sepatualang_toko kopi kapal selam bandung
Dari luar ia tampak sederhana. Namun di balik pintunya tersimpan hampir satu abad sejarah perkopian Bandung.


   

"Waktu dapat mengubah wajah sebuah kota, memindahkan pusat keramaian, bahkan menghapus jejak banyak tempat dari ingatan manusia. Namun selalu ada segelintir orang yang memilih bertahan, menjaga apa yang diwariskan kepada mereka."

—Sepatualang—

 


 

Aroma panggangan biji kopi seketika menyergap indra penciumanku begitu langkah kaki melewati pintu kayu yang kokoh. Ada perasaan yang sulit dijelaskan setiap kali aku memasuki ruang-ruang yang seolah menolak tunduk pada waktu. Ruang-ruang seperti itu selalu menyimpan cerita yang tak tertulis di buku sejarah. Ia hidup dalam benda-benda yang masih digunakan, dalam kebiasaan yang diwariskan, dan dalam manusia-manusia yang memilih bertahan menjaga apa yang pernah dititipkan generasi sebelumnya.

Shoe footprints

 

Sore itu, di tengah langit Bandung yang perlahan meredup, langkahku berhenti di sebuah toko yang bersahaja namun menyimpan lapisan sejarah perkopian kota ini yang begitu tebal: Toko Kopi Kapal Selam.


sepatualang_toko kopi kapal selam bandung
Melangkah melalui pintu ini serasa memasuki ruang yang berjalan dengan ritme waktunya sendiri.


Dari luar, bangunannya tampak sederhana. Sebuah papan nama usang bertuliskan 'Toko Kopi Kapal Selam' melekat bersahaja di dinding atasnya, dikepung oleh jalinan kabel kota yang semrawut. Di bawah kanopi seng tua yang mulai legam dimakan usia, pintu masuknya tampak teduh, sedikit terhalang oleh gerobak jajanan di pelatarannya. Tidak ada kemewahan yang dipamerkan. Tidak ada sudut yang sengaja dirancang untuk menjadi latar swafoto. Namun justru kesederhanaan itulah yang membuat tempat ini terasa jujur. Rak-rak kayu yang telah lama digunakan, karung-karung kopi yang tersusun di beberapa titik ruangan, timbangan, mesin giling, dan berbagai perlengkapan kerja lainnya hadir bukan sebagai dekorasi, melainkan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.


sepatualang_toko kopi kapal selam bandung
Koko Chandra, generasi ketiga Toko Kopi Kapal Selam.


Di balik meja kasir kayu yang tampak setia menemani perjalanan waktu, berdiri seorang pria paruh baya dengan masker medis menutupi sebagian wajahnya. Beliau adalah Koko Chandra, generasi ketiga pengelola Toko Kopi Kapal Selam.

Awalnya, percakapan kami berjalan hati-hati. Ada jarak yang wajar antara dua orang yang baru bertemu dan bertegur sapa. Aku bisa memahami hal itu. Barangkali terlalu banyak orang datang untuk memotret, mengunggah, lalu pergi tanpa pernah benar-benar mendengar cerita yang tersimpan di balik sebuah tempat.

Namun suasana perlahan berubah ketika aku menunjukkan beberapa tulisan tentang toko kopi di laman blog pribadiku yang juga menjadi isi buku Sepatualang dan menjelaskan niatku untuk merekam kisah-kisah kopi legendaris Nusantara. Dari tarikan mata dan pipinya yang tak tertutup masker, aku melihat Koko Chandra mulai tersenyum. Percakapan yang semula singkat berkembang menjadi obrolan hangat tentang kopi, keluarga, dan perjalanan sebuah usaha yang telah melewati berbagai zaman.

            “Toko ini sudah ada sejak tahun 1930-an,” ujar beliau membuka cerita.

Pikiranku langsung melayang ke Bandung pada masa kolonial. Tahun-tahun ketika kota ini berkembang sebagai pusat perdagangan dan perkebunan di Priangan. Di tengah perubahan zaman itulah keluarga Koko Chandra memulai usahanya. Menariknya, Toko Kopi Kapal Selam tidak lahir sebagai toko kopi semata.

“Dulu bukan cuma kopi, tapi hasil bumi. Apa saja dijual, termasuk beras.”

Seperti banyak toko keluarga pada masanya, usaha mereka tumbuh mengikuti kebutuhan masyarakat. Kopi hanyalah salah satu bagian dari aktivitas perdagangan yang dijalankan. Baru kemudian, seiring perjalanan waktu, fokus usaha mengerucut hingga akhirnya dikenal sebagai toko kopi seperti sekarang.

Koko Chandra sendiri mulai memegang kendali usaha keluarga ini sejak awal tahun 2000-an. Di tangannya, warisan yang telah dibangun selama tiga generasi terus dijaga dan dirawat. Saat berbincang dengannya, aku tidak menemukan sosok yang gemar membesar-besarkan sejarah keluarganya. Bahkan ketika kutanya bagaimana rasanya meneruskan usaha yang telah berjalan puluhan tahun, jawabannya singkat.

“Biasa-biasa aja.”

Jawaban itu terdengar sederhana. Namun justru dari kesederhanaan itulah aku merasakan ketulusan. Kadang-kadang, orang yang benar-benar menjalani sejarah tidak merasa perlu mengumumkan bahwa dirinya sedang menjaga sesuatu yang berharga. Mereka hanya melakukannya setiap hari.


sepatualang_toko kopi kapal selam bandung
Bukan sedang berpose untuk kamera.
Beliau sedang melakukan apa yang telah dijalani selama bertahun-tahun: menggiling kopi untuk pelanggan.


Di sela-sela percakapan, Koko Chandra melayani pesananku. Aku memilih membeli seperempat kilogram kopi Yellow Caturra yang digiling langsung di tempat. Jemarinya bergerak cekatan di antara timbangan, mesin giling, dan berbagai jenis kopi yang memenuhi ruangan. Gerakan yang tampak begitu akrab, seolah telah diulang ribuan kali selama bertahun-tahun. Ketika pembicaraan beralih pada filosofi pengelolaan kopi, aku menemukan sesuatu yang menarik.

“Kalau saya beda sama toko lain,” katanya. “Saya enggak mau menyimpan kopi mentah terlalu lama. Maksimum tiga tahun harus sudah habis.”

Pernyataan itu membuatku memahami bahwa setiap rumah kopi memiliki cara pandangnya sendiri terhadap rasa. Bagi Koko Chandra, kopi yang terlalu lama disimpan berisiko kehilangan sebagian karakter alaminya. Beliau lebih memilih menjaga kesegaran rasa yang lahir dari tanah tempat kopi itu tumbuh. Semacam penghormatan terhadap karakter asli biji kopi yang membuatnya memilih jalur berbeda.

Di toko itu tersedia berbagai jenis kopi dari banyak daerah. Nama-nama seperti Gayo, Toraja, Ciwidey, hingga Lembang menjadi bagian dari keseharian yang terus berputar di ruang tersebut. Setiap daerah membawa karakter rasa yang berbeda, dan Koko Chandra tampak mengenal semuanya dengan baik. Namun yang paling menarik bagiku bukanlah daftar asal kopi itu, melainkan hubungan yang terjalin di baliknya.

“Petani-petani itu sudah turun-temurun,” ujar Koko Chandra. “Dulu orang tua mereka yang kirim ke orang tua saya. Sekarang anak-anaknya yang kirim ke saya.”

Kalimat itu membuatku terdiam beberapa saat. Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, hubungan seperti ini terasa semakin langka. Hubungan yang tidak hanya dibangun oleh transaksi, tetapi juga oleh kepercayaan yang diwariskan lintas generasi. Orang tua petani menjual kopi kepada orang tua Koko Chandra. Anak-anak mereka melanjutkan hubungan yang sama. Tahun berganti. Generasi berubah. Namun kepercayaan itu tetap hidup. Di situlah aku merasa sedang melihat sesuatu yang lebih besar daripada sekadar perdagangan kopi. Aku melihat sebuah jalinan sosial yang dipelihara puluhan tahun.

Hal serupa tampak pada rak-rak toko yang memajang beberapa botol sirup lawas. Koko Chandra bercerita tentang hubungan keluarganya dengan para pelaku usaha lama di Bandung yang telah saling mengenal sejak zaman orang tua mereka.

Salah satunya adalah sirup Trieste, yang lebih dikenal sebagai Sirup T. Merek itu telah lama menjadi bagian dari sejarah kuliner Bandung. Menurut Koko Chandra, hubungan antar-keluarga itu tetap terjaga hingga hari ini. Di toko ini, kopi dan sirup bukan sekadar barang dagangan. Mereka juga menjadi saksi hubungan antarmanusia yang bertahan lebih lama daripada banyak bangunan modern yang tumbuh di kota.

Namun perjalanan sebuah usaha tentu tidak selalu berjalan mulus. Ketika pembicaraan beralih ke kondisi ekonomi beberapa tahun terakhir, nada suara Koko Chandra berubah lebih pelan.

“Dari Covid sampai sekarang belum normal.”

Pandemi meninggalkan dampak yang tidak kecil. Beliau bercerita bahwa dahulu satu jenis kopi bisa disimpan hingga sekitar satu ton dalam setahun. Kini jumlahnya berkurang cukup jauh.

“Sekarang paling lima ratus sampai enam ratus kilo.”

Perubahan itu bukan hanya dirasakan oleh toko. Para pelanggan mereka pun ikut terdampak. Banyak kedai kopi yang dahulu membeli dalam jumlah besar kini lebih berhati-hati. Jika sebelumnya mereka memesan hingga satu kilogram atau lebih, sekarang sebagian hanya membeli seperempat kilogram. Beberapa bahkan terpaksa menghentikan usahanya. Koko Chandra tidak mengucapkan keluhan panjang. Tidak ada nada menyalahkan keadaan. Yang ada hanyalah pengakuan jujur tentang perubahan yang sedang dihadapi. Salah satu cerita yang paling membekas bagiku adalah ketika beliau mengenang suasana kawasan sekitar toko sebelum pandemi.

“Dulu sebelum Covid, di depan itu ramai sekali.”

Beliau lalu bercerita tentang angkot-angkot yang berhenti di depan toko. Ada yang menitipkan barang. Ada yang menurunkan penumpang. Ada pula yang sekadar singgah sebentar sebelum melanjutkan perjalanan. Klakson kendaraan saling bersahutan. Orang datang dan pergi. Barang diangkut keluar masuk. Kawasan Pasar Baru berdenyut dengan ritmenya sendiri. Kini suasananya memang berbeda.

“Sekarang sejam baru ada satu angkot lewat.”

Aku memandang ke arah luar toko. Jalanan tetap hidup. Kendaraan masih berlalu-lalang. Namun cerita Koko Chandra membuatku membayangkan Bandung yang lain—Bandung yang pernah begitu akrab dengan ritme perdagangan tradisional dan hiruk-pikuk angkot yang menjadi nadi pergerakan kota.

Meski begitu, saat memandang ke sekeliling toko sore itu, aku tidak melihat sebuah tempat yang menyerah pada keadaan. Aku melihat mesin giling yang masih berputar. Aku melihat karung-karung kopi yang masih tersusun. Aku melihat pelanggan yang tetap datang. Dan aku melihat Koko Chandra yang masih berdiri di balik meja yang sama, menjaga warisan keluarganya.

“Kopi itu untungnya semua orang minum,” katanya menjelang akhir percakapan. “Cuma mungkin sekarang bukan prioritas utama lagi.”

Kalimat sederhana itu terasa seperti ringkasan pengalaman puluhan tahun. Ada kebijaksanaan seorang pedagang yang telah menyaksikan berbagai perubahan ekonomi, berbagai pergantian tren, dan berbagai dinamika masyarakat.

Sebelum berpamitan, aku meminta izin untuk berfoto bersama. Koko Chandra mengangguk ramah. Aku berdiri di sampingnya, di tengah ruang yang telah menjadi saksi perjalanan tiga generasi keluarga mereka. Di hadapan kami terbentang meja kayu tua yang setiap hari menjadi tempat bertemunya manusia, kopi, dan cerita.

Ada perasaan hangat yang sulit dijelaskan. Mungkin karena sepanjang sore itu aku tidak hanya mendengar kisah tentang kopi. Aku mendengar kisah tentang kesetiaan. Tentang keberlanjutan. Tentang bagaimana sebuah usaha keluarga tetap dijaga meskipun dunia di sekelilingnya terus berubah.

Shoe footprints

 

sepatualang_toko kopi kapal selam bandung
Seperempat kilogram Yellow Catura yang kubawa pulang, bersama segenggam cerita dari Pasar Baru.

Tak lama kemudian hujan turun cukup deras. Aku berpamitan dan melangkah keluar dari toko. Bulir-bulir air membasahi jalanan Bandung sore itu. Namun ada sesuatu yang lebih lama tinggal dalam ingatanku dibanding dinginnya hujan.

Aku datang ke Toko Kopi Kapal Selam untuk mencari cerita tentang kopi. Namun aku pulang membawa cerita tentang ketekunan. Tentang hubungan antara petani dan pembeli yang diwariskan lintas generasi. Tentang botol-botol sirup tua yang diam-diam menyimpan sejarah persahabatan. Tentang klakson angkot yang pernah bersahutan di depan toko. Tentang seperempat kilogram Yellow Caturra yang kugenggam dalam plastik bening sederhana, dan tentang seorang lelaki yang memilih tetap menjaga warisan keluarganya.

Di tengah perjalanan pulang, diam-diam aku memanjatkan sebuah doa. Semoga Kapal Selam tetap berlayar. Tidak harus menjadi yang paling besar. Tidak harus menjadi yang paling ramai. Cukuplah tetap ada, agar generasi setelah kita masih dapat mengenal aroma kopi yang dijaga dengan kesetiaan selama puluhan tahun.

Dan semoga Koko Chandra selalu diberi kesehatan dan kekuatan untuk meneruskan pelayaran itu selama mungkin. Sebab selama masih ada orang-orang yang bersedia menjaga warisan dengan sepenuh hati, sejarah tidak akan pernah benar-benar hilang. Ia akan terus hidup, tersimpan dalam cerita, dalam kenangan, dan dalam secangkir kopi yang diseduh penuh rasa hormat.[yk]

 

 

"Dan ketika hujan sore itu perlahan menghapus jejak langkah di jalanan Bandung,

ada satu harapan yang tetap tinggal: semoga Kapal Selam terus berlayar,

membawa aroma dan cerita yang tak sempat disimpan oleh waktu."

—Sepatualang—

 



 

 

Catatan Perjalanan :

·       Toko Kopi Kapal Selam berada di kawasan Pasar Baru–Kebon Jeruk, Kota Bandung, tidak jauh dari koridor perdagangan tua yang telah menjadi denyut ekonomi kawasan ini selama puluhan tahun. Dari area Braga atau Banceuy, arahkan perjalanan menuju kawasan Pasar Baru melalui Jalan Otto Iskandardinata (Otista), lalu masuk ke Jalan Pasar Barat. Sementara dari Jalan Kebon Jati, cukup menyusuri koridor pertokoan lama menuju Jalan Pasar Barat. Toko Kopi Kapal Selam berada di antara deretan toko-toko lawas yang masih bertahan di kawasan tersebut. Patokan terdekat yang mudah dikenali adalah Pasar Baru Trade Center dan kawasan perdagangan Kebon Jati.

 

·       Toko buka dari pagi hingga sore hari. Waktu terbaik untuk berkunjung adalah pada pagi atau menjelang sore, ketika suasana kawasan Pasar Baru tidak terlalu padat dan pengunjung dapat menikmati aroma kopi yang memenuhi ruang toko dengan lebih leluasa.

 

sepatualang_pulau kemaro, palembang
Raya di bawah Pagoda Pulau Kemaro dan langit Palembang yang mendung.


 

“Pulau kecil itu berdiri tenang di tengah Sungai Musi, seolah telah terlalu lama menyaksikan manusia jatuh cinta, karam, lalu kembali lagi.”

—Sepatualang—

 


 

Ada detak yang berbeda setiap kali tubuhku menapak di atas tanah Palembang. Berkali-kali Yunis membawaku melintasi kota ini—melewati jalan-jalan yang panas, trotoar yang sibuk, dan bayang-bayang besar Jembatan Ampera yang seperti tak pernah tidur—namun selalu saja ada sesuatu yang membuat langkah kami tertunda sebelum benar-benar sampai ke Pulau Kemaro. Seolah pulau kecil di tengah Sungai Musi itu belum ingin kami datangi terlalu cepat.

Hingga akhirnya, Sabtu siang, 16 Mei 2026, di bawah langit kelabu yang menggantung rendah di atas kota, kami benar-benar berdiri di dermaga belakang Pasar 16 Ilir. Tempat yang ramai, sempit, berisik, namun justru terasa hidup dengan cara yang sulit dijelaskan. Aku suka tempat seperti ini. Tempat yang membuatku ingin terus berjalan. Tempat yang membuatku ingin menarik langkah Yunis sambil berbisik: ayo, jangan lama-lama diam… kita jalan lagi.


sepatualang_pulau kemaro, palembang
Menuruni dermaga Pasar 16 Ilir, menuju lorong waktu bernama Sungai Musi.


Kami menuruni dermaga apung yang sempit, dengan lantai besi yang sedikit bergoyang setiap kali diinjak. Tepat di atas kepala kami, tiang merah raksasa Jembatan Ampera berdiri seperti penjaga tua Sungai Musi. Jarum jam di menara Ampera hampir menyentuh pukul satu siang ketika Yunis melangkah hati-hati sambil menggenggam kameranya.

Di bawah jembatan itu, Palembang terasa berbeda. Bau solar bercampur dengan aroma sungai, ikan, pasar, dan kayu perahu yang lembap. Para pengemudi ketek dan speedboat berseru menawarkan jasa mereka, suara mesinnya saling bersahutan dengan bunyi klakson kendaraan dari atas jembatan. Di tempat ini, kota modern dan kehidupan sungai seperti hidup berdampingan tanpa saling mengganggu. Di atas sana kendaraan melaju cepat mengejar waktu, sementara di bawah sini orang-orang masih menggantungkan hidup pada arus Musi yang tua.

Yunis dan suaminya akhirnya menyewa sebuah speedboat. Tiga ratus ribu rupiah untuk perjalanan pergi-pulang menuju Pulau Kemaro. Bagiku, itu bukan sekadar ongkos menyeberang. Itu seperti membeli tiket kecil untuk masuk ke lorong waktu Palembang.

Begitu mesin dinyalakan dan perahu mulai bergerak meninggalkan tepian Pasar 16 Ilir, aku langsung terdiam. Dari atas jembatan, Musi memang selalu tampak besar. Namun dari atas perahu kecil seperti ini, sungai itu terasa jauh lebih raksasa. Airnya cokelat pekat, bergerak deras sambil membawa ranting, lumpur, dan entah berapa banyak cerita yang sudah hanyut selama ratusan tahun.


sepatualang_pulau kemaro, palembang
Mesin boleh mati, tapi petualangan selalu menemukan jalannya untuk terus berjalan.


Aku bisa merasakan tenaga sungai itu bahkan dari telapak tubuhku. Perahu kecil kami seperti hanya serpihan kayu yang sedang menumpang lewat di tubuh raksasa tua bernama Musi. Namun rupanya sungai ini ingin mempermainkan kami sedikit. Baru beberapa menit perjalanan, mesin speedboat tiba-tiba batuk keras, lalu mati begitu saja. Suasana mendadak sunyi. Tak ada lagi suara raungan mesin. Yang tersisa hanya bunyi air menghantam lambung perahu dan desir angin sungai yang lembap. Kak Wandi, pengemudi perahu kami, mencoba menyalakan mesin berulang kali, tetapi perahu itu tetap diam mengambang di tengah arus.

Aku memandangi sekitar. Di dekat kami berdiri kapal-kapal logistik raksasa dan tanker batu bara dengan tubuh besi yang tinggi menjulang. Perahu kami terlihat sangat kecil di samping mereka. Kontras itu terasa aneh. Di jalur air yang dahulu membawa pedagang dan pelaut Sriwijaya, kini kapal industri modern melintas tanpa henti membawa muatan tambang dan logistik.

Akan tetapi Musi tetaplah Musi. Ia tetap mengalir dengan wajah tuanya sendiri. Cukup lama kami terombang-ambing di tengah sungai. Anehnya, Yunis dan suaminya justru tampak menikmati keadaan itu. Yunis beberapa kali tertawa kecil sambil memotret kapal-kapal besar dan arus sungai yang bergulung pelan. Sementara aku… entahlah. Aku justru merasa senang karena akhirnya kami dipaksa berhenti. Kadang perjalanan memang perlu jeda agar manusia mau benar-benar melihat.

Tak lama kemudian sebuah speedboat lain mendekat. Seutas tali dilemparkan, lalu perahu kami mulai ditarik perlahan membelah arus. Di tengah gerakan lambat itu, aku merasa seperti sedang memasuki lapisan lain dari Palembang. Lapisan yang tidak bisa ditemukan di mal, hotel, atau jalan raya. Lapisan yang masih menyimpan napas sungai. Di sanalah, di kejauhan yang mulai mendekat perlahan, Pulau Kemaro akhirnya muncul.

Shoe footprints



sepatualang_pulau kemaro, palembang
Gerbang klenteng dengan pilar-pilar merah dan deretan lampion.

 

Nama “Kemaro” konon berasal dari kata kemarau—pulau yang tetap muncul meski Sungai Musi sedang pasang tinggi. Ketika langkah pertama kami menyentuh daratannya, aku langsung merasakan suasana yang berbeda. Angin di pulau ini lebih tenang. Udara terasa lebih lembap, namun juga lebih pelan.

Gerbang klenteng berdiri menyambut dengan pilar-pilar merah dan deretan lampion yang menggantung di langit-langitnya. Tulisan “SERIWIJAYA PALEMBANG” membentang tegas di atas gerbang, seolah mengingatkan siapa saja bahwa tempat ini bukan sekadar pulau kecil wisata. Ini adalah potongan ingatan kota tua.

Yunis berdiri cukup lama di depan gerbang itu. Blus cokelat mudanya bergerak pelan tertiup angin sungai, sementara kameranya sibuk merekam detail-detail kecil yang mungkin luput dari mata orang lain.

Lalu aku melihat pagoda itu. Menjulang tinggi dengan warna merah, hijau, dan emas di bawah langit mendung yang kelabu. Cantik sekali. Aku segera menarik langkah Yunis lagi. Ayo… jalan lagi.

Setelah terlalu lama duduk di atas perahu yang rusak tadi, akhirnya aku kembali bebas menyentuh tanah. Yunis meluruskan kakinya di atas konblok merah halaman pulau, sementara aku merebah santai menikmati sejuk Kemaro. Dari bawah sini, pagoda sembilan lantai itu tampak jauh lebih megah. Seolah tumbuh langsung dari tubuh Sungai Musi menuju langit.


sepatualang_pulau kemaro, palembang
Lampion, angin sungai, dan langkah-langkah pelan yang mengendap di tanah tua.


Kami berjalan mengelilingi pulau itu. Sekali. Lalu dua kali. Aku memang selalu suka berjalan lebih jauh daripada yang direncanakan. Kami melewati pohon cinta, makam tua, altar sembahyang, dan sudut-sudut sunyi yang dipenuhi aroma dupa samar. Di sela langkah-langkah itu, Pulau Kemaro terus membisikkan kisah lama tentang Tan Bun An dan Siti Fatimah—tentang cinta yang karam bersama Sungai Musi dan akhirnya berubah menjadi legenda yang terus hidup sampai sekarang.


sepatualang_pulau kemaro, palembang
Ada rasa damai yang sulit dijelaskan ketika dupa, doa, dan angin sungai bertemu di tempat yang sama.


Makam muslim dan klenteng berdiri berdampingan tanpa terasa saling menjauh. Warung-warung kecil tetap hidup dari para peziarah dan wisatawan yang datang silih berganti. Perahu-perahu tetap hilir mudik membawa orang-orang yang ingin melihat sejarah dari dekat. Semuanya mengalir saja seperti air sungai.

Sebelum pulang, kami sempat singgah di sebuah warung terapung di tepi Musi. Yunis dan suaminya duduk berdampingan di kursi plastik jingga sambil menikmati pindang ikan baung, nasi putih hangat, dan es jeruk dingin. Aku menyukai momen seperti itu. Bukan tentang tempat mewah atau makanan mahal, tetapi tentang jeda setelah perjalanan.

Sore mulai turun ketika kami kembali menaiki speedboat. Dan kali ini, mesin perahu bekerja terlalu baik. Kak Wandi memacu perahu dengan kecepatan penuh membelah arus Musi yang bergelombang. Perahu kami melompat-lompat di atas air, sementara cipratan sungai berkali-kali menghantam tubuh Yunis dan suaminya hingga pakaian mereka basah. Aku ikut basah. Namun aku menyukainya. Air sungai terasa dingin dan liar. Di tengah hantaman itu, suami Yunis menyeka wajahnya sambil tertawa keras. “Jadi wong Plembang nian lah minum air Sungai Musi.” Kami semua tertawa.

Namun di balik candaan itu, ada kepercayaan lama yang diam-diam terasa hangat di hati. Orang-orang Palembang percaya, siapa pun yang pernah meminum air Musi, suatu hari nanti akan kembali lagi ke kota ini. Dan mungkin sore itu, tanpa sadar, Musi memang sedang menandai kami. Membasahi tubuh kami. Mengikat langkah kami. Membisikkan bahwa suatu hari nanti kami akan datang lagi.

Aku tahu itu. Karena bahkan ketika perahu mulai mendekati dermaga Pasar 16 Ilir dan perjalanan perlahan selesai, aku masih ingin terus berjalan. Masih ingin menarik langkah Yunis pelan-pelan sambil berkata: Ayo… kita jalan lagi.[yk]

 


 

“Dan mungkin benar kata orang-orang Palembang: sekali saja Musi menyentuh tubuhmu, sebagian langkahmu akan selalu tertinggal di sana.”

—Sepatualang—

 

 


 

Catatan Perjalanan Menuju Pulau Kemaro :

Jika suatu hari langkahmu membawamu ke Palembang, cobalah datang ke tepian Musi dari belakang Pasar 16 Ilir atau kawasan Benteng Kuto Besak (BKB). Dari sana, denyut sungai terasa jauh lebih nyata dibanding sekadar memandangnya dari atas Jembatan Ampera. Perahu-perahu ketek dan speedboat biasanya sudah berjajar sejak pagi.

¨     Kami berangkat sekitar pukul satu siang menggunakan speedboat dengan tarif Rp300.000 untuk perjalanan pulang-pergi menuju Pulau Kemaro. Tarif bisa berubah tergantung jenis perahu, jumlah penumpang, dan kemampuan menawar. Perahu ketek tradisional umumnya sedikit lebih murah, sementara speedboat membuat waktu tempuh lebih singkat.

¨     Dalam kondisi sungai yang bersahabat, perjalanan biasanya hanya memakan waktu sekitar 10–15 menit. Namun Sungai Musi kadang punya kehendaknya sendiri. Arus deras, lalu lintas kapal logistik, atau mesin perahu yang tiba-tiba rewel bisa membuat perjalanan lebih lama dari perkiraan. Dan justru di situlah petualangannya terasa.

¨     Pulau Kemaro sendiri dibuka untuk umum setiap hari. Waktu terbaik untuk datang menurutku adalah pagi menjelang siang atau sore hari ketika cahaya matahari mulai lembut dan angin sungai terasa lebih ramah untuk berjalan kaki mengelilingi pulau.

¨     Di sana sudah tersedia jalur pedestrian, warung kecil, area klenteng, pagoda sembilan lantai, makam bersejarah, hingga beberapa toko suvenir sederhana. Jangan berharap suasana wisata modern yang terlalu rapi. Daya tarik Kemaro justru terletak pada kesederhanaannya—pada rasa tua yang masih tinggal di sela pepohonan, dupa, dan angin sungai.

¨     Dan satu hal lagi. Jika menaiki speedboat saat sore hari, siapkan pelindung kamera atau kantong antiair. Gelombang Musi bisa cukup liar, dan cipratannya sering datang tanpa aba-aba. Siapa tahu, Sungai Musi juga sedang ingin “menandai” langkahmu seperti yang ia lakukan kepada kami sore itu.


sepatualang_balai adat melayu riau pekanbaru
Di hadapan takhta, Uwak Julir berdiri bukan sebagai raja, melainkan penjaga marwah.

 

 

“Melayu bukan sekadar tanjak yang tegak atau ukiran yang indah di dinding balai.

Ia hidup pada budi pekerti, pada cara menjaga marwah, dan pada kesetiaan merawat warisan yang nyaris dilupakan zaman.”

—Sepatualang—

 

 

Pekanbaru selalu punya cara untuk mengingatkan bahwa ia adalah kota yang tumbuh dari pertemuan air, keringat, dan doa. Kota ini tidak dibangun di atas tanah yang langsung padat; ia menuntut ketabahan untuk menimbun rawa, mengalirkan sungai, hingga akhirnya bangunan-bangunan megah bisa berpijak.

Waktu menunjukkan pukul 14.30 WIB ketika langkah saya tertahan di depan sebuah gerbang di Jalan Diponegoro. Matahari Riau sedang terik-teriknya menyengat kulit. Di hadapan saya berdiri Balai Adat Melayu Riau. Gedungnya kokoh, dengan warna kuning dan hijau yang mencolok—warna yang dalam filosofi Melayu melambangkan kejayaan dan kesuburan. Namun, ada sesuatu yang lebih dari sekadar arsitektur yang memanggil saya untuk masuk hari itu: sebuah aroma sejarah yang rasanya belum tuntas diceritakan oleh buku-buku teks sekolah.

Di sanalah saya bertemu Uwak Julir. Atau sebagaimana ia memperkenalkan dirinya dengan jenaka, “Panggil saja Uwak Julir, bulan Juli tambah ujungnya R,”. Tawanya renyah, khas orang yang sudah kenyang makan asam garam kehidupan namun tetap memilih untuk tetap membumi. 

Shoe footprints

 


sepatualang_balai adat melayu riau pekanbaru
Ruangan ini tidak hanya menyimpan suara upaca, tetapi juga jejak ingatan sebuah bangsa.

Tanah yang Berangkat dari Rawa

Kami duduk bersila—atau duduk selo sebagaimana istilah masyarakat di sini—di atas lantai balai yang sejuk. Di tengah ruangan yang luas dan tenang, Uwak Julir mulai membentangkan peta masa lalu. Bagi banyak orang, Balai Adat ini mungkin hanya gedung protokoler tempat upacara adat formal dilangsungkan. Namun bagi Uwak, setiap jengkal tanah di bawah kaki kami adalah saksi hidup sebuah perjuangan fisik yang luar biasa.

"Waktu itu ini dibangun tahun 82. Tanah ini 6 meter timbunannya," kenang Uwak Julir sambil matanya menerawang ke arah langit-langit balai. Ia menceritakan bagaimana kawasan ini dulunya adalah "paru-paru penyaringan kota", sebuah hutan kota dengan anak sungai yang mengalir tenang.

Proses menimbun rawa sedalam itu bukan perkara mudah. Uwak berkisah betapa beratnya membawa tanah timbun untuk menutup lubang-lubang rawa agar fondasi bangunan ini tidak goyah. Baginya, Balai Adat ini bukan sekadar bangunan semen dan batu, tapi adalah simbol bagaimana identitas Melayu "ditimbun" sedikit demi sedikit dengan kesabaran hingga ia bisa berdiri tegak.

 

Penjaga Nyala Api dan Marwah Pakaian

Uwak Julir bukan sekadar pengelola; ia adalah penjaga nyala api. Ia bercerita tentang masa-masa awal pembangunan, saat listrik belum menyentuh sudut-sudut ruangan ini. Di malam hari, ia harus mengukir dan mengecat detail bangunan hanya dengan bantuan lampu teplok atau lilin yang apinya bergoyang diterpa angin.

Kesungguhan Uwak tidak hanya terlihat dari cara ia merawat gedung, tapi juga dari caranya membawa diri. Sore itu, meski cuaca sedang panas, Uwak tetap terlihat bersahaja namun rapi. Ia bercerita betapa ia sangat menjunjung tinggi tata cara berpakaian adat. Bagi Uwak, memakai baju adat bukan sekadar formalitas, tapi soal marwah. Ia memastikan kain sampingnya terpasang dengan lipatan yang benar, kancing yang genap, dan tanjak yang tegak.

"Baju ini identitas, bukan kostum," seolah itulah pesan tersirat dari kerapiannya. Ia tidak akan membiarkan dirinya terlihat sembarangan di dalam gedung ini, karena baginya, pakaian adalah cara manusia menghargai tempat dan leluhurnya.

Berbicara dengan Uwak Julir adalah berbicara tentang prinsip. Di balik keramahannya, ia adalah sosok yang tegas, terutama jika menyangkut aturan di Balai Adat. Uwak memiliki semacam "kontrak batin" dengan gedung ini. Ia bercerita bahwa siapa pun yang ingin menggunakan gedung ini harus mengikuti aturan kebersihan dan ketertiban yang ditetapkan.

Baginya, menjaga kebersihan balai adalah bagian dari menjaga kehormatan adat itu sendiri. Jika seseorang tidak bisa menghargai gedung ini, maka mereka tidak berhak menikmatinya. Ketegasan ini muncul dari rasa memiliki yang sangat dalam; Uwak merasa bertanggung jawab kepada Tuhan dan para pendahulu atas setiap sudut ruangan ini.

 

sepatualang_balai adat melayu riau pekanbaru
Warna-warna ini bukan sekadar penghias ruang, melainkan simbol doa dan kemuliaan.

Simbolisme dalam Setiap Ukiran dan Doa

Saya mengalihkan pandangan ke sekeliling ruangan. Di dinding-dinding yang tinggi, mata saya dimanjakan oleh detail ukiran Pucuk Rebung yang berderet rapi. Uwak juga menunjuk ke arah Takbir—kain-kain hiasan berwarna-warni yang menjuntai rapi di sela-sela tiang. Kain-kain ini menciptakan suasana sakral namun hangat.

Satu hal yang paling menarik perhatian saya adalah penjelasan Uwak mengenai tradisi Tepuk Tepung Tawar. Uwak menjelaskan dengan detail lima jenis bahan yang digunakan: bertis (padi gonseng yang meletup), beras kunyit, beras putih, bunga rampai, dan air bedak yang kental. Angka-angka di sini tidak boleh sembarangan; harus ganjil—3, 5, 7, hingga 9 orang yang menepuk. "Itu doa, Yunis. Setiap taburan adalah harapan agar segala hajat berjalan sukses," katanya pelan.

 

sepatualang_balai adat melayu riau pekanbaru
Petuah-petuah lama masih menggema dari dinding balai.

Refleksi dan Warisan Kata-kata

Mendengar cerita Uwak Julir, saya tersadar bahwa adat bukan hanya soal gelar-gelar mentereng. Di tengah zaman ketika adat kadang tampil semakin seremonial, saya justru menemukan ruhnya pada sosok-sosok seperti Uwak Julir. Ia mengingatkan bahwa inti dari adat adalah "Budi Pekerti" dan pendidikan karakter.

Uwak Julir sendiri adalah personifikasi dari kesetiaan itu. Ia telah mengikuti perjalanan tokoh budayawan besar Riau, almarhum Pak Tenas Effendy, hingga ke mancanegara. Meski anak-anaknya kini telah sukses meniti karier di dunia perbankan, Uwak tetap memilih di sini.

Di akhir pertemuan kami, Uwak memberikan sesuatu yang bagi saya jauh lebih berharga daripada cinderamata fisik mana pun. Ia memberikan saya dua buah buku karya almarhum Tenas Effendy: “Syair Nasib Melayu” dan “Kearifan Pemikiran Melayu”.

"Jangan sembarangan baca sejarah, Yunis. Cari yang lurus," pesannya singkat namun dalam. Ia ingin memastikan bahwa siapa pun yang datang dari jauh untuk belajar tentang Riau, tidak pulang dengan cerita yang dangkal. Ia menjaga kejujuran sejarah dengan cara yang paling fundamental: literasi. Buku-buku itu kini ada di tangan saya, menjadi beban sekaligus kehormatan untuk saya pelajari lebih lanjut.

Shoe footprints

 


sepatualang_balai adat melayu riau pekanbaru
Di ruang inilah sejarah tidak hanya diceritakan, tetapi dirawat.

Sore itu, saat saya melangkah keluar dari gerbang Balai Adat, matahari sudah mulai melandai. Cahayanya yang kemerahan memantul di dinding balai, membuatnya tampak lebih megah dari saat saya datang tadi. Saya meninggalkan Balai Adat dengan satu pemahaman baru yang menghujam: bahwa di bawah lantai keramik yang dingin itu, tersimpan ribuan meter kubik tanah timbun yang dibawa dengan peluh. Di dalamnya tertanam keringat dan doa dari mereka yang membangunnya dengan bantuan lampu minyak teplok.

Dan selama masih ada orang-orang seperti Uwak Julir—yang menjaga marwah bukan dengan teriakan, melainkan dengan pengabdian—maka identitas Melayu tidak akan pernah lari dari tanahnya. Ia akan tetap di sana, setegar tiang-tiang balai yang dipancang di atas rawa yang kini telah menjelma menjadi sejarah.[yk]

 

 

“Dan sore itu saya belajar, menjaga balai adat sesungguhnya bukan hanya menjaga bangunan, melainkan menjaga ingatan sebuah bangsa.”

—Sepatualang—

 

 

 

Informasi Pengunjung & Lokasi:

·       Nama Tempat: Balai Adat Melayu Riau (Gedung LAM Riau)

·       Lokasi: Jl. Diponegoro No. 8, Kota Tinggi, Kec. Pekanbaru Kota, Kota Pekanbaru, Riau.

·    Petunjuk Arah: Terletak di jantung kota Pekanbaru, berada di kawasan protokol Jalan Diponegoro. Posisinya sangat strategis, tak jauh dari Masjid Raya An-Nur dan berseberangan dengan beberapa gedung pemerintahan penting. Kamu bisa dengan mudah menemukannya menggunakan kendaraan pribadi atau transportasi daring.

·     Waktu Kunjungan: Area luar gedung biasanya dapat dinikmati setiap hari. Namun, untuk melihat bagian dalam atau berdiskusi lebih dalam tentang adat, disarankan datang pada jam kerja (Senin–Jumat) atau saat ada agenda kegiatan kebudayaan tertentu.

·   Tips Sepatualang: Jika beruntung bertemu Uwak Julir, jangan ragu untuk menyapa dan berbincang. Cerita-cerita lisan dari beliau seringkali lebih kaya daripada apa yang tertulis di papan informasi. Jangan lupa untuk tetap menjaga tata krama dan kebersihan selama berada di area balai.