Sate Minangkabau, Martabak Kubang, dan Roti Cane: Rasa Sejarah dari Ranah Minang_ Edisi Samayo
![]() |
| Sate Padang kuah kuning dengan aroma kunyit yang khas. |
“Ranah Minang tak
hanya bercerita lewat luhak dan nagari,
tapi juga lewat
kuah sate, martabak, dan roti cane.”
—Sepatualang—
Kali ini aku ingin
mengajakmu berjalan-jalan bukan hanya ke alam Sumatra Barat yang penuh
panorama, tapi juga menyelami rasa dan kisah kuliner Minangkabau. Perjalanan
ini bukan sekadar tentang perut yang kenyang, melainkan tentang sejarah,
identitas, dan budaya yang melekat erat pada setiap gigitan. Tiga kuliner yang
kutemui kali ini—Sate Minangkabau, Martabak Kubang, dan Roti Cane—adalah bukti
bagaimana Ranah Minang menyulam jejak masa lalu dalam setiap sajian.
Siapa yang tidak kenal Sate Padang? Sejak lama, sate ini menjadi ikon kuliner Sumatra Barat. Saat berada di Padang, aku mendatangi sebuah tenda sate sederhana di tepi jalan, asap mengepul, bara api menyala, aroma daging terbakar memenuhi udara. Penjualnya dengan cekatan membolak-balik tusukan daging, lalu menyiramnya dengan kuah merah yang kental.
![]() |
| Sate Padang dengan kuah merah pedas kental, hangat dan nikmat. |
Kuah merah ini berbeda dari sate kebanyakan. Ia pekat, pedas, penuh cabai, berpadu dengan kunyit, jahe, dan lengkuas. Sekali suap, rasa panas dan pedas langsung menempel di lidah. Tapi yang membuatku kagum adalah cara orang Minang memaknai sate. Bukan sekadar makanan, sate adalah hasil kreativitas orang Minang mengolah daging agar tahan lama, awet, dan tetap nikmat.
Berbeda dengan di
Bukittinggi, kota sejuk di dataran tinggi. Di sini aku menemukan variasi lain;
Sate Padang Panjang dengan kuah kuning. Warnanya cerah, lebih ringan, dengan
aroma kunyit yang lembut. Teksturnya tidak sepekat sate Padang, tapi punya rasa
segar dan menenangkan. Uniknya, di setiap daerah Sumatra Barat, sate bisa
punya racikan kuah berbeda—ada yang kuah coklat, ada yang kuah kekuningan,
tergantung tradisi lokal.
Harga satu porsi sate
Minang biasanya berkisar antara Rp25.000 – Rp35.000, berisi 10 tusuk sate,
lengkap dengan ketupat dan taburan bawang goreng. Tapi bagi masyarakat Minang,
sate lebih dari sekadar dagangan. Di malam hari, tenda-tenda sate menjadi tempat
pertemuan. Orang berkumpul, bercerita, dan tertawa sambil menikmati sate panas.
Di situlah sate berfungsi sebagai perekat sosial, menghadirkan hangatnya
kebersamaan.
Jika kita tarik ke
belakang, sate Minang juga merekam kisah perdagangan. Rempah yang digunakan
dalam kuahnya adalah jejak jalur rempah Nusantara, di mana Sumatera Barat
menjadi salah satu simpul penting. Rasa pedas, gurih, dan pekat bukan hanya
soal selera, tapi juga cermin kehidupan masyarakat yang keras, tangguh, dan
penuh daya juang.
Langkah berikutnya
membawaku ke sebuah restoran legendaris di Padang; Restoran Kubang Hayuda,
berdiri sejak 1971. Nama “Kubang” merujuk pada sebuah nagari di Kabupaten Lima
Puluh Kota, kampung asal martabak ini. Dari sanalah kuliner yang dikenal
sebagai Martabak Kubang atau Martabak Mesir lahir, lalu menyebar luas melalui
tangan-tangan perantau Minang.
Martabak Kubang berbeda dengan martabak biasa. Isinya daging cincang, telur, daun bawang, dan rempah yang harum. Kulitnya tipis, digoreng hingga renyah, lalu dipotong kotak-kotak. Yang membuatnya khas adalah kuah cuka kental dengan irisan cabai rawit dan tomat. Kuah ini memberi rasa pedas-asam yang unik, membangunkan indera pada setiap suapan. Harga seporsi martabak Kubang di restoran terkenal berkisar Rp35.000 – Rp50.000, tergantung isian. Tapi bagi banyak orang, harga itu sebanding dengan rasa yang tak tertandingi.
![]() |
| Martabak Kubang yang gurih, renyah, dan penuh cita rasa Minangkabau. |
Sejarah martabak Kubang
adalah bukti bagaimana kuliner bisa menjadi identitas. Ia dibawa oleh perantau
Minang ke berbagai kota besar di Indonesia, bahkan ke luar negeri. Dari Jakarta
hingga Kuala Lumpur, dari Medan hingga Batam, nama “Martabak Kubang” seolah
menjadi kartu identitas diaspora Minang. Seakan-akan dengan menyantap martabak,
orang Minang yang merantau bisa mengobati rindu kampung halaman.
Lebih jauh, martabak
Kubang juga menggambarkan sifat terbuka orang Minang dalam menyerap pengaruh
luar. Konon, istilah “martabak Mesir” muncul karena ada pengaruh kuliner Timur
Tengah dalam adonan martabak, yang kemudian diolah dengan cita rasa lokal. Perpaduan
itu melahirkan hidangan baru yang kini dianggap asli Minangkabau. Inilah bukti
bahwa budaya kuliner selalu bergerak, beradaptasi, dan membangun identitas
baru.
Jika sate dan martabak memberi rasa gurih-pedas, maka berikutnya mengajak lidah ke arah manis; Roti Cane. Di pinggir jalan Padang hingga restoran besar, roti cane mudah ditemukan. Bentuknya pipih, berlapis-lapis, garing di luar namun lembut di dalam.
![]() |
| Roti cane khas Padang, manis legit durian bertemu coklat. |
Sejarah roti cane membawa
kita pada jejak pedagang India yang singgah di pesisir Sumatra Barat
berabad-abad lalu. Dari perjumpaan budaya itulah lahir makanan yang awalnya
hanya disantap dengan kuah kari. Roti cane kemudian berkembang menjadi bagian
dari kuliner Minangkabau, hadir dalam keseharian, dan lambat laun melahirkan
variasi baru.
Di Restoran Kubang
Hayuda, Yunis mencoba roti cane durian coklat. Bayangkan manis legit durian
berpadu dengan lelehan coklat hangat di atas roti yang masih panas. Rasanya
seolah lidah diajak berpetualang ke dua dunia sekaligus—tradisi lama dan kreasi
modern. Kini, roti cane hadir dalam berbagai versi; ada keju susu, kacang,
pisang coklat, bahkan dipadukan dengan es krim.
Harga roti cane polos
sekitar Rp10.000 – Rp15.000, sedangkan dengan topping spesial bisa
mencapai Rp25.000 – Rp30.000. Tapi bagi masyarakat, harga itu kecil dibanding
makna sosialnya. Roti cane sering hadir sebagai teman minum teh di sore hari,
disantap bersama keluarga, atau menjadi suguhan di kedai kopi. Ia
memperlihatkan bagaimana kuliner menjadi ruang perjumpaan, tempat orang berbagi
cerita dan tawa.
Roti cane adalah bukti
lain bahwa Minangkabau selalu terbuka terhadap pengaruh budaya luar. Dari
India, makanan ini bertransformasi menjadi bagian dari identitas Minang. Proses
ini mirip dengan filosofi orang Minang yang merantau pergi jauh, belajar hal baru,
tapi tetap kembali dan mengakar dalam adat.
Dari sate hingga
martabak, dari roti cane hingga segelas teh talua, kuliner Minangkabau adalah
jembatan budaya. Ia menghubungkan masa lalu dengan masa kini, menghubungkan
orang kampung dengan perantau, menghubungkan tamu dengan tuan rumah.
Di tenda sate malam hari,
aku melihat bagaimana kuliner menyatukan orang. Di restoran martabak, aku
menyaksikan keluarga berkumpul. Di kedai roti cane, aku mendengar tawa
anak-anak. Semua itu membuatku sadar bahwa kuliner di Minangkabau bukan hanya
soal rasa, tapi soal identitas, tentang siapa kita, dan bagaimana kita menjaga
kebersamaan sambil mewariskan kisah yang terus berkembang.
Bukittinggi dengan udara
sejuknya, Padang dengan pantai dan riuhnya, akan terasa kurang lengkap tanpa
mencicipi sate panas dengan kuah kental, sepotong martabak gurih dengan kuah
pedas-asam, atau segigit roti cane manis dengan sentuhan modern.
Jika kamu berkunjung ke
Sumatra Barat, jangan lewatkan:
→ Warung sate di Padang – rasakan kuah merah pedas
yang melegenda.
→ Sate Padang Panjang di Bukittinggi – kuah kuning
dengan aroma kunyit yang khas.
→ Restoran Kubang Hayuda di Padang – pusat martabak
Kubang dan roti cane legendaris.
→ Tenda roti cane pinggir jalan – murah, meriah, dan
penuh cerita.
Saat perjalanan kuliner
ini berakhir, aku belajar bahwa setiap gigitan membawa cerita yang mengajarkan
kita tentang keberanian berinovasi, keteguhan menjaga tradisi, dan kehangatan
dalam berbagi.[yk]
“Karena di Ranah
Minang, kuliner bukan hanya soal rasa,
tapi juga tentang
sejarah, identitas, dan kehangatan budaya.”
—Sepatualang—















0 comments:
Post a Comment