kelenteng dewi laut pangkalpinang
Dok 3Some Travelers - Pintu masuk Kelenteng Dewi Laut Pangkalpinang, Bangka.


   

 

“Agama memberi manusia kekuatan batin, cahaya spiritual,

dan damai yang tak terlukiskan.”

—Alexis Carrel—

 

 

 

 

Aroma dupa menguar kental dari dalam ruang kelenteng Dewi Laut Pangkalpinang, ketika saya menjejakkan kaki di teras dekat pintu masuk tempat peribadatan umat Kong Hu Chu tersebut. Seorang ibu muda etnis Tionghoa dan putranya yang saya taksir berusia sekitar 7-8 tahun tengah berdoa. Dupa bergerak statis naikturun mengikuti gerak tangantangan mereka. Terlihat khusyuk dan takzim. Saya sempat tertegun dan hampir mengurungkan niat untuk masuk ke ruangan, khawatir kalau keberadaan saya justru mengganggu kegiatan peribadatan ibu dan putranya tersebut. Namun rupanya mereka telah sampai pada akhir peribadatan. Dupadupa di tangan mereka kemudian diletakan pada tempat khusus dupa di atas altar persembahan. Diantara lilin aneka ukuran berwarna merah, cawan minuman, mangkuk berisi buahbuahan, permenpermen, dan penganan lainnya. Ketika berpapasan di muka pintu masuk, sang ibu muda menyunggingkan senyum ramah dan berkata; “Silakan…”, saya membalas senyum ramahnya sambil mengucapkan terimakasih.

 


kelenteng dewi laut pangkalpinang
Dok 3Some Travelers - patung Dewi Laut di dalam ruang kelenteng.

Dengan hatihati saya melangkah ke dalam ruangan. Asap tipis dari dupadupa masih terlihat membumbung perlahan ke atap searah embusan angin. Ruang peribadatannya cukup luas. Berbentuk persegi empat dengan cat berwarna kuning terang. Kelenteng Dewi Laut yang berada di kawasan Pantai Tanjung Bunga, Kecamatan Air Itam, Kota Pangkalpinang, didirikan pada tahun 2000, dengan mengimpor langsung dari Cina hampir seluruh patungpatungnya. Pun ornamenornamen lain yang didominasi warna emas dan merah. Maka tak heran jika akan membawa kita pada suasana dan atmosfer khas negara Cina.

 


kelenteng dewi laut pangkalpinang
Dok 3Some Travelers - Plakat nama pada tempat penyimpanan dupa.

Dewi Laut dalam mitologi Tiongkok memiliki nama Thien Hau Sheng Mu atau lebih dikenal dengan nama Ma Zu. Sosok Dewi yang menjadi pelindung dan penolong para pelaut yang berada di Laut Cina Selatan dan kawasan Asia tenggara. Dewi Laut juga memiliki beragam sebutan dan gelar kehormatan.

 

Dalam ajaran Kong Hu Chu, diceritakan awal mula Dewi Laut yang merupakan manusia biasa. Lahir pada masa pemerintahan Kaisar Tai Zu dan Dinasti Song Utara. Meski memiliki beberapa versi cerita, namun inti dari kisahnya adalah Dewi Laut awalnya merupakan manusia atau perempuan yang semasa hidupnya sangat religius dan bersedia mengorbankan nyawa untuk menyelamatkan orang lain. Kematian Dewi Laut pun tidak lain karena disebabkan jiwa penolongnya tersebut. Setelah kematiannya, ia dibangkitkan dan diangkat sebagai Dewi.

 


kelenteng dewi laut pangkalpinang
Dok 3Some Travelers - Bagian luar Kelenteng Dewi Laut Pangkalpinang, Bangka.

Penuh rasa hormat saya ke luar ruangan. Semilir angin laut terasa sejuk membelai wajah. Ya, bangunan kelenteng Dewi laut memang menghadap langsung ke arah laut lepas pantai Pasir Padi. Hal ini pula yang menjadi daya tarik, kenapa wisatawan datang berkunjung. Selain wisata religi, kelenteng ini menyuguhkan panorama lepas laut penyegar jiwa. Seolah mengatakan; “Dewi Laut selalu mengawasi dan menjagamu.”yk[]

 



yunis kartika
Foto by Bro Tony - Yunis Kartika di Kelenteng Dewi Laut Pangkalpinang, Bangka.


 

 

“Orangorang hebat adalah mereka yang melihat bahwa spiritual lebih kuat dari pada kekuatan material manapun, bahwa pikiran menguasai dunia.”

—Ralph Waldo Emerson—

 

 

 

 



 

 

 

PS : sila menulis komentar, membagikan atau meninggalkan alamat web/blog-nya untuk bertukar sapa dan saling mengunjungi.

 

pantai pasir padi pangkalpinang
Dok pribadi - Olwen di Pantai Pasir Padi, Pangkalpinang, Bangka.


 

  

 

“Gagasan melihat laut, berada didekatnya, menyaksikan perubahan saat matahari terbit, matahari terbenam, sinar bulan, dan siang hari dalam ketenangan, mungkin dalam badai, mengisi dan memuaskan pikiranku.”

—Charlotte Bronte—

 

 

 

 

Hanya lima menit dari Bangka Botanical Garden, kami sudah tiba di kawasan wisata Pantai Pasir Padi. Untuk masuk ke kawasan ini, cukup membayar retribusi parkir khusus kendaraan roda 4 sebesar Rp.4.000,- atau sebesar Rp.2.000,- untuk roda 2. Jalan masuknya mulus beraspal. Di sepanjang jalur pantai, terdapat warungwarung makan, tendatenda dan kursikursi disediakan beserta aneka jajanan. Ada juga yang menyewakan tikar untuk lebih bersantai sambil rebahan di bawah rindang pepohon pinus yang tumbuh berderet di sepanjang batas bibir pantai.

 


pantai pasir padi pangkalpinang
Dok pribadi - Suasana pantai yang tengah surut ditingkahi para pencari lokan.


Pantai Pasir Padi surut bukan kepalang. Kalau dikirakira mungkin mencapai berkilo meter surutnya dari bibir pantai. Jauh di ujung nampak gerakgerik kecil dari orangorang, sebagian bermain, sebagian mencari lokan (kerang). Jerit tawa gadisgadis usia belasan pecah tatkala roda motor yang mereka tumpangi melesak masuk ke dalam bagian pasir pantai yang lembut. Segaris senyum tipis tergurat di bibir Yunis. Icky memutuskan bergabung dengan para pencari lokan. Sementara Yunis memilih menikmati semilir angin sembari menyesap kelapa muda dari kursimeja kayu yang menghadap langsung ke pantai.

 


pantai pasir padi pangkalpinang
Dok pribadi - Salah seorang warga yang mencari lokan di Pantai Pasir Padi, Pangkalpinang, Bangka.

Terdapat beberapa versi cerita mengenai asal usul nama Pantai Pasir Padi. Ada yang menyebutkan karena pasirnya padat berbentuk seperti buliran padi, maka dinamakan Pantai Pasir Padi. Lainnya merujuk pada sejarah, bahwa pada zaman Hindia Belanda, pernah dilakukan program penanaman padi di sekitar pesisir pantai. Sehingga pantainya bernama Pantai Pasir Padi. Namun kini, lokasi penanaman padi tersebut sudah ditumbuhi oleh pepohon kelapa. Cerita lainnya tidak terlalu jelas, hanya saja tak lepas dari mitos ataupun singgungan sejarah “katanya”.

 

Semakin siang suasana semakin meriah dan riuh. Jangan heran kalau anda mendengar raungan knalpot motormotor. Saking surutnya, ada sebuah area yang dibuat khusus untuk balap motor MPX. Selain surut, pasirnya yang mayoritas padat mendukung untuk dijadikan area balapan.

 


pantai pasir padi pangkalpinang
Dok pribadi - Salah satu spot untuk pengunjung sambil menikmati aneka jajanan.


pantai pasir padi pangkalpinang
Dok pribadi - dudukduduk di bawah rindang pepohon pinus.


Karena lokasinya yang terletak tidak jauh dari pusat kota Pangkalpinang, Pantai Pasir Padi menjadi tempat favorit masyarakat menikmati waktu luang. Banyak diantara pekerja kantoran menyengajakan makan siang di sini. Jika anda penyuka suasana pantai sepi, Pantai Pasir Padi bukan pilihan yang cocok. Namun jangan khawatir, banyak pantai di Bangka, anda hanya tinggal memilihnya.yk[]

 



 

yunis kartika
Foto by Bro Tony - Yunis Kartika di Pantai Pasir Padi, Pangkalpinang, Bangka.

 


 

“Laut tidak menghargai mereka yang terlalu cemas, terlalu rakus, atau terlalu tidak sabar. Seseorang harus berbaring kosong, terbuka,

tanpa memilih sebagai pantai menunggu hadiah dari laut.”

—Anne Morrow Lindbergh—

 

 

 

 

 

 

 

 

PS : sila menulis komentar, membagikan atau meninggalkan alamat web/blog-nya untuk bertukar sapa dan saling mengunjungi.

 

bangka botanical garden
Dok pribadi - pepohon pinus mengapit jalan tanah di Bangka Botanical Garden.


  

 

 

“Tanah air adalah petakpetak yang harus diolah,

tanah air adalah lautan yang harus dibelah.”

—Najwa Shihab—

 

 

 


 

Apa yang terbetik saat mendengar kata “penghijauan”? Hutan dan gunung gundul nan tandus yang perlu penanaman pohon kembali? Atau upaya penyelamatan lahan gersang dan terbengkalai akibat pengerukan sumber daya alam habishabisan? Tahukah anda bahwa kawasan hijau Bangka Botanical Garden (BBG) dengan segala ekosistemnya saat ini berdiri di atas lahan terlantar bekas tambang timah?

*

 


bangka botanical garden
Dok pribadi - suasana yang asri dan sejuk di Bangka Botanical Garden.


Tidak sampai limabelas menit dari jembatan Emas, kami telah tiba di BBG yang terletak di Jalan Raya Pasir Padi, Kelurahan Temberan, Kecamatan Bukit Intan, Pangkalpinang, Bangka. Lokasi BBG sebenarnya tidak jauh dari pantai Pasir Padi, masih satu arah hanya berbeda pintu masuk. Jujur saja, Bangka Botanical Garden tidak masuk dalam daftar kunjungan Yunis. Kalau bukan karena Bro Tony yang dengan sedikit persuasif membujuk Yunis dan Icky, kami tentunya tidak akan punya kisah ini untuk ditulis. Meski, ya, memang kami hanya sebentar saja di sana namun gaung cerita di balik berdirinya BBG mengundang decak kagum Yunis.

 

Memasuki area BBG, kesejukan dan suasana asri dari rindang pepohon besar yang tumbuh di sepanjang jejalan langsung terasa. Kolamkolam ikan air tawar berbagai ukuran menghampar. Sesuai dengan namanya Bangka Botanical Garden adalah lahan pengembangan holtikultura, peternakan, penyediaan bibit, perikanan, dan pakan ternak. Yang membuat BBG istimewa adalah paruparu Kota Pangkalpinang ini berdiri di atas lahan tanah bekas penambangan timah yang ditelantarkan, lahan gambut dan lahan berpasir.

 

Laksana pagar raksasa pohonpohon pinus tinggi menjulang mengapit sebuah jalan tanah merah, menambah keelokan BBG yang memang menjadi salah satu spot favorit pengunjung untuk berfoto. Sebuah kolam ikan terbesar khusus diperuntukan bagi pengunjung yang hobi memancing. Pada pinggiran kolamnya, saungsaung mungil didirikan guna kenyamanan pengunjung. Di saungsaung tersebut pengunjung bisa menggelar tikar untuk menyesap suasana sambil beristirahat dan menikmati penganan yang dibawa sendiri ataupun membeli dari kantin di BBG.

 


bangka botanical garden
Dok pribadi - Kolam ikan terbesar di area Bangka Botanical Garden untuk pemancingan umum.

bangka botanical garden
Dok pribadi - Salah satu saung yang bisa dipergunakan pengunjung secara bebas dan gratis.


Kelebihan BBG lainnya adalah, tempat rekreasi yang ramah keluarga ini memungkinkan pengunjungnya untuk belajar beternak, bertani, berkebun, bahkan berkuda. Kita bisa belajar langsung pada ahlinya yang memang sudah disediakan. Terdapat pula kebun yang ditumbuhi beragam buahbuahan dan sayuran, serta peternakan sapi perah yang ramah lingkungan. Lebih dari 200 ekor sapi dipelihara, baik sapi pedaging, sapi perah maupun sapi Bali.

 

Bangka Botanical Garden memang menjadi program percontohan di Indonesia yang dilakukan pihak swasta dalam mengelola dan menciptakan ekosistem baru. Komitmen, kerja keras, serta kerja cerdas pengelola sejak tahun 2006 kini membuahkan hasil. Lahan seluas 300 hektar yang tidak produktif, berubah menjadi agrowisata berlahan subur dengan konsep Zero Waste (bebas sampah dan/atau bisa didaur ulang). Juga menjadi tempat penelitian dan pendidikan dalam usaha pertanian, peternakan, dan perikanan terpadu dengan cara yang organik. Sungguh paket lengkap! Komitmen ini pulalah yang mengantarkan pengelola Bangka Botanical Garden mendapat pengakuan dan apresiasi tertinggi dari pemerintah Republik Indonesia, Kapaltaru.

 

Pengunjung sama sekali tidak dikenakan biaya tiket masuk untuk menikmati keindahan dan fasilitas yang ada di BBG. Namun, ada banyak cara jika kita ingin berkontribusi. Tidak membuang sampah sembarangan dari bekas makanan dan minuman yang kita bekal atau beli, misalnya. Atau kita bisa membeli sekadar pengananan hasil olahan susu yang tersedia di kantin untuk dibawa pulang sebagai oleholeh. Nah, jika anda penyuka agrowisata, Bangka Botanical Garden wajib masuk dalam daftar kunjungan ketika anda berada di Bangka.yk[]

 

 

 

yunis kartika
Foto by Bro Tony - Yunis Kartika di Bangka Botanical Garden.


 

 

“Orang bilang tanah kita tanah surga,

tongkat kayu dan batu jadi tanaman.”

— Koes Plus—

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PS : sila menulis komentar, membagikan atau meninggalkan alamat web/blog-nya untuk bertukar sapa dan saling mengunjungi.

 

 

 

 

 

 

 

jembatan emas bangka
Olwen di Jembatan Emas, Bangka.


  

 

 

“Bagi saya, arsitektur adalah sarana, bukan akhir.

Ini adalah sarana untuk membuat berbagai bentuk kehidupan menjadi mungkin.”

—Bjarke Ingels—

 

 

 

 


 

Hari terakhir di Bangka, Yunis memulai aktivitas tidak terlalu pagi seperti harihari sebelumnya. Nampaknya daftar tempat dalam “bucket list”-nya sudah menyurut, meski aku berani bertaruh pasti masih banyak tempat cantik lainnya yang bisa dikunjungi. Mungkin untuk kali lain dan aku diajak serta lagi, xoxoxo…

 

Adalah jembatan Emas, sebuah jembatan yang difungsikan sebagai penghubung antara Kabupaten Bangka dengan kota Pangkalpinang yang menjadi tujuan utama Yunis siang ini. Diperlukan sekitar limabelas menit dari pusat kota Pangkalpinang untuk mencapai lokasi jembatan Emas. Sebagaimana perjalanan harihari di Bangka yang sepi, hampir tidak ada lalulalang kendaraan menuju jembatan Emas. Mobil yang kami tumpangi hanya sekali dua berpapasan dengan kendaraan lain. Padang ilalang dan pepohonan tinggi sedang mengapit jalan beraspal di sepanjang jalurnya. Mendekati jembatan, suasana berubah. Kapalkapal bongkar muat besar nampak bersender di pelabuhan. Kapalkapal kecil berderet rapi mengikuti. Air laut sedang surut, mencuatkan dasarnya membuat laut terlihat dangkal. Mobil menepi di pangkal jembatan. Bersegera Yunis turun, pandangan matanya menyisir suasana.

 


jembatan emas bangka
Dok pribadi - pemandangan dari atas jembatan Emas, Bangka.

Sekilas jembatan Emas nampak biasabiasa saja, tak ada beda dengan jembatan penghubung pada umumnya. Sederhana, praktis, dan fungsional. Tanpa corak, catnya pun telah banyak terkelupas. Meski demikian, kesan kokoh kental terasa beserta daya tarik unik yang tak bisa dinafikan. Daya tarik itu pulalah yang membawa Yunis ke jembatan Emas.

 


jembatan emas bangka
Dok pribadi - jembatan Emas, Bangka, dengan teknologi angkat atau jungkit.



jembatan emas bangka
Dok pribadi - bagian nama jembatan dengan cat yang telah pudar.



Menurut berbagai sumber informasi yang Yunis baca dan pelajari, jembatan Emas memiliki keunikan teknologi yang hanya ada di Indonesia dan menjadi satusatunya di Asia Tenggara dengan tipe cable stayed with bascule bridge (jembatan angkat atau jungkit), membentang sepanjang 784,5 meter dan lebar 23,2 meter. Jembatan yang berada di wilayah Pangkalbalam ini menghubungkan daerah pinggiran pantai kota Pangkalpinang (Ketapang) dan Air Anyir Kabupaten Bangka. Pembangunannya sendiri memakan waktu 7 tahun dengan biaya yang cukup fantastis.

 

Keunikan jembatan Emas terlihat pada penggunaan mesin hidrolik. Mesin ini mengungkit jembatan pada kemiringan tertentu ketika kapal besar melintas di bawah jembatan. Baik kapal yang akan masuk ataupun keluar dari pelabuhan yang letaknya tak jauh dari jembatan. Penamaan jembatan “Emas” adalah sebagai penghargaan, serta untuk mengenang sosok Gubenur Kepulauan Bangka Belitung ke-2 yaitu, Eko Maulana Ali Soeroso (E.M.A.S) yang menjabat selama dua periode, namun meninggal tahun 2013 sebelum masa jabatannya yang kedua berakhir.

 

Meski sekarang jembatan tidak difungsikan setiap hari—karena adanya sistem buka tutup berdasarkan waktu yang telah ditentukan—namun jembatan Emas telah menjadi jalur alternatif yang diminati masyarakat Bangka. Selain itu, jembatan Emas juga didaualat menjadi salah satu ikon pulau Bangka dan menjadi destinasi wisata tambahan yang banyak dikunjungi oleh wisatawan dalam dan luar Bangka.

 


jembatan emas bangka
Dok pribadi - tanda dilarang masuk memagari bagian tengah jembatan.

Pada sore hari ketika jembatan tidak berfungsi, sepanjang jembatan akan diramaikan oleh pedagang warungwarung kecil dadakan dengan aneka jajanan. Sambil menikmati jajanan, wisatawan dapat melihat pemandangan sungai Batu Rusa dan muara Pantai Kuala—meskipun kami tidak sempat menikmatinya—semoga ketika anda kemari, anda bisa merasakannya.yk[]

 

 


 

yunis kartika
Foto by Icky - Yunis Kartika di Jembatan Emas, Bangka.

  

  

 

“Arsitektur sampai taraf tertentu merupakan ekspresi dari peradaban manusia.”

—Honore de Balzac—

 

 

 

 



 



 

 

PS : sila menulis komentar, membagikan atau meninggalkan alamat web/blog-nya untuk bertukar sapa dan saling mengunjungi.

 

 

 

 

 

kulong biru bangka tengah
Olwen di Kulong Biru, Bangka Tengah.


   

 

“Semua hal yang ada di alam semesta adalah buah dari kesempatan dan kebutuhan.”

—Democritus—

 

 

 

 

Pukul tiga lebih seperempat sore kami tiba di Kulong Biru a.k.a Danau Kaolin. Dari jalan beraspal, kendaraan berbelok ke kiri dan langsung masuk area parkir yang sepenuhnya tertutupi pasir putih. Udara cukup nyaman, karena memang seharian hujan on-off sementara langit digelayuti mendung tipis menyamarkan benderang matahari. Menimbulkan warna langit yang beragam; sebagian pucat, sebagian biru samar, sebagian putih, dan di salah satu ujung penjuru mata angin awan terang menutupi matahari.

 

Jangan membayangkan danau konvesional (baca: danau di bawah kaki gunung atau dikelilingi perbukitan atau berbau belerang) ketika ke Danau Kaolin. Namanya saja sudah “Kaolin”. Untuk yang belum tahu—dan kukira Yunis pun baru tahu—dikutip dari wikipedia.org, kaolin adalah suatu masa batuan yang tersusun dari material lempung yang mempunyai kandungan besi rendah, dan umumnya berwarna putih atau agak keputihan. Dalam jumlah yang tepat kaolin juga dimanfaatkan dalam kosmetik, pasta gigi dan farmasi, selain menjadi bahan pembuatan keramik. Ya, seperti yang kita tahu bahwa pulau Bangka dan Belitung memiliki sumber daya alam timah melimpah. Penambangan timah sendiri telah berlangsung sejak penjajahan kolonial Belanda.

 


kulong biru bangka tengah
Dok pribadi - Pos tiket dan beragam fasilitas penunjang di Kulong Biru, Bangka Tengah.

Usai membayar tiket masuk seharga Rp. 2000,- rupiah/orang di pos tiket yang sederhana, Yunis berjalan masuk dengan riang dan masih full energy xoxoxo... Terdapat warungwarung makanan di sebelah kiri, namun nampaknya akan segera tutup karena hari semakin sore dan pengunjung juga sudah tidak banyak.

 

Tetiba Yunis berhenti, tindakan mendadaknya itu membuat pasir putih kaolin terhentak hingga menempel dibeberapa bagian atas tubuhku. Ugh! Rupanya kondisi jembatan penghubung yang ada di hadapannya membuat Yunis bimbang untuk menyeberang. Icky dan Bro Tony berinisiatif melangkah duluan untuk mengetahui keamanan dan kekuatan jembatan yang terbuat dari beton/coran semen dengan pegangan kayu tersebut. “Hatihati Oen,” ucap Icky mengingatkan. Yunis mengangguk dan mengikuti mereka berdua setelah yakin aman.

 


kulong biru bangka tengah
Dok pribadi - Kondisi Jembatan yang memerlukan perbaikan serius dan segera di Kulong Biru, Bangka Tengah.

Sepotong beton/coran semen tergeletak di permukaan pasir dengan tulisan manis berbunyi “Indahnya Bumi Pertiwiku” membuat Yunis tersenyum miris. Bagaimana tidak? Rasanya tulisan manis tersebut berbanding terbalik dengan sejarah yang melatarbelakangi terjadinya Kulong Biru ini. Selain bahwa, tidak ada peringatan untuk berhatihati kepada pengunjung dengan kondisi jembatan yang membahayakan tersebut. ini masukan hasil pengalaman di lapangan ya, kepada pihak yang berwenang mohon agar segera dilakukan perbaikan demi keamanan dan kenyamanan bersama.

 


kulong biru bangka tengah
Dok pribadi - Dua ceruk danau beda warna yang dipisahkan oleh pematang jalan dari kaolin dan jembatan di Kulong Biru.

Selain jembatan, tidak ada yang minus di Kulong Biru. Danau yang terletak di Desa Nibung Koba berbatasan dengan Kabupaten Bangka Tengah dan Bangka Selatan ini berpemandangan menakjubkan! Yunis sangat terpesona dengan dua buah danau dengan perbedaan warna airnya. Dua cerukan danau yang dipisahkan oleh jembatan rusak tadi. Di sebelah kiri, yang masih merupakan tambang timah aktif airnya berwarna hijau. Sementara sebelah kanan, airnya berwarna biru sangat kontras dengan bebukit kaolin yang memagarinya. Sejauh mata memandang warna putih kaolin mencuatkan warna biru. Airnya yang biru jernih bukan dari pantulan langit, tetapi warna biru tersebut berasal dari pantulan dasar danau yang merupakan pasir kaolin dengan kedalaman -/+ 15 m.

 

Dilansir dari bangkatengahkab.go.id, Danau Kaolin merupakan lubang bekas penambangan bijih timah milik PT Koba Tin yang sudah ditinggalkan sejak 1971, kemudian airnya berubah menjadi biru sehingga disebut Danau Kaolin dan menjadi objek wisata tambang.

 


kulong biru bangka tengah
Dok pribadi - Metamorfosis ceruk bekas tambang timah menjadi danau berair biru jernih dan sejuk di Bangka Tengah.

Baik buruk sebuah masalalu, ia adalah sejarah. Sejarah yang menjadikan kini, demikian pula dengan si Kulong Biru danau kaolin. Laiknya kepongpong menjelma menjadi kupukupu cantik, danau ini pun bermetamorfosis. Cerukan bekas tambang mineral yang terlantar dan ditinggalkan begitu saja, mengubah dirinya menjadi danau cantik berwarna biru yang layak dikunjungi sebagai salah satu destinasi wisata unik dengan udaranya yang segar serta tetap memberikan penghidupan kepada masyarakat. Tinggal kita menjaga, merawat dan mensyukurinya.yk[]

 

 

 

yunis kartika
Foto by Bro Tony - Yunis Kartika di Kulong Biru, Bangka Tengah.

 

 

 

 

“Dalam setiap perjalanan dengan alam,

seseorang menerima jauh lebih banyak daripada yang dia cari.”

—John Muir—

 

 

 

 

 

 

 

PS : sila menulis komentar, membagikan atau meninggalkan alamat web/blog-nya untuk bertukar sapa dan saling mengunjungi.