sepatualang-kopi lim kok tong pekanbaru
Penanda kopi Lim Kok Tong yang ikonik.

 


"Sebab perjalanan bukan sekadar perpindahan raga, melainkan cara kita menyeduh ingatan yang mulai mendingin di cangkir waktu."

—Sepatualang—

 

 

 

Pukul setengah sepuluh pagi di Bandara Sultan Syarif Kasim II (SSK II), Pekanbaru, adalah waktu di mana cahaya matahari menyelinap masuk melalui kaca-kaca besar terminal, menciptakan garis-garis emas yang menari di atas lantai marmer. Suasana belum terlalu hiruk-pikuk, namun denyut keberangkatan sudah mulai terasa kencang. Saya berjalan beriringan dengan suami, langkah kaki kami bergema pelan di antara keriuhan pengumuman jadwal penerbangan yang bersahutan. Di sela-sela kepadatan jadwal dan tumpukan bagasi, kami mencari sebuah jeda—sebuah titik koordinat yang mampu menenangkan debar jantung sebelum raga ini dibawa melesat ke angkasa.

Shoe footprints

 

sepatualang-kopi lim kok tong pekanbaru
Menanti keberangkatan dengan menikmati cita rasa kopi Pematangsiantar.


Pencarian kami berhenti pada sebuah pendar cahaya neon yang hangat di salah satu sudut ruang tunggu keberangkatan. Di sana, tertulis dengan jelas: Wayang Coffeeshop by Lim Kok Tong. Nama itu seperti magnet bagi para pengelana yang mengenal sejarah. Aroma robusta yang dipanggang dengan cara klasik segera menyergap indra penciuman, seolah-olah membawa sepotong udara dari Pematangsiantar langsung ke jantung kota Pekanbaru.


sepatualang-kopi lim kok tong pekanbaru
Nazif bukan hanya melayani tapi ia mengajak setiap orang untuk tinggal lebih lama.


Di sinilah saya bertemu dengan Nazif Arifin. Sebagai manager yang memegang kendali di kedai ini, ia menyambut kami dengan ketenangan yang ganjil di tengah lingkungan bandara yang serba terburu-buru. Nazif memiliki sorot mata yang bangga akan jenama yang ia jaga. Sambil mempersilakan kami duduk di kursi kayu yang masih mengilap, ia mulai merajut kisah tentang sebuah dinasti kopi yang telah bertahan melewati berbagai zaman.

"Sejarah kopi ini dimulai jauh sebelum republik ini merdeka, tepatnya pada tahun 1925," ujar Nazif membuka percakapan, suaranya mantap namun rendah. Ia bercerita tentang Lim Kok Tong, sang perintis, yang memulai segalanya dari sebuah kedai kecil bernama Heng Seng di persimpangan jalan di Pematangsiantar. Di masa itu, kedai kopi lebih dari sekadar tempat minum; ia adalah balai pertemuan sosial, tempat bertukar kabar antara mandor perkebunan, pedagang lintas daerah, hingga penduduk lokal.

Lim Kok Tong membangun reputasinya di atas satu pilar: konsistensi. Biji kopi robusta pilihan dari dataran tinggi Sumatra Utara diproses dengan teknik tradisional yang sangat dijaga kerahasiaannya. "Nama Lim Kok Tong sendiri sebenarnya diambil dari nama anak kedua," Nazif menjelaskan, merujuk pada estafet kepemimpinan keluarga yang kini sudah memasuki generasi keempat. Perpecahan nama antara Masa Kok Tong dan Lim Kok Tong di masa lalu bukan karena konflik, melainkan cara lain untuk menjaga warisan agar setiap cabang keluarga tetap bisa menghidupkan api tradisi di bawah satu bendera rasa yang sama.

Lim Kok Tong adalah ruang peleburan yang luar biasa. Di Siantar, tidak ada kasta di depan cangkir kopi mereka. Pejabat dan rakyat jelata duduk semeja, menghirup aroma yang sama. Membawa konsep ini ke bandara internasional—ruang yang sangat kental dengan nuansa ekonomi kelas menengah ke atas—memiliki tantangan tersendiri. Namun, Lim Kok Tong berhasil mempertahankan jiwanya sebagai kedai rakyat yang bersahaja di bawah pendar lampu modern.

Shoe footprints

 

Di meja kami, pesanan mulai berdatangan. Suami saya, yang selalu setia pada rasa-rasa yang klasik dan hangat, memesan segelas kopi susu panas. Cangkirnya keramik putih dengan logo wajah Lim Kok Tong yang ikonik, mengepulkan uap yang membawa aroma tanah dan cokelat gelap. Di sisi lain, saya memilih es kopi susu—sebuah kontras yang segar untuk pagi yang mulai menghangat.


sepatualang-kopi lim kok tong pekanbaru
Menyaksikan kopi diseduh melalui ketekunan dan keahlian tangan sang barista.


Saya memperhatikan gelas es kopi susu di depan saya. Buih kecokelatannya tebal, menandakan kopi ini ditarik dengan teknik yang pas menggunakan saringan kain panjang. Dari tempat saya duduk, saya bisa melihat Nazif sesekali memantau barista pria di balik bar. Barista itu tampak sangat fokus, tangannya lihai menuangkan aliran kental manis yang berwarna keemasan ke dalam cangkir. Gerakannya begitu mekanis namun penuh perasaan, sebuah koreografi kecil yang telah dilatih ribuan kali.


sepatualang-kopi lim kok tong pekanbaru
Susu kopi dingin; kontras manis dan pahit yang pas di lidah.


"Kami menggunakan kental manis pilihan, bukan sembarang merek," Nazif menambahkan, menyadari ketertarikan saya pada detail pembuatannya. "Perbandingannya adalah 70 persen kopi dan 30 persen susu. Kami ingin rasa kopinya tetap dominan, tetap nendang, namun lembut di akhir." 

Suami saya menyesap kopi panasnya dan mengangguk pelan. Ada kepuasan yang muncul di wajahnya. Memang, kopi Lim Kok Tong memiliki karakter beraroma asap yang khas, hasil dari teknik pemanggangan manual yang tidak berubah sejak tahun 1925. Teknik ini membuat kopinya terasa 'lekat' di lidah, meninggalkan jejak kepahitan yang jujur namun bersih.

Kehadiran Lim Kok Tong di Bandara SSK II Pekanbaru sejak Februari tahun lalu terasa seperti sebuah pernyataan. Di tengah gempuran franchise kopi internasional yang menawarkan kemewahan instan, Lim Kok Tong berdiri sebagai benteng kearifan lokal. Ini adalah bukti nyata bahwa ekonomi kreatif berbasis warisan budaya memiliki daya tahan yang luar biasa jika dikelola dengan manajemen yang modern tanpa mencabut akarnya.

"Awalnya kami harus beradaptasi dengan lidah orang Pekanbaru yang sudah sangat akrab dengan legenda lokal seperti Kim Teng," Nazif mengakui. "Tapi ternyata, pasar di sini sangat terbuka. Mereka menghargai kualitas. Bahkan banyak petugas bandara dan kru pesawat yang menjadi pelanggan tetap kami karena mereka tahu rasa kopi yang benar-benar kopi."


sepatualang-kopi lim kok tong pekanbaru
Oleh-oleh aroma Pematangsiantar yang siap diterbangkan menuju rumah.


Keberhasilan Lim Kok Tong juga terlihat dari deretan produk kemasannya. Sebelum meninggalkan kedai, saya dan suami memutuskan untuk membeli beberapa kemasan kopi bubuk 500 gram. Di mata saya, ini bukan sekadar oleh-oleh; ini adalah cara saya membawa pulang sepotong sejarah Siantar dan kehangatan Pekanbaru untuk diseduh kembali di rumah. Di atas meja kasir, kantong-kantong kopi berwarna cokelat tua itu berderet rapi, siap diterbangkan ke berbagai penjuru dunia oleh para penumpang.

Shoe footprints

 

Duduk di sini bersama suami, di antara tawa kecil dan aroma kopi, saya merasa bahwa perjalanan Sepatualang kali ini telah menemukan salah satu maknanya. Sebagai penulis, saya sering kali merasa seperti butiran kopi yang dipanggang oleh keadaan—terkadang panas membara, terkadang pahit tak tertahankan. Namun, seperti filosofi Lim Kok Tong, barangkali kepahitan itulah yang memberi kita karakter. Tanpa proses panggang yang tepat, kopi hanya akan menjadi biji yang tawar. Tanpa kepahitan, rasa manis tak akan pernah terasa istimewa.

Nazif Arifin telah berhasil menerjemahkan dialek Siantar ke dalam pelayanan yang ramah di Pekanbaru. Ia tidak hanya mengelola sebuah kedai, ia mengelola ekspektasi dan kerinduan. Bagi banyak penumpang yang transit, Lim Kok Tong adalah aroma 'pulang' yang mereka cari sebelum mereka benar-benar sampai di rumah.

Jam keberangkatan kami semakin dekat. Saya berpamitan pada Nazif, menjabat tangannya yang mantap. Ia kembali mengingatkan saya untuk mampir lagi jika suatu saat kaki ini kembali menginjakkan kaki di tanah Riau. Kami melangkah meninggalkan kedai, membawa serta kantong-kantong kopi seberat 500 gram itu sebagai bekal ingatan.

Saya berjalan menuju gerbang keberangkatan dengan langkah yang lebih ringan. Aroma kopi yang masih tertinggal di ujung baju seolah menjadi jimat pelindung. Perjalanan memang tentang pergi menjauh, tapi esensinya adalah tentang apa yang kita simpan di dalam hati untuk dibawa kembali pulang.[yk]


 

 

Petunjuk Arah Menuju Kedai Wayang / Lim Kok Tong Bandara SSK II Pekanbaru, bagi para pengelana yang ingin menyesap kehangatan sejarah ini, Anda bisa menemukannya dengan mudah:

·       Setelah Check-in, melangkahlah ke area pemeriksaan keamanan (Security Check Point) kedua.

·       Menuju Ruang Tunggu (Boarding Lounge): Setelah melewati pemeriksaan, Anda akan masuk ke area keberangkatan domestik.

·       Titik Koordinat: Kedai Wayang Coffeeshop by Lim Kok Tong terletak di lantai dua, tepat di area ruang tunggu keberangkatan. Posisinya sangat strategis, berada di antara deretan gerai makanan dan dekat dengan pintu keberangkatan utama. Carilah papan nama bercahaya "Wayang" dengan logo wajah Lim Kok Tong yang ikonik.

 

 

 

"Pulang bukan selalu soal alamat di KTP,

adakalanya ia adalah rasa pahit dan manis yang paling kita kenali di dasar gelas kopi."

—Sepatualang—


 

sepatualang-Museum Kavaleri Bandung
Di tempat inilah, jejak baja dan pengabdian menemukan tempatnya yang abadi.


 

“Sejarah tidak pernah benar-benar mati.

Ia hanya menunggu—siapa yang mau mendengarkan kembali.”

—Sepatualang—

 

 


Bandung tidak pernah benar-benar diam. Bahkan pada bangunan-bangunan tua yang lama dianggap sunyi, selalu ada upaya kecil untuk menghidupkannya kembali. Di sebuah halaman yang dulu terasa kaku dengan tank-tank diam dan pagar yang membuat orang ragu melangkah, kini aku berdiri.

Shoe footprints

  

Aku bisa merasakan debar antusiasme dari langkah Yunis sejak kami turun dari kendaraan. Hari itu, aku diajak menapak di tempat yang berbeda—bukan jalanan setapak yang becek atau aspal kota yang panas, melainkan ubin tegel tua yang dingin dan berwibawa di Jalan Gatot Subroto No. 98-100, Kota Bandung. Aku mengawal Yunis menyusuri lorong waktu di Museum Kavaleri Bandung.

Yunis tidak sendiri. Di sampingnya, adik bungsu Yunis dan anak lelakinya juga melangkah beriringan. Aku bisa merasakan ritme langkah mereka yang harmonis saat kami disambut oleh Kang Firman.


Kang Firman mengajak kami melihat, bukan hanya dengan mata tapi dengan rasa.


Saat Yunis dan adiknya mulai mengeluarkan alat rekam dan kamera DSLR, aku hanya diam, mendekap lantai heritage kelas A yang sangat terjaga ini. Sesekali Yunis berhenti, dan aku ikut berhenti, membiarkannya tenggelam dalam obrolan panjang. Suara Yunis dan adiknya bersahutan, bergantian melontarkan pertanyaan kepada Kang Firman. Mereka seperti sedang merajut kembali potongan sejarah yang sempat terserak.

Yunis memanggilnya Kang Firman. Belakangan aku baru tahu kalau pengelola museum ini sebenarnya berdarah Padang, namun memanggil “Kang” ketimbang “Uda” di tanah Pasundan ini rasanya lebih pas di lidah, apalagi beliau sudah lama bermukim di sini.

Tempat ini, kata Kang Firman, sebenarnya sudah lama ada. Sejak 2024 ia resmi dibuka. Tapi “dibuka” rupanya tidak selalu berarti “hidup.” Selama bertahun-tahun, museum sering kali dianggap sebagai tempat yang "angker", kaku, dan hanya untuk kalangan militer.

“Dari dulu sudah ada, tapi orang segan masuk,” ujarnya pelan.

Kata 'segan' itu seperti menggambarkan jarak panjang antara museum dan manusia. Maka, Kang Firman dan timnya melakukan sesuatu yang radikal. Mereka tidak bicara tentang renovasi fisik yang mengubah bentuk bangunan—karena ini adalah bangunan heritage yang dilindungi—melainkan mengubah rasa. Museum diposisikan sebagai hidangan utama (main course), namun pintu masuknya adalah hal-hal yang dekat dengan keseharian: industri kreatif dan kopi.

Kini, di belakang bangunan utama yang megah, terdapat kantor desain, ruang kreatif, hingga unit bernama Precious Plastic yang bergerak di bidang daur ulang plastik menjadi barang-barang sosial (social merchandise). Bahkan sebuah kedai kopi bernama Cenghar Kopi berdiri gagah di sana. Jam operasionalnya pun mengikuti ritme kafe, bisa sampai tengah malam, meski secara formal museum tutup pukul 18.00.

“Kita ingin orang datang dulu. Nongkrong dulu. Baru nanti pelan-pelan mereka tertarik melihat koleksi kita,” jelas Kang Firman. Sebuah strategi yang cerdas; menggeser museum dari ruang formal menjadi ruang hidup. Di sini, sejarah tidak lagi menunggu didatangi, ia justru mendekat lewat aroma biji kopi yang baru digiling.

Shoe footprints

  


sepatualang-Museum Kavaleri Bandung
Sejarah kavaleri menyapa dengan wajah lebih hangat dan terbuka.


Kami kemudian berjalan menuju halaman luar. Sebagai sepatu, aku bisa merasakan perbedaan tekstur tanah di sini. Ada deretan kendaraan tempur yang berdiri diam, tapi tidak benar-benar bisu. Kang Firman menceritakan satu per satu "nyawa" di balik besi-besi tua ini.


sepatualang-Museum Kavaleri Bandung
Interior tank; di tempat sempit ini keputusan besar pernah dibuat.


Ada Panser Saracen, kendaraan angkut personel buatan Inggris yang punya sejarah kelam sekaligus terhormat. Inilah kendaraan yang membawa jenazah para Pahlawan Revolusi ke Lubang Buaya. Saat Yunis dan adiknya mendengarkan cerita ini, aku merasa langkah mereka sedikit melambat, ada rasa hormat yang mendalam merayap dari ubin ke telapak kaki.

Lalu ada Tank AMX-13, si mungil yang tangguh dari Prancis. Kendaraan ini bukan sekadar pajangan; ia adalah saksi bisu berbagai operasi militer, mulai dari pembebasan Irian Barat hingga konflik di Timor Leste. Dulu, banyak dari kendaraan ini tergeletak begitu saja di bagian belakang markas, nyaris menjadi rongsokan yang terlupakan.

“Dulu mah cuma rongsokan,” kata Kang Firman getir. “Disimpan di belakang, nggak terurus.” Kalimat itu terasa seperti luka lama. Bukan hanya pada benda, tapi juga pada ingatan.

Atas inisiasi dari cucu almarhum Jenderal Susilo Sudarman, yaitu Bapak Indroyono Soesilo, kendaraan-kendaraan ini dikumpulkan kembali. Mereka dilacak satu per satu berdasarkan nomor serinya dari berbagai markas di seluruh Indonesia. Seperti merangkai ulang fragmen waktu yang sempat tercecer, kini mereka berdiri dengan gagah, dicat ulang dengan warna hijau zaitun yang berwibawa, menceritakan kembali kejayaan korps baret hitam.

Bangunan museum ini sendiri punya cerita. Ini dulunya adalah rumah dinas yang ditempati oleh Jenderal (Purn) Susilo Sudarman, salah satu tokoh kunci kavaleri Indonesia. Tak heran jika atmosfer di dalamnya terasa seperti memasuki sebuah rumah yang penuh kenangan keluarga, bukan sekadar gedung pameran.


sepatualang-Museum Kavaleri Bandung
Helm dan perlengkapan yang melindungi kepala para pejuang.


sepatualang-Museum Kavaleri Bandung
Di balik tiap seragam ada waktu dan cerita yang berbeda, namun tujuan yang sama yaitu menjaga.


Di dalam, tersimpan koleksi memorabilia yang membuat Yunis berkali-kali berhenti untuk memotret. Ada seragam-seragam lama, alat komunikasi radio yang besar dan berat, hingga senjata-senjata ikonik. Namun, yang paling membuat Kang Firman berbicara dengan suara merendah adalah sebuah album tua.

Album itu berisi buku tamu dengan tanda tangan dan tulisan tangan asli dari tokoh-tokoh besar bangsa: Jenderal Besar Abdul Haris Nasution, Jenderal Ahmad Yani, hingga Jenderal Soeharto. Kertasnya mulai menguning dan rapuh di ujungnya. "Ini yang paling berharga. Makanya kita lagi proses digitalisasi agar tulisan mereka tidak hilang dimakan waktu," kata Kang Firman.

Shoe footprints

 

Kavaleri, kata Kang Firman, bukan hanya tentang kendaraan tempur. Ia juga tentang kuda. Sejak zaman kerajaan, perang kemerdekaan, hingga saat ini, kuda adalah bagian tak terpisahkan dari strategi kavaleri Indonesia. Ada cerita tentang pasukan berkuda Indonesia yang mampu melakukan manuver yang bahkan membuat tentara luar negeri heran—menyelinap, merunduk di sisi tubuh kuda, bergerak nyaris seperti bayangan.


sepatualang-Museum Kavaleri Bandung
Tapal kuda, jejak yang belum selesai bercerita.


Hari ini, tradisi itu masih hidup. Indonesia bahkan kembali membentuk resimen berkuda baru, dengan lebih dari 300 kuda yang didatangkan dari Eropa. Yang membuatku (dan Yunis) terenyuh adalah betapa manusiawinya perlakuan terhadap hewan-hewan ini. Kuda-kuda kavaleri dirawat layaknya prajurit manusia. Mereka punya rekam medis, dokter khusus, vitamin, bahkan "surat kematian" dan upacara pemakaman yang layak jika mereka mati. Di titik ini, sejarah bukan lagi soal perang, tapi soal cara manusia menghargai makhluk hidup yang telah membantunya bertahan hidup di medan laga.

Ada satu kegelisahan yang terus diulang Kang Firman, “Kita nggak mau orang ke sini cuma sekali seumur hidup.” Ia sadar betul—banyak museum berhenti sebagai ruang pajang. Dikunjungi sekali untuk tugas sekolah, lalu dilupakan. Karena itulah, Museum Kavaleri Bandung bersolek menuju konsep edutainment. Ke depannya, akan ada diorama bergerak dan animasi film yang menceritakan taktik perang kavaleri—seperti teknik "Ngalaki", di mana prajurit bisa merunduk di sisi tubuh kuda untuk menghindari peluru sambil tetap bergerak maju.

Bahkan, fasilitas di sini sangat terbuka untuk publik. Ada studio podcast yang bisa disewa, di mana tokoh-tokoh seperti Pak Farhan—Wali Kota Bandung sekaligus warga kehormatan kavaleri, pernah menggunakannya. Komunitas kreatif diundang untuk berkolaborasi, menciptakan ekosistem yang mandiri sehingga museum tidak hanya bergantung pada dukungan anggaran pemerintah kota untuk tetap bernapas.

Di tengah obrolan, Kang Firman tertawa kecil menceritakan pengalaman unik. Pernah ada calon penyewa kafe yang bertanya apakah tank-tank di halaman bisa dipindahkan posisinya untuk menyesuaikan estetika kafenya.

“Dia kira ini cuma properti atau dekorasi pajangan biasa,” katanya sambil menggeleng.

Itulah batas yang dijaga dengan ketat. Museum ini boleh menjadi ruang kreatif, boleh menjadi tempat nongkrong yang Instagrammable, tapi ia tetaplah museum. Tank-tank seberat belasan ton itu bukan sekadar penghias foto; mereka adalah saksi sejarah yang memiliki marwah. Mereka adalah pengingat bahwa kemerdekaan ini dibayar dengan deru mesin dan tumpahan darah.

Shoe footprints

 

Sore mulai turun di halaman museum. Cahaya jingga menyentuh badan-badan logam yang pernah bergerak di medan perang, kini diam di tengah kota Bandung yang macet. Aku membayangkan betapa panjang perjalanan benda-benda ini—dari pabrik di Prancis atau Inggris, ke medan konflik yang panas, ke gudang yang gelap dan terlupakan, hingga akhirnya ke halaman yang kini terbuka lebar untuk siapa saja.

Mungkin apa yang sedang dilakukan Kang Firman dan timnya adalah sebuah misi penyelamatan ingatan. Mereka sedang mengubah cara kita berhubungan dengan masa lalu. Dari sesuatu yang jauh, kaku, dan membosankan, menjadi sesuatu yang dekat, hangat, dan bisa dinikmati sambil menyesap secangkir kopi.

Perjalanan hari ini berakhir di Cenghar Kopi. Saat Yunis duduk bersantai, melepaskan lelah setelah sesi wawancara yang panjang, aku bisa beristirahat sejenak di bawah meja kayu. Sol karetku terasa sedikit lebih berat hari ini, bukan karena beban yang kupanggul, tapi karena sisa-sisa debu sejarah yang kini menempel di tubuhku.

Yunis sudah mendapatkan ceritanya yang utuh, adiknya mendapatkan wawasan sejarah yang baru, dan si bujang mendapatkan kenangan tentang tank raksasa yang mungkin akan ia ceritakan pada teman-temannya di negeri Sakura suatu hari nanti.[yk]

 

 

Informasi Museum kavaleri :

·       Alamat: Jl. Gatot Subroto No. 98-100, Kompleks Mapussenkav, Kota Bandung.

·       Waktu Operasional: 08.00 – 18.00 WIB (Area kafe buka hingga tengah malam).

·       Gratis dan terbuka untuk umum.

·       Fasilitas: Creative Hub, Studio Podcast, Cenghar Kopi, Mushola, dan Area Parkir.

·       Reservasi : +62 813 2121 2100

·       Situs Web: www.museumkavaleri.com

 

 

 

“Sejarah tidak selalu tinggal di masa lalu.

Kadang ia menunggu…

di tempat yang kita datangi bersama anak-anak kita.”

—Sepatualang—

 

 

 

 

 

Kontributor dokumentasi : Evi & Athaya.