Dokumentasi pribadi dan Tim ekspedisi, Natuna, Kepulauan Riau

sementara hari Ini
jejak dini hari, dingin
terayun di lautmu
muntahan air dari atap langitmu
lalu lagu angin
menerpa,
menyapa,
mengucapkan salam “selamat datang”

sementara hari ini
waktu mengalun lambat
berat tertahan gelombang laut Cina selatan

napas kita sarat harap
daratan cepat tertangkap
perahu segera merapat

sementara hari ini
kita masih terperangkap
-menuju Subi, Agustus 2007


Kepulauan Natuna, 2007

Hari Selasa, 7 Agustus 2007. 18 (delapan belas) personil yang terdiri dari kumpulan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi dengan niat pengabdian bertolak menuju Kepulauan Natuna. Penerbangan pukul 17.40 WIB dengan menggunakan pesawat Merpati, bertolak menuju Batam. Tepat pukul 20.00 waktu setempat, pesawat landing di bandara Hang Nadim. Tim penjemputan telah menunggu, mempersilahkan kami untuk beristirahat di kawasan Cendana, Batam.

Keesokan hari, pukul 11.30 waktu setempat, kami semua kembali menuju bandara Hang Nadim. Menunggu pesawat Riau Airlines pada penerbangan 13.55 membawa menuju Ranai, ibukota kepulauan Natuna. Disinilah petualangan dan kesabaran serta nyali diuji. Tepat pukul 15.00, pesawat mendarat. Deretan truk terlihat di sepanjang jalur jalan di luar bandara. Tidak ada penjemputan ekslusif dengan kendaraan ekslusif. Semua orang bergerak cepat. Kami pun bergerak cepat. Menggendong ranselransel yang beratnya luar biasa. Ranselransel yang dipenuhi amunisi untuk keperluan sosialisasi program pendidikan. Kami tidak pernah tahu bahwa medanmedan perjalanan yang tidak lazim akan mempengaruhi semangat pengabdian untuk beberapa waktu ke depan.

Dokumentasi Pribadi dan Tim Ekspedisi; Natuna, Kepulauan Riau


Truk yang kami tumpangi dari Ranai, menuju pelabuhan Penagih. Pelabuhan yang menghubungkan dengan tempattempat tujuan selanjutnya. Tujuan pertama adalah pulau Subi. Dengan menggunakan perahu besar bernama Perintis, gelombang ombak yang luar biasa dasyat memandu kami menuju Subi. Untuk sampai ke Subi, kami harus turun di tengah kegelapan dan lautan. Hanya dengan menggunakan pongpong atau perahu kecil pulau Subi bisa terjangkau.

Dokumentasi pribadi dan Tim Ekspedisi; perjuangan pelajar Natuna, Kepulauan Riau

Pulau Subi terbagi menjadi 5 (lima) desa; Meliah, Terayak, Pulau Panjang, Subi Kecil dan Subi Besar. Keempat desa ini disebut sebagai daratan Subi. Kesenian yang terkenal di Subi adalah Kampang, Hadroh, Zapin dan Pencak Silat. Terdapat pula cerita yang melegenda, yaitu Siti Balqis yang merupakan perempuan tercantik di Subi atau Tanah Merah. Cerita lainnya yang melegenda adalah Abdul Putih, seorang imam yang hidup di zaman bajak laut, dikeramatkan karena meninggal sebagai imam yang berdarah putih.

Dokumentasi pribadi dan Tim Ekspedisi, lautan Natuna, Kepulauan Riau

Tidak ada jadwal yang pasti. Transportasi bergantung pada kebaikan ombak dan kecerahan cuaca. Bisa jadi, jadwal yang telah direncakan molor hingga 1-2 hari. Jika gelombang pasang dan hujan turun dengan deras, maka dapat dipastikan tak ada satupun perahu sebagai satusatunya alat transportasi penghubung dari satu pulau ke pulau lainnya beroperasi. Jika begini, artinya semua rencana musti di jadwal ulang.

Dokemntasi pribadi; cantiknya pantai Sisi di Serasan, Natuna, Kepulauan Riau

Usai melaksanakan program pendidikan kesenian dan lainlainnya di Subi, tim bertolak menuju pulau Serasan. Setelah menunggu 2 (dua ) hari hingga badai mereda, akhirnya tim bisa melanjutkan perjalanan dengan menggunakan kapal kecil sewaan bernama pongpong tadi dengan harga 2 juta rupiah. Harga yang terbilang cukup mahal kala itu. Tidak banyak yang memiliki pongpong sewaan sehingga, kami sebagai pendatang tidak bisa melakukan pencarian untuk perbandingan harga yang sedikit lebih murah. Yang menyenangkan di pulau Serasan, setidaknya ada sebuah pantai cantik dengan pasir putih membentang. Bersih, tidak bising, penuh dengan penyupenyu penelur dan indah. Pantai Sisi. Menghabiskan hari usai melaksanakan program kerja, seperti menghabiskan waktu di pantai pribadi. Hanya 1-2 orang penduduk lokal, selebihnya, pantai milik kami.

Dokumentasi pribadi dan Tim Ekspedisi; warga Natuna, Kepulauan Riau, yang menunggu transportasi laut, 

Dengan jadwal yang ketat, 2 (dua) hari di pulau Serasan, tim melanjutkan perjalanan menuju pulau Letung dengan menggunakan kapal besar. Kali ini pulau yang akan kami singgahi adalah pulau yang dukup modern dibanding pulaupulau lain yang masuk dalam kepulauan Natuna.  Kabal besar bernama Bukit Raya ini bahkan bisa berlabuh langsung di Letung. Letung merupakan nama ibukota pulau ini, dengan kecamatannya Jemaja – Palmatak. Mata pencaharian masyarakatnya cukup beragam, selain perikanan, masyarakat juga memiliki perkebunana cengeh dan karet. Yang hebatnya lagi, di pulau ini anakanak sekolah mendapatkan paket bebas uang sekolah. Terdapat LSM dan pencinta alam. Hutanhutannya menyediakan kayukayu besar, dan terdapat di Jemaja serta Bunguran. Salah satu pantai kebanggaan yang menjadi tempat pariwisata adalah pantai Padang Melang, dengan hamparan pasir putih yang bersih serta udara yang yang bersih pula. Terhampar sepanjang 10 kilo meter.

Dokumentasi pribadi; suasana pasar apung pulau Tarempak, Natuna, kepulauan Riau

Hanya satu hari saja kegiatan di Letung. Esok harinya dengan menggunakan pongpong lagi, tim melanjutkan perjalanan menuju Palmatak. Kurang lebih 10 jam waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke Payalaman, perjalanan ini lebih panjang dari seharusnya dikarenakan tim memutar menuju Tokong Nanas, Pulau Batu tempat sebuah mercusuar berada. Perjalanan kemudian diteruskan melalui jalan darat dengan menggunakan kendaraan mobil bak terbuka menuju Air Payang. Di pulaupulau yang kami singgahi program pendidikan terus berkelanjutan.

Dokumentasi pribadi; suasana kehidupan di pulau Tarempak, Natuna, Kepulauan Riau

Tempat terakhir dari program ini adalah Pulau Laut. Sebuah pulau yang terletak paling luar dari gugusan pulaupulau yang termasuk dalam kepulauan Riau. Pulau terjauh. Pulau yang diselimuti aura magis, dengan jumlah penduduk yang sangat minim dan hidup dibawah ratarata. Menuju Pulau Laut, rintangan seolah menjadi ucapan selamat datang. Hampir kami berpikir bahwa perjalanan menuju Pulau Laut merupakan perjalan terakhir dalam kehidupan. Bagaimana tidak? Gelombang air pasang menggulung perahu kecil kami. Tidak kurang dari 2 meter ombak mengayun perahu. Dalam kegelapan kami hanya bisa berpasrah. Barangkali in titik dari perjalanan kami, begitulah kami berpikir. Tapi Tuhan masih dalam rancangan yang baik dan manis, kami dibimbing dan dirahmati. Meski gulita, angin kencang, hujan deras dan gelombang pasang mendera, kami tiba di Pulau Laut dengan sambutan mentari yang berlimpah cahaya. Usai badai, serta merta kehangatan mentari tersibak dan merangkul kami dalam kehangatan. Ya, tidak ada badai yang tidak usai. Pun tidak ada pesta yang tak usai pula.

Dokumentasi pribadi; kemeriahan acara HUT RI 17 Agustus, Natuna, Kepulauan Riau

Perjalan menuju pulaupulau di Natuna, kepulauan Riau membawa kesenangan dan kepahitan tersendiri. Ada suka cita yang menggelora, pun ada nestapa yang membungkus. Kau tahu, usai perjalanan ini aku khususnya merasa sangat kecil.  Indonesia yang begitu luas, indah dan sentimentil telah menorehkan beragam rasa dari perjalanan kali ini. Aku tidak hanya dirahmati untuk mengunjungi tempattempat indah. Namun, rasarasanya aku dikutuk dengan rasa yang tak bisa kujelaskan. Kesedihan akan kesenjangan sosial. Kesedihan bahwa mereka belum mendapat fasilitas dan kesempatan yang sama dengan kita yang hidup dan tinggal di Jawa.

Dokumentasi pribadi dan Tim Ekspedisi; suasana kehidupan di Natuna, Kepulauan Riau

9 tahun berlalu, namun sebuah percakapan masih terus terngiang dalam otakku. Seolaholah obrolan ini baru saja terjadi kemarin malam...
            “Dik, titip aspirasi ya... “ ucap seorang guru.
            “Aspirasi apa pak?” tanyaku mendengarkan dengan sungguhsungguh.
         “Aspirasi untuk membangun pulau ini. Pulau yang merupakan bagian dari Indonesia. Adik tahu? Perjalanan panjang melintas lautlaut dengan perahu bergantiganti dan badai, kadang membuat kami lelah, hingga begitu sampai di ibukota kami lupa apa yang hendak kami sampaikan.” Tutur guru itu dengan lugu dan penuh harap.

Dokumentasi pribadi; Pulau Laut, pulau terjauh Indonesia, Natuna, Kepulauan Riau

Aku terpaku, tak bisa berkatakata. Indonesia-ku. Indonesia yang indah dan luas. 9 tahun berlalu, ketika kutanyakan apakah ada perubahan di sana pada guru itu, jawabnya; “Belum dik, masih sama dengan ketika adik kemari 9 tahun lalu...”

Dokumentasi pribadi dan Tim Ekspedisi; kecantikan misterius dan mencekam sore menjelang malam di Pulau Laut, Natuna, Kepulauan Riau


Lalu lidahku kelu. Perjalananku dan tim ini 9 tahun lalu adalah nebar harap. Lalu kurasa kini, bahwa harap itu masih sebatas harap. Tibatiba aku disergap rasa bersalah. Yang bisa kulakukan adalah menulis, kemudian berharap pula bahwa tulisan ini akan terbang pada suatu keajaiban yang bisa membawa perubahan pada mereka nun jauh di sana. Semoga.yk[]



"Perjalanan nyatanya bukan hanya menjelajah ruang dan tempattempat fisik yang bisa dirasakan wujudnya. Perjalanan adalah terbukanya segala kemungkinan dalam hidup untuk dijelajahi." -yk

Suatu ketika, lagilagi sebuah aliran garis hidup bertindak sebagai sutradara. Rancangan harmonis dan dinamis dari sang pencipta telah membuat satu irisan antara sebuah hidup dan hidup lainnya. Sebuah kejadian singkat yang terjadi pada awalnya, cukup untuk membuat bahwa kejadian itu kemudian akan menjadi bagian hidup dalam rentang waktu yang cukup lama. 
             

ANGGAR...   

Adalah sebuah pekerjaan rutin yang biasa Yunis lakukan untuk menjadi seorang notulen pada rapatrapat ataupun sidangsidang tertentu. Namun menjadi notulen pada rapat kerja daerah atau Rakerda olahraga anggar waktu itu nyatanya telah menyeret rangkaian keterlibatan yang lebih dalam. Dari sekadar notulen, akhirnya Yunis ditawari menjadi salah seorang pengurus, yang kebetulan kepengurusan baru masa bakhti 2015 -2019 baru saja terbentuk. Tentu saja meskipun tampak kebetulan tapi tetap tidak tanpa rekomendasi jaminan kredibilitas dan kualitas. –untuk itu Yunis berterimakasih. Pintupintu silaturahmi dan rezeki dibukakan dengan jalanNya lewat tangantangan baik.
            Jadi, begitulah. Yunis resmi menjadi salah satu pengurus anggar yang bernaung dalam sebuah nama “Ikatan Anggar Seluruh Indonesia”, atau biasa disebut IKASI Jabar. Maka, akupun dengan senang hati kini memiliki kegiatan baru. Warawiri “dinas” ke GOR Sasakawa-Padjajaran. Senang bukan kepalang, aku seringkali berada di lapangan melihat atletatlet anggar berlatih fisik dan mengasah teknik guna meningkatkan kemampuan bertanding.




Kalian tahu apa itu olahraga anggar? Begini ya, menurut Wikipedia, Anggar adalah ilmu beladiri menggunakan senjata yang berkembang menjadi seni budaya olahraga ketangkasan dengan senjata yang menekankan pada teknik kemampuan seperti memotong, menusuk atau menangkis senjata lawan dengan menggunakan keterampilan dalam memanfaatkan kelincahan tangan.
Nah, anggar ini terbagi ke dalam nomornomor individual Floret, Degen, Sambel. Nomornomor ini berlaku pula untuk putra-putri dan juga beregu. Penamaan nomor ini berdasarkan pada penamaan senjata yang digunakan. Dalam technical Hand book-nya, inilah pengertian dari nomornomor tersebut; Floret (foil): Pedang yang berbentuk langsing, lentur dan ringan, ujungnya datar atau bulat, tumpul dan berpegas. Bila ditusukkan dapat naik/turun, beratnya 500 gram (5 ons). Pelindung tangan yang terdapat pada floret lebih kecil dibandingkan dengan Degen dan Sabel. Ujungnya untuk menusuk dan bagian bawah pedang untuk menangkis dan menekan. Sedangkan Sabel (sabre): Pedang yang berbentuk segitiga dan sudutnya tidak tajam, seperti parang kecil, semakin keatas semakin pipih dan ujungnya ditekuk hingga tidak meruncing, beratnya 500 gram. Pelindungan penuh menutupi tangan sampai pangkal tangkai. Bagian atas pedang untuk memarang dan bagian bawah untuk menangkis, serta ujungnya untuk menusuk. Terakhir Degen (epée): Pedang berbentuk segitiga dan berparit, pada pangkalnya tebal dan samping keujung kecil, agak kaku. Ujungnya datar dan berpegas dengan pelindung tangan besar, beratnya 750-770 gram. Bagian bawah pedang untuk menangkis dan ujungnya untuk menusuk.


Anggar, menjadi salah satu cabang olahraga yang dipertandingkan pada Pekan Olahraga Nasional (PON) ke XIX mendatang. Jadi, saat ini seluruh atlet, pelatih, pengurus dan managemen tengah mempersiapkan segala sesuatunya. Mengingat bahwa Jawa Barat juga menjadi tuan rumah pelaksanaannya pada bulan September 2016 nanti.
            Judul di atas, “Berjaya di Tanah Legenda”, merupakan tema yang diangkat dalam PON ke XIX di Jawa Barat. Apa legendanya? Legenda ini meliputi bidang; olahraga, musik, tari, audiovisual, seni, dan seterusnya. Kemudian kenapa Berjaya di tanah legenda? Karena mereka akan bertanding secara sportif di tanah Jawa Barat. Dengan menjungjung moto “sportifitas, prestasi, harmoni.” PON XIX juga menggunakan tag line “Jabar Kahiji”, sebuah pengharapan dan motivasi bahwa seyogyanya para petarung akan membawa kemenangan untuk daerah Jabar. Menjadi pemenang umum pada PON XIX 2016.


            Surili muda, yang menjadi maskot PON XIX juga telah disosialisasikan sejak bulan Januari 2016 lalu ke seluruh Indonesia, khusunya ke daerahdaerah Jawa Barat yang nantinya menjadi Venue pelaksanaan PON. Untuk cabang olahraga anggar sendiri akan dilaksanakan di hotel Harris, Jl. Peta Bandung. Pertandingan berlangsung dari tanggal 23 s.d 28 September 2016. Perhelatan ini gratis loh, terbuka untuk umum. Ayo kita dukung para atletatlet kita berjuang di tanah legenda dan menjadi juara, mewujudkan “Jabar Kahiji”.yk[]


Selamat bertanding kawankawan.. 


Penghujung musim hujan. Hari bergulir diiringi awan mendung. Namun kadang matahari diamdiam sekelebat muncul, tapi mendung bersegera menutupi seakan melompat. Sebetulnya udara cukup bersahabat meski lembab. Uap tanah secara pasti naik ke atas untuk kemudian dengan pasti pula kembali lagi serupa rinai indah.
Sudah dalam agenda pasti, hari ini tetap hari penuh aktivitas. Yunis telah melingkari tanggal di hari ini untuk pergi menikmati Tangkuban Perahu. Aku lebih berpasrah. Bukan apaapa, sebetulnya aku kurang suka dengan jalanan basah yang akan membuat tubuhku turut menjadi basah. Dengan cuaca begini aku kira lebih baik kalau di rumah saja, beristirahat di rak sepatu dan merasakan hangat suhu ruang. Bukankah perjalanan bisa dilakukan di hari lain yang lebih bersahabat? Ugh!
Membayangkan Tangkuban Perahu, membayangkan hujan, yang terlintas adalah aku kedinginan. Berlari kecil, mencoba menghindari kubangankubangan air yang bisa jadi menutupi semua jalanan membuat aku bergidik. Ugh! Kenapa harus hari ini sih? Kenapa musti sekarang sih? Argh...
Tapi Yunis adalah Yunis. Ketika harus pergi, dia akan tetap pergi, tak ada satu apapun yang bisa menahannya. Tidak pula badai kurasa. Pernah aku dan Leona –salah satu sepatu milik Yunis bercerita, bahwa mereka –Leona dan Yunis, terperangkap badai di gunung Rinjani. Berbasahbasah mereka mencari shelter atau tempat berlindung sementara untuk para pendaki beristirahat atau menunggu badai reda sebelum melanjutkan perjalannya. Leona bercerita, badai yang belum reda sepenuhnya diterjang oleh Yunis untuk melanjutkan pendakian. Aku sedikit bergidik membayangkannya. Bersyukur, bahwa aku tidak berada dalam situasi yang penuh adrenalin seperti itu. Ah... Jadi, meski aku berberat hati untuk mendampingi Yunis ke Tangkuban Perahu hari itu, kurasa aku lebih beruntung dari Leona. Sebab, Tangkuban Perahu bukan jenis pendakian gunung, hanya rekreasi biasa dengan panorama gunung.  Baiklah, kurasa aku harus mulai memperbaiki mood dan membuat jalanjalan ini menyenangkan.
Tentang Tangkuban Perahu. Mari kuceritakan...
Barangkali kalian tidak asing dengan legenda gunung Tangkuban Perahu. Alkisah, bahwa gunung Tangkuban Perahu ada karena Sangkuriang –sang tokoh utama dalam cerita rakyat tersebut tidak berhasil atau seakan tidak berhasil dalam membuat sebuah perahu pesanan Dayang Sumbi. Dikisahkan bahwa dahulu kala hiduplah seorang anak lelaki yang terpisah dari ibunya dikarenakan sang anak membunuh seekor anjing bernama Tumang yang setia menemaninya kemanapun pergi. Sang anak tidak mengetahui bahwa anjing tersebut merupakan jelmaan ayahnya yang dikutuk dewa. Sebelum berpisah sang ibu dengan rasa marah dan sedih yang luar biasa mengusir anaknya dan memukul sehingga tanpa sengaja membuat luka di kepalanya. 
Waktu bergulir, kisah berpilin dalam kelindan nasib yang akhirnya mempertemukan kembali anak dan ibu dalam suasana dan situasi yang berbeda. Sang anak jatuh cinta pada seorang wanita jelita yang tidak diketahui bahwa wanita itu adalah ibunya sendiri. Dengan gagah berani lelaki tersebut menyatakan cintanya. Sang ibu yang pada awalnya tidak mengetahui bahwa lelaki itu adalah anaknya bersuka cita menerima cintanya. Namun, sebelum tiba hari bahagia, sang ibu tanpa sengaja melihat luka di kepala sang lelaki yang telah jadi pertanda bahwa luka tersebut dibuat dalam rasa sedih dan marah oleh dirinya. Menyadari jika lelaki yang mencintai itu adalah anaknya, sang ibu berusaha menjelaskan, akan tetapi sang lelaki yang tertutup oleh cinta tak bisa menerima hal tersebut. Maka, setelah melalui perenungan dan pemikiran panjang dan meminta petunjuk dari sang Hyang Widi, akhirnya sang ibu mendapat pencerahan. Tidak menunggu lagi, sang ibu akhirnya mengajukan syaratsyarat yang harus dipenuhi oleh sang anak jika memang sang anak ingin menikahinya. Salah satu syarat tersebut adalah membuat sebuah perahu yang besar dalam waktu semalam, harus selesai sebelum ayam jantan berkokok dan hari berganti terang. Sang anak yang saat itu memang telah memiliki kesaktian memohon bantuan pada semua makhluk hidup di dunia lain untuk membantu merampungkan syarat yang diajukan sang ibu, Dayang Sumbi. Sang anak, Sangkuriang dengan kepercayaan diri dapat menyelesaikannya bergegas dan bekerja dengan keras. Melihat bahwa perahu bisa dirampungkan sebelum ayam jantan berkokok membuat Dayang Sumbi cemas. Sehingga dia berdoa memohon petunjuk Dewata apa yang bisa dilakukan agar pekerjaan sang anak tidak selesai pada waktunya.
Dewata penuh kasih. Dengan penuh kemurahan dibimbingnya Dayang Sumbi pada sebuah penyelesaian. Mengendap perlahan, Dayang Sumbi membawa sebuah penerangan ke kandang ayam jantan. Ayamayam jantan yang mengira bahwa pagi telah datang dengan rela berkokok panjang. Mendengar kokokan ayam, hancur sudah perasaan Sangkuriang. Kerja kerasnya tidak berhasil. Dengan kekecewaan memuncak ditendangnya perahu yang hampir rampung hingga jauh menuju Bandung Selatan dengan kondisi terbalik.
Begitulah. Sang ibu akhirnya bisa mencegah perkawinan insis, dan cerita legenda ini terus diceritakan dari masa ke masa. Lewat mulutmulut orangtua, lewat bukubuku cerita dan menjadi kisah dongeng yang abadi.  
Uhuk! Aku terbatuk kecil sambil menahan kantuk. Yunis menceritakan kisah yang sungguh sudah juga kutahu. Menghentakan kaki dengan sedikit bertenaga sehingga membuatku terjaga. Ah, rupanya sudah sampai.
Gunung Tangkuban Perahu adalah ujung perbatasan dengan wilayah Subang. Menjadi penanda geografis. Masuk ke dalam wilayah Kabupaten Bandung Barat, dan menjadi ujung Lembang. Siapa yang tak tahu Lembang? Kaya dengan berbagai macam tempat rekreasi dan penuh pilihan untuk kuliner. Jadi, sebenarnya jika melancong ke gunung Tangkuban Perahu, artinya akan banyak tempat istimewa lain yang bisa dikunjungi dalan sekali perjalanan.
Untuk memasuki area ini –gunung Tangkuban Perahu, hanya ada satu pos penjaga yang berfungsi sebagai pos tiket. Tidak mahal, sungguh. Tarifnya masih sangat beradab. Baik karcis yang dikenakan untuk kendaraan maupun karcis untuk pengendaranya. Usai membayar administratif, kami langsung melanjutkan perjalanan. Tentu saja kendaraan akan terus sampai di puncak. Karena gunung Tangkuban Perahu bukan jenis gunung pendakian semisal gunung Rinjani yang Leona ceritakan kepadaku.


Sekitar 1-2 kilometer, perjalanan dengan kontur jalan yang berkelokkelok memutar akhirnya sampai di puncak. Hamparan dataran khusus untuk parkiran kendaraan, baik roda empat maupun roda dua telah tertata rapih. Petugas parkir berseliweran menertibkan kendaraan. Memberikan arah dan petunjuk.
Masih mendung dan berawan. Matahari meski bersikeras ingin ikut hadir di hari itu akhirnya mengalah. Satu-dua rintik hujan yang masih jarangjarang menyambut kami. Aroma belerang memberi kesan lain. Yunis bergegas melompat keluar dari mobil. Berlari kecil menuju sebuah shelter peristirahatan yang berukuran cukup besar. Didalamnya tak luput terdapat beberapa pedagangpedagang makanan yang turut meramaikan suasana. Rintikrintik jarang menjadi padat. Helaan napas lega terdengar seperti bersahutan dari orangorang yang selamat dari rinai deras yang bisa membuat badan kuyup. Kabut perlahan turun menyelimuti dan memeluk setiap lekuk sudut.


Shelter ini berada tepat di samping sebuah kawah menganga yang masih dengan aktif beraktivitas dengan semburan letupanletupan mini yang menarik mata. Warna hijau gradasi sangat memikat. Kawah ini berdiameter cukup besar, tapi aku sendiri tidak tahu pasti angkanya. Seperti tersihir Yunis untuk beberapa saat terpaku, hampirhampir tak berkedip. Dramatis dan melankolis. Sampai seorang asing menubruknya dan menginjak aku. Aduh! Namun hanya sebatas itu, Yunis sudah kembali tenggelam dalam suasana dan dengan cekatan memotret panorama yang menakjubkan tersebut.
Ya, panoramanya memang menakjubkan. Shelter ini memang sangat representatif. Semua sudut dan hamparan bisa dinikmati. Atapatap berbentuk kerucut dengan baik dan tertata membentuk komplek tersendiri. Di bawah atapatap ini berbagai souvenir dijual. Mulai dari kaos bertuliskan gunung Tangkuban Perahu, kemudian batangbatang pohon pakis yang dibentuk kedalam aneka bentuk, juga gantungangantungan kunci dengan berbagai bentuk khas ala Tangkuban Perahu ditawarkan. Semuanya dalam harga yang relatif manusiawi. Sungguh!
            Well, barangkali perjalanan kali ini memang dingin dan basah. Tapi sesungguhnya aku suka. Kapan lagi menikmati nuasa pegunungan berapi yang kau tidak perlu susah payah dan bercapekcapek mendaki? Murah meriah dan sungguh amazing? Ya, gunung Tangkuban Perahu. Wanna try?yk[]
“Dia yang bersetia, melebihi sesiapa pun yang pernah ada.”

            Ini tahun ke-sembilan kami bersama. “Dia” telah terus ada dalam setiap pergantian musim dalam hidupku. Hadir dalam setiap peristiwa, bahkan untuk momen tergenting dalam hidupku. Bukan hanya hidupku, tapi juga hidup seorang pria kecil yang merupakan hidupku. Hidup yang ditopang hidup dan ditopang sebuah kehidupan lain. Barangkali “dia” hanya sebuah mesin beroda empat. Sungguh pun demikian, “dia” menggenapkan harihariku. “Dia” adalah yang tak pernah banyak menuntut, tapi “dia” telah menjadi “rumah” dan menjadi kakiku.yk[]




Kampung Toga (KT) terletak di wilayah Sumedang, dekat dengan pusat kotanya. Beberapakali aku menemani Yunis kemari,  jika dia ingin menghening dan menjaga jarak sementara dari hirukpikuk kota. Selain lokasinya yang tidak terlalu jauh dari Bandung, KT juga memiliki cita rasa hening yang Yunis butuhkan. Jarak tempuh yang diperlukan dari Bandung kurang lebih 2 jam sudah termasuk padat merayap di sekitaran Jatinangor dan Cadas Pangeran. Nilai tambah dengan pemandangan asri khas pegunungan dengan kontur berkelok dan pohonpohon pinus menjulang.


Seperti halnya hidup, sangat tidak menyenangkan jika hanya menemui jalan datar, lurus dan tanpa hambatan. Setiap kali pedal gas diinjak, selalu disertai rasa nikmat sensasi luar biasa. Kembali ke KT, lepas Cadas Pangeran dan sebuah papan besar disertai ucapan “Selamat datang di kota Sumedang”, kita akan menemui sebuah pertigaan. Ke kiri kita akan meneruskan perjalanan menuju Majalengka-Cirebon dan seterusnya, kemudian jika kita memilih lurus kita akan memasuki Sumedang Kota, maka pilihan terakhir adalah ke kanan. Jalur itulah yang akan membawa kita ke sebuah tempat dengan rumahrumah berbentuk ala vila dengan desain sunda yang disebut Kampung Toga. Tidak terlalu jauh, hanya sekitar 2 Km dari pertigaan tersebut.



Sepanjang jalan menuju KT, sisasisa persawahan masih terlihat. Tidak banyak memang, pembangunan perumahan nampak di sanasini menghiasi jalanan. Namun latar gunung masih memberikan rasa nyaman menjanjikan menuju tempat perheningan. Ada rasa haru menyergap ketika tiba. KT berada tepat di ujung jalan pegunungan. Rumahrumah panggung tertata sejajar dengan jarak yang diatur sedemikian rupa dengan tamantaman dan pohonpohon pinus berderet di jalur kirikanan jalan. Mengingat pinus, kenangan tertuju langsung pada sebuah pengunungan yang belum pernah kami kunjungi, hanya terekam kuat diingatan. Sedikit menyamakan dengan pinuspinus di pegunungan Alpen. Barangkali terlalu jauh, tapi begitulah ingatan spontan Yunis memberi gambaran tentang tempat ini.



Yunis selalu meminta rumah Kemuning, sebuah rumah yang tidak terlalu luas, mungil; hanya satu kamar dengan satu set kaca rias, dua buah kursi dan sebuah meja serta sebuah televisi 14 inch, ditambah sebuah kamar mandi lengkap dengan bath tub dan air hangat. Harganya juga tidak terlalu mahal. Kisaran di Rp. 250.000,- /hari sampai dengan Rp. 750.000,-/hari. View-nya langsung ke gunung dan persawahan yang masih cukup banyak dan bisa terlihat jelas dari teras belakang.


Yang khas dari KT adalah makanannya. Nasi liwet komplit dengan peda merah merupakan menu favorit. Makanan ini bisa dipesan berdasarkan kebutuhan alias sesuai porsi. Yunis tidak pernah sekalipun melewatkan santapan ini. Dijamin ketagihan. Nasi liwet ini dihidangkan juga dengan tempe mendoan, asin peda, sambal dan lalapan, juga karedok. Teh tawar panas semakin melengkapi kenikmatan bersantap hidangan ini.



Usai bersantap makanan khas KT, jangan lupa untuk melihat atau menikmati pemandangan dari puncak. Dimana di tempat ini kita juga bisa menikmati hidangan yang sama, atau menikmati segelas kopi hitam sambil memandang hamparan kota. Jika kamu suka olahraga paralayang, di KT menyediakan layanan ini. Olahraga paralayang yang mendebarkan hati. Surga dunia yang komplit bukan?


Tidak perlu mahal dan jauh. Hidup terlalu singkat untuk dilewatkan dengan menunggu. Jadi, masih harus mikir lagi?yk[]







: bersama mereka, aku melakukan berbagai perjalanan dan kegiatan.. mereka lebih dari sekadar sepatusepatu, mereka adalah saksi dari segenap peristiwa yang mungkin luput aku ceritakan..


: Latih.. sebuah bandara, persinggahan menuju Rokan Hulu - Riau.




: Leona, suatu hari yang cerah di Ranca Upas, Ciwidey.



: Lenice.. Kampung Toga.. kopi hitam dan paralayang, menikmati sore yang cemerlang di Sumedang.



: Leta.. potongan bisa menipu.. Leta lebih sering kegiatan outdoor ketimbang indoor yang ber-AC loh.



: Lalita.. lokasi tangga ini sebenarnya di sebuah rumah makan khas sunda di daerah Karawang.. tapi.. sedikit meragukan jika hanya terlihat anak tangga saja..




Leona dan jalan setapak menuju Leuweung Tengah


Ranca Upas. Menyeretku pada rangkaian kenangan. Usiaku baru menginjak pubertas, sekitar belasan dan duduk di bangku kelas 3 Sekolah Menengah Pertama (SMP). Kenangan menghabiskan liburan akhir tahun ajaran bersama para kawan karib SMP kala itu, yang merupakan jenis euforia kelulusan dan perpisahan sekolah. Lalu setelahnya –sekitar kelas 2 Sekolah Menengah Atas (SMA), untuk alasan yang tidak jelas, aku rutin menghabiskan akhir minggu di Ranca Upas. Seingatku, selalu Sabtu sore aku tiba di lokasi. Lalu berkeliling mengitari Leuweung Tengah hingga cahaya senja surut, kemudian akan menghabiskan sepanjang malam di sebuah warung hingga pagi tiba. Usai sarapan dan berendam di pemandian air hangat, Minggu siangnya aku pulang kembali ke Bandung. Kurasa, begitulah aku banyak menghabiskan akhir minggu tahun ke 2 di SMA. Karena kemudian, masuk kelas 3 SMA rutinitas itu berhenti dengan alasan yang tidak aku ingat.

Aku baru kembali ke Ranca Upas –lagilagi, ketika euforia kelulusan. Hal yang sama adalah bahwa aku justru melewati euforia ini bersama kawan karib semasa SMP. Bukan bersama kawan karib di SMA. Bedanya, kali ini aku bertemu dengan seseorang yang kemudian menjadi kekasih untuk jangka waktu yang lama. Hingga 3 tahun pertama aku mengenyam bangku kuliah. Dia juga influence-ku untuk masuk himpunan mahasiswa pencinta alam (HIMAPA) di kampusku Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung yang bernama ARGA WILIS. STSI, yang sekarang berganti nama menjadi Institute Seni dan Budaya Indonesia (ISBI) Bandung.

Leona : Yunis!! Hentikan! Ceritakan tentang aku saja...

Yunis : Kamu saja yang cerita...

Leona : Baiklah... (menimbang dan mungkin –bersungut dengan mimik lucu)

Dengan semangat mahasiswa baru, Yunis begitu bangga mendaftar untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan menjadi anggota muda HIMAPA Arga Wilis. Dengan tekad bulat untuk mengikuti jejak sang kekasih –influence kan? Yunis memantapkan niat dan tekadnya mencintai dan menjadi bagian alam. Pokoknya intinya Yunis berhasil mengikuti serangkaian pendidikan dan penyaringan menjadi anggota muda Arga Wilis, yang prosesnya berlangsung di Ranca Upas, bukitbukit dan pegunungan di wilayah Ciwidey. Seperti; Leuweung Tengah, Gunung Tilu, dan lainnya. Lalu, dengan gagah feminimnya Yunis mulai melakukan pengembaraan demi pengembaraan demi mendapatkan legalitas anggota tetap Arga Wilis.

Nah, di sinilah. Suatu hari, setelah Yunis menjadi anggota Tetap dan pada tahun berikutnya Yunis menjadi senior angkatan, Yunis bertemu aku. Seorang Junior (baca : angkatan muda/syal hijau), menawarkan aku pada Yunis. Dengan alasan; bahwa aku adalah jenis sepatu gunung untuk perempuan, tapi kurasa itu hanya modus karena sang junior perlu uang. Ups! Singkat cerita dengan diakhiri sebuah kesepakatan, akhirnya aku berpindah tangan. Aku cukup senang bersama Yunis, karena nampaknya dia menyukai aku. Sebagai bukti, aku selalu menemaninya dalam rutinitas harian kampusnya, bukan hanya ketika naik gunung atau melakukan perjalanan. Bahkan kami sudah pernah merasakan udara gunung Semeru dan udara gunung Rinjani. Keren kan?!

Namun ini tentang Ranca Upas...



Barangkali kebersamaan kami tidak diawali ketika masa remajanya, yang kukira cukup banyak perubahan terjadi di Ranca Upas. Jika dalam kenangan Yunis masa remaja-kuliah, Ranca Upas bukanlah objek wisata yang di-ekspos (kalaupun tidak di-eksploitasi), namun seiring berjalannya waktu, Ranca Upas harus beradaptasi. Ranca Upas harus mau menerima perubahan agar tetap “hidup” dan “menghidupi”.

Ranca Upas, merupakan sebuah tempat wisata dengan kontur pegunungan yang mengitarinya beserta objek wisata lain bernama Kawah Putih. Terletak di Bandung Selatan, sekitar 2 jam perjalanan dari kota Bandung –jika kondisi lalu lintas lancar. Ada 2 alternatif jalan yang bisa dilalui. Pertama, kita bisa melalui jalur padat kota Bandung melalui daerah Kopo, Soreang lalu Ciwidey. Kedua, kita bisa melalui jalan yang juga padat dari kota Bandung melalui Dayeuh Kolot, Banjaran, lalu Soreang dan Ciwidey. Keduanya samasama memiliki jalur kepadatan yang tidak bisa diprediksi. Jujur saja, Bandung dan kotakota kabupaten sekitarnya tidak ada yang tidak macet. Kepadatan penduduk setiap tahun meningkat. Jadi jujur saja, pilihannya tinggal meningkatkan kesabaran.

Ranca Upas –pada awalnya, sebenarnya di-desain hanya sebagai bumi perkemahan. Tidak ada kolamkolam air hangat untuk berenang. Warungwarung berjejer sederhana hanya beberapa meter saja dari jalan utama. Pemandian air hangat hanya berupa gubukgubuk sederhana berukuran kecil yang terbuat dari bilik (lembaran bambu tipis yang dijalin sedemikian rupa). Tidak tercium aroma kemewahan atau ekslusif sedikitpun. Bungabunga bakung putih berkembang sepanjang musim berjejer di kiri-kanan jalan yang kadangkadang berlubang, bahkan sebagian masih tanah. Lalu kolamkolam yang lebih sering dipenuhi bunga teratai menjadi pemandangan yang tak kalah menakjubkan.



Kolamkolam yang dipenuhi oleh bunga teratai, kini berganti dengan kolamkolam pemandian/renang yang dikhususkan untuk wisata keluarga. Pemandian air hangat sederhana yang bermetaformosa menjadi kolamkolam renang dengan bangunan permanen dengan berbagai permainan kekinian. Penangkaran rusa dengan jalur khusus melintasi penangkaran, agar para wisatawan bisa melihat lebih dekat. Jalur yang terbuat dari kayukayu  menyerupai gang bertingkat, membuat para wisatawan bisa lebih leluasa mengamati rusarusa dari dekat ataupun sekadar mengambil dokumentasi foto dengan latar pegunungan dan rusarusa.

Kolamkolam teratai yang kini menjadi kolamkolam renang untuk keluarga

Perubahan bukan hal yang buruk. Dalam hal ini Ranca Upas tetap wajah yang sama dengan kemasan yang berbeda. Bumi perkemahan dengan riasan yang lebih “manusiawi” untuk wisata keluarga. Tetap dengan magnet udara dingin, air hangat alami dari pegunungan, bunga rawa abadinya, rusarusa dan sederetan gununggunung yang memagari bumi perkemahan Ranca Upas. Barangkali kenangan versi Yunis telah berubah. Ranca Upas tetaplah Ranca Upas, cantik dan misterius.yk[] 


Perjalananku kali ini tidak jauhjauh, hanya sebuah tempat rekreasi yang cukup eksotis, dengan rumahrumah panggung terapung dan danau buatan.

Jadi begini...

Hari masih terlalu dini waktu itu. Yunis dengan tergesa (dan seringkali tergesa) memakai dan menyeretku. Masih dalam balutan udara dingin, dia menghentakan kaki dan tentu saja membuatku terhentak. Seolaholah mengajak aku merasakan semangat dini hari untuk sebuah perjalanan yang hari itu agak malas kuikuti. Sebuah sepatu juga butuh istirahat, kan?
Untuk sebuah sepatu, mungkin aku agak manja. Mengingat bahwa Yunis memiliki lebih dari sepasang sepatu, aku sempat berpikir; “kenapa sih harus aku yang melakukan perjalanan sepagi buta ini?” Akhirnya yang bisa kulakukan adalah mengikuti keinginannya melakukan perjalanan di pagi buta.

Kami –aku dan Yunis, mengendari sebuah mobil dengan brand yang sangat menjamur di kota ini. Dengan laju kecepatan wajar, mobil membawa kami memasuki jalur bebas hambatan atau biasa disebut jalan tol. Tujuannya adalah gerbang tol Cileunyi. Jarak tempuh 32KM yang dilalui dengan kecepatan ratarata tidaklah memakan waktu banyak, apalagi dengan kondisi kepadatan kendaraan tidak seberapa. Sedang matahari baru menampakkan semburat di ufuk timur. Melalui gerbang tol ini, orangorang dengan tujuan lintasan antar kota bahkan antar provinsi bisa melaluinya. Gerbang tol ini merupakan penutup paling timur dari kota Bandung menuju kotakota lain semisal; Jatinangor, Sumedang, Garut, Tasikmalaya, Cirebon dan lainnya. Bahkan kotakota tersebut merupakan perlintasan menuju provinsi Jawa Tengah dan seterusnya.

Kali ini, aku tidak akan membicarakan lintasan menuju provinsi lain. Cukup hanya menuju sebuah kota yang terkenal dengan makanan khasnya; dodol dan krupuk kulit. Ya, kota Garut. Kota dengan sebutan 1000 (seribu) santri dan menjadi kota tujuan jika hanya ingin sekadar membuat rileks badanmu dengan berendam di air panas natural. Tapi sejujurnya aku juga tidak akan bercerita tentang itu. Ini khusus hanya tentang sebuah perjalanan menuju rumahrumah terapung dengan danau buatan.

Waktu menunjukan pukul 7 pagi kurang, ketika keluar dari pintu jalan bebas hambatan. Sekitar daerah Cileunyi, mobil berhenti. Penumpangnya keluar untuk membeli makanan khas kota Sumedang. Tahu. Kadang aku heran, kenapa manusia cenderung mentaati waktuwaktu untuk mengisi perut meskipun tidak lapar. Seperti halnya; bahwa pagi adalah waktu dimana perut diisi untuk sarapan, tengah hari ketika matahari tepat berada di tengahtengah langit manusia harus mengisi perutnya untuk makan. Kemudian diselasela makan siang menuju makan malam –sekitar jam 19.00 WIB, manusia mengisinya dengan waktu minum kopi atau minum teh atau mengganjalnya dengan makanan ringan. Kadangkadang aku berpikir ribet sekali menjadi manusia. Terlalu banyak waktu yang diabiskan untuk mengisi perutnya.

Mungkin suatu waktu aku ingin membahas soal ini, atau bisa jadi Yunis memiliki ide untuk melakukan penelitian kenapa manusia membagi 3 (tiga) waktu utama untuk mengisi perutnya. Atas dasar apa, dan kebudayaan negara mana yang memperkenalkan kebiasaan makan dengan pembagian waktu seperti itu.

Ah, baiklah, kita kembali ke topik.
Setelah membeli perbekalan untuk sarapan cepat --maksudnya cepat adalah dilakukan di dalam mobil yang melaju guna menghemat waktu agar cepat tiba di tujuan-- kami melanjutkan perjalanan. Yunis sempat terkantukkantuk entah di kilometer berapa. Kakinya bertaut membuatku juga ikut meringkuk seperti berpelukan satu sama lain. Yunis seperti mengerti, dalam udara yang masih terbilang dingin sepasang sepatupun perlu kehangatan. Bisa jadi akupun ikut terkantuk.

Perjalanan memakan waktu kurang lebih 2 jam, mengantarkan kami pada sebuah lokasi yang kubilang eksotis tadi. Sebenarnya jarak tempuh menuju kota Garut tidaklah terlalu jauh, hanya sekitar 53KM dari Cileunyi, tapi mungkin karena countur jalan yang berkelok dan naik turun membuat waktu tempuh lebih lama dari waktu normal jika melewati track lurus saja. Well, toh akhirnya kami sampai juga di lokasi.

Kampung Sampireun. Ke sanalah tujuan utamanya. Kita akan diajak melalui jalur kota. Ada beberapa persimpangan dan jika bingung, kita bisa melihat dan mengikuti ramburambu kota agar terhindar dari tersesat. Ramburambu tersebut cukup memudahkan arah jalan yang harus kita ambil menuju lokasi.

Sebuah lokasi yang lagilagi harus kubilang eksotis karena memang demikian. Eksotis merupakan pandangan wisatawan asing untuk menggambarkan betapa “timur” negaranegara “timur” dalam pandangan mereka yang sangat Western. Jadi, aku meminjam istilah itu untuk menggambarkan ke-eksotis-an tempat ini.

Eksotis atau romantis? Ah, kukira hanya tergantung dari siapa dan kepentingan apa pengunjung datang ke Kampung Sampireun. Matahari beranjak menuju jalur perlintasan untuk memberikan penghidupan dan kehidupan pada manusia. Dalam hangatnya yang menjelang panas, kami menatapi danau buatan, rindang pepohonan, deretan rumahrumah panggung yang terapung di danau buatan, perahuperahu kosong, rakitrakit bambu sederhana yang bertengger di pinggirpinggir danau dan kolamkolam berisi ratusan ikan berwarna keemasan dengan campuran putih, merah menyala, hitam dan keperakan, yang memonyongkan mulutmulut mereka meminta perhatian para pengunjung untuk sekadar memberi remahremah makanan. Ikanikan ini memang sangat jinak. Pemandangan layak setelah jarak dan waktu tempuh yang kami lalui.




Kampung Sampireun memiliki 22 bungalow. Dengan 20 kamar Deluxe Garden. Bungalow memiliki banyak variasi, diantaranya; 7 kamar yang disebut Kalapalua Suite, 4 kamar Kurjati Suite, 1 kamar Kurjati Cluster, 4 kamar Kalalua Cluster, 10 kamar Waluran dan 1 kamar Malayang Suite Hill.

Kamar Deluxe Garden memiliki bangunan seperti kondo (kondominium; apartemen). Ada 5 kondo; setiap kondo memiliki 4 kamar dengan twins room terpisah. Terbuat dari bambu dengan atap dedaun pohon kelapa didesain dengan gaya unik namun lebih modern karena berkolaborasi dengan tembok permanen.

Untuk bisa menikmati liburan di sini, Kampung Sampireun menawarkan paketpaket 7 hari sebelum lebaran, setelah lebaran, paket tujuh hari sebelum natal dan sesudahnya, termasuk paket menikmati tahun baru, pengunjung dikenakan biaya tambahan sebesar 10 persen dari harga normal. Biaya untuk menikmati liburan di Kampung Sampireun di harihari biasa berkisar antar 2.100.000 sampai dengan 4.500.000. namun, jika hari besar dan liburan harga tersebut dikenakan kenaikan seperti diatas tadi, yaitu kenaikan 10 persen.

Jangan khawatir, harga tersebut sudah termasuk didalamnya minuman selamat datang, sarapan pagi dan makan malam sesuai dengan kapasitas bungalow, teh ataupun kopi serta cemilan khas sunda gorengan di sore hari, kemudian cemilan khas lainnya seperti surabi di pagi hari dan ditemani dengan segelas minuman khas sunda yang disebut sekoteng.

Kita juga tidak akan bosan, karena Kampung Sampireun memberikan pelayanan untuk menjelajahi danau buatan dengan menggunakan perahu cinta (perahu dengan dekorasi hati yang dibuat dari bambu dan dedaunan di atas perahu yang bisa dinaiki) ataupun dengan menggunakan perahu berkapasitas lebih dari 10 orang, atau bisa juga menggunakan rakit dengan desain sederhana. Di tengah rimbunnya pepohon pinus yang tumbuh mengitari dan memenuhi hampir sebagian besar kawasan daratan, membuat lupa bahwa Kampung Sampireun berada di Garut. Kupastikan ada sensasi yang menggelitik hati lebih dari sekadar pepohon pinus.

Kalau kamu adalah pasangan yang mencari tempat untuk melakukan pemotretan pra wedding atau kamu adalah pasangan yang baru menikah, Kampung Sampireun merupakan tempat yang tepat untuk mendapat spotspot cantik dalam foto pra wedding atau tempat yang romantis khas pedesaan untuk mengabadikan momen bulan madu dengan harga yang cukup kompetitif. Nah, penasaran dengan sejarah Kampung Sampireun, atau kenapa tempat ini dinamai Kampung Sampireun, kita bisa datang langsung dan mendapat informasi lebih lengkap. Tidak hanya membaca melalui brosur tapi bisa langsung menikmati keunikan Kampung Sampireun.




Fiuuuuuhhhh...

Akhirnya, Yunis melepaskan aku juga. Dengan bertelanjang kaki dia menikmati air danau membasahi kakinya yang seharian mengajakku berkeliling tanpa jeda dari satu lokasi ke lokasi lain di tempat ini.

Boleh jadi aku memang manja, dan kemewahan alam yang tidak sederhana ini benarbenar membuatku ingin lebih bermanjamanja.

Mungkin kamu tidak bisa melihat matahari tenggelam di lokasi ini, namun sisasisa jingga di ufuk barat akan membuatmu terpesona. Dan bayangbayang pepohon pinus adalah ketakjuban yang perlu diperhitungkan.

Bisa dibayangkan? Nah, sampai jumpa di petualangan Latih dan Yunis berikutnya.yk[]