fort toboalij bangka dan 3some travelers
 3Some Travelers di Benteng Toboali, Bangka Selatan.


   

 

“Semua propaganda perang, semua teriakan, kebohongan dan kebencian,

selalu datang dari orang yang tidak ikut perang.”

—George Orwell—

 

 


 

 

Memasuki hari ke empat, tujuan beralih ke Bangka Selatan. Jam 8.30 WIB kami sudah meninggalkan hotel. Diperlukan sekitar 2,5 jam perjalanan dari Pangalpinang untuk sampai di Desa Tanjung Ketapang, Toboali. Melintasi jalan beraspal mulus, panjang, lengang dan sedikit menanjak. Ada sebuah reruntuhan bersejarah yang hendak kami kunjungi. Sebuah lokasi sisasisa berdirinya benteng peninggalan Belanda bernama Benteng Toboali atau Fort Toboalij.

 

Berbicara tentang benteng, saya jadi teringat perjalanan dari benteng ke benteng di Ternate, Maluku Utara, tahun 2017 lalu. Liputan tentang benteng ke benteng ini sudah dipublikasikan di detiktravel.com dengan judul; “Ternate dan Bentengbentengnya” Ternate dan Benteng-bentengnya (detik.com). Mungkin nanti akan saya repost juga di blog ini. Kembali lagi ke ingatteringat, kenapa saya teringat? Penggunaan kata Fort pada benteng—karena memang dibangun pada masa Kolonial Belanda—yang berasal dari bahasa Belanda, membangkitkan memori spesifik di benak saya tentang benteng, Belanda, dan sejarah panjang penjajahannya. Bahwa segala bentuk kenangkenangan sejarah Indonesia menjadi semacam anak kembar siam; Indonesia-Belanda. Bahwa benar kemudian datang Jepang dan sekutunya, namun persentasi dan kadarnya berbeda. Belanda dalam tiga setengah abad penjajahan praktis telah memengaruhi sendi kehidupan. Bahkan hukum pidana dan perdata pun hingga saat ini masih mengacu pada peninggalan kolonialisme Belanda, baik dari segi peristilah bahasa hukum hingga peraturannya. Begitulah.

 


fort toboalij bangka
Dok 3Some Travelers - Fort Toboalij atau Benteng Toboali, cagar budaya di Bangka Selatan.

Benteng Toboali atau Fort Toboalij sebagai salah satu “kenangkenangan” fisik dari penjajahan Kolonial Belanda, terletak di Desa Tanjung Ketapang, Kecamatan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan. Dilansir dari papan pemberitaan Dikbud Pemkab Bangka Selatan, Bidang Pembinaan Kebudayaan yang terpasang di sekitar Benteng Toboali, bahwasanya Benteng Toboali memiliki ringkasan sejarah sebagai berikut;

 

Sejarah Benteng Toboali (Het Fort Toboalij)*

Benteng Toboali dibangun oleh Belanda pada tahun 1825 di atas sebuah bukit kecil yang berketinggian 18 m dari permukaan laut dengan kota Toboali di sebelah utara dan Laut Jawa di sebelah selatan. Benteng ini berdenah jajaran genjang berukuran 54 x 32 m yang menghadap ke utara dengan sebuah tonjolan di sisi barat yang menjorok keluar sepanjang 35 m dan lebar 15 m. Pada bagian dalam terdapat 7 buah ruangan yang berfungsi sebagai tempat kediaman inspektur benteng, gudang, barak prajurit, ruang administrasi dan keuangan, ruang mesiu, ruang penjaga, serta dapur dan tempat penyimpanan makanan.

 


fort toboalij bangka
Dok 3Some Travelers - bagian sebelah kanan Benteng Toboali, Bangka Selatan.

Pada perkembangannya bangunan ini pernah dikuasai Jepang antara tahun 1942-1945. Kemudian pada masa kemerdekaan bangunan ini dipergunakan kepolisian Distrik Toboali, yang kemudian berganti nama menjadi Kepolisian Sektor Toboali pada tahun 1980-an.

*informasi didapat langsung dari Benteng Toboali – Dikbud Pemkab Bangka Selatan.

 


fort toboalij bangka
Dok 3Some Travelers - bagian sebelah kiri Benteng Toboali, Bangka Selatan.

Selain ringkasan di atas, tidak banyak yang bisa saya gali. Terutama karena di tempat tersebut tidak ada petugas penjaga yang bisa dimintai informasi lebih dalam. Begitu pula ketika saya mencari dalam jejaring internet, lamanlaman yang saya kunjungi hampir semua memberikan informasi yang sama dengan susunan kalimat serupa. Ketika hampir menyerah, saya menemukan sebuah makalah yang ditulis oleh Kristanto Januardi* berjudul; “Benteng Toboali (Memaknai Sebuah Reruntuhan)”, di laman https://kebudayaan.kemendikbud.go.id, yang ditulis tahun 2008. Dalam makalahnya Januardi membedah Benteng Toboali sebagai bagian dari karya arsitektur berdasarkan beberapa teknik analisis. Pembahasannya pun cukup detail, disertai dengan fotofoto dan data, sebanyak 8 lembar halaman.

  

Dalam kesimpulannya disebutkan, Benteng Toboali mempunyai peran penting secara sejarah sebagai sarana Kolonialisme dalam mempertahankan kepentingannya di daerah Bangka Selatan. Sebagai bagian dari sejarah kota Toboali antara satu bangunan dengan bangunan lain mempunyai konteks baik secara fungsi maupun secara pembagian wilayah. Clustercluster wilayah ini sengaja diciptakan oleh Kolonial Belanda dalam membagi kota menjadi 3 bagian, yaitu cluster pemukiman Belanda, Cina, dan pribumi. Benteng Toboali mempunyai peran sentral dalam menjaga stabilitas tersebut. Pemilihan lokasi Benteng Toboali di atas bukit dekat pantai mempunyai beberapa pertimbangan antara lain; kebutuhan akan lokasi yang strategis, kebutuhan akan ruang yang memadai untuk sebuah basis pertahanan, dan penyesuaian dengan topografi lingkungan dan beberapa sumber kebutuhan hidup.

*Penulis adalah Kapokja Pemugaran Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jambi.

 


fort toboalij bangka
Dok 3Some Travelers - lelumut yang membalut reruntuhan Benteng Toboali, Bangka Selatan.

Secara harfiah Benteng Toboali adalah sisasisa arsitektur bangunan. Pada bagian sebelah kiri masih meninggalkan jejak berupa ruangruang berderet dengan berbagai ukuran. Bangunan sebelah kanan tidak nampak jelas terlihat lagi bentuknya. Sisa bangunan dan bebatuan tersaput lumut, pada sisisisi benteng—samping dan belakang—akarakar pohon besar merayap menyelimuti bangunan. Menimbulkan kesan angker. saya malah tidak sanggup mengitari bagian kiri belakang, entahlah, nyali saya ciut hanya dengan mendekatinya saja. LOL… Yah, namanya juga reruntuhan bangunan berusia ratusan tahun dengan latar belakang yang tidak biasa, tentu bukan hanya manusia yang mengaguminya, xixixi…

 

Katanya sejarah adalah seni bernostalgia. Bisa jadi demikian, karena tanpa dukungan faktafakta, sejarah serupa fantasi bernarasi. Ide dan kenangankenangan yang dirangkai dalam kumpulan katakata yang membawa pembacanya ke masa lampau. Sebagai sebuah peninggalan sejarah yang masuk dalam perlindungan Benda Cagar Budaya dan aset daerah, Benteng Toboali sangat layak untuk dikunjungi ketika berada di Bangka, apalagi untuk anda penyuka halhal berbau sejarah. Selamat hari Pahlawan!yk[]

 


 

yunis kartika
Foto by Bro Tony - Yunis Kartika di Benteng Toboali, Bangka Selatan

  

 

“Tak ada lagi rasa benci pada siapa pun, agama apa pun, ras apa pun, dan bangsa apa pun. Dan melupakan perang dan kebencian.”

—Soe Hok Gie—

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PS : sila menulis komentar, membagikan atau meninggalkan alamat web/blog-nya untuk bertukar sapa dan saling mengunjungi.

 

de locomotief sungailiat
Olwen dan lokomotif peninggalan Belanda di De Locomotief, Sungailiat Bangka.


  

 

 

“Ada satu hal yang harus dimiliki:

apakah jiwa yang ceria karena alam, 

atau jiwa yang ceria karena seni atau pengetahuan?”

—Friedrich Nietzsche—

 

 

 

 

Ketika tiba di De Locomotif, suasana terasa lengang dan sunyi. Dua orang lelaki yang sepertinya penunggu atau penjaga, nampak dudukduduk sambil ngobrol di area parkiran mobil antik. Mereka serempak menoleh ke arah kami yang celingukan di pos tiket masuk lokasi. Satu dari mereka berkata dengan cukup kencang, “Maaf kami tutup sementara.” Namun, lelaki yang satunya beranjak mendekati kami. “Kalau mau ke area pantai, silakan. Tapi, fasilitas lain seperti galeri, museum, perpustakaan, toko souvenir dan lainnya tutup.” Tawarnya ramah. Lagilagi. Ini adalah tempat kesekian yang kami singgahi dan tutup akibat terimbas pandemi, meski saat ini pariwisata sudah dilonggarkan tapi keadaan masih di bawah normal. Dengan cepat Yunis mengangguk sembari bertanya untuk meyakinkan, “Boleh ya kami masuk?” Lelaki penjaga itu mengiyakan, lalu mengeluarkan kertas tiket. “Tiketnya Rp.10.000,- rupiah perorang Mbak.”

*

 

Pos tiket masuk diapit dua bangunan memanjang ke belakang yang terbuat dari kayu bernuansa etnik. Kami melewati jalan bercat biru lebar dan semakin lebar ke belakang, disusun dari paving block berjenis bata. Bangunan sebelah kiri dibatasi oleh pagar kayu berlabel “Art Bazzar & Library”. Aneka bentuk patung berderet. Mulai dari ragam satwa hingga bentuk pewayangan, dan pada bagian akhir bangunan sebelah kiri nampak kumpulan patung satwa dengan label “Taman Satwa”. Bangunan selanjutnya adalah Museum Garuda, toko buku serta cinderamata. Menuju arah pantai terdapat display Terracotta Army yang dikelilingi oleh pagar kayu pula. Kemudian area event outdoor dan pantai lepas. Sementara, bangunan sebelah kanan yang bernuansa etnik juga, dimulai dengan tempat Reflexology & Photobooth, Fashion Artware, Taman Bulakan, Beach Bar, kafe, restoran, dan fasilitas penunjang lainnya seperti toilet dan mushola.

 


de locomotief sungailiat
Dok pribadi - Suasana De Locomotief suatu hari di bulan Juni 2022.

Di sepanjang jalan bercat biru, payungpayung serupa payung Geulis khas Tasikmalaya bergelantungan. Menjadi ornamen lelangit yang menaungi bersama kabelkabel lampu hias mungil yang berseliweran. Belasan, mungkin puluhan payung dengan warna dan corak berbeda. Satu yang terbesar, disematkan di pinggir bangunan dekat Beach Bar bersama dengan papan tak kalah besar bertuliskan ringkasan perkembangan sejarah Marga Tionghoa di Indonesia. Pada akhir jalan bercat biru, memuarakan pada sebuah lokomotif tua peninggalan zaman Belanda bertuliskan “De Locomotief”. Jadi bisa disimpulkan, bahwa penamaan tempat tersebut terinspirasi dari objek lokomotif yang berada di area itu dan menjadi sentralnya.

 

Sebetulnya Yunis agak bingung dengan konsep yang ingin diusung oleh De Locomotif. Begitu campur aduk, seperti gadogado. Tampilan masa lampau sebagai pemeran utama ditabrakkan dengan penyuguhan gaya kekinian yang tidak terlalu matching, namun mendominasi. Menimbulkan rasa gasal dan tidak pada tempatnya. Seandainya hanya menampilkan masa lampau dalam kemasan masa lampau, tentu akan jauh lebih memikat. Pengunjung akan diajak seperti berjalan dalam lorong waktu. Namun, seperti yang pernah Yunis tulis, bahwa pengalaman empiris itu subjektif. Karenanya, kebijakan pembaca dalam memaknai sangat diperlukan.

 


de locomotief sungailiat
Dok pribadi - Galeri, museum, dan perpustakaan Garuda; fasilitas yang ditawarkan De Locomotief, Sungailiat Bangka.

Di luar pada itu, apa pun tema dan konsep yang diusung De Locomotief sesungguhnya digarap dengan sangat serius. Mengapa demikian? Sebelum menulis ini, Yunis sempat mengunjungi laman resmi De Locomotief. Dikatakan bahwa penggarapan visualnya dikerjakan oleh senimanseniman rupa yang khusus diterbangkan dari Jogjakarta. Ada upaya menawarkan konsep baru dari sekadar jalanjalan ke pantai, bermain pasir dan air. Pengunjung diberikan wawasan tentang seni tinggi, seni adiluhung, seni yang membuat alis bertaut dan kening berkerut. High artLow Art, konsep nilai barat dalam seni rupa yang menjadi kiblat seni rupa Indonesia—anda bisa mencari tahu lebih dalam dengan meng-googling-nya. Namun, sejatinya seni, ia tetap bisa dinikmati dalam kapasitas apa pun. Karena seni tidak melulu menghibur, seni bisa jadi katarsis dan hadir sebagai salah satu bukti peradaban manusia.

 

Kota Jogjakarta memang digadanggadang sebagai pusat seni rupa Indonesia. Tidak berlebihan, karena di kota inilah seniman (artist) seni rupa lebih banyak dilahirkan dan menjadi master. Terlebih dukungan institusi pendidikan yang juga mumpuni, meski banyak pula seniman otodidak. Bukan sekadar senimannya, para kolektor seni yang rela menggelontorkan uang puluhan hingga ratusan juta demi sebuah karya seni dan galeri seni bertebaran pula di kota ini. Maka, tak heran jika De Locomotief mempercayakan penggarapan seni visualnya pada senimanseniman dari Kota Gudeg ini.

 


de locomotief sungailiat
Dok pribadi - De Locomotief yang menyatu dengan pantai Tongaci.  


Dalam urusan seni, Yunis memang menaruh perhatian dalam porsi besar. Maka tak heran, ia agak menyesal tak bisa masuk ke area galeri dan museum. Dalam benaknya ia berharap dapat mengenali beberapa karya seni sebagai hasil karya beberapa artist yang ia kenal. Termasuk pengerjaan patungpatung Terracotta Army. Terlintas satu dua nama yang bisa dibilang selebritisnya dunia seni rupa, pernah memamerkan karya serupa Terracotta Army. Sayangnya hal tersebut tak bisa terkonfirmasi.

 

de locomotief sungailiat
Dok pribadi - Terracotta Army, salah satu "karya seni" yang dipamerkan di De Locomotief Sungailiat, Bangka.


Jika anda penggemar film, tentu anda tahu cerita tentang prajurit Terracotta, karena seringkali menjadi tema besar dalam filmfilm, diantaranya dalam film “The Mummy: Tomb Of The Dragon Emperor” yang dibintangi oleh Brendan Fraser dan Jeet Li. Ribuan patung prajurit Terracotta dan kuda perang yang ditemukan di sekitar makam Kaisar pertama Cina bernama Qin Shi Huang, dengan kekuatan ilmu hitam coba dibangkitkan kembali, dan tentu saja pada akhirnya gagal.

*

 


de locomotief sungailiat
Dok pribadi - penangkaran penyu yang kini sedikit terbengkalai dan memerlukan perhatian.

De Locomotif sendiri masuk dalam kawasan pantai Tongaci. Berada di jalan Laut, Kampung Pasir, Sungailiat, Kabupaten Bangka. Sekitar 3 km dari jalan Raya Sungailiat-Belinyu menuju kawasan wisata Matras. Pantai ini merupakan marina dan kawasan rekreasi serta penangkaran penyu. Kabarnya sebelum pukulan pandemi terdapat ratusan penyu dengan jenis penyu hijau dan penyu sisik beragam ukuran yang dibesarkan di sebuah kolam besar di tepi pantai dan sejumlah tambak terapung. Sayangnya, sewaktu kami ke sana, keadaan jauh berbeda. Pengkaran penyu hampir tidak terawat sama sekali, airnya butek kehijauan. Botol minuman kemasan terampung diantara penyupenyu yang sesekali berenang berpindah posisi. Tidak ada yang bisa disalahkan dari keadaan menyedihkan ini. Yang menjadi sedikit penawar adalah bahwa kini ada harapan baru dengan dibukanya kembali pariwisata. Semoga keadaan bisa cepat pulih seperti sedia kala, dan penyupenyu bisa berenang di air yang lebih sehat lagi.

 


de locomotief sungailiat
Dok pribadi - pelangi membusur di laut jauh pantai Tongaci, Sungailiat Bangka.

Dari jauh laut, pelangi membusurkan warnawarni indahnya. Meski pucat, kemunculannya menggenapkan harapan; besok pasti lebih baik.yk[]

 

 


 

yunis kartika
Foto by Bro Tony - Yunis Kartika di De Locomotief Sungailiat, Bangka.

 

 

“Cinta akan keindahan adalah rasa. Penciptaan keindahan adalah seni.”

—Raplh Waldo Emerson—

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PS : sila menulis komentar, membagikan atau meninggalkan alamat web/blog-nya untuk bertukar sapa dan saling mengunjungi.

tung tau kopi bangka
Sepatusepatuyunis ngopi santai di Tung Tau Sungailiat, Bangka.

 

  

 

“Kopi adalah sebuah bahasa tersendiri.”

—Jackie Chan—

 

 

 

 

Kalau anda suka membaca tulisantulisan saya di blog atau pun di mediamedia lain, mungkin (ini baru mungkin dan saya pede aja LOL) anda bertanyatanya kenapa saya jarang sekali—hampir tidak pernah—menulis makanan khas atau kuliner suatu daerah secara mendalam, kecuali sempalan dan menjadi pelengkap saja dalam tulisan. Jawabannya, pertama mengulas citarasa makanan beserta bahanbahannya bukan keahlian dan minat saya. Kedua, karena sejujurnya saya tidak khusus berburu kuliner ketika melakukan perjalanan alias saya tidak terlalu hobi makan. Xoxoxo… namun berbeda dengan kopi-ngopi.

 

Jauh sebelum “ngopi ngafe—ngafe ngopi” ngehits dan booming beberapa tahun terakhir, saya sudah doyan ngopi. Hitam, kental, tanpa gula, dan ditubruk. Adalah ayah yang menularkan kegemaran ngopi hitamnya pada saya. Lantas sekeluarga saya pun jadi doyan ngopi, termasuk mama. Meski mama, kedua kakak lelaki saya almarhum dan adik kembar saya yang satu lebih menyukai kopi susu. Sementara ayah, saya dan adik kembar yang satunya lagi sepakat pada kopi hitam. Bahkan adik bungsu kembar saya menulis novel tentang kopi yang berjudul “Babad Kopi Parahyangan”, anda bisa mencarinya di tokotoko buku mainstream a.k.a mayor

 

Mendedah tentang kopi bukanlah perkara sederhana. Sebab berbicara kopi paling tidak akan bersinggungan dengan histori, geografi, serta sosial budaya. Kompleks memang. Kopi yang anda nikmati setiap hari, tidak ujugujug hadir melengkapi aktivitas harian anda. Misalnya, anda menyukai jenis kopi biji arabika Gayo dari Aceh dengan natural proses, medium roasting, digiling secara manual, dan ketika menyeduhnya anda senang menggunakan air panas yang baru dididihkan.

 

Dari serangkaian tindakan yang anda lakukan demi mendapatkan secangkir kopi, ada serangkaian kisah yang bisa disingkap. Pertama, jenis arabika hanya tumbuh dengan baik pada ketinggian 1000-1500 mdpl (meter di atas permukaan laut)—secara geografi adalah wilayah pegunungan/dataran tinggi. Kedua, kopi arabika Gayo merupakan jenis biji kopi yang berasal dari daratan tinggi Gayo, Aceh Tengah—secara histori adanya perkebunan kopi di Tanah Gayo merupakan kebijakan pemerintah Kolonial Belanda tentang pembukaan dan perluasan lahan perkebunan di Aceh (untuk lengkapnya anda bisa membaca buku/artikel referensi sejarah tentang kopi Gayo). Ketiga, natural proses adalah proses pengeringan langsung di bawah sinar matahari setelah ceri kopi dipetik lalu ditebar di atas alas, dibolakbalik manual dan proses pengeringannya memerlukan waktu lama—secara sosial budaya teknik tertua ini memengaruhi kehidupan petani kopi dan aktivitas hariannya, dan sebagainya, dan sebagainya… panjang kan? Semua hal tersebut adalah wawasan yang mau tidak mau memengaruhi cara anda memperlakukan kopi, membuatnya menjadi secangkir minuman, serta menikmatinya.

*

 

tung tau kopi bangka
Dok pribadi - suasana dalam warung kopi Tung Tau Sungailiat, Bangka.


Tiba di warung Tung Tau, suasana sore di warung terbilang sepi. Mejakursi ngopi—baik yang di luar maupun di dalam—tidak terisi pengunjung sama sekali. Dengan suasana tersebut, saya, Icky dan Bro Tony lebih leluasa memilih tempat duduk. Lantas kami bertiga memilih tempat di pojok dengan latar dinding berlapis kayu bercat coklat yang bertuliskan “Tung Tau; Sejak 1938”, berwarna merah dan putih. Sementara ruangan dalam memiliki interior zaman doeloe, dengan figura fotofoto penggalian tambang timah, suasana Sungailiat, serta bangunan lama bernada monokrom hitam putih kekuningan, serta pudar dimakan waktu.

 

Pramusaji tersenyum ramah pada kami seraya menyodorkan lembaran menu. Saya tenggelam membaca dengan serius deretan tulisan menu yang tertera. Menu andalan kopi-O-nya menarik, sayang, lambung saya gencatan senjata dengan robusta. Jika memaksakan, maka seharian akan saya habiskan dengan terlentang di atas tempat tidur. Jika robusta ditambah susu, lambung saya masih bisa kompromi. Jadilah, kopi susu dingin dan roti bakar. Tidak memerlukan waktu lama pesanan pun datang. Porsi rotinya tidak terlalu besar, namun cukup mengeyangkan bersama guyuran kopi susu dingin di tenggorokan. Yummyyy!!

 

tung tau kopi bangka
Dok pribadi - kopi susu dan roti menu andalan Tung Tau Sungailiat, Bangka.


Sebagai salah satu warung kopi tertua di Bangka, tentu saja kisah sejarah dibaliknya tak bisa dinafikan. Berdiri sejak tahun 1938, warung Tung Tau merupakan warung kopi legenda dan menjadikannya salah satu yang tertua di Bangka. Dengan menu utama kopi-O (kopi hitam) dan roti panggang tradisional. Warung kopi yang sudah dimulai sejak zaman kolonial Belanda ini dikelola dengan tetap mempertahankan resep tradisional, disertai penambahanpenambahan menu yang disesuaikan menurut perkembangan zaman yang sejalan dengan slogannya, yaitu “Setia Menjaga Cita Rasa Khas Tung Tau”.

 

tung tau kopi bangka
Dok pribadi - pilihan aneka menu di warung kopi Tung Tau Sungailiat, Bangka.

Rahasia kelezatan roti panggang Tung Tau dan selainya, karena dibuat sendiri dengan resep dan cara yang sama selama puluhan tahun dengan menggunakan bahanbahan alami tanpa pengawet. Kopi Tung Tau menggunakan 100% biji kopi asli, dengan jenis kopi robusta. Diolah secara tradisional yang diteruskan dan tetap dipertahankan dari generasi ke generasi sampai sekarang. Sehingga memiliki cita rasa yang khas dibandingkan dengan kopi lainnya.

 

Penamaan warung kopi Tung Tau diambil dari nama penggagasnya langsung, yaitu Mr. Fung Tung Tau. Tahun 1950 pengelolaannya dilanjutkan generasi kedua, yaitu Budjang Bunaan, kemudian diteruskan istrinya yang bernama Maria Matali pada tahun 1980an. Kini, pengelolaan Tung Tau dilanjutkan oleh generasi ketiga Tedy SE yang dimulai sejak tahun 2010.

 

tung tau kopi bangka
Dok pribadi - dokumentasi yang dipajang di warung kopi Tung Tau Sungailiat, Bangka.


Meski penamaannya diambil dari nama penggagas/pendiri, namun kata “Tung Tau” sendiri memiliki makna “Jalan Timur”, dikarenakan jalan di depan warung yang menuju ke arah timur mengacu kondisi lalu lintas zaman kolonial. Warung Tung Tau pertama berdiri dan sampai sekarang masih menempati lokasi yang sama, yaitu di Jl. Muhidin, Sungailiat, Bangka. Pengembangannya terbilang cukup pesat, hingga saat ini warung Tung Tau telah memiliki 7 cabang yang tersebar di Pulau Bangka, dan menjadi salah satu tujuan wisata kuliner utama di pulau Bangka.

*sumber informasi didapat langsung dari warung Tung Tau cabang induk Jl. Muhidin.

 

Pulau Bangka Belitung yang didominasi dataran rendah, jelas tidak memungkinkan untuk menanam biji kopi jenis arabika. Kawasan gunung tertinggi yang bernama Gunung Maras dan bukit Idat hanya memiliki ketinggian di bawah 1000 meter di atas permukaan laut. Jenis kopi yang bisa dibudidayakan adalah robusta. Untuk kopi jenis arabika biasanya didatangkan khusus dari beberapa daerah penghasil kopi arabika, misalnya dari pulau Sumatera dan pulau Jawa. Ini mengapa warung Tung Tau menggunakan jenis kopi robusta.

 

Apa sih perbedaan arabika dan robusta? Singkatnya, rasa pada jenisjenis kopi dipengaruhi oleh lingkungan tempat tumbuhnya. Arabika cenderung lebih ramah lambung, karena rasanya yang lebih soft, rendah kafein, beraroma (terkadang wangi buah/bunga) dengan varian rasa after taste yang beragam. Sementara robusta, lebih strong, pekat, hitam, pahit, tinggi kafein, dengan varian rasa after taste yang terbatas. Selain arabika dan robusta, sebenarnya ada dua jenis kopi lagi yang beredar di pasaran, yaitu jenis liberika dan excelsa, namun peredarannya dalam jumlah terbatas.

 

Keberadaan warung kopi Tung Tau yang berdiri puluhan tahun, telah menjadi “bahasa pergaulan” bagi masyarakat sekitar juga bagi pendatang dan wisatawan. Ia adalah saksi sejarah, aset daerah, dan tempat berinteraksi lintas budaya. Semoga warung kopi Tung Tau tetap berjaya untuk waktu yang sangat lama.yk[]   

 


Untuk Nurhadi 'Badu' Irawan almarhum (satu dari empat pendiri brand kopi Sangrai Wangi), seorang sahabat sesama penikmat kopi yang berpulang, ketika dalam proses menulis artikel ini. RIP Brother.

 


 


yunis kartika
Foto by Bro Tony - Yunis Kartika dan Icky di Tung Tau Sungailiat, Bangka.


 

“Dan kopi tak pernah memilih siapa yang layak menikmatinya,

karena dihadapan kopi kita semua sama.”

—Dewi Lestari—

 

 






 

PS : sila menulis komentar, membagikan atau meninggalkan alamat web/blog-nya untuk bertukar sapa dan saling mengunjungi.

 

pantai parai tenggiri sungailiat
Olwen di pantai Parai Tenggiri, Sungailiat, Bangka.


  

 

“Sepanjang hidupku,

pemandangan alam yang baru membuatku bersukacita seperti anak kecil.”

–Marie Curie—

 

 

 


Matahari semakin condong ke barat, tatkala kami melanjutkan perjalanan menuju Pantai Parai Tenggiri. Seolah berlomba dengan mendung yang semakin menebal, Bro Tony menginjak pedal gas lebih dalam. Mobil yang kami tumpangi melaju lebih cepat. Yunis sepertinya agak ragu bisa tiba di tujuan sebelum rinai turun. Namun Icky rupanya tetap optimis, malah memberi semangat untuk menggeber mobil lebih cepat lagi.

 

Hampir setengah lima, kami tiba. Benar saja rinai mulai menyapa tanah satu demi satu. Gulungan mendung rapat bergelayut di langit menjadi atap pantai Parai Tenggiri hingga jauh ke laut. Tapi kami sudah di sini, jadi, jika harus berbasahbasah karena hujan ya sudah, basah saja. Begitu pikir Yunis. Setelah membayar tiket masuk di lobby hotel—karena memang pengelolaan pantai Parai Tenggiri diberikan kepada pihak ketiga/swasta—sebesar Rp.25.000.- rupiah/orang, dengan langkah cepat kami menuruni jalan kecil mirip gang yang ditumbuhi pepohon dan tanaman rambat menuju bibir pantai. Jalanan kecil ini diapit bangunanbangunan hotel; di kanan ruang makan semi outdoor yang cukup luas dan sebelah kiri kamarkamar hotel yang berjajar menghadap langsung ke pantai.

 


pantai parai tenggiri sungailiat
Dok pribadi - hamparan bebatu granit dengan berbagai ukuran yang memesona.

Pantai Parai Tenggiri terletak di Desa Sinar Baru, Kecamatan Sungailiat, Bangka. Berjarak sekitar 30 km di sebelah utara kota Pangkalpinang. Pantai yang cukup populer di pulau Bangka ini memiliki kontur pantai landai dengan ombak yang ramah sehingga cocok untuk aktivitas berenang. Air laut yang jernih, pasir putih lembut menghampar bertahta bebatu granit di beberapa titik membuat pantai Parai Tenggiri menjadi salah satu tujuan wisata baik lokal maupun mancanegara. Aktivitas air lainnya yang bisa dilakukan adalah banana boat, jet ski, diving, parasailing dan lainnya. Di pantai ini anda bisa menyaksikan matahari tenggelam sambil dudukduduk di atas batu granit atau beralas pasir putihnya. Hamparan bebatuan sepanjang garis pantai Parai Tenggiri dinamakan juga dengan Rock Island, terhubung dengan jembatan sepanjang 200 meter. Ukuran batuan ini beragam dan sangat memesona. Asal mula kata “Tenggiri” yang melekat pada penamaan pantai ini tidak terlepas dari sejarah yang melatarbelakanginya. Pantai Parai Tenggiri dulunya menjadi pusat nelayan untuk mengumpulkan ikan tenggiri. Para nelayan zaman dulu khusus mencari ikan tenggiri di pesisir pantai ini, karena entah mengapa di sini ikan tenggiri jauh lebih mudah didapat daripada tempat lain. Versi cerita singkatnya seperti itulah.

 


pantai parai tenggiri sungailiat
Dok pribadi - panorama pantai Parai Tenggiri dalam balutan mendung tebal.

Rinai tertahan tak menjadi deras, seolah memberi restu pada kami untuk bersinergi dengan alam meski hanya sebentar. Yunis terus sibuk dengan gawainya membuat dokumentasi, sesekali terdengar decak kagum atas lukisan alam Sang Maha. Icky tak hentihentinya comel mengingatkan untuk segera beranjak. Meski belum puas, akhirnya Yunis menuruti. Kami pun beriringan meninggalkan pantai menuju tempat parkiran. Sebelum tiba di parkiran, tetiba Bro Tony bersuara mengajak kami untuk berbelok ke kiri. “Ke arah sini dulu, ada sebuah dermaga belum jadi. Bisa liat laut dan bebatuan granit besarbesar juga,” kurang lebih begitu seraya mengarahkan tangannya menunjuk ke arah Marina Bay yang belum difungsikan. “Ayolah, tanggung sudah di sini.” Jawab Icky. Lantas keduanya berjalan dengan langkah cepat khas lakilaki meninggalkan Yunis yang sibuk kembali dengan gawainya.

 


pantai parai tenggiri sungailiat
Dok pribadi - gelap dan terang di pantai Parai Tenggiri Sungailiat, Bangka.

Sebuah gapura dengan patung burung garuda diapit pos kecil penjagaan menjadi penanda menuju dermaga. Burung garuda tersebut tengah merentangkan kedua sayapnya, sebuah tulisan “Marina Bay” tersemat pada bingkai melengkung di bawah kaki burung garuda. Rerumput liar dan ilalang tinggi tumbuh subur di kiri kanan jalan setapak menuju arah dermaga. Jalannya separuh tanah dan separuh coran beton. Beberapa bangunan yang mirip cottage pun terbengkalai. Mungkin imbas dari pandemi, pikir Yunis demi melihat keadaan yang jauh berbeda dengan tempat sebelumnya yang terawat dan bersih. Sementara kawasan ini tidak terawat sama sekali, bisa jadi merupakan perluasan fasilitas hotel yang mandeg atau terpaksa dihentikan dulu.

 

Setelah berjalan lebih kurang 100 meter dari gapura tadi tibalah di dermaga. Sebuah jalan buatan—tidak pun disebut jembatan—terbentang cukup panjang menjorok ke arah laut. Ada dua pasang pemudapemudi usia belasan yang tengah menikmati sore tanpa khawatir basah oleh hujan yang bisa saja turun deras dalam sekedipan mata. Ketika melewatinya kami bertukar senyum sapa dengan mereka yang tampak ramah dan sedikit malumalu.

 


pantai parai tenggiri sungailiat
Dok pribadi - Suasana dermaga pantai Parai Tenggiri yang menghipnotis.

Yunis melangkah perlahan dengan wajah menengadah. Semesta kecil di dermaga belum jadi itu memaku matanya. Magi! Dalam nuansa kegelapan mega berbaur jingga keemasan, pantai Parai Tenggiri justru terlihat berbeda dari pantaipantai yang selama ini pernah Yunis kunjungi. Menguarkan aura magi menghipnotis. Sebuah keindahan yang “mencekam”, anggun dan menawan. Seolah berada dalam dimensi dewadewi, Yunis bahkan bisa membayangkan Thor yang rupawan terbang dari Asgard dengan palu petir dan matanya yang menyala, lalu keluar secara dramatis dari gulungan megamega hitam dan berjalan elegan ke arahnya. Xoxoxo… pasti jadi sore yang genap di pantai Parai Tenggiri.

 

Kesan mendalam seperti ini hanya pernah Yunis rasakan sekali, duluuu ketika mengikuti salah satu ekspedisi untuk negeri dimana perahu kecil adalah alat transportasi krusial penghubung satu pulau kecil dengan pulau kecil lain. Terapung di atas perahu ketika badai menerjang dengan gelombang tinggi yang hampir menggulung perahu, adalah seperti detikdetik menunggu ketok palu antara hidup dan mati. Yang bisa dilakukan hanya berdoa memohon keselamatan serta berpasrah pada nasib jika memang menjadi akhir dari hidup. Puji syukur alhamdulillah, rupanya Allah SWT masih melindungi Yunis dan anggota tim ekspedisi. Peristiwa tersebut menjadi sebuah pengalaman luar biasa yang memperkaya hidup dan menjadi self reminder bagi Yunis.

  

Cukup lama Yunis memaku, menyesap suasana. Pada akhirnya apa yang dirasa panca indra saat itu akan tersaripatikan menjadi kenangan. Bulirbulir air dari langit menyadarkan Yunis, suara gelegar hebat dari balik mega menjadi penanda untuk menyudahi kunjungan. Meski tanpa Thor, bagi Yunis sore itu adalah sore yang sempurna. Pantai Parai Tenggiri telah terpatri dalam hati. One of the best beaches ever!yk[]

 


 

yunis kartika
Foto by Bro Tony - Yunis Kartika di Marina Bay, pantai Parai Tenggiri Sungailiat, Bangka.

 

 

 

“Kita belum tahu seperseribu satu persen

dari apa yang telah diungkapkan alam kepada kita.”

–Albert Einstein—

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PS : sila menulis komentar, membagikan atau meninggalkan alamat web/blog-nya untuk bertukar sapa dan saling mengunjungi.

 

 

pantai tikus emas sungailiat
Olwen dan ikon Pantai Tikus Emas Sungailiat, Bangka.


 

 

 

“Tepian laut adalah tempat yang aneh dan indah.”

—Rachel Carson—

 

 

 

 

Apa yang ada dibenak anda ketika mendengar kata “tikus”? Janganjangan anda langsung membayangkan hewan pengerat yang lazim berkeliaran di goronggorong, got atau dapur kita sendiri. Atau janganjangan anda membayangkan tikus berdasi yang seperti dinyanyikan Iwan Fals dalam lagunya “Tikus Tikus Kantor”? Atau seperti dalam film animasi “Ratatouille” yang jago memasak (kalau yang satu ini Yunis pasti juga mau)? Hohoho… Tahan dulu pemikiran dan bayangan anda, sebab tikus yang satu ini memiliki arti berbeda.

*

 

Pemberhentian selanjutnya adalah pantai Tikus Emas. Jaraknya tidak terlalu jauh dari pantai Tanjung Pesona dan masih berada di Sungailiat, Kabupaten Bangka. Pantai ini ramai sekali. Bukan hanya karena pengunjung, tapi juga audio dari pengeras suara yang mengeluarkan lagulagu dangdut koplo. Kebayangkan? Kalau dalam referensi perpantaian Yunis, keramaian dan suasana pantai Tikus Emas mungkin setara dengan pantai Pangandaran yang berada di Jawa Barat (kecuali bagian pepohon pinus). Dalam artian positif, berarti pantai ini memiliki magnet daya pikat yang luar biasa untuk menarik pengunjung datang.

 


pantai tikus emas sungailiat
Dok pribadi - Suasana di Pantai Tikus Emas Sungailiat, Bangka.

Salah satu daya pikat pantai ini adalah deretan pohon pinus nan rindang. Nah, untuk bagian ini rasanya mirip dengan pantai Air Manis yang berada di Sumatera Barat. Dalam kerindangan pohon pinus, gazebogazebo mini dibuat sebagai salah satu fasilitas untuk para pengunjung dudukduduk menikmati suasana pantai. Nampak panggung semi permanen dibangun di sisi lain dekat ke bibir pantai. Pada harihari tertentu panggung ini dipergunakan untuk keriaan aneka hiburan langsung, seperti live musik. Harga tiket masuk pada hari biasa hanya Rp.5000,- rupiah/orang dan Rp.5000,- rupiah/mobil.

 


pantai tikus emas sungailiat
Dok pribadi - pasirnya yang bersih dan jernihnya air laut yang kebiruan di Pantai Tikus Emas Sungailiat, Bangka.

Pantai Tikus Emas cukup rapih dan bersih. Deretan batu granit besar pada sisi tertentu bibir pantai dan air lautnya yang biru, indah memesona. Fasilitas lain yang ditawarkan adalah adanya area kemping, permainan air, taman kelinci, kolam penyu, area motor ATV, playing fox, sepeda gantung, danau cinta, melukis wajah, restoran, dan fasilitas umum seperti tempat beribadah dan toilet.

 

Kenapa sih dinamai pantai Tikus Emas? Apakah di pantai ini dulunya tikus menjadi penghuni daerah pantai ini? Atau ada kisah lain sehingga pantai ini dinamai “Tikus Emas”? Selidik punya selidik rupanya memang ada kisah dibalik penamaan pantai Tikus Emas ini.

 

Alkisah, tersebutlah seorang pria bernama Bun Ten Fu. Dia adalah seorang penduduk yang mendiami kawasan pantai ini. Kegiatan sehariharinya adalah berburu di hutan. Karena kegesitan dan kelincahan geraknya, Bun Ten Fu mendapat julukan “San Lo Chu” atau tikus hutan. Dari situlah, kata “tikus” mulai menyebar dari mulut ke mulut. Hingga kini lebih dikenal dengan nama pantai Tikus.

 

Sebelum dijadikan objek wisata, pantai ini sempat dijadikan tambang timah liar atau ilegal. Kondisinya cukup memprihatinkan dengan tumpukan pasir tambang dan lubanglubang di pinggir laut. Adalah Wasis Pujo Pranoto yang kemudian mulai membenahi dan mengelola kawasan pantai ini. Kerja kerasnya selama 7 bulan membuahkan hasil. Baru pada tahun 2016 pantai ini diresmikan dan dijadikan tempat wisata pantai untuk umum. Pantai Tikus terbentang dari Tanjung Pesona sampai dengan perbatasan pantai Rebo yang berada di depan Puri Tri Agung. Untuk membedakannya ditambahkan kata “Emas”, maka jadilah kawasan wisata ini dengan sebutan “Pantai Tikus Emas”.

 

Sebuah patung tikus emas menjadi simbol kawasan pantai ini. Kabarnya makam San Lo Chu tidak jauh dari pantai Tikus Emas, dan sesuai permintaan tetua kampung patung tikus emas dibuat menghadap ke arah makam tersebut.

*sumber informasi didapat langsung dari Pantai Tikus Emas.



pantai tikus emas sungailiat
Dok pribadi - Patung tikus emas yang menjadi ikon Pantai Tikus Emas Sungailiat, Bangka.

Dalam budaya masyarakat Indonesia “tikus” diasosiasikan dengan seorang koruptor seperti dalam lirik lagu “Tikus Tikus Kantor-nya Iwan Fals” (tikustikus berdasi | tak kenal kenyang | rakus bukan kepalang) atau halhal yang bersifat negatif. Berbeda dalam budaya masyarakat Tionghoa, “tikus” merupakan perlambang kemakmuran dan kekayaan karena sifatnya yang rajin dan hemat. Tikus emas juga adalah simbol kebijaksanaan dan kecerdasaan.

 

Pemaknaan sesuatu; benda, hewan dan lainnya bisa jadi akan sangat berbeda di satu tempat dengan di tempat lainnya. Bergantung pada budaya, adat istiadat dan kearifan lokal. Dengan latar belakang histori pulau Bangka, tidak heran jika pengaruh budaya Tionghoa begitu kental terasa. Termasuk di pantai Tikus Emas.

 

Sudah siap memantai? Selamat bersenangsenang.yk[]

 



yunis kartika
Foto by Icky - Yunis Kartika di Pantai Tikus Emas Sungailiat, Bangka.
 

 

 

“Keajaiban itu banyak, dan tidak ada yang lebih indah dari kekuatan yang melintasi laut putih, didorong oleh angin badai, membuat jalan setapak di bawah gelombang yang mengancam untuk menelannya.”

—Sophocles—

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PS : sila menulis komentar, membagikan atau meninggalkan alamat web/blog-nya untuk bertukar sapa dan saling mengunjungi. Terima kasih sudah mampir ^_^