalinan sosial yang dipelihara puluhan tahun.

Hal serupa tampak pada rak-rak toko yang memajang beberapa botol sirup lawas. Koko Chandra bercerita tentang hubungan keluarganya dengan para pelaku usaha lama di Bandung yang telah saling mengenal sejak zaman orang tua mereka.

Salah satunya adalah sirup Trieste, yang lebih dikenal sebagai Sirup T. Merek itu telah lama menjadi bagian dari sejarah kuliner Bandung. Menurut Koko Chandra, hubungan antar-keluarga itu tetap terjaga hingga hari ini. Di toko ini, kopi dan sirup bukan sekadar barang dagangan. Mereka juga menjadi saksi hubungan antarmanusia yang bertahan lebih lama daripada banyak bangunan modern yang tumbuh di kota.

Namun perjalanan sebuah usaha tentu tidak selalu berjalan mulus. Ketika pembicaraan beralih ke kondisi ekonomi beberapa tahun terakhir, nada suara Koko Chandra berubah lebih pelan.

“Dari Covid sampai sekarang belum normal.”

Pandemi meninggalkan dampak yang tidak kecil. Beliau bercerita bahwa dahulu satu jenis kopi bisa disimpan hingga sekitar satu ton dalam setahun. Kini jumlahnya berkurang cukup jauh.

“Sekarang paling lima ratus sampai enam ratus kilo.”

Perubahan itu bukan hanya dirasakan oleh toko. Para pelanggan mereka pun ikut terdampak. Banyak kedai kopi yang dahulu membeli dalam jumlah besar kini lebih berhati-hati. Jika sebelumnya mereka memesan hingga satu kilogram atau lebih, sekarang sebagian hanya membeli seperempat kilogram. Beberapa bahkan terpaksa menghentikan usahanya. Koko Chandra tidak mengucapkan keluhan panjang. Tidak ada nada menyalahkan keadaan. Yang ada hanyalah pengakuan jujur tentang perubahan yang sedang dihadapi. Salah satu cerita yang paling membekas bagiku adalah ketika beliau mengenang suasana kawasan sekitar toko sebelum pandemi.

“Dulu sebelum Covid, di depan itu ramai sekali.”

Beliau lalu bercerita tentang angkot-angkot yang berhenti di depan toko. Ada yang menitipkan barang. Ada yang menurunkan penumpang. Ada pula yang sekadar singgah sebentar sebelum melanjutkan perjalanan. Klakson kendaraan saling bersahutan. Orang datang dan pergi. Barang diangkut keluar masuk. Kawasan Pasar Baru berdenyut dengan ritmenya sendiri. Kini suasananya memang berbeda.

“Sekarang sejam baru ada satu angkot lewat.”

Aku memandang ke arah luar toko. Jalanan tetap hidup. Kendaraan masih berlalu-lalang. Namun cerita Koko Chandra membuatku membayangkan Bandung yang lain—Bandung yang pernah begitu akrab dengan ritme perdagangan tradisional dan hiruk-pikuk angkot yang menjadi nadi pergerakan kota.

Meski begitu, saat memandang ke sekeliling toko sore itu, aku tidak melihat sebuah tempat yang menyerah pada keadaan. Aku melihat mesin giling yang masih berputar. Aku melihat karung-karung kopi yang masih tersusun. Aku melihat pelanggan yang tetap datang. Dan aku melihat Koko Chandra yang masih berdiri di balik meja yang sama, menjaga warisan keluarganya.

“Kopi itu untungnya semua orang minum,” katanya menjelang akhir percakapan. “Cuma mungkin sekarang bukan prioritas utama lagi.”

Kalimat sederhana itu terasa seperti ringkasan pengalaman puluhan tahun. Ada kebijaksanaan seorang pedagang yang telah menyaksikan berbagai perubahan ekonomi, berbagai pergantian tren, dan berbagai dinamika masyarakat.

Sebelum berpamitan, aku meminta izin untuk berfoto bersama. Koko Chandra mengangguk ramah. Aku berdiri di sampingnya, di tengah ruang yang telah menjadi saksi perjalanan tiga generasi keluarga mereka. Di hadapan kami terbentang meja kayu tua yang setiap hari menjadi tempat bertemunya manusia, kopi, dan cerita.

Ada perasaan hangat yang sulit dijelaskan. Mungkin karena sepanjang sore itu aku tidak hanya mendengar kisah tentang kopi. Aku mendengar kisah tentang kesetiaan. Tentang keberlanjutan. Tentang bagaimana sebuah usaha keluarga tetap dijaga meskipun dunia di sekelilingnya terus berubah.

Shoe footprints

 

sepatualang_toko kopi kapal selam bandung
Seperempat kilogram Yellow Catura yang kubawa pulang, bersama segenggam cerita dari Pasar Baru.

Tak lama kemudian hujan turun cukup deras. Aku berpamitan dan melangkah keluar dari toko. Bulir-bulir air membasahi jalanan Bandung sore itu. Namun ada sesuatu yang lebih lama tinggal dalam ingatanku dibanding dinginnya hujan.

Aku datang ke Toko Kopi Kapal Selam untuk mencari cerita tentang kopi. Namun aku pulang membawa cerita tentang ketekunan. Tentang hubungan antara petani dan pembeli yang diwariskan lintas generasi. Tentang botol-botol sirup tua yang diam-diam menyimpan sejarah persahabatan. Tentang klakson angkot yang pernah bersahutan di depan toko. Tentang seperempat kilogram Yellow Caturra yang kugenggam dalam plastik bening sederhana, dan tentang seorang lelaki yang memilih tetap menjaga warisan keluarganya.

Di tengah perjalanan pulang, diam-diam aku memanjatkan sebuah doa. Semoga Kapal Selam tetap berlayar. Tidak harus menjadi yang paling besar. Tidak harus menjadi yang paling ramai. Cukuplah tetap ada, agar generasi setelah kita masih dapat mengenal aroma kopi yang dijaga dengan kesetiaan selama puluhan tahun.

Dan semoga Koko Chandra selalu diberi kesehatan dan kekuatan untuk meneruskan pelayaran itu selama mungkin. Sebab selama masih ada orang-orang yang bersedia menjaga warisan dengan sepenuh hati, sejarah tidak akan pernah benar-benar hilang. Ia akan terus hidup, tersimpan dalam cerita, dalam kenangan, dan dalam secangkir kopi yang diseduh penuh rasa hormat.[yk]

 

 

"Dan ketika hujan sore itu perlahan menghapus jejak langkah di jalanan Bandung,

ada satu harapan yang tetap tinggal: semoga Kapal Selam terus berlayar,

membawa aroma dan cerita yang tak sempat disimpan oleh waktu."

—Sepatualang—

 



 

 

Catatan Perjalanan :

·       Toko Kopi Kapal Selam berada di kawasan Pasar Baru–Kebon Jeruk, Kota Bandung, tidak jauh dari koridor perdagangan tua yang telah menjadi denyut ekonomi kawasan ini selama puluhan tahun. Dari area Braga atau Banceuy, arahkan perjalanan menuju kawasan Pasar Baru melalui Jalan Otto Iskandardinata (Otista), lalu masuk ke Jalan Pasar Barat. Sementara dari Jalan Kebon Jati, cukup menyusuri koridor pertokoan lama menuju Jalan Pasar Barat. Toko Kopi Kapal Selam berada di antara deretan toko-toko lawas yang masih bertahan di kawasan tersebut. Patokan terdekat yang mudah dikenali adalah Pasar Baru Trade Center dan kawasan perdagangan Kebon Jati.

 

·       Toko buka dari pagi hingga sore hari. Waktu terbaik untuk berkunjung adalah pada pagi atau menjelang sore, ketika suasana kawasan Pasar Baru tidak terlalu padat dan pengunjung dapat menikmati aroma kopi yang memenuhi ruang toko dengan lebih leluasa.