yunis kartika
Foto by Icky - Yunis Kartika di Tugu Peringatan Korban PD II Tanjungn Kalian, Muntok.


 

 

 

“Laut tidak lain adalah perpustakaan dari semua air mata dalam sejarah.”

—Daniel Handler—

 

 

  

Konon di abad ke 21 ini manusia sudah lebih beradab. Sejarah dan kebudayaan di masa lampau disebut sebagai peristiwa pembelajaran dan kenangkenangan panjang perjalanan hidup manusia sejak sebelum masehi. Hasrat purba manusia untuk saling menguasai (baca; perang) dikatakan perilaku barbar saat ini. Namun benarkah demikian?

 

Tak usah jauh menelaah negaranegara lain. Indonesia, negara kita tercinta ini telah mengalami pasang surut perang dan penjajahan lebih dari 3,5 abad catatan sejarah. Hingga kini. Perang antar suku masih kita dengar di beberapa bagian wilayah Indonesia. Insiden berdarah adu tembak kerap disiarkan oleh berbagai media nasional. Ragam mediasi pihak pendamai tak pernah mencapai kesepakatan. Isuisu politis dan ideologis menjadi tema utama yang memantik perseteruan. Ini kah yang dikatakan peradaban?

*

 

tugu peringatan korban PD II tanjung kalian
Dok pribadi - daftar namanama penumpang kapal SS Vyner Brooke.

Sisa jingga tinggal sejengkal, ketika Yunis berdiri di depan sebuah tugu peringatan. Sebuah tugu pengingat untuk para korban Perang Dunia ke II. Sebuah tulisan panjang tersemat, berbunyi; “8th Australian Divison, 2nd Australian Imperial Force. This memorial honoursthe heroism and sacrifice of member of the Australian of Army Nursing Service, who serven in the Bangka area in the sea and World War during the years 1942-1945. Lost at sea off Bangka Island when SS Vyner Brooke was bombed and sunk by Japanese air craft on 14th February 1942. Shot and killed on Raji Beach by Japanese soldiers on 16th February 1942.”

 

Tugu peringatan korban Peran Dunia II ini letaknya di bibir pantai Tanjung Kalian, tidak jauh dari menara suar Tanjung Kalian. Dibangun pada tanggal 2 Maret 1993 sebagai penghormatan untuk para korban Perang Dunia II dan tenggelamnya kapal SS Vyner Brooke di Bangka tahun 1942. Sebuah kapal membawa tentara Inggris yang terluka dan para juru rawat Australia mengungsi dari Singapura untuk menghindari serbuan pasukan Jepang. Sayangnya  berakhir dengan ditenggelamkan oleh pesawat pengebom Jepang di wilayah Selat Bangka.

 

tugu peringatan korban PD II tanjung kalian
Dok pribadi - didedikasikan khusus untuk para juru rawat kapal Vyner Brooke.

tugu peringatan korban PD II tanjung kalian
Dok pribadi - kisah setelah pengeboman yang diceritakan oleh Vivian Bullwinkell.

Sebagian awak kapal  yang selamat dan sampai ke tepi pantai wilayah Muntok Pulau Bangka, dibunuh langsung di tempat itu juga oleh tentara Jepang. Sebagian yang selamat ditangkap, kemudian ditahan dalam kamp tawanan perang tentara Jepang. Para korban yang meninggal pada saat pengeboman berjumlah 12 orang, korban yang ditembak di pantai berjumlah 21 orang. Yang tewas dalam masa tahanan Jepang di Sumatera berjumlah 4 orang dan yang bisa kembali ke Australia berjumlah 12 orang.

 

Seorang juru rawat bernama Vivian Bullwinkell selamat dari pembantaian dan terdampar di pantai Radji, Tanjung Kalian. Lima tahun kemudian, Vivian bersaksi di pengadilan kejahatan perang di Tokyo atas tragedi kemanusiaan tersebut.

 

Tugu peringatan korban Perang Dunia II, bukan hanya sebagai pengingat bagi mereka yang menjadi korban saja. Tetapi menjadi tugu penghormatan kepada seluruh masyarakat Muntok yang membantu para korban selamat dari peristiwa itu. Selain tugu peringatan, ada pula acara tahunan setiap bulan Februari yang dilakukan oleh negara Australia bersama Indonesia khususnya masyarakat Muntok, yaitu penghormatan dengan peletakan karangan bunga  dan menabur bunga di laut. Jadi, jika ingin melihat dan menjadi bagian dari acara ini, anda bisa datang pada tanggal 14 Februari. Acara peringatan ini terbuka untuk umum.

*sumber informasi didapat langsung dari Tugu Peringatan Korban Perang Dunia II


 

tugu peringatan korban PD II tanjung kalian
Dok Pribadi - sisi lain dari Tugu Peringatan Korban Perang Dunia II di Tanjung Kalian, Muntokl.

 

Ketika menulis ini Yunis merasakan ada ironi tersendiri. Sejatinya ilmu pengetahuan, teknologi, dan keyakinan mendorong manusia untuk lebih welas asih, bukan malah sebaliknya. Usia bumi yang semakin tua dengan segala persoalannya tidakkah cukup membuat kita lebih bertafakur? Perang tidak membawa kebaikan bagi pemenang apalagi yang kalah. Perang bukan hanya berdampak bagi dua pihak, tapi berdampak bagi seluruh penghuni bumi dan bumi itu sendiri. Suka atau tidak, kita hanya memiliki 1 bumi yang kita tinggali. Jika bumi ini hancur, pemenang perang pun ikut terkubur.

 

Apa yang disombongkan ketika kita tidak lagi jadi bagian dari kehidupan itu sendiri? Tugu pengingat apa yang ingin dibangun? Sebagai antagonis yang arogan, jahat dan penuh kebencian? Atau sebagai protagonis yang welas asih? Sebab tugu pengingat, bisa jadi bukan hanya sebatas bangunan fisik. Lebih dari itu, ia ada di setiap hati yang tersentuh sebagai bukti kemanusiaan.yk[]

 

 

tugu peringatan korban PD II tanjung kalian
Dok pribadi - Tugu Peringatan Korban Perang Dunia II di Tanjung Kalian, Muntok, Bangka Barat.


 

 

“Anda tidak harus kehilangan kepercayaan pada kemanusiaan.

Kemanusiaan adalah lautan.

Jika beberapa tetes laut kotor, lautan tidak menjadi kotor.”

—Mahatma Gandhi—

 

 

 

 

 

 

 

PS : sila untuk menulis komentar, membagikan atau meninggalkan alamat web/blog-nya untuk bertukar sapa dan saling mengunjungi.

 

 

menara suar tanjung kalian muntok
Olwen di balkon menara suar Tanjung Kalian, Muntok, Bangka Barat.

 

  

 

“Menara suar tidak menyebar ke seluruh pulau mencari perahu untuk diselamatkan,

mereka hanya berdiri di sana dan bersinar terang.”

—Anne Lamott—

 

 

 

 

Kita hampir selalu tak punya cukup waktu—kirakira begitulah ungkapan yang sering kita dengar. Begitu pula dengan kunjungan kami ke Muntok. Waktu terasa bergerak cepat. Tanjung Kalian menjadi tempat terakhir dari rangkaian kunjungan ini. Kami masih dengan penuh semangat menikmati setiap momennya. Adalah ide Koko Rudy untuk naik ke atas menara suar Tanjung Kalian, yang di-iyakan- oleh Icky. Yunis langsung menengadahkan kepala, memperkirakan kekuatan demi dilihatnya bangunan ramping tinggi menjulang. Rasanya aku mendengar Yunis juga menelan ludah. Xoxoxo… Tapi kukira, Yunis tak bisa mundur mengingat perjalanan jauh dan rasa penasaran terhadap menara suar yang berdiri tegak dihadapannya.

 

menara suar tanjung kalian muntok
Dok pribadi - pintu masuk ke area menara suar Tanjung Kalian, Muntok, Bangka Barat.


menara suar tanjung kalian muntok
Dok pribadi - Menara suar Tanjung Kalian tegak berdiri setinggi 56 meter. 

Setelah mencuci tangan di tempat yang telah disediakan, ingat prokes kan? Tanpa komando, Koko Rudy dan Icky, melangkah masuk mendahului setelah kami membayar tiket masuk seharga Rp.5000,00/orang. Samarsamar terdengar suara bergema memanggil kami. Yunis tidak segera menyusul, ia berdalih akan memotret aku terlebih dahulu. Setelah beberapa pose akhirnya Yunis menyusul. Satupersatu kami meniti anak tangga. Di setiap lantainya diberi nomor sebagai penanda lantai. Ada 16 lantai yang harus dilalui untuk sampai di puncak tertinggi menara suar dengan meniti ratusan anak tangga yang terbuat dari batu dan 2 lantai terakhir berupa tangga kayu. Persisnya 199 anak tangga dengan rincian 162 anak tangga batu, 28 anak tangga kayu, dan 9 anak tangga besi.

 

Memasuki putaran tangga lantai 5 napas Yunis mulai ngosngosan. Sementara Koko Rudy dan Icky entah sudah berada di lantai berapa, tapi jelas terdengar mereka pun berpayahpayah menaiki anak tangga. Dengan kompak mereka bersahutan memanggil Yunis dan menyemangati. Terdengar candaan Koko Rudy kepada Icky; “seminggu 2 kali naik turun tangga ini, kurus kita Om…”, terdengar gelak Icky mengamini. Yunis pun terkekeh geli, karena memang sesungguhnya mereka bertiga membutuhkan olahraga berat untuk nahan laju bobot yang kian menanjak. Xoxoxo

 

menara suar tanjung kalian muntok
Dok pribadi - anakanak tangga batu menara suar Tanjung Kalian Muntok, Bangka Barat.



menara suar tanjung kalian muntok
Dok pribadi - jendela berteralis sebagai ventilasi menara suar Tanjung Kalian, Muntok.

Sirkulasi udara di menara ini cukup baik. Setiap pit stop (baca; area cukup luas untuk menarik napas) lantai, jendela bulat berdiameter kurang lebih 30 cm terpasang. Dari jendela ini kita juga bisa melihat pemandangan. Terkadang sisi laut dengan kapal, terkadang sisi pelabuhan, dan sisi lainnya terlihat parkiran serta arah kota. Kebersihan bagian dalam menara suar juga terjaga. Apalagi di saat kenormalan baru seperti ini, kebersihan dan sterilisasi tempat menjadi keharusan.

 

menara suar tanjung kalian muntok
Dok pribadi - bagian puncak menara suar Tanjung Kalian, Muntok, Bangka Barat.

Pelabuhan Tanjung Kalian yang terletak di ujung barat Pulau Bangka, persisnya di Kecamatan Muntok merupakan salah satu pintu masuk dari Pulau Sumatera. Pelabuhan dengan menara suar yang dibangun oleh Belanda tahun 1862 ini memiliki tinggi 56 meter. Kebayangkan tingginya? Secara fisik menara ini masih terlihat kokoh, serta hanya beberapa kali mengalami cat ulang saja. Namun anda harus hatihati, pada bagian balkon di puncak tertinggi menara suar dimana kita bisa melihat pemandangan pelabuhan dan lepas pantai terdapat bagian yang mulai keropos. Balkonnya bercat merah selebar setengah meter mengelilingi puncak dan berpagar hampir 1 meter. Perhatikan langkah anda, dan sebaiknya naik bergantigantian sebab khawatir balkon tidak sanggup menahan beban berat berlebih. Meski materialnya terbuat dari baja, seiiring waktu, udara beraroma garam akan membuat baja korosit.

 

Pada puncak menara suar ini, terdapat lampu yang berfungsi sebagai navigasi dan dinyalakan terus selama 24 jam. Pancaran sinar lampunya mencapai radius 25 mil dan berputar ulang setiap 10 detik dengan periode 0.2 terang dan 4,8 gelap sehingga dapat memandu kapalkapal keluar masuk Selat Bangka. Bangun ini menjadi landmark kawasan dan simbol navigasi utama bagi pelayaran yang melalui Selat Bangka.

*sumber informasi didapat langsung dari Tanjung Kalian Light House.



menara suar tanjung kalian muntok
Dok pribadi - pemandangan dari atas balkon menara suar Tanjung Kalian, Muntok, Bangka Barat.

Penuh perjuangan (baca; napas tersengal, keringat menderas membasahi baju) akhirnya kami tiba di atas puncak menara. Jika anda bukan seorang phobia ketinggian, pemandangan dari atas serupa penawar haus bagi dahaga. Matahari bergerak turun. Meski tidak bulat, tetap saja sunset. Ia penanda sebentar lagi gelap tiba. Angin laut dan pedar warna jingga di barat menjadi penutup hari yang manis bagi kunjungan kami. Sungguh syahdu, terima kasih Tanjung Kalian. Salam, selamat tinggal Muntok.yk[]

 

 

yunis kartika
Foto by Koko Rudy - Yunis Kartika dan Icky menikmati sunset dari puncak menara suar Tanjung Kalian Muntok.


  

 

“Matahari terbenam seperti masa kanakkanak. Dipandang dengan heran bukan hanya karena mereka cantik, tetapi karena mereka cepat berlalu.”

—Richard Paul Evans—

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PS : sila untuk menulis komentar, membagikan atau meninggalkan alamat web/blog-nya untuk bertukar sapa dan saling mengunjungi. Terima kasih sudah mampir ^_^

 

 

yunis kartika
Foto by Koko Rudy - Yunis Kartika di depan gedung Pasanggrahan BTW Muntok, Bangka Barat.


 

 

 

“Berpedomanlah pada harapan dan ketetapan hati. Berpedomanlah pada citacita, 

berpedomanlah pada impian dan anganangan.”

— Soekarno—

 

 

 

Apa yang ada dibenak anda jika mendengar kata “pengasingan”, “diasingkan”, atau “dibuang”? Dalam benak Yunis, ketiga kata tersebut merujuk pada dibatasinya gerak, dikurung dalam sel, dan diisolasi dari segala bentuk interaksi sosial. Opini Yunis ini bukan untuk menggiring anda pada pendapat yang sama, melainkan itulah respon logisnya terhadap ketiga kata di atas. Jika yang terjadi adalah seperti opini Yunis, tentu sangat menyeramkan. Jangankan untuk merumuskan suatu tindakan besar bersama, untuk sekadar berbincang pun tak bisa. Syukurlah, bukan itu yang terjadi kan. Pengasingan untuk tokoh negara dan rakyat biasa nyata berbeda. Meski kebebasan dan kemerdekaan tetap terpasung, namun beberapa fasilitas pendukung (semisal; bukubuku, karib seperjuangan yang bersama di satu tempat, alat komunikasi, unsur pendukung mobilitas, dan masyarakat setempat) mampu dioptimalkan untuk mewujudkan citacita Indonesia merdeka.

*

 


pasanggrahan BTW muntok
Dok pribadi - tugu baru yang dibangun sebagai penanda Pasanggrahan BTW Muntok, Bangka Barat.

Sore itu kami tiba dengan disambut hangat pengurus Pasanggrahan Bangka Tin Winning (BTW), yang mengenalkan dirinya dengan sebutan Om Anto. Meski jam kunjungan mendekati akhir, Om Anto sangat antusias menjelaskan tentang pengasingan Bung Karno dan Roemah Persinggahan BTW. Malah bersukacita mengambil dokumentasi kami dan mengarahkan gaya serta memberi tahu titiktitik terbaik untuk ber-selfie-wefie-ria.

 

pasanggrahan BTW muntok
Dok pribadi - suasana Pasanggrahan BTW, Muntok, Bangka Barat.

pasanggrahan BTW muntok
Dok pribadi - kamar tidur yang pernah dipergunakan para tokoh, Muntok, Bangka Barat.
Dari kiri atas searah jarum jam : kamar Bung Karno, H. Agus Salim, kamar tamu dan Moh, Roem.

Bangunan berbentuk leter U atau tapal kuda ini terbilang luas. Terdapat banyak kamarkamar tidur, ruangruang, kursikursi set, dan perabot lainnya. Yang paling luas adalah ruang makan utama dengan meja panjang dan kursikursi berderet saling berhadapan. Ruang perjamuan yang dipergunakan sebagai ruang perundingan. Lemarilemari kaca penuh fotofoto beragam kegiatan bernada monokrom hitamputih. Entah perasaan Yunis saja, entah memang ruanganruangan di wisma ini terasa lembap, dingin, dan remang. Padahal dapat dipastikan bangunan ini bersih, terawat, dengan sirkulasi udara dan cahaya matahari memadai. Penerangan ruang dengan penggunaan lampu kuning menambah kesan nostalgia lampau semakin pekat. Terutama ketika memasuki kamarkamar pribadi yang pernah dipergunakan para tokoh.

 

pasanggrahan BTW muntok
Dok pribadi - ruang makan utama yang menjadi tempat perundingan di Pasanggrahan BTW, Muntok, Bangka Barat.


pasanggrahan BTW muntok
Dok pribadi - koleksi fotofoto ragam kegiatan masa pengasingan di Pasanggrahan BTW Muntok, Bangka Barat.

Sudah tidak terlalu banyak koleksi asli peninggalan para tokoh yang tersimpan di sana. Sebelum Pemda mengambil alih dan menjadikannya sebagai salah satu cagar budaya, bangunan beserta isinya sempat terbengkalai. Melihat kondisi memprihatinkan tersebut, Megawati berinisiatif mengambil dan merawat barangbarang pribadi Bung Karno yang masih tersisa di Pasanggrahan BTW, dan memberikan bantuan untuk perbaikan gedung.  

*

 


pasanggrahan BTW muntok
Dok pribadi - Wisma Ranggam tempo dulu, foto koleksi Pasanggrahan BTW Muntok, Bangka Barat.

Wisma Ranggam atau yang kini dikenal dengan nama Pasanggrahan BTW dibangun pada tahun 1827 oleh Kolonial Belanda. Gedung awalnya berfungsi sebagai gedung pengadilan (Landraad). Kemudian tahun 1951 dikelola perusahaan Pertambangan Timah Banka (Banka Tin Winning) sebagai penginapan para karyawannya.

 

Tahun 1897 jauh sebelum dipergunakan sebagai tempat pengasingan Bung Karno, H. Agus Salim, Ali Sastroamidjojo dan Moh. Roem, sempat dipergunakan juga sebagai tempat pengasingan seorang Pangeran dari Paku Alam bernama Kanjeng Pangeran Hario dari Kesultanan Surakarta, akibat dari pembangkangannya terhadap perintah perang melawan pasukan Aceh. Pangeran Hario malah balik berpihak kepada pasukan Aceh untuk melawan Belanda. Ia ditangkap dan ditahan di gedung Landraad Muntok, ia tidak diperbolehkan untuk berinteraksi dengan masyarakat Muntok. Pada tahun yang sama, Pangeran Hario menghembuskan napas terakhirnya dan dimakamkan di Muntok.

 

pasanggrahan BTW muntok
Dok pribadi - suasana masa pengasingan, foto koleksi Pasanggrahan BTW Muntok, Bangka Barat.


pasanggrahan BTW muntok
Dok pribadi - para tokoh dan masyarakat Muntok di depan Pasanggrahan BTW Muntok, Bangka Barat.
Foto koleksi MTI Muntok.

Dari Muntok untuk Indonesia adalah sebuah kisah yang tidak terlalu populer dalam ranah persejarahan yang biasa dipelajari di sekolah. Van Bangka Begint De Victorie atau Dari Bangka Datangnya Kemenangan, senyata buktibukti yang ada. Pengasingan para tokoh kemerdekaan ke Muntok mengundang perhatian dunia, termasuk UNCI (United Commission for Indonesia) bagian dari PBB yang beberapa kali datang ke Muntok untuk melakukan perundingan. Perjuangan untuk mendapat pengakuan kedaulatan dan gencatan senjata membuahkan hasil. Perundingan KMB memutuskan adanya pengakuan dan penyerahan Kedaulatan kepada Negara Republik Indonesia Serikat (RIS). Tanggal 27 Desember 1949 Indonesia diakui merdeka.

 

pasanggrahan BTW muntok
Dok pribadi - suasana perundingan di ruang makan utama Pasanggrahan BTW Muntok, Bangka Barat.
Foto koleksi Pasanggrahan BTW.

pasanggrahan BTW muntok
Dok pribadi - plakat diserahterimakannya kembali pemerintahan RI ke Jogjakarta.

Di ruang makan utama Pasanggrahan BTW inilah bahan perundingan gencatan senjata, persyaratan, dan segala tuntutan kepada Belanda dibicarakan serta disaksikan oleh UNCI. Di ruangan yang sama pula, menjadi tempat penyerahterimaan Surat Kuasa kembalinya pemerintahan RI ke Jogjakarta dari Bung Karno kepada Sri Sultan Hamengkubuwono IX pada bulan Juni 1949.

 

pasanggrahan BTW muntok
Dok pribadi - ilustrasi Sang Saka Merah Putih ketika disatukan kembali di Pasanggrahan BTW, Muntok, Bangka Barat.

Ada fakta menarik untuk diketahui tentang perjalanan Sang Saka Merah Putih, dimana di Jakarta Sang Saka Merah Putih pertama kali dikibarkan, ke Jogjakarta Sang Saka Merah Putih dibelah dua untuk di pisah, dan ke Bangka Sang Saka Merah Putih disatukan. Sehari sebelum bendera Sang Saka Merah Putih dibawa pulang kembali ke Jogjakarta, Bung Karno menangis tersedusedu saat bendera dibentangkan di ruang Pesanggrahan BTW. Kejadian mengharukan tersebut membangkitkan semangat nasionalisme sehingga membuat Abang M. Yusuf Rasidi turut berujar; “Saya sadari benar berapa banyak pengorbanan yang telah dituntut dari rakyat untuk menegakkan bendera itu sebagai kejayaan kita.”

*Sumber informasi didapat langsung dari Pasanggrahan BTW, Muntok, Bangka Barat. Teriring kekaguman untuk para kuli tinta dan juru foto pada masa itu yang mengabadikan sejarah Indonesia.

*

 


pasanggrahan BTW muntok
Dok pribadi - Om Anto dan sudut berfoto dengan pose ikonik Bung Karno di Pasanggrahan BTW, Muntok.


Pesanggrahan Menumbing dan Pasanggrahan BTW terkait sangat erat. Kedua tempat ini bernilai sejarah tinggi sebagai tempat pengasingan tokohtokoh kemerdekaan Republik Indonesia. Dari Muntok akhirnya tercapai diplomasi yang membuahkan kemenangan. Masih banyak sejarah Indonesia yang tercecer. Serupa puzzle menunggu disatukan. Termasuk bendabenda bersejarah yang belum pulang ke “rumah”. Semoga catatan kecil ini menggugah mereka yang mencintai sejarah Bumi Pertiwi, dan tergerak untuk terus menyatukan kepingan puzzle sejarah yang berserak menjadikan buku besar sejarah Indonesia yang lengkap.


Sebelum pulang, anda wajib berfoto dengan pose ikonik Bung Karno; kaki menyilang, tangan bertumpuk ditaruh di atas paha, dan arah pandang melirik ke kanan. Om Anto tentu saja akan sabar mengarahkan gaya anda untuk mendapatkan kemiripan separipurna mungkin (terimakasih Om Anto, karena telah dengan riang dan hangat menyambut kami). Disertai gelak tawa, Yunis, Icky, dan Koko Rudy, bergantigantian duduk di kursi yang telah di-setting untuk keperluan foto dengan latar belakang lukisan Bung Karno dan foto repro dengan gayanya yang akan kita tirukan. Boleh minta difoto berkalikali, kok... Selamat mencoba!yk[]

 

 

 

yunis kartika
Foto by Koko Rudy - Yunis Kartika di depan gedung Pasanggrahan BTW Muntok, Bangka Barat.

  

 

“Jadikan deritaku ini sebagai kesaksian bahwa kekuasaan seorang Presiden sekalipun ada batasnya. Karena kekuasaan yang langgeng hanya kekuasaan rakyat. Dan di atas segalanya adalah kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa.”

— Soekarno—

 

 

 


 

 

PS : sila untuk menulis komentar, membagikan atau meninggalkan alamat web/blog-nya untuk bertukar sapa dan saling mengunjungi.

 

 

 

 

 

 

museum timah indonesia muntok
Olwen di depan gedung Museum Timah Indonesia, Muntok, Bangka Barat.

 

 

 

“Sejarah adalah suatu perjanjian di antara orang yang sudah meninggal,

mereka yang masih hidup, dan mereka yang belum dilahirkan.”

--Edmund Burke—

 

 

 

Museum Timah Indonesia (MTI) Muntok adalah salah satu tempat yang wajib dikunjungi ketika anda berada di Muntok. Meski pun MTI Muntok ini merupakan museum ke dua yang didirikan dan dikelola oleh PT Timah Tbk setelah MTI Pangkalpinang, namun anda akan mendapati beberapa materi yang dipamerkan berbeda. Semisal sejarah kota Muntok dan ruang pamer peralatan tenun kain cual yang cukup lengkap ada di sini.

 

museum timah indonesia muntok
Dok pribadi - foto lama Kantor Banka Tin Winning, koleksi MTI Muntok, Bangka Barat.

MTI Muntok diresmikan tanggal 7 November 2013. Bangunan cagar budaya yang pada masanya merupakan Kantor Banka Tin Winning Bedrijf atau Kantor Pusat Tambang timah Bangka. Bangunan ini didirikan tahun 1915 dengan desain mirip kapal keruk timah yang merupakan bangunan kolonial awal abad ke-20 dan menjadi bangunan modern milik Pemerintah Hindia Belanda di Bangka pada masa itu. Nah, setelah peresmian tahun 2013 bangunan ini menjadi Museum Timah Indonesia Muntok dan menjadi pusat informasi sejarah timah dan kota Muntok.

 

museum timah indonesia muntok
Dok pribadi - Kantor BTW setelah renovasi dan perbaikan menjadi MTI Muntok, Bangka Barat.

Bangunan dua lantai ini masingmasing memiliki fungsi yang berbeda. Pada lantai pertama; dimulai dengan lobby dan meja resepsionis, kemudian galeri 1 yang khusus membahas Lintas Sejarah Muntok. Pada galeri 2 dibahas tentang Sosial Budaya Muntok. Galeri 3 adalah galeri penghormatan untuk seorang perawat bernama  Vivian Bullwinkel – A Tragedy of 2nd World War, dan untuk korban tragedi PD II yang dibangun oleh Tentara Angkatan Darat Australia. Galeri 4 menampilkan berbagai peristiwa dan kegiatan Bung Karno, Bung Hatta dan tokohtokoh seperjuangan selama diasingkan di Muntok.


museum timah indonesia muntok
Dok pribadi - Galeri Bung Karno di MTI Muntok, Bangka Barat.


museum timah indonesia muntok
Dok pribadi - Galeri Vivian Bulwinkel dan tentang Perang Dunia II, MTI Muntok, Bangka Barat

Sebetulnya pengaturan ruang agak membingungkan. Ke empat ruang galeri yang kami sebutkan di atas, letaknya saling berseberangan bukan mengalir searah jarum jam. Jika mengikuti sesuai nomor urut ruang galeri, maka anda akan bergerak zigzag. Kami sarankan ikuti saja alur ruangnya, maka galeri Bung Karno dan Vivian akan menjadi penutup galeri di lantai pertama.

 

museum timah indonesia muntok
Dok pribadi - Galeri Geologi dan Eksplorasi, MTI Muntok, Bangka Barat.


museum timah indonesia muntok
Dok pribadi - menuju Galeri Sarana, Prasarana Kreasi Anak Zaman, MTI Muntok, Bangka Barat.

Galeri 5 menjelaskan tentang Geologi dan Eksplorasi timah, menyambung dengan galeri 6 dan 7 yang menceritakan tentang Tambang Darat dan Tambang Laut. Kemudian pada galeri 8 dijelaskan tentang Peleburan Timah yang dijelaskan secara runut dan lengkap. Peleburan timah, pertama kali tidak dilakukan di Bangka atau pun Belitung loh… peleburan timah di Bangka, tepatnya di Muntok baru dimulai tahun 1970. Jadi, peleburan timah di Indonesia diawal pengambilan alih dari Belanda. Tahun 1941-1956 timah Indonesia dilebur di Arnhem (NV Hollandsche Metalurgische Bedrijve) Belanda, sebagian dilebur di Texas City Smelter, Amerika Serikat. Kemudian tahun 1960-1963 dilebur di Penang. Tahun 1964-1968 berpindah ke Arhem, Belanda. Kembali lagi dilebur di Penang tahun 1968-1970. Kemudian pada galeri 9 menjadi Sarana dan Prasarana Kreasi Anak Zaman. Di lantai ini juga tersedia museum shop dan kafetaria untuk pengunjung.

 

museum timah indonesia muntok
Dok pribadi - foto lama peleburan timah di Belanda tahun 1927, koleksi MTI Muntok, Bangka Barat.

museum timah indonesia muntok
Dok pribadi - foto lama peleburan timah Muntok, koleksi MTI Muntok, Bangka Barat.

Sementara di lantai 2, terdapat perpustakaan, ruang rapat, auditorium dan mushola. Sayangnya kami tidak berkesempatan melihatlihat koleksi buku yang tersimpan di sana. Jadi kalau disimpulkan, 70% koleksi MTI Muntok berkisar tentang sejarah teknologi timah dan 30% tentang sejarah kota Muntok, sosial budaya Melayu, Worl War II atau Perang Dunia II, dan pengasingan pemimpin negara di Bangka. Jadwal kunjungan MTI Muntok dari hari Senin sampai Minggu, dibuka pukul 08.00 hingga pukul 16.00, kecuali hari Jumat libur.

 

Pada bagian Lintas Sejarah Muntok, Yunis berdiam cukup lama. Bibirnya bergerakgerak, membaca teksteks yang tertera dengan suara berbisik seolah khawatir mengganggu keheningan museum di sore yang cerah. Tapi bagiku, bisikan Yunis bagaikan dongeng di sore hari, xoxoxo…

*

 


museum timah indonesia muntok
Dok pribadi - Galeri Lintas Sejarah dan Sosial Budaya Muntok, MTI Muntok, Bangka Barat.

Berawal dari prasasti Kota Kapur I. Keberadaan situs Kota Kapur menyiratkan bahwa sejak masa klasik, Bangka adalah bagian dari jalur perdagangan internasional, dan timah merupakan salah satu komoditasnya. Penemuan prasasti Kota Kapur I pada tahun 1892 oleh J.K van der Meulen menguak tabir nilai pentingnya pesisir barat Bangka sebagai pelabuhan yang kerap disinggahi kapalkapal dagang dari berbagai kawasan, bahkan sejak masa pra-Sriwijaya. Berdasarkan prasasti ini, dapat ditafsirkan bahwa penaklukan Kota Kapur adalah bagian penting dalam kelancaran misi perdagangan maritim Sriwijaya. Tak mengherankan, mengingat letak Kota Kapur yang memang sangat strategis; tepat di hadapan Selat Bangka yang terhubung langsung dengan Selat Malaka selaku jalur utama pelayaran antara India, Nusantara, dan Tiongkok.

 

museum timah indonesia muntok
Dok pribadi - lintas sejarah penambangan timah di Indonesia, MTI Muntok, Bangka Barat.

Pasca penemuan Prasasti Kota Kapur I, berbagai penelitian terus dilakukan dan semakin banyak peninggalan arkeologi yang ditemukan. Ditemukan pula artefak terkait penambangan timah, juga diketemukan prasasti Kota Kapur II yang diperkirakan berasal dari abad 10.

 

museum timah indonesia muntok
Dok pribadi - timah sebagai mata uang/alat tukar, MTI Muntok, Bangka Barat.

Dalam Lintas sejarah Muntok, dirunut mulai abad 1 sampai 12 sejak adanya Kota Kapur, Negeri Mo-Ho-Hsin (asal muasal nama Bangka) dan penemuan prasasti Kota Kapur 686 M menandai awal Masa Sejarah Pulau Bangka. Abad 14 sampai 15 Bangka berada dibawah kerajaan Majapahit. Dua kali Majapahit mengirim ekspedisi ke Bangka, yang pertama dipimpin langsung oleh Gajahmada. Ekspedisi ke dua dipimpin oleh Tumenggung Dinata. Pasca Majapahit, Bangka diserang suku kanibal Melukut. Setelah itu Bangka di bawah Johor dan Minangkabau dan masuklah agama Islam ke Bangka.

 

Pada abad 18 tepatnya tahun 1714, terjadi perseteruan suksesi tahta Kerajaan Palembang. Pangeran Depati Anom dan Pangeran Jayawikrama menyingkir ke Bangka. Tahun 1715, rombongan menyingkir ke Johor. Tahun 1716 menyingkir ke Siantan. Tahun 1717 merebut kembali Palembang. tahun 1721 pangeran Jayawikrama menjadi Sultan Palembang bergelar Sultan Mahmmud Badaruddin I. tahun 1725 Mas Ayu Zamnah memilih tinggal di Bangka, di suatu daerah bertanjung yang berhadapan dengan Palembang. Tempat ini kemudian berkembang menjadi kota bernama Muntok dan menjadi pusat pemerintahan di Bangka. Tahun 1733 Sultan menetapkan gelar kebangsawanan khusus bagi keturunan Abdul Hayat dari Siantan (Abang Yang). Tahun 1734, membangun kota Muntok.


Abad 19, sekitar tahun 1800 dibangun kelenteng Khung Fuk Min. tahun 1812 hingga 1814 Kesultanan Pelembang di bawah kekuasaan Inggris. Sultan Najamuddin menyerahkan pulau Bangka dan Belitung pada Inggris, lepas dari Kesultanan Palembang. Muntok diganti nama menjadi Minto dan menjadi ibu kota Bangka Belitung.

 

museum timah indonesia muntok
Dok pribadi - Galeri peleburan timah di MTI Muntok, Bangka Barat.

museum timah indonesia muntok
Dok pribadi - contoh timah besi dan debu timah di MTI Muntok, Bangka Barat.

Tanggal 13 Agustus 1814, Traktat London I, Inggris diwajibkan menyerahkan kembali ex jajahan Belanda. Tanggal 10 Desember tahun 1816, Inggris menyerahkan kembali Bangka ke Belanda, dan dibentuk Banka Tin Winning Bedrijf (BTW), perusahaan tambang timah negara. Kepala tambang timah merangkap menjadi kepala daerah. Traktat London II. 1819, Tin Reglement; “Tambang timah adalah monopoli Belanda, dan tambang timah partikelir/swasta tidak diperbolehkan”. Tahun 1819 hingga 1952 meletus pemberontakan di Bangka oleh para pengikut Depati Bahrin, Depati Amir, dan Batin Tikal. Tahun 1825 Kesultanan Palembang dihapus oleh Belanda. Kemudian tahun 1827 Belitung diserahkan kembali oleh Inggris ke tangan Belanda. Pada tahun 1860 dibangun dermaga panjang (Ujung Brug), dan di tahun 1860 tanaman lada diperkenalkan oleh Tumenggung Kertanegara II.

 

museum timah indonesia muntok
Dok pribadi - ilustrasi peleburan timah tradisional, koleksi MTI Muntok, Bangka Barat.


museum timah indonesia muntok
Dok pribadi - manuskrip awal penulisan sejarah Bangka di MTI Muntok, Bangka Barat.

Tahun 1861, Haji Idris menulis sejarah Bangka. Setahun kemudian, tahun 1862 pembangunan mercu suar di Tanjung Kalian. Tahun 1883 pembangunan Masjid Jami dan menjadi masjid tertua di Bangka. Tahun 1878 Abang Arifin Tumenggung Kertanegara I menulis sejarah Bangka. Tahun 1879 Abang Muhammad Ali Tumenggung Kertanegara II menulis sejarah Bangka juga. Kemudian di tahun 1892 pembangunan mercu suar di Tanjung Ular. Pada tahun 1897 Kanjeng Pangeran Hario Nataningprang keturunan Sunan Pakualam II diasingkan di Muntok.

 

Memasuki abad 20, tepatnya tahun 1913 pemisahan urusan administrasi pemerintahan dan urusan penambangan timah. Pusat Karesidenan Bangka Belitung dipindahkan ke Pangkalpinang. Tahun 1915 dibangun kantor pusat BTW di Muntok. Tahun 1924 peresmian lapangan terbang Muntok. Tanggal 14 Februari 1942, Jepang mendarat di Tanjung Kalian dan Belo Laut. Pada tanggal dan tahun yang sama kapal palang merah MV. Veyner Brooke ditenggelamkan oleh pesawat terbang Jepang di lepas pantai Ranji di kawasan Tanjung Kalian. Dua belas orang juru rawat tewas, sedangkan 21 juru rawat yang selamat tewas ditembak mati tentara Jepang. 16 Februari 1942, 1 orang juru rawat bernama Vivian Bullwinkel terhindar dari pembunuhan. Tahun 1942 hingga 1945 tambang timah dikendalikan oleh Mitsubishi Kogyo Kaisha (MKK). Tanggal 22 Desember 1948 dengan menggunakan pesawat bomber B-25 pemimpinpemimpin pemerintahan RI diasingkan di Bangka. Drs. Moh. Hatta, Mr. A Gaffar Pringgodigdo, Mr. Assaat, Komodor Udara Suryadarma ditahan di Pesanggrahan Menumbing. Menyusul kemudian Ali Sastroamidjodo dan Moh. Roem yang diterbangkan dari Yogyakarta. Bung Karno dan Haji Agus Salim kemudian diterbangkan pula dari Parapat, Sumatera Utara.

*sumber informasi sejarah dan catatan didapat dari Museum Timah Indonesia, Muntok.

 

Mengingat latar belakang yang panjang, tidak mengherankan jika kini Muntok disebut kota bersejarah. Setiap sudutnya seolah menjadi saksi peran penting Muntok sebagai bagian dari Indonesia. Tambang timah, dan sejarah sosial budayanya dari waktu ke waktu menjadi bukti kejayaan Muntok di Bangka. Kami ingatkan lagi, jangan lupa untuk mengunjungi MTI Muntok yang dikelola dengan oke banget oleh PT Timah ini kalau anda ke Bangka. Asli keren!yk[]

 

 

yunis kartika
Foto by Koko Rudy - Yunis Kartika di depan gedung Museum Timah Indonesia, Muntok, Bangka Barat.


 

 

“Kalau orang tak tahu sejarah bangsanya sendiri, tanah airnya sendiri,

gampang jadi orang asing di antara bangsa sendiri.”

--Pramoedya Ananta Toer—

 

 

 

 

 

 

PS : sila untuk menulis komentar, membagikan atau meninggalkan alamat web/blog-nya untuk bertukar sapa dan saling mengunjungi.