sepatualang_balai adat melayu riau pekanbaru
Di hadapan takhta, Uwak Julir berdiri bukan sebagai raja, melainkan penjaga marwah.

 

 

“Melayu bukan sekadar tanjak yang tegak atau ukiran yang indah di dinding balai.

Ia hidup pada budi pekerti, pada cara menjaga marwah, dan pada kesetiaan merawat warisan yang nyaris dilupakan zaman.”

—Sepatualang—

 

 

Pekanbaru selalu punya cara untuk mengingatkan bahwa ia adalah kota yang tumbuh dari pertemuan air, keringat, dan doa. Kota ini tidak dibangun di atas tanah yang langsung padat; ia menuntut ketabahan untuk menimbun rawa, mengalirkan sungai, hingga akhirnya bangunan-bangunan megah bisa berpijak.

Waktu menunjukkan pukul 14.30 WIB ketika langkah saya tertahan di depan sebuah gerbang di Jalan Diponegoro. Matahari Riau sedang terik-teriknya menyengat kulit. Di hadapan saya berdiri Balai Adat Melayu Riau. Gedungnya kokoh, dengan warna kuning dan hijau yang mencolok—warna yang dalam filosofi Melayu melambangkan kejayaan dan kesuburan. Namun, ada sesuatu yang lebih dari sekadar arsitektur yang memanggil saya untuk masuk hari itu: sebuah aroma sejarah yang rasanya belum tuntas diceritakan oleh buku-buku teks sekolah.

Di sanalah saya bertemu Uwak Julir. Atau sebagaimana ia memperkenalkan dirinya dengan jenaka, “Panggil saja Uwak Julir, bulan Juli tambah ujungnya R,”. Tawanya renyah, khas orang yang sudah kenyang makan asam garam kehidupan namun tetap memilih untuk tetap membumi. 

Shoe footprints

 


sepatualang_balai adat melayu riau pekanbaru
Ruangan ini tidak hanya menyimpan suara upaca, tetapi juga jejak ingatan sebuah bangsa.

Tanah yang Berangkat dari Rawa

Kami duduk bersila—atau duduk selo sebagaimana istilah masyarakat di sini—di atas lantai balai yang sejuk. Di tengah ruangan yang luas dan tenang, Uwak Julir mulai membentangkan peta masa lalu. Bagi banyak orang, Balai Adat ini mungkin hanya gedung protokoler tempat upacara adat formal dilangsungkan. Namun bagi Uwak, setiap jengkal tanah di bawah kaki kami adalah saksi hidup sebuah perjuangan fisik yang luar biasa.

"Waktu itu ini dibangun tahun 82. Tanah ini 6 meter timbunannya," kenang Uwak Julir sambil matanya menerawang ke arah langit-langit balai. Ia menceritakan bagaimana kawasan ini dulunya adalah "paru-paru penyaringan kota", sebuah hutan kota dengan anak sungai yang mengalir tenang.

Proses menimbun rawa sedalam itu bukan perkara mudah. Uwak berkisah betapa beratnya membawa tanah timbun untuk menutup lubang-lubang rawa agar fondasi bangunan ini tidak goyah. Baginya, Balai Adat ini bukan sekadar bangunan semen dan batu, tapi adalah simbol bagaimana identitas Melayu "ditimbun" sedikit demi sedikit dengan kesabaran hingga ia bisa berdiri tegak.

 

Penjaga Nyala Api dan Marwah Pakaian

Uwak Julir bukan sekadar pengelola; ia adalah penjaga nyala api. Ia bercerita tentang masa-masa awal pembangunan, saat listrik belum menyentuh sudut-sudut ruangan ini. Di malam hari, ia harus mengukir dan mengecat detail bangunan hanya dengan bantuan lampu teplok atau lilin yang apinya bergoyang diterpa angin.

Kesungguhan Uwak tidak hanya terlihat dari cara ia merawat gedung, tapi juga dari caranya membawa diri. Sore itu, meski cuaca sedang panas, Uwak tetap terlihat bersahaja namun rapi. Ia bercerita betapa ia sangat menjunjung tinggi tata cara berpakaian adat. Bagi Uwak, memakai baju adat bukan sekadar formalitas, tapi soal marwah. Ia memastikan kain sampingnya terpasang dengan lipatan yang benar, kancing yang genap, dan tanjak yang tegak.

"Baju ini identitas, bukan kostum," seolah itulah pesan tersirat dari kerapiannya. Ia tidak akan membiarkan dirinya terlihat sembarangan di dalam gedung ini, karena baginya, pakaian adalah cara manusia menghargai tempat dan leluhurnya.

Berbicara dengan Uwak Julir adalah berbicara tentang prinsip. Di balik keramahannya, ia adalah sosok yang tegas, terutama jika menyangkut aturan di Balai Adat. Uwak memiliki semacam "kontrak batin" dengan gedung ini. Ia bercerita bahwa siapa pun yang ingin menggunakan gedung ini harus mengikuti aturan kebersihan dan ketertiban yang ditetapkan.

Baginya, menjaga kebersihan balai adalah bagian dari menjaga kehormatan adat itu sendiri. Jika seseorang tidak bisa menghargai gedung ini, maka mereka tidak berhak menikmatinya. Ketegasan ini muncul dari rasa memiliki yang sangat dalam; Uwak merasa bertanggung jawab kepada Tuhan dan para pendahulu atas setiap sudut ruangan ini.

 

sepatualang_balai adat melayu riau pekanbaru
Warna-warna ini bukan sekadar penghias ruang, melainkan simbol doa dan kemuliaan.

Simbolisme dalam Setiap Ukiran dan Doa

Saya mengalihkan pandangan ke sekeliling ruangan. Di dinding-dinding yang tinggi, mata saya dimanjakan oleh detail ukiran Pucuk Rebung yang berderet rapi. Uwak juga menunjuk ke arah Takbir—kain-kain hiasan berwarna-warni yang menjuntai rapi di sela-sela tiang. Kain-kain ini menciptakan suasana sakral namun hangat.

Satu hal yang paling menarik perhatian saya adalah penjelasan Uwak mengenai tradisi Tepuk Tepung Tawar. Uwak menjelaskan dengan detail lima jenis bahan yang digunakan: bertis (padi gonseng yang meletup), beras kunyit, beras putih, bunga rampai, dan air bedak yang kental. Angka-angka di sini tidak boleh sembarangan; harus ganjil—3, 5, 7, hingga 9 orang yang menepuk. "Itu doa, Yunis. Setiap taburan adalah harapan agar segala hajat berjalan sukses," katanya pelan.

 

sepatualang_balai adat melayu riau pekanbaru
Petuah-petuah lama masih menggema dari dinding balai.

Refleksi dan Warisan Kata-kata

Mendengar cerita Uwak Julir, saya tersadar bahwa adat bukan hanya soal gelar-gelar mentereng. Di tengah zaman ketika adat kadang tampil semakin seremonial, saya justru menemukan ruhnya pada sosok-sosok seperti Uwak Julir. Ia mengingatkan bahwa inti dari adat adalah "Budi Pekerti" dan pendidikan karakter.

Uwak Julir sendiri adalah personifikasi dari kesetiaan itu. Ia telah mengikuti perjalanan tokoh budayawan besar Riau, almarhum Pak Tenas Effendy, hingga ke mancanegara. Meski anak-anaknya kini telah sukses meniti karier di dunia perbankan, Uwak tetap memilih di sini.

Di akhir pertemuan kami, Uwak memberikan sesuatu yang bagi saya jauh lebih berharga daripada cinderamata fisik mana pun. Ia memberikan saya dua buah buku karya almarhum Tenas Effendy: “Syair Nasib Melayu” dan “Kearifan Pemikiran Melayu”.

"Jangan sembarangan baca sejarah, Yunis. Cari yang lurus," pesannya singkat namun dalam. Ia ingin memastikan bahwa siapa pun yang datang dari jauh untuk belajar tentang Riau, tidak pulang dengan cerita yang dangkal. Ia menjaga kejujuran sejarah dengan cara yang paling fundamental: literasi. Buku-buku itu kini ada di tangan saya, menjadi beban sekaligus kehormatan untuk saya pelajari lebih lanjut.

Shoe footprints

 


sepatualang_balai adat melayu riau pekanbaru
Di ruang inilah sejarah tidak hanya diceritakan, tetapi dirawat.

Sore itu, saat saya melangkah keluar dari gerbang Balai Adat, matahari sudah mulai melandai. Cahayanya yang kemerahan memantul di dinding balai, membuatnya tampak lebih megah dari saat saya datang tadi. Saya meninggalkan Balai Adat dengan satu pemahaman baru yang menghujam: bahwa di bawah lantai keramik yang dingin itu, tersimpan ribuan meter kubik tanah timbun yang dibawa dengan peluh. Di dalamnya tertanam keringat dan doa dari mereka yang membangunnya dengan bantuan lampu minyak teplok.

Dan selama masih ada orang-orang seperti Uwak Julir—yang menjaga marwah bukan dengan teriakan, melainkan dengan pengabdian—maka identitas Melayu tidak akan pernah lari dari tanahnya. Ia akan tetap di sana, setegar tiang-tiang balai yang dipancang di atas rawa yang kini telah menjelma menjadi sejarah.[yk]

 

 

“Dan sore itu saya belajar, menjaga balai adat sesungguhnya bukan hanya menjaga bangunan, melainkan menjaga ingatan sebuah bangsa.”

—Sepatualang—

 

 

 

Informasi Pengunjung & Lokasi:

·       Nama Tempat: Balai Adat Melayu Riau (Gedung LAM Riau)

·       Lokasi: Jl. Diponegoro No. 8, Kota Tinggi, Kec. Pekanbaru Kota, Kota Pekanbaru, Riau.

·    Petunjuk Arah: Terletak di jantung kota Pekanbaru, berada di kawasan protokol Jalan Diponegoro. Posisinya sangat strategis, tak jauh dari Masjid Raya An-Nur dan berseberangan dengan beberapa gedung pemerintahan penting. Kamu bisa dengan mudah menemukannya menggunakan kendaraan pribadi atau transportasi daring.

·     Waktu Kunjungan: Area luar gedung biasanya dapat dinikmati setiap hari. Namun, untuk melihat bagian dalam atau berdiskusi lebih dalam tentang adat, disarankan datang pada jam kerja (Senin–Jumat) atau saat ada agenda kegiatan kebudayaan tertentu.

·   Tips Sepatualang: Jika beruntung bertemu Uwak Julir, jangan ragu untuk menyapa dan berbincang. Cerita-cerita lisan dari beliau seringkali lebih kaya daripada apa yang tertulis di papan informasi. Jangan lupa untuk tetap menjaga tata krama dan kebersihan selama berada di area balai.


sepatualang-kopi lim kok tong pekanbaru
Penanda kopi Lim Kok Tong yang ikonik.

 


"Sebab perjalanan bukan sekadar perpindahan raga, melainkan cara kita menyeduh ingatan yang mulai mendingin di cangkir waktu."

—Sepatualang—

 

 

 

Pukul setengah sepuluh pagi di Bandara Sultan Syarif Kasim II (SSK II), Pekanbaru, adalah waktu di mana cahaya matahari menyelinap masuk melalui kaca-kaca besar terminal, menciptakan garis-garis emas yang menari di atas lantai marmer. Suasana belum terlalu hiruk-pikuk, namun denyut keberangkatan sudah mulai terasa kencang. Saya berjalan beriringan dengan suami, langkah kaki kami bergema pelan di antara keriuhan pengumuman jadwal penerbangan yang bersahutan. Di sela-sela kepadatan jadwal dan tumpukan bagasi, kami mencari sebuah jeda—sebuah titik koordinat yang mampu menenangkan debar jantung sebelum raga ini dibawa melesat ke angkasa.

Shoe footprints

 

sepatualang-kopi lim kok tong pekanbaru
Menanti keberangkatan dengan menikmati cita rasa kopi Pematangsiantar.


Pencarian kami berhenti pada sebuah pendar cahaya neon yang hangat di salah satu sudut ruang tunggu keberangkatan. Di sana, tertulis dengan jelas: Wayang Coffeeshop by Lim Kok Tong. Nama itu seperti magnet bagi para pengelana yang mengenal sejarah. Aroma robusta yang dipanggang dengan cara klasik segera menyergap indra penciuman, seolah-olah membawa sepotong udara dari Pematangsiantar langsung ke jantung kota Pekanbaru.


sepatualang-kopi lim kok tong pekanbaru
Nazif bukan hanya melayani tapi ia mengajak setiap orang untuk tinggal lebih lama.


Di sinilah saya bertemu dengan Nazif Arifin. Sebagai manager yang memegang kendali di kedai ini, ia menyambut kami dengan ketenangan yang ganjil di tengah lingkungan bandara yang serba terburu-buru. Nazif memiliki sorot mata yang bangga akan jenama yang ia jaga. Sambil mempersilakan kami duduk di kursi kayu yang masih mengilap, ia mulai merajut kisah tentang sebuah dinasti kopi yang telah bertahan melewati berbagai zaman.

"Sejarah kopi ini dimulai jauh sebelum republik ini merdeka, tepatnya pada tahun 1925," ujar Nazif membuka percakapan, suaranya mantap namun rendah. Ia bercerita tentang Lim Kok Tong, sang perintis, yang memulai segalanya dari sebuah kedai kecil bernama Heng Seng di persimpangan jalan di Pematangsiantar. Di masa itu, kedai kopi lebih dari sekadar tempat minum; ia adalah balai pertemuan sosial, tempat bertukar kabar antara mandor perkebunan, pedagang lintas daerah, hingga penduduk lokal.

Lim Kok Tong membangun reputasinya di atas satu pilar: konsistensi. Biji kopi robusta pilihan dari dataran tinggi Sumatra Utara diproses dengan teknik tradisional yang sangat dijaga kerahasiaannya. "Nama Lim Kok Tong sendiri sebenarnya diambil dari nama anak kedua," Nazif menjelaskan, merujuk pada estafet kepemimpinan keluarga yang kini sudah memasuki generasi keempat. Perpecahan nama antara Masa Kok Tong dan Lim Kok Tong di masa lalu bukan karena konflik, melainkan cara lain untuk menjaga warisan agar setiap cabang keluarga tetap bisa menghidupkan api tradisi di bawah satu bendera rasa yang sama.

Lim Kok Tong adalah ruang peleburan yang luar biasa. Di Siantar, tidak ada kasta di depan cangkir kopi mereka. Pejabat dan rakyat jelata duduk semeja, menghirup aroma yang sama. Membawa konsep ini ke bandara internasional—ruang yang sangat kental dengan nuansa ekonomi kelas menengah ke atas—memiliki tantangan tersendiri. Namun, Lim Kok Tong berhasil mempertahankan jiwanya sebagai kedai rakyat yang bersahaja di bawah pendar lampu modern.

Shoe footprints

 

Di meja kami, pesanan mulai berdatangan. Suami saya, yang selalu setia pada rasa-rasa yang klasik dan hangat, memesan segelas kopi susu panas. Cangkirnya keramik putih dengan logo wajah Lim Kok Tong yang ikonik, mengepulkan uap yang membawa aroma tanah dan cokelat gelap. Di sisi lain, saya memilih es kopi susu—sebuah kontras yang segar untuk pagi yang mulai menghangat.


sepatualang-kopi lim kok tong pekanbaru
Menyaksikan kopi diseduh melalui ketekunan dan keahlian tangan sang barista.


Saya memperhatikan gelas es kopi susu di depan saya. Buih kecokelatannya tebal, menandakan kopi ini ditarik dengan teknik yang pas menggunakan saringan kain panjang. Dari tempat saya duduk, saya bisa melihat Nazif sesekali memantau barista pria di balik bar. Barista itu tampak sangat fokus, tangannya lihai menuangkan aliran kental manis yang berwarna keemasan ke dalam cangkir. Gerakannya begitu mekanis namun penuh perasaan, sebuah koreografi kecil yang telah dilatih ribuan kali.


sepatualang-kopi lim kok tong pekanbaru
Susu kopi dingin; kontras manis dan pahit yang pas di lidah.


"Kami menggunakan kental manis pilihan, bukan sembarang merek," Nazif menambahkan, menyadari ketertarikan saya pada detail pembuatannya. "Perbandingannya adalah 70 persen kopi dan 30 persen susu. Kami ingin rasa kopinya tetap dominan, tetap nendang, namun lembut di akhir." 

Suami saya menyesap kopi panasnya dan mengangguk pelan. Ada kepuasan yang muncul di wajahnya. Memang, kopi Lim Kok Tong memiliki karakter beraroma asap yang khas, hasil dari teknik pemanggangan manual yang tidak berubah sejak tahun 1925. Teknik ini membuat kopinya terasa 'lekat' di lidah, meninggalkan jejak kepahitan yang jujur namun bersih.

Kehadiran Lim Kok Tong di Bandara SSK II Pekanbaru sejak Februari tahun lalu terasa seperti sebuah pernyataan. Di tengah gempuran franchise kopi internasional yang menawarkan kemewahan instan, Lim Kok Tong berdiri sebagai benteng kearifan lokal. Ini adalah bukti nyata bahwa ekonomi kreatif berbasis warisan budaya memiliki daya tahan yang luar biasa jika dikelola dengan manajemen yang modern tanpa mencabut akarnya.

"Awalnya kami harus beradaptasi dengan lidah orang Pekanbaru yang sudah sangat akrab dengan legenda lokal seperti Kim Teng," Nazif mengakui. "Tapi ternyata, pasar di sini sangat terbuka. Mereka menghargai kualitas. Bahkan banyak petugas bandara dan kru pesawat yang menjadi pelanggan tetap kami karena mereka tahu rasa kopi yang benar-benar kopi."


sepatualang-kopi lim kok tong pekanbaru
Oleh-oleh aroma Pematangsiantar yang siap diterbangkan menuju rumah.


Keberhasilan Lim Kok Tong juga terlihat dari deretan produk kemasannya. Sebelum meninggalkan kedai, saya dan suami memutuskan untuk membeli beberapa kemasan kopi bubuk 500 gram. Di mata saya, ini bukan sekadar oleh-oleh; ini adalah cara saya membawa pulang sepotong sejarah Siantar dan kehangatan Pekanbaru untuk diseduh kembali di rumah. Di atas meja kasir, kantong-kantong kopi berwarna cokelat tua itu berderet rapi, siap diterbangkan ke berbagai penjuru dunia oleh para penumpang.

Shoe footprints

 

Duduk di sini bersama suami, di antara tawa kecil dan aroma kopi, saya merasa bahwa perjalanan Sepatualang kali ini telah menemukan salah satu maknanya. Sebagai penulis, saya sering kali merasa seperti butiran kopi yang dipanggang oleh keadaan—terkadang panas membara, terkadang pahit tak tertahankan. Namun, seperti filosofi Lim Kok Tong, barangkali kepahitan itulah yang memberi kita karakter. Tanpa proses panggang yang tepat, kopi hanya akan menjadi biji yang tawar. Tanpa kepahitan, rasa manis tak akan pernah terasa istimewa.

Nazif Arifin telah berhasil menerjemahkan dialek Siantar ke dalam pelayanan yang ramah di Pekanbaru. Ia tidak hanya mengelola sebuah kedai, ia mengelola ekspektasi dan kerinduan. Bagi banyak penumpang yang transit, Lim Kok Tong adalah aroma 'pulang' yang mereka cari sebelum mereka benar-benar sampai di rumah.

Jam keberangkatan kami semakin dekat. Saya berpamitan pada Nazif, menjabat tangannya yang mantap. Ia kembali mengingatkan saya untuk mampir lagi jika suatu saat kaki ini kembali menginjakkan kaki di tanah Riau. Kami melangkah meninggalkan kedai, membawa serta kantong-kantong kopi seberat 500 gram itu sebagai bekal ingatan.

Saya berjalan menuju gerbang keberangkatan dengan langkah yang lebih ringan. Aroma kopi yang masih tertinggal di ujung baju seolah menjadi jimat pelindung. Perjalanan memang tentang pergi menjauh, tapi esensinya adalah tentang apa yang kita simpan di dalam hati untuk dibawa kembali pulang.[yk]


 

 

Petunjuk Arah Menuju Kedai Wayang / Lim Kok Tong Bandara SSK II Pekanbaru, bagi para pengelana yang ingin menyesap kehangatan sejarah ini, Anda bisa menemukannya dengan mudah:

·       Setelah Check-in, melangkahlah ke area pemeriksaan keamanan (Security Check Point) kedua.

·       Menuju Ruang Tunggu (Boarding Lounge): Setelah melewati pemeriksaan, Anda akan masuk ke area keberangkatan domestik.

·       Titik Koordinat: Kedai Wayang Coffeeshop by Lim Kok Tong terletak di lantai dua, tepat di area ruang tunggu keberangkatan. Posisinya sangat strategis, berada di antara deretan gerai makanan dan dekat dengan pintu keberangkatan utama. Carilah papan nama bercahaya "Wayang" dengan logo wajah Lim Kok Tong yang ikonik.

 

 

 

"Pulang bukan selalu soal alamat di KTP,

adakalanya ia adalah rasa pahit dan manis yang paling kita kenali di dasar gelas kopi."

—Sepatualang—