Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim II, Riau

Negeri Seribu Suluk, sebuah nama julukan dari Kabupaten Rokan Hulu, Riau. Mempunyai riwayat yang melegenda sekaligus berliku yang telah dituturkan oleh para pemangku adat dari Rokan Hulu. Sosok yang terkenal se-nusantara pun pernah lahir dari tanah Rokan Hulu, yaitu pahlawan Tuanku Tambusai yang pernah bertempur sebagai panglima terakhir di perang Paderi melawan penjajahan atas nama cintanya untuk tanah Rokan Hulu. Selain itu, berbagai macam-macam etnis dari Jawa, Minangkabau, Batak, Sunda, Mandailing dan lain-lain berkembang serta hidup berdampingan di Rokan Hulu. Menciptakan marwah keberagaman yang harmonis.

Tugu Ratik Togak di Pasir Pengaraian, Kab. Rokan Hulu

Sejarah paling komprehensif tentang Rokan Hulu pun, tak bisa dipisahkan dari kerajaan-kerajaan yang meliputinya di masa lalu yang pernah berkembang di abad ke 18, sebagai lalu lintas perdagangan nusantara dan mancanegara. Lambat laun, perkembangan ekonomi di masa itu pun tumbuh dan berkembang. Membentuk peradaban tersendiri yang cukup menggeliat dan diperbincangkan. Kemudian menjadi semacam pusat perdagangan di masanya, didukung pula oleh jalur darat dan jalur sungai-sungainya yang strategis Hal-hal tersebut bisa dikatakan sebagai faktor-faktor pendukung untuk menguatkan dan memberi inspirasi bagi masyarakat Rokan Hulu, para tokoh, dan para pemangku adat agar daerah Rokan Hulu menjadi kabupaten. Mereka menyadari, Rokan Hulu mempunyai berbagai potensi yang cukup besar jika berdiri dan mandiri sebagai daerah berkembang. Di samping itu, secara kultur dan kebahasaan mereka berbeda dari induk semangnya.

Komplek Bina Praja, Kab. Rokan Hulu yang asri

Seiring waktu, perubahan demi perubahan pun terjadi di Rokan Hulu untuk menjadi kabupaten. Menurut dokumen sejarah setempat, cita-cita ini dimulai pada tahun 1949, ketika Kewedanaan Pasir Pangaraian masuk dalam wilayah Kabupaten Kampar. Lalu pada tahun 1962 pernah terjadi Musyawarah Besar yang melegenda. Isinya agar eks Kewedanaan Pasir Pangaraian menjadi kabupaten daerah TK II Rokan Hulu, sayangnya belum menuai hasil yang diharapkan. Kemudian tahun 1968, Musyawarah Besar kembali digelar oleh tokoh-tokoh Rokan Hulu. Namun lagi-lagi ide untuk mendirikan kabupaten Rokan Hulu terhalang. Seiring perubahan rezim pemerintahan, suhu politik dan perkembangan zaman di Indonesia, khususnya pada masa-masa reformasi yang sedang bergolak di ibu kota, terbitlah sebuah surat keputusan dari Mentri Dalam Negeri tertanggal 26 Mei 1997, yang berisi masuknya Rokan Hulu sebagai wilayah kerja pembantu bupati Kampar. Putusan tersebut kelak yang akan membawa aspirasi masyarakat Rokan Hulu memperjuangkan apa yang selama ini mereka cita-citakan; menjadi Kabupaten mandiri.

Komplek Pemakaman Rajaraja Ramban

Setelah melewati aral rintangan, akhirnya pada tanggal 4 Oktober 1999, Undang-Undang Nomor 53 Tahun 1999 disetujui. Sejak saat itulah Kabupaten Rokan Hulu memulai kisah baru sebagai kabupaten otonom yang diresmikan oleh Pemerintah sebagai Kabupaten Rokan Hulu bersama tujuh kabupaten lainnya di Riau pada tanggal yang akan dikenang sepanjang hayat, yaitu tanggal 12 Oktober 1999, dengan ibu kota Pasir Pengaraian.


Perjuangan yang pantang mundur, menuai hasil membanggakan. Cahaya pembaharuan mulai terlihat. Cerita baru dari Negeri Seribu Suluk, memulai langkah-langkahnya membangun daerah tersendiri dengan kreativitas, aspirasi, dan inspirasi dari masyarakat Rokan Hulu sendiri. Semua dilakukan agar daerah Rokan Hulu dengan berbagai potensinya, menjadi daerah yang berkembang di Provinsi Riau serta menciptakan atmosfer kehidupan ekonomi di sana. Meningkatkan taraf hidup dan tumbuh secara jangka panjang demi menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) yang inovatif dan beraklakul kharimah.

Keindahan Arsitektur Masjid Agung Madani Islamic Center, Pasir Pangaraian, Kab. Rokan Hulu

Keseriusan dan optimistisme dalam membentuk sebuah kabupaten tersendiri, patut kita apresiasi, dengan memberikan penghormatan secara mendalam kepada tokoh-tokoh berpengaruh di Rokan Hulu yang telah mengabdi selama puluhan tahun, memperjuangkan Rokan Hulu sebagai kabupaten, akhirnya mewujud. Perjuangan dan dedikasi lokalitas atas nama cinta dan ketulusan pada Rokan Hulu.

Dua suasana yang berbeda dari keindahan Masjid Agung Madani Islamic Center

Salah satu bangunan yang menjadi ciri khas Kabupaten Rokan Hulu adalah  Masjid Agung Islamic Center dengan jalanjalan yang diterangi lampulampu bertuliskan Asmaul Husna. Masjid yang berdiri dengan anggun dan megahnya. Ketika malam tiba, seluruh bangunan Masjid akan bersinar terang namun menyejukan. Masjid yang memiliki banyak faedah. Selain fungsi utamanya sebagai tempat ibadah, juga menjadi ikon kota dan tempat wisata religi.

Akhir Perjalanan dari Rokan Hulu, Riau

Sebuah perjalanan tidak akan pernah menghasilkan kisah sama, kecuali semakin memuncakan kerinduan untuk terus berjalan, mengembara, mengumpulkan ingataningatan akan keindahan yang kadang tidak pula indah. Perjalanan adalah tentang mengumpulkan, memahami dan membangun kesadaran bahwa tidak ada yang benarbenar besar dan tidak ada yang benarbenar kecil. Perjalanan yang akan melagukan kisahkisah tak terduga dari mata, hati dan pikiran sang pengembara. Harapan, keyakinan serta iman. Betapa sang Khaliq begitu agung.yk[]

*kontributor tulisan : Eva Sri Rahayu dan Evi Sri Rezeki || *kontributor dokumentasi : Parmadi


Latih, narasi kali ini biar aku yang ambil bagian ya..

Kota Surabaya. Kota Buaya. Ada tahun dimana sangat enggan untuk kembali ke sana. Satu pengalaman pada suatu ketika dalam touring pertunjukan monolog, saya mempunyai kesan bahwa Surabaya hanyalah panas, gersang, dan tidak ramah. Namun, berangsur pada kunjungan kedua, ketiga dan keempat secara total kesan itu berubah. Bahkan pada kunjungan terakhir, saya merasa bahwa Surabaya sangat ramah dan sejuk.

Kesan romantis jelas tergambar ketika saya menjejakkan kaki di pusat kota. Terdapat gedunggedung tua di salah satu sudut kota Surabaya. –kita tidak akan membahas gedunggedung tua bersejarah peninggalan kolonial Belanda, ada haru menggelitik hati, merabaraba seperti apa seharusnya sejarah bercerita.



Tak jauh dari kompleks Jembatan Merah, sebuah museum berdiri. Inilah museum House of Sampoerna yang memang berada di kawasan kota tua, Surabaya. Hari itu tidak dipungkiri, panas cukup menyengat. Lagilagi, saya membuat perbandingan. Rasarasanya, panas cuaca tak seperti ingatan panas beberapa waklu lalu.

Kedatangan saya memang tidak sendiri, kebetulan pada kunjungan kala itu saya sedang dalam dinas. Otomatis saya menggunakan bus bersama rombongan. Bus yang saya tumpangi, terparkir cukup jauh dari gerbang museum, maka saya pun harus berjalan kaki untuk mencapai lokasi. Suasana tidak begitu ramai, malah cenderung sepi aktivitas. Ada beberapa becak yang “terparkir” di depan gerbang masuk. Sayangnya, saya tidak berkesempatan berkeliling kota dengan menggunakan becak.

Melewati gerbang, maka kita akan disuguhi dengan panorama gedung tua dengan deretan tamantaman tertata rapi. Beberapa petugas bersigap menyambut tamu. Bagian tengah bangunan berdiri kokoh dan megah dengan arsitektur tiangtiang penyangga dibuat menyerupai batangan rokok. Pada dinding bangunan terdapat sebuat plakat yang memberi informasi singkat, kapan dan bagaimana museum tersebut didirikan. Ditambah dengan sebuah penanda bahwa museum tersebut dengan kontribusinya telah memperoleh penghargaan dari suatu organisasi dunia.



Memasuki area dalam, udara terasa sangat kental dengan aroma tembakau dan cengkeh. Kemudian terdapat sebuah air mancur dan kolam mini yang dipenuhi ikanikan koi. Sebelah kiri-kanan ruangan terdapat koleksi berbagai barang yang pamerkan. Dari mulai sepeda tua yang digunakan pendiri Sampoerna untuk berdagang ketika masih muda, berbagai peralatan yang digunakan untuk mengolah tembakau dan cengkeh, hingga sebuah lemari yang berisi dengan beberapa set kebaya berwarna putih (baca: telah kekuningan karena waktu) yang digunakan oleh keluarga dari masa ke masa yang sengaja di-display beserta cerita yang melingkupinya. 

Jadi, Museum House of Sampoerna mulai menempati bangunan tua yang berdiri mulai tahun 1864. Bangunan ini memiliki dua buah lantai. Lantai pertama berfungsi sebagai ruang pamer, mulai dari beragam aneka bendabenda yang digunakan pada tahuntahun pertama berdirinya pabrik, hingga bajubaju kebaya tadi. Kemudian lantai kedua berfungsi sebagai menjadi ruang penjualan aneka souvenir dan track record prestasi dari yayaysan Sampoerna –terdapat display fotofoto perjalanan yayasan.



Ada sebuah replika menarik yang terdapat di lantai pertama atau dasar, yaitu warung sederhana seperti kioskios masa kini, namun kental dengan nuansa lampau. Warung sederhana ini adalah milik pendiri PT Sampoerna, yaitu Liem Seeng Tee dan istrinya, Siem Tjiang Nio. Replika warung tersebut dilengkapi dengan berbagai “asesoris” kewarungan, semisal stoples makanan, keranjang buah-buahan, serta display kotakkotak rokok.



Dari lantai dua, ada sebuah pemandangan yang menarik. Tentu saja selain bahwa lantai ini menyediakan marchendise Sampoerna yang dijual bebas. Dari atas, dengan leluasa kita bisa melihat area dimana para pekerja pabrik melinting rokok. Sayangnya, pada kunjungan tersebut para pekerja sedang libur, jadi saya hanya bisa menatap ruang kerja yang kosong saja. Pekerja rokok semuanya adalah perempuan. Ketika saya coba berkomunikasi dengan salah satu pegawai yang penunggu area penjualan kenapa pekerja pelinting rokok semuanya perempuan, jawabannya adalah; karena perempuan lebih teliti, cekatan dan tidak banyak menuntut. Menuntut? Saya kejar dengan pertanyaan selanjutnya, menuntut atau lebih murah? Tanya saya. Dengan terbata dan sedikit gugup, menyadari bahwa pertanyaan saya menyangkut gender, pegawai itu menutup dengan cepat: “Saya kurang tahu, itu kebijaksanaan perusahaan.” Giliran saya yang tersenyum. Kecut. Dengan kata lain bahwa perempuan masih lebih penurut, kirakira begitu yang ada dalam benak saya. Tapi, ya, toh saya pun tidak bisa berbuat banyak. Dengan kesadaran bahwa saya tidak bisa memberikan solusi, saya memutuskan untuk kembali ketujuan. Menikmati kunjungan ke museum ini.



Bagaimanapun, saya pikir bahwa museum yang didirikan oleh sebuah pabrik rokok ini telah memberikan cukup banyak kontribusi untuk negara. Meski pada akhirnya, perusahan ini pun di-merjer atau dibeli oleh perusahaan rokok asing juga. Jadi, kehadirannya tidak lagi menjadi amunisi dan properti negara. Sayang memang. Tapi begitulah realitasnya. Namun demikian, museum satu ini layak untuk dikunjungi. Ada sejarahsejarah yang bisa dipelajari. Sebagai manusia tidakkah kita harus bijak belajar dan menghargai sejarah? Jika sedang menikmati Surabaya, jangan lupa berkunjung ke Museum House of Sampoerna ya ^^. Salam.yk[]
Dokumentasi pribadi dan Tim ekspedisi, Natuna, Kepulauan Riau

sementara hari Ini
jejak dini hari, dingin
terayun di lautmu
muntahan air dari atap langitmu
lalu lagu angin
menerpa,
menyapa,
mengucapkan salam “selamat datang”

sementara hari ini
waktu mengalun lambat
berat tertahan gelombang laut Cina selatan

napas kita sarat harap
daratan cepat tertangkap
perahu segera merapat

sementara hari ini
kita masih terperangkap
-menuju Subi, Agustus 2007


Kepulauan Natuna, 2007

Hari Selasa, 7 Agustus 2007. 18 (delapan belas) personil yang terdiri dari kumpulan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi dengan niat pengabdian bertolak menuju Kepulauan Natuna. Penerbangan pukul 17.40 WIB dengan menggunakan pesawat Merpati, bertolak menuju Batam. Tepat pukul 20.00 waktu setempat, pesawat landing di bandara Hang Nadim. Tim penjemputan telah menunggu, mempersilahkan kami untuk beristirahat di kawasan Cendana, Batam.

Keesokan hari, pukul 11.30 waktu setempat, kami semua kembali menuju bandara Hang Nadim. Menunggu pesawat Riau Airlines pada penerbangan 13.55 membawa menuju Ranai, ibukota kepulauan Natuna. Disinilah petualangan dan kesabaran serta nyali diuji. Tepat pukul 15.00, pesawat mendarat. Deretan truk terlihat di sepanjang jalur jalan di luar bandara. Tidak ada penjemputan ekslusif dengan kendaraan ekslusif. Semua orang bergerak cepat. Kami pun bergerak cepat. Menggendong ranselransel yang beratnya luar biasa. Ranselransel yang dipenuhi amunisi untuk keperluan sosialisasi program pendidikan. Kami tidak pernah tahu bahwa medanmedan perjalanan yang tidak lazim akan mempengaruhi semangat pengabdian untuk beberapa waktu ke depan.

Dokumentasi Pribadi dan Tim Ekspedisi; Natuna, Kepulauan Riau


Truk yang kami tumpangi dari Ranai, menuju pelabuhan Penagih. Pelabuhan yang menghubungkan dengan tempattempat tujuan selanjutnya. Tujuan pertama adalah pulau Subi. Dengan menggunakan perahu besar bernama Perintis, gelombang ombak yang luar biasa dasyat memandu kami menuju Subi. Untuk sampai ke Subi, kami harus turun di tengah kegelapan dan lautan. Hanya dengan menggunakan pongpong atau perahu kecil pulau Subi bisa terjangkau.

Dokumentasi pribadi dan Tim Ekspedisi; perjuangan pelajar Natuna, Kepulauan Riau

Pulau Subi terbagi menjadi 5 (lima) desa; Meliah, Terayak, Pulau Panjang, Subi Kecil dan Subi Besar. Keempat desa ini disebut sebagai daratan Subi. Kesenian yang terkenal di Subi adalah Kampang, Hadroh, Zapin dan Pencak Silat. Terdapat pula cerita yang melegenda, yaitu Siti Balqis yang merupakan perempuan tercantik di Subi atau Tanah Merah. Cerita lainnya yang melegenda adalah Abdul Putih, seorang imam yang hidup di zaman bajak laut, dikeramatkan karena meninggal sebagai imam yang berdarah putih.

Dokumentasi pribadi dan Tim Ekspedisi, lautan Natuna, Kepulauan Riau

Tidak ada jadwal yang pasti. Transportasi bergantung pada kebaikan ombak dan kecerahan cuaca. Bisa jadi, jadwal yang telah direncakan molor hingga 1-2 hari. Jika gelombang pasang dan hujan turun dengan deras, maka dapat dipastikan tak ada satupun perahu sebagai satusatunya alat transportasi penghubung dari satu pulau ke pulau lainnya beroperasi. Jika begini, artinya semua rencana musti di jadwal ulang.

Dokemntasi pribadi; cantiknya pantai Sisi di Serasan, Natuna, Kepulauan Riau

Usai melaksanakan program pendidikan kesenian dan lainlainnya di Subi, tim bertolak menuju pulau Serasan. Setelah menunggu 2 (dua ) hari hingga badai mereda, akhirnya tim bisa melanjutkan perjalanan dengan menggunakan kapal kecil sewaan bernama pongpong tadi dengan harga 2 juta rupiah. Harga yang terbilang cukup mahal kala itu. Tidak banyak yang memiliki pongpong sewaan sehingga, kami sebagai pendatang tidak bisa melakukan pencarian untuk perbandingan harga yang sedikit lebih murah. Yang menyenangkan di pulau Serasan, setidaknya ada sebuah pantai cantik dengan pasir putih membentang. Bersih, tidak bising, penuh dengan penyupenyu penelur dan indah. Pantai Sisi. Menghabiskan hari usai melaksanakan program kerja, seperti menghabiskan waktu di pantai pribadi. Hanya 1-2 orang penduduk lokal, selebihnya, pantai milik kami.

Dokumentasi pribadi dan Tim Ekspedisi; warga Natuna, Kepulauan Riau, yang menunggu transportasi laut, 

Dengan jadwal yang ketat, 2 (dua) hari di pulau Serasan, tim melanjutkan perjalanan menuju pulau Letung dengan menggunakan kapal besar. Kali ini pulau yang akan kami singgahi adalah pulau yang dukup modern dibanding pulaupulau lain yang masuk dalam kepulauan Natuna.  Kabal besar bernama Bukit Raya ini bahkan bisa berlabuh langsung di Letung. Letung merupakan nama ibukota pulau ini, dengan kecamatannya Jemaja – Palmatak. Mata pencaharian masyarakatnya cukup beragam, selain perikanan, masyarakat juga memiliki perkebunana cengeh dan karet. Yang hebatnya lagi, di pulau ini anakanak sekolah mendapatkan paket bebas uang sekolah. Terdapat LSM dan pencinta alam. Hutanhutannya menyediakan kayukayu besar, dan terdapat di Jemaja serta Bunguran. Salah satu pantai kebanggaan yang menjadi tempat pariwisata adalah pantai Padang Melang, dengan hamparan pasir putih yang bersih serta udara yang yang bersih pula. Terhampar sepanjang 10 kilo meter.

Dokumentasi pribadi; suasana pasar apung pulau Tarempak, Natuna, kepulauan Riau

Hanya satu hari saja kegiatan di Letung. Esok harinya dengan menggunakan pongpong lagi, tim melanjutkan perjalanan menuju Palmatak. Kurang lebih 10 jam waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke Payalaman, perjalanan ini lebih panjang dari seharusnya dikarenakan tim memutar menuju Tokong Nanas, Pulau Batu tempat sebuah mercusuar berada. Perjalanan kemudian diteruskan melalui jalan darat dengan menggunakan kendaraan mobil bak terbuka menuju Air Payang. Di pulaupulau yang kami singgahi program pendidikan terus berkelanjutan.

Dokumentasi pribadi; suasana kehidupan di pulau Tarempak, Natuna, Kepulauan Riau

Tempat terakhir dari program ini adalah Pulau Laut. Sebuah pulau yang terletak paling luar dari gugusan pulaupulau yang termasuk dalam kepulauan Riau. Pulau terjauh. Pulau yang diselimuti aura magis, dengan jumlah penduduk yang sangat minim dan hidup dibawah ratarata. Menuju Pulau Laut, rintangan seolah menjadi ucapan selamat datang. Hampir kami berpikir bahwa perjalanan menuju Pulau Laut merupakan perjalan terakhir dalam kehidupan. Bagaimana tidak? Gelombang air pasang menggulung perahu kecil kami. Tidak kurang dari 2 meter ombak mengayun perahu. Dalam kegelapan kami hanya bisa berpasrah. Barangkali in titik dari perjalanan kami, begitulah kami berpikir. Tapi Tuhan masih dalam rancangan yang baik dan manis, kami dibimbing dan dirahmati. Meski gulita, angin kencang, hujan deras dan gelombang pasang mendera, kami tiba di Pulau Laut dengan sambutan mentari yang berlimpah cahaya. Usai badai, serta merta kehangatan mentari tersibak dan merangkul kami dalam kehangatan. Ya, tidak ada badai yang tidak usai. Pun tidak ada pesta yang tak usai pula.

Dokumentasi pribadi; kemeriahan acara HUT RI 17 Agustus, Natuna, Kepulauan Riau

Perjalan menuju pulaupulau di Natuna, kepulauan Riau membawa kesenangan dan kepahitan tersendiri. Ada suka cita yang menggelora, pun ada nestapa yang membungkus. Kau tahu, usai perjalanan ini aku khususnya merasa sangat kecil.  Indonesia yang begitu luas, indah dan sentimentil telah menorehkan beragam rasa dari perjalanan kali ini. Aku tidak hanya dirahmati untuk mengunjungi tempattempat indah. Namun, rasarasanya aku dikutuk dengan rasa yang tak bisa kujelaskan. Kesedihan akan kesenjangan sosial. Kesedihan bahwa mereka belum mendapat fasilitas dan kesempatan yang sama dengan kita yang hidup dan tinggal di Jawa.

Dokumentasi pribadi dan Tim Ekspedisi; suasana kehidupan di Natuna, Kepulauan Riau

9 tahun berlalu, namun sebuah percakapan masih terus terngiang dalam otakku. Seolaholah obrolan ini baru saja terjadi kemarin malam...
            “Dik, titip aspirasi ya... “ ucap seorang guru.
            “Aspirasi apa pak?” tanyaku mendengarkan dengan sungguhsungguh.
         “Aspirasi untuk membangun pulau ini. Pulau yang merupakan bagian dari Indonesia. Adik tahu? Perjalanan panjang melintas lautlaut dengan perahu bergantiganti dan badai, kadang membuat kami lelah, hingga begitu sampai di ibukota kami lupa apa yang hendak kami sampaikan.” Tutur guru itu dengan lugu dan penuh harap.

Dokumentasi pribadi; Pulau Laut, pulau terjauh Indonesia, Natuna, Kepulauan Riau

Aku terpaku, tak bisa berkatakata. Indonesia-ku. Indonesia yang indah dan luas. 9 tahun berlalu, ketika kutanyakan apakah ada perubahan di sana pada guru itu, jawabnya; “Belum dik, masih sama dengan ketika adik kemari 9 tahun lalu...”

Dokumentasi pribadi dan Tim Ekspedisi; kecantikan misterius dan mencekam sore menjelang malam di Pulau Laut, Natuna, Kepulauan Riau


Lalu lidahku kelu. Perjalananku dan tim ini 9 tahun lalu adalah nebar harap. Lalu kurasa kini, bahwa harap itu masih sebatas harap. Tibatiba aku disergap rasa bersalah. Yang bisa kulakukan adalah menulis, kemudian berharap pula bahwa tulisan ini akan terbang pada suatu keajaiban yang bisa membawa perubahan pada mereka nun jauh di sana. Semoga.yk[]



"Perjalanan nyatanya bukan hanya menjelajah ruang dan tempattempat fisik yang bisa dirasakan wujudnya. Perjalanan adalah terbukanya segala kemungkinan dalam hidup untuk dijelajahi." -yk

Suatu ketika, lagilagi sebuah aliran garis hidup bertindak sebagai sutradara. Rancangan harmonis dan dinamis dari sang pencipta telah membuat satu irisan antara sebuah hidup dan hidup lainnya. Sebuah kejadian singkat yang terjadi pada awalnya, cukup untuk membuat bahwa kejadian itu kemudian akan menjadi bagian hidup dalam rentang waktu yang cukup lama. 
             

ANGGAR...   

Adalah sebuah pekerjaan rutin yang biasa Yunis lakukan untuk menjadi seorang notulen pada rapatrapat ataupun sidangsidang tertentu. Namun menjadi notulen pada rapat kerja daerah atau Rakerda olahraga anggar waktu itu nyatanya telah menyeret rangkaian keterlibatan yang lebih dalam. Dari sekadar notulen, akhirnya Yunis ditawari menjadi salah seorang pengurus, yang kebetulan kepengurusan baru masa bakhti 2015 -2019 baru saja terbentuk. Tentu saja meskipun tampak kebetulan tapi tetap tidak tanpa rekomendasi jaminan kredibilitas dan kualitas. –untuk itu Yunis berterimakasih. Pintupintu silaturahmi dan rezeki dibukakan dengan jalanNya lewat tangantangan baik.
            Jadi, begitulah. Yunis resmi menjadi salah satu pengurus anggar yang bernaung dalam sebuah nama “Ikatan Anggar Seluruh Indonesia”, atau biasa disebut IKASI Jabar. Maka, akupun dengan senang hati kini memiliki kegiatan baru. Warawiri “dinas” ke GOR Sasakawa-Padjajaran. Senang bukan kepalang, aku seringkali berada di lapangan melihat atletatlet anggar berlatih fisik dan mengasah teknik guna meningkatkan kemampuan bertanding.




Kalian tahu apa itu olahraga anggar? Begini ya, menurut Wikipedia, Anggar adalah ilmu beladiri menggunakan senjata yang berkembang menjadi seni budaya olahraga ketangkasan dengan senjata yang menekankan pada teknik kemampuan seperti memotong, menusuk atau menangkis senjata lawan dengan menggunakan keterampilan dalam memanfaatkan kelincahan tangan.
Nah, anggar ini terbagi ke dalam nomornomor individual Floret, Degen, Sambel. Nomornomor ini berlaku pula untuk putra-putri dan juga beregu. Penamaan nomor ini berdasarkan pada penamaan senjata yang digunakan. Dalam technical Hand book-nya, inilah pengertian dari nomornomor tersebut; Floret (foil): Pedang yang berbentuk langsing, lentur dan ringan, ujungnya datar atau bulat, tumpul dan berpegas. Bila ditusukkan dapat naik/turun, beratnya 500 gram (5 ons). Pelindung tangan yang terdapat pada floret lebih kecil dibandingkan dengan Degen dan Sabel. Ujungnya untuk menusuk dan bagian bawah pedang untuk menangkis dan menekan. Sedangkan Sabel (sabre): Pedang yang berbentuk segitiga dan sudutnya tidak tajam, seperti parang kecil, semakin keatas semakin pipih dan ujungnya ditekuk hingga tidak meruncing, beratnya 500 gram. Pelindungan penuh menutupi tangan sampai pangkal tangkai. Bagian atas pedang untuk memarang dan bagian bawah untuk menangkis, serta ujungnya untuk menusuk. Terakhir Degen (epée): Pedang berbentuk segitiga dan berparit, pada pangkalnya tebal dan samping keujung kecil, agak kaku. Ujungnya datar dan berpegas dengan pelindung tangan besar, beratnya 750-770 gram. Bagian bawah pedang untuk menangkis dan ujungnya untuk menusuk.


Anggar, menjadi salah satu cabang olahraga yang dipertandingkan pada Pekan Olahraga Nasional (PON) ke XIX mendatang. Jadi, saat ini seluruh atlet, pelatih, pengurus dan managemen tengah mempersiapkan segala sesuatunya. Mengingat bahwa Jawa Barat juga menjadi tuan rumah pelaksanaannya pada bulan September 2016 nanti.
            Judul di atas, “Berjaya di Tanah Legenda”, merupakan tema yang diangkat dalam PON ke XIX di Jawa Barat. Apa legendanya? Legenda ini meliputi bidang; olahraga, musik, tari, audiovisual, seni, dan seterusnya. Kemudian kenapa Berjaya di tanah legenda? Karena mereka akan bertanding secara sportif di tanah Jawa Barat. Dengan menjungjung moto “sportifitas, prestasi, harmoni.” PON XIX juga menggunakan tag line “Jabar Kahiji”, sebuah pengharapan dan motivasi bahwa seyogyanya para petarung akan membawa kemenangan untuk daerah Jabar. Menjadi pemenang umum pada PON XIX 2016.


            Surili muda, yang menjadi maskot PON XIX juga telah disosialisasikan sejak bulan Januari 2016 lalu ke seluruh Indonesia, khusunya ke daerahdaerah Jawa Barat yang nantinya menjadi Venue pelaksanaan PON. Untuk cabang olahraga anggar sendiri akan dilaksanakan di hotel Harris, Jl. Peta Bandung. Pertandingan berlangsung dari tanggal 23 s.d 28 September 2016. Perhelatan ini gratis loh, terbuka untuk umum. Ayo kita dukung para atletatlet kita berjuang di tanah legenda dan menjadi juara, mewujudkan “Jabar Kahiji”.yk[]


Selamat bertanding kawankawan.. 


Penghujung musim hujan. Hari bergulir diiringi awan mendung. Namun kadang matahari diamdiam sekelebat muncul, tapi mendung bersegera menutupi seakan melompat. Sebetulnya udara cukup bersahabat meski lembab. Uap tanah secara pasti naik ke atas untuk kemudian dengan pasti pula kembali lagi serupa rinai indah.
Sudah dalam agenda pasti, hari ini tetap hari penuh aktivitas. Yunis telah melingkari tanggal di hari ini untuk pergi menikmati Tangkuban Perahu. Aku lebih berpasrah. Bukan apaapa, sebetulnya aku kurang suka dengan jalanan basah yang akan membuat tubuhku turut menjadi basah. Dengan cuaca begini aku kira lebih baik kalau di rumah saja, beristirahat di rak sepatu dan merasakan hangat suhu ruang. Bukankah perjalanan bisa dilakukan di hari lain yang lebih bersahabat? Ugh!
Membayangkan Tangkuban Perahu, membayangkan hujan, yang terlintas adalah aku kedinginan. Berlari kecil, mencoba menghindari kubangankubangan air yang bisa jadi menutupi semua jalanan membuat aku bergidik. Ugh! Kenapa harus hari ini sih? Kenapa musti sekarang sih? Argh...
Tapi Yunis adalah Yunis. Ketika harus pergi, dia akan tetap pergi, tak ada satu apapun yang bisa menahannya. Tidak pula badai kurasa. Pernah aku dan Leona –salah satu sepatu milik Yunis bercerita, bahwa mereka –Leona dan Yunis, terperangkap badai di gunung Rinjani. Berbasahbasah mereka mencari shelter atau tempat berlindung sementara untuk para pendaki beristirahat atau menunggu badai reda sebelum melanjutkan perjalannya. Leona bercerita, badai yang belum reda sepenuhnya diterjang oleh Yunis untuk melanjutkan pendakian. Aku sedikit bergidik membayangkannya. Bersyukur, bahwa aku tidak berada dalam situasi yang penuh adrenalin seperti itu. Ah... Jadi, meski aku berberat hati untuk mendampingi Yunis ke Tangkuban Perahu hari itu, kurasa aku lebih beruntung dari Leona. Sebab, Tangkuban Perahu bukan jenis pendakian gunung, hanya rekreasi biasa dengan panorama gunung.  Baiklah, kurasa aku harus mulai memperbaiki mood dan membuat jalanjalan ini menyenangkan.
Tentang Tangkuban Perahu. Mari kuceritakan...
Barangkali kalian tidak asing dengan legenda gunung Tangkuban Perahu. Alkisah, bahwa gunung Tangkuban Perahu ada karena Sangkuriang –sang tokoh utama dalam cerita rakyat tersebut tidak berhasil atau seakan tidak berhasil dalam membuat sebuah perahu pesanan Dayang Sumbi. Dikisahkan bahwa dahulu kala hiduplah seorang anak lelaki yang terpisah dari ibunya dikarenakan sang anak membunuh seekor anjing bernama Tumang yang setia menemaninya kemanapun pergi. Sang anak tidak mengetahui bahwa anjing tersebut merupakan jelmaan ayahnya yang dikutuk dewa. Sebelum berpisah sang ibu dengan rasa marah dan sedih yang luar biasa mengusir anaknya dan memukul sehingga tanpa sengaja membuat luka di kepalanya. 
Waktu bergulir, kisah berpilin dalam kelindan nasib yang akhirnya mempertemukan kembali anak dan ibu dalam suasana dan situasi yang berbeda. Sang anak jatuh cinta pada seorang wanita jelita yang tidak diketahui bahwa wanita itu adalah ibunya sendiri. Dengan gagah berani lelaki tersebut menyatakan cintanya. Sang ibu yang pada awalnya tidak mengetahui bahwa lelaki itu adalah anaknya bersuka cita menerima cintanya. Namun, sebelum tiba hari bahagia, sang ibu tanpa sengaja melihat luka di kepala sang lelaki yang telah jadi pertanda bahwa luka tersebut dibuat dalam rasa sedih dan marah oleh dirinya. Menyadari jika lelaki yang mencintai itu adalah anaknya, sang ibu berusaha menjelaskan, akan tetapi sang lelaki yang tertutup oleh cinta tak bisa menerima hal tersebut. Maka, setelah melalui perenungan dan pemikiran panjang dan meminta petunjuk dari sang Hyang Widi, akhirnya sang ibu mendapat pencerahan. Tidak menunggu lagi, sang ibu akhirnya mengajukan syaratsyarat yang harus dipenuhi oleh sang anak jika memang sang anak ingin menikahinya. Salah satu syarat tersebut adalah membuat sebuah perahu yang besar dalam waktu semalam, harus selesai sebelum ayam jantan berkokok dan hari berganti terang. Sang anak yang saat itu memang telah memiliki kesaktian memohon bantuan pada semua makhluk hidup di dunia lain untuk membantu merampungkan syarat yang diajukan sang ibu, Dayang Sumbi. Sang anak, Sangkuriang dengan kepercayaan diri dapat menyelesaikannya bergegas dan bekerja dengan keras. Melihat bahwa perahu bisa dirampungkan sebelum ayam jantan berkokok membuat Dayang Sumbi cemas. Sehingga dia berdoa memohon petunjuk Dewata apa yang bisa dilakukan agar pekerjaan sang anak tidak selesai pada waktunya.
Dewata penuh kasih. Dengan penuh kemurahan dibimbingnya Dayang Sumbi pada sebuah penyelesaian. Mengendap perlahan, Dayang Sumbi membawa sebuah penerangan ke kandang ayam jantan. Ayamayam jantan yang mengira bahwa pagi telah datang dengan rela berkokok panjang. Mendengar kokokan ayam, hancur sudah perasaan Sangkuriang. Kerja kerasnya tidak berhasil. Dengan kekecewaan memuncak ditendangnya perahu yang hampir rampung hingga jauh menuju Bandung Selatan dengan kondisi terbalik.
Begitulah. Sang ibu akhirnya bisa mencegah perkawinan insis, dan cerita legenda ini terus diceritakan dari masa ke masa. Lewat mulutmulut orangtua, lewat bukubuku cerita dan menjadi kisah dongeng yang abadi.  
Uhuk! Aku terbatuk kecil sambil menahan kantuk. Yunis menceritakan kisah yang sungguh sudah juga kutahu. Menghentakan kaki dengan sedikit bertenaga sehingga membuatku terjaga. Ah, rupanya sudah sampai.
Gunung Tangkuban Perahu adalah ujung perbatasan dengan wilayah Subang. Menjadi penanda geografis. Masuk ke dalam wilayah Kabupaten Bandung Barat, dan menjadi ujung Lembang. Siapa yang tak tahu Lembang? Kaya dengan berbagai macam tempat rekreasi dan penuh pilihan untuk kuliner. Jadi, sebenarnya jika melancong ke gunung Tangkuban Perahu, artinya akan banyak tempat istimewa lain yang bisa dikunjungi dalan sekali perjalanan.
Untuk memasuki area ini –gunung Tangkuban Perahu, hanya ada satu pos penjaga yang berfungsi sebagai pos tiket. Tidak mahal, sungguh. Tarifnya masih sangat beradab. Baik karcis yang dikenakan untuk kendaraan maupun karcis untuk pengendaranya. Usai membayar administratif, kami langsung melanjutkan perjalanan. Tentu saja kendaraan akan terus sampai di puncak. Karena gunung Tangkuban Perahu bukan jenis gunung pendakian semisal gunung Rinjani yang Leona ceritakan kepadaku.


Sekitar 1-2 kilometer, perjalanan dengan kontur jalan yang berkelokkelok memutar akhirnya sampai di puncak. Hamparan dataran khusus untuk parkiran kendaraan, baik roda empat maupun roda dua telah tertata rapih. Petugas parkir berseliweran menertibkan kendaraan. Memberikan arah dan petunjuk.
Masih mendung dan berawan. Matahari meski bersikeras ingin ikut hadir di hari itu akhirnya mengalah. Satu-dua rintik hujan yang masih jarangjarang menyambut kami. Aroma belerang memberi kesan lain. Yunis bergegas melompat keluar dari mobil. Berlari kecil menuju sebuah shelter peristirahatan yang berukuran cukup besar. Didalamnya tak luput terdapat beberapa pedagangpedagang makanan yang turut meramaikan suasana. Rintikrintik jarang menjadi padat. Helaan napas lega terdengar seperti bersahutan dari orangorang yang selamat dari rinai deras yang bisa membuat badan kuyup. Kabut perlahan turun menyelimuti dan memeluk setiap lekuk sudut.


Shelter ini berada tepat di samping sebuah kawah menganga yang masih dengan aktif beraktivitas dengan semburan letupanletupan mini yang menarik mata. Warna hijau gradasi sangat memikat. Kawah ini berdiameter cukup besar, tapi aku sendiri tidak tahu pasti angkanya. Seperti tersihir Yunis untuk beberapa saat terpaku, hampirhampir tak berkedip. Dramatis dan melankolis. Sampai seorang asing menubruknya dan menginjak aku. Aduh! Namun hanya sebatas itu, Yunis sudah kembali tenggelam dalam suasana dan dengan cekatan memotret panorama yang menakjubkan tersebut.
Ya, panoramanya memang menakjubkan. Shelter ini memang sangat representatif. Semua sudut dan hamparan bisa dinikmati. Atapatap berbentuk kerucut dengan baik dan tertata membentuk komplek tersendiri. Di bawah atapatap ini berbagai souvenir dijual. Mulai dari kaos bertuliskan gunung Tangkuban Perahu, kemudian batangbatang pohon pakis yang dibentuk kedalam aneka bentuk, juga gantungangantungan kunci dengan berbagai bentuk khas ala Tangkuban Perahu ditawarkan. Semuanya dalam harga yang relatif manusiawi. Sungguh!
            Well, barangkali perjalanan kali ini memang dingin dan basah. Tapi sesungguhnya aku suka. Kapan lagi menikmati nuasa pegunungan berapi yang kau tidak perlu susah payah dan bercapekcapek mendaki? Murah meriah dan sungguh amazing? Ya, gunung Tangkuban Perahu. Wanna try?yk[]
“Dia yang bersetia, melebihi sesiapa pun yang pernah ada.”

            Ini tahun ke-sembilan kami bersama. “Dia” telah terus ada dalam setiap pergantian musim dalam hidupku. Hadir dalam setiap peristiwa, bahkan untuk momen tergenting dalam hidupku. Bukan hanya hidupku, tapi juga hidup seorang pria kecil yang merupakan hidupku. Hidup yang ditopang hidup dan ditopang sebuah kehidupan lain. Barangkali “dia” hanya sebuah mesin beroda empat. Sungguh pun demikian, “dia” menggenapkan harihariku. “Dia” adalah yang tak pernah banyak menuntut, tapi “dia” telah menjadi “rumah” dan menjadi kakiku.yk[]




Kampung Toga (KT) terletak di wilayah Sumedang, dekat dengan pusat kotanya. Beberapakali aku menemani Yunis kemari,  jika dia ingin menghening dan menjaga jarak sementara dari hirukpikuk kota. Selain lokasinya yang tidak terlalu jauh dari Bandung, KT juga memiliki cita rasa hening yang Yunis butuhkan. Jarak tempuh yang diperlukan dari Bandung kurang lebih 2 jam sudah termasuk padat merayap di sekitaran Jatinangor dan Cadas Pangeran. Nilai tambah dengan pemandangan asri khas pegunungan dengan kontur berkelok dan pohonpohon pinus menjulang.


Seperti halnya hidup, sangat tidak menyenangkan jika hanya menemui jalan datar, lurus dan tanpa hambatan. Setiap kali pedal gas diinjak, selalu disertai rasa nikmat sensasi luar biasa. Kembali ke KT, lepas Cadas Pangeran dan sebuah papan besar disertai ucapan “Selamat datang di kota Sumedang”, kita akan menemui sebuah pertigaan. Ke kiri kita akan meneruskan perjalanan menuju Majalengka-Cirebon dan seterusnya, kemudian jika kita memilih lurus kita akan memasuki Sumedang Kota, maka pilihan terakhir adalah ke kanan. Jalur itulah yang akan membawa kita ke sebuah tempat dengan rumahrumah berbentuk ala vila dengan desain sunda yang disebut Kampung Toga. Tidak terlalu jauh, hanya sekitar 2 Km dari pertigaan tersebut.



Sepanjang jalan menuju KT, sisasisa persawahan masih terlihat. Tidak banyak memang, pembangunan perumahan nampak di sanasini menghiasi jalanan. Namun latar gunung masih memberikan rasa nyaman menjanjikan menuju tempat perheningan. Ada rasa haru menyergap ketika tiba. KT berada tepat di ujung jalan pegunungan. Rumahrumah panggung tertata sejajar dengan jarak yang diatur sedemikian rupa dengan tamantaman dan pohonpohon pinus berderet di jalur kirikanan jalan. Mengingat pinus, kenangan tertuju langsung pada sebuah pengunungan yang belum pernah kami kunjungi, hanya terekam kuat diingatan. Sedikit menyamakan dengan pinuspinus di pegunungan Alpen. Barangkali terlalu jauh, tapi begitulah ingatan spontan Yunis memberi gambaran tentang tempat ini.



Yunis selalu meminta rumah Kemuning, sebuah rumah yang tidak terlalu luas, mungil; hanya satu kamar dengan satu set kaca rias, dua buah kursi dan sebuah meja serta sebuah televisi 14 inch, ditambah sebuah kamar mandi lengkap dengan bath tub dan air hangat. Harganya juga tidak terlalu mahal. Kisaran di Rp. 250.000,- /hari sampai dengan Rp. 750.000,-/hari. View-nya langsung ke gunung dan persawahan yang masih cukup banyak dan bisa terlihat jelas dari teras belakang.


Yang khas dari KT adalah makanannya. Nasi liwet komplit dengan peda merah merupakan menu favorit. Makanan ini bisa dipesan berdasarkan kebutuhan alias sesuai porsi. Yunis tidak pernah sekalipun melewatkan santapan ini. Dijamin ketagihan. Nasi liwet ini dihidangkan juga dengan tempe mendoan, asin peda, sambal dan lalapan, juga karedok. Teh tawar panas semakin melengkapi kenikmatan bersantap hidangan ini.



Usai bersantap makanan khas KT, jangan lupa untuk melihat atau menikmati pemandangan dari puncak. Dimana di tempat ini kita juga bisa menikmati hidangan yang sama, atau menikmati segelas kopi hitam sambil memandang hamparan kota. Jika kamu suka olahraga paralayang, di KT menyediakan layanan ini. Olahraga paralayang yang mendebarkan hati. Surga dunia yang komplit bukan?


Tidak perlu mahal dan jauh. Hidup terlalu singkat untuk dilewatkan dengan menunggu. Jadi, masih harus mikir lagi?yk[]