Barubaru ini, Blue Bird meluncurkan sistem pembayaran non-tunai atau cashless di aplikasinya yang bernama My Blue Bird. Melalui fitur ini masyarakat pengguna jasa Blue Bird bisa melakukan pembayaran melalui Blue Bird eVoucher, kartu kredit dan kartu debit. Menurut Direktur PT Blue Bird Tbk, Bapak Sigit P. Djokosoetono, fitur pembayaran non-tunai ini merupakan jawaban dari berbagai masukan pelanggan, sehingga pelanggan semakin nyaman dalam menikmati jasa Blue Bird.
***

Pernah nonton “The Amazing Race” di salah satu televisi kabel berbayar? Ini adalah program acara reality show yang paling menarik yang pernah saya tonton. Selain memamerkan keindahan, budaya dan keunikan sebuah negara yang disinggahi, acara ini dirancang agar seluruh pesertanya melakukan petualangan serta mendapatkan pengalaman menarik ke berbagai belahan dunia dengan hadiah yang WOW! Seluruh peserta diwajibkan untuk check in di titik tertentu setelah melakukan serangkaian kegiatan yang berhubungan dengan adat budaya suatu negara, baru kemudian diberi petunjuk atau clue yang berguna untuk melanjutkan perjalanan ke destinasi selanjutnya.
***





Ilustrasi di atas sengaja dituliskan sebagai gambaran dari sebuah acara jelajah yang menyenangkan. Barangkali yang saya lakukan bukan jelajah belahan dunia, tapi “rasa” dan “pengalaman” dari jelajah itulah yang saya garisbawahi. Melalui acara “Media & Bloggers Gathering” yang diadakan di NuART Galeri, oleh Blue Bird dalam rangka memperkenalkan aplikasi barunya, saya merasakan pengalaman jelajah kota yang menakjubkan. Peserta gathering bekerja dan bermain secara berkelompok dengan dibekali sebuat tab yang telah dilengkapi fitur My Blue Bird dan diberi sebuah armada taksi sebagai alat transportasi. 

Ada 4 (empat) titik pemberhentian yang harus disinggahi dalam waktu 2 (dua) jam. Titiktitik itu adalah Taman Jomblo, Lapangan Gasibu, Museum Geografi, dan Monumen Juang Rakyat Jawa Barat. Dimasingmasing tempat ini peserta diwajibkan mencari petugas yang akan memberi stempel pada kartu peserta dan mewajibkan peserta untuk membuat pose seunik mungkin. Sebelum naik dan turun dari armada taksi, peserta wajib memberikan kode unik dari eVoucher yang digunakan sebagai alat pembayaran. Aplikasi ini sangat mudah dan nyaman. Karena kemudahan dan kenyamanannya itulah, kelompok saya menjadi juara kedua dengan hadiah eVoucher senilai Rp.700.000,- (tujuhratus ribu rupiah). Wow! Jumlah yang cukup banyak untuk bersenangsenang dihabiskan berjalanjalan di dalam kota.


***



Selain itu, bagi pelanggan korporat, Blue Bird eVoucher merupakan solusi dalam memberikan benefit transportasi bagi karyawannya. Selain mendapatkan taksi terpercaya, Blue Bird eVoucher memungkinkan pelanggan korporat mengelola kebutuhan transportasinya dengan mudah, mulai dari alokasi eVoucher untuk tiap divisi atau individu, sampai memonitor penggunaannya.
Dalam penggunaannya, setiap pelanggan yang ingin membayar secara non-tunai akan menerima passcode unik yang harus diinformasikan ke pengemudi. Info passcode ini diberikan kepada pengemudi sebelum melakukan perjalanan. Fungsi lain dari passcode ini adalah untuk memastikan taksi yang pesan sesuai order, serta demi keamanan akun non-tunai kita tidak dimanfaatkan orang yang tidak bertanggungjawab.
Dalam waktu dekat, Blue Bird juga akan segera meluncurkan fitur “Easy ride”, dimana penumpang yang menyetop taksi di jalan dapat melakukan pembayaran non-tunai via aplikasi.
Dengan aplikasi My Blue Bird, tidak perlu ragu lagi untuk jelajah kota. Aman, nyaman, terpercaya dan pastinya menyenangkan.yk[]


Kopi, adalah bahasa cinta..


            Perhelatan Pekan Olahraga Nasional (PON) kali ini benarbenar berbeda. Bukan karena diadakan di Jawa Barat, tapi lebih pada momentum ini telah mempertemukan aku dengan ketiga kawan lama untuk kemudian menjadi sebuah keluarga baru bernama “Sangrai Wangi”. Sebuah karunia yang tak ternilai. Sangrai Wangi adalah aku, Wita, Badu dan Alin. Kami entah bagaimana, secara ajaib dan dengan tanganNYA dengan sangat tibatiba berkomitmen. Benang merah kami selain karena kami satu sekolah di Sekolah Menengah Atas dulu, juga karena kecintaan kami terhadap KOPI. Ya, KOPI! Kami berempat penikmat kopi. Melalui kopi inilah lahir “Sangrai Wangi”.



            Bertepatan dengan keakbaran serta kemeriahan pekan olahraga, kami berempat berkesempatan untuk mengenalkan keluarga kecil kami lebih luas. Sedikit malumalu, dengan sederhana dan tetap bersahaja, kami bercerita tentang diri kami. Keinginan kami. Citacita kami.


            Sangrai Wangi, keluarga kecil yang berbenah mengenalkan kopi Jawa Barat kepada penikmat kopi senusantara. Barangkali kami adalah keluarga kecil yang naif dan polos. Kami dengan citacita sederhana penuh harap bahwa kopi Jawa Barat dan para petaninya akan mendapat tempat istimewa.
            Secara khusus, Sangrai wangi berterima kasih kepada cabang olahraga JUDO yang dengan terbuka dan merangkul mempersilahkan Sangrai Wangi menjadi bagian perayaan. Menjadi bagian bahwa keluarga kecil kami merupakan aset Jawa Barat yang mampu memberikan warna lain melalui kopi. Serta seperti halnya cabang olahraga, kopi Jawa Barat mampu menjadi legenda di tanah legenda.


            Selamat untuk Jabar Kahiji serta “Berjaya di Tanah Legenda”, selamat untuk JUDO yang telah menjadi Juara Umum. Serta terimakasih banyak untuk cabang olahraga Gulat. Tak lupa untuk tempat yang menjadi landasan soft launching Sangrai Wangi, GOR SAPARUA. Kami masih berbenah, kami masih belajar, namun kami tahu bahwa Sangrai Wangi adalah aset Jawa Barat untuk lebih mengenalkan KOPI Jawa Barat ke kancah yang lebih luas. Terima kasih kami kepada sahabatsahabat SMAN 6 Bandung atas dukungannya dan kepada seluruh penikmat kopi yang telah menyempatkan diri mampir ke stand Sangrai Wangi, terutama untuk petinggi pengurus JUDO dan Gubenur Sulawesi Selatan yang dengan terbuka mengundang kami untuk besilaturahmi ke Makassar. Salam.yk[]

monumen perjuangan rakyat jawa barat
Dokumentasi pribadi, Latih di Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat

Jika bukan karena suatu acara pelantikan yang diadakan oleh organisasi Perempuan Biru, mungkin aku belum akan mendatangi monumen ini. Tidak terhitung sudah aku melewatinya. Namun, mata hanya sekadar memandang seadanya, tanpa minat yang kuat untuk masuk dan mempelajari apa yang tersimpan di dalamnya.

monumen perjuangan rakyat jawa barat
Dokumentasi pribadi, tampak depan Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat

Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat, lebih dikenal dengan sebutan Monju. Terletak di jalan Dipatiukur no. 48 Bandung. Letaknya berseberangan dengan sebuah kampus negeri yang populer di kota Bandung dan berhadapan dengan Gedung Sate. 

yunis kartika
Dokumentasi pribadi, selfie di Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat

Monju adalah Museum Sejarah Perjuangan Rakyat Jawa Barat di Tatar Pasundan atau Parahyangan. Diresmikan Gubernur Jawa Barat, Raden Nana Nuriana tanggal 23 Agustus 1995. Model arsitekturnya berbentuk bambu runcing dipadukan dengan gaya modern di atas tanah seluas seluas ± 72.040 m² dan luas bangunan ± 2.143 m² .

monumen perjuangan rakyat jawa barat
Dokumentasi pribadi, catatan sejarah yang tersimpan di Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat

Apa saja koleksi yang dimiliki oleh Monju? Di dalam ruangan pamer, koleksi yang dimiliki hanya berupa 7 buah diorama  diruang pameran tetap. Koleksi diorama tersebut adalah; 1) Diorama Perjuangan Sultan Agung Tirtayasa Bersama Rakyat Menentang Kolonial Belanda Tahun 1658, 2) Diorama Partisipasi Rakyat Dalam Pembangunan Jalan di Sumedang, 3) Diorama Perundingan Linggarjati 1946, 4) Diorama Bandung Lautan Api 24 Maret 1946, 5) Diorama Long Mach Siliwangi Januari 1949, 6) Diorama Konfrensi Asia Afrika di Bandung 1955, dan terakhir 7) Diorama Operasi Pagar Betis (Operasi Brata Yuda) 1962.

monumen perjuangan rakyat jawa barat
Dokumentasi pribadi, Dewi Sartika inspirasi perempuan Jawa Barat di Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat

Terdapat pula relief pada dinding depan, relief yang menceritakan sejarah perjuangan rakyat Jawa Barat. Perjuangan dari masa kerajaan, pergerakan, kemerdekaan, dan ketika mempertahankan kemerdekaan dari penjajahan baik Belanda, Inggris dan Jepang.

monumen perjuangan rakyat jawa barat
Dokumentasi pribadi, relief yang terdapat di Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat

Monju dilengkapi dengan ruang audiovisual, serta perpustakaan. Fasilitas ini digunakan sebagai sarana untuk menggali informasi secara mendalam sejarah perjuangan rakyat Jawa Barat.

monumen perjuangan rakyat jawa barat
Dokumentasi pribadi, Latih dan arah mata angin di Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat

Selain menjadi wisata sejarah, Monju memiliki spotspot memukau untuk ber-selfie-wefie-ria. Untuk masuk dan belajar tentang sejarah perjuangan rakyat Jawa Barat ini tidak dipungut biaya, alias gratis.yk[]

#dirgahayuindonesiaku
#RI71
#17agustus2016
#kemerdekaan
#indonesiamerdeka
#tanahair

Latih; senja di Jatiluhur



melihat,
mendengar,
merasai,
tuhan menggenapkanku dengan warnawarna
_purwakarta 2015-2016



Jatiluhur; pergantian waktu yang memesona


Jatiluhur; spotspot menyenangkan


Jatiluhur; waduk dan pembangkit listrik


Situ Buled; taman air dengan cerita Ramayana yang dibuka hanya seminggu sekali


Purwakarta; beragam instalasi patung di dalam kota


Purwakarta; instalasi patung buaya yang membuat heboh

[yk]



Latih ingin melihat Bintang, Bintang di siang terang. Latih ingin bermain bersama Bintang, Bintang yang tidak gemerlap namun ia tetap Bintang. Latih ingin menikmati hari dimana Bintang dalam jarak dekat pandang.

Bukit bintang terletak tidak jauh dari warung Daweung atau Moko, tempat yang lebih dulu populer dibanding dengan Bukit bintang. Itulah sebabnya sering juga disebut sebagai puncak Moko atau puncak bukit Bintang Moko.




Bukit bintang, secara khusus ditata dengan apik. Beberapa fasilitas yang disediakan adalah track jogging atau hikking menuju Patahan Lembang, area perkemahan, toilet, tempattempat sampah yang telah diberi label organik dan plastik, mushola, area parkir motor dan mobil, serta deretan warung tempat beristirahat sambil menikmati berbagai jenis panganan sederhana.



Hutannya yang dipenuhi dengan hutan pinus menjadi area wisata yang teduh, sejuk dan nyaman bagi wisatawan. Seiring dengan kabut dan dingin yang melingkupi hampir setiap sore menjelang malam.



Perjalanan menuju puncak bintang tidaklah sulit. Jalur yang biasa dilewati adalah masuk dari jalan Padasuka - Cicaheum lurus terus mengikuti jalan utama menuju kampung Buntis Bongkor, Kecamatan Cimeyan dan masuk ke dalam wilayah Kabupaten Bandung. Dengan jarak tempuh kurang lebih 8-9 KM dengan lajur menanjak dan kadangkala hanya cukup untuk satu mobil saja melintasi dengan tanjakan panjang dan belokan tajam. Perlu ekstra hatihati apalagi jika lintasan basah usai hujan, karena sebagian jalan masih belum teraspal.


Ada aroma romantis dan sentimentil kental terasa ketika hari merambat sore. Para selfie-er dan wefie-er tidak pernah alpa mengabadikan setiap pergantian tempat dan suasana. Spotspot terbaik selalu dipenuhi dengan pengunjung untuk mendapatkan angle terbaik dalam koleksi dokumentasi mereka. Sungguh, tempat ini layak untuk disinggahi.yk[]




Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim II, Riau

Negeri Seribu Suluk, sebuah nama julukan dari Kabupaten Rokan Hulu, Riau. Mempunyai riwayat yang melegenda sekaligus berliku yang telah dituturkan oleh para pemangku adat dari Rokan Hulu. Sosok yang terkenal se-nusantara pun pernah lahir dari tanah Rokan Hulu, yaitu pahlawan Tuanku Tambusai yang pernah bertempur sebagai panglima terakhir di perang Paderi melawan penjajahan atas nama cintanya untuk tanah Rokan Hulu. Selain itu, berbagai macam-macam etnis dari Jawa, Minangkabau, Batak, Sunda, Mandailing dan lain-lain berkembang serta hidup berdampingan di Rokan Hulu. Menciptakan marwah keberagaman yang harmonis.

Tugu Ratik Togak di Pasir Pengaraian, Kab. Rokan Hulu

Sejarah paling komprehensif tentang Rokan Hulu pun, tak bisa dipisahkan dari kerajaan-kerajaan yang meliputinya di masa lalu yang pernah berkembang di abad ke 18, sebagai lalu lintas perdagangan nusantara dan mancanegara. Lambat laun, perkembangan ekonomi di masa itu pun tumbuh dan berkembang. Membentuk peradaban tersendiri yang cukup menggeliat dan diperbincangkan. Kemudian menjadi semacam pusat perdagangan di masanya, didukung pula oleh jalur darat dan jalur sungai-sungainya yang strategis Hal-hal tersebut bisa dikatakan sebagai faktor-faktor pendukung untuk menguatkan dan memberi inspirasi bagi masyarakat Rokan Hulu, para tokoh, dan para pemangku adat agar daerah Rokan Hulu menjadi kabupaten. Mereka menyadari, Rokan Hulu mempunyai berbagai potensi yang cukup besar jika berdiri dan mandiri sebagai daerah berkembang. Di samping itu, secara kultur dan kebahasaan mereka berbeda dari induk semangnya.

Komplek Bina Praja, Kab. Rokan Hulu yang asri

Seiring waktu, perubahan demi perubahan pun terjadi di Rokan Hulu untuk menjadi kabupaten. Menurut dokumen sejarah setempat, cita-cita ini dimulai pada tahun 1949, ketika Kewedanaan Pasir Pangaraian masuk dalam wilayah Kabupaten Kampar. Lalu pada tahun 1962 pernah terjadi Musyawarah Besar yang melegenda. Isinya agar eks Kewedanaan Pasir Pangaraian menjadi kabupaten daerah TK II Rokan Hulu, sayangnya belum menuai hasil yang diharapkan. Kemudian tahun 1968, Musyawarah Besar kembali digelar oleh tokoh-tokoh Rokan Hulu. Namun lagi-lagi ide untuk mendirikan kabupaten Rokan Hulu terhalang. Seiring perubahan rezim pemerintahan, suhu politik dan perkembangan zaman di Indonesia, khususnya pada masa-masa reformasi yang sedang bergolak di ibu kota, terbitlah sebuah surat keputusan dari Mentri Dalam Negeri tertanggal 26 Mei 1997, yang berisi masuknya Rokan Hulu sebagai wilayah kerja pembantu bupati Kampar. Putusan tersebut kelak yang akan membawa aspirasi masyarakat Rokan Hulu memperjuangkan apa yang selama ini mereka cita-citakan; menjadi Kabupaten mandiri.

Komplek Pemakaman Rajaraja Ramban

Setelah melewati aral rintangan, akhirnya pada tanggal 4 Oktober 1999, Undang-Undang Nomor 53 Tahun 1999 disetujui. Sejak saat itulah Kabupaten Rokan Hulu memulai kisah baru sebagai kabupaten otonom yang diresmikan oleh Pemerintah sebagai Kabupaten Rokan Hulu bersama tujuh kabupaten lainnya di Riau pada tanggal yang akan dikenang sepanjang hayat, yaitu tanggal 12 Oktober 1999, dengan ibu kota Pasir Pengaraian.


Perjuangan yang pantang mundur, menuai hasil membanggakan. Cahaya pembaharuan mulai terlihat. Cerita baru dari Negeri Seribu Suluk, memulai langkah-langkahnya membangun daerah tersendiri dengan kreativitas, aspirasi, dan inspirasi dari masyarakat Rokan Hulu sendiri. Semua dilakukan agar daerah Rokan Hulu dengan berbagai potensinya, menjadi daerah yang berkembang di Provinsi Riau serta menciptakan atmosfer kehidupan ekonomi di sana. Meningkatkan taraf hidup dan tumbuh secara jangka panjang demi menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) yang inovatif dan beraklakul kharimah.

Keindahan Arsitektur Masjid Agung Madani Islamic Center, Pasir Pangaraian, Kab. Rokan Hulu

Keseriusan dan optimistisme dalam membentuk sebuah kabupaten tersendiri, patut kita apresiasi, dengan memberikan penghormatan secara mendalam kepada tokoh-tokoh berpengaruh di Rokan Hulu yang telah mengabdi selama puluhan tahun, memperjuangkan Rokan Hulu sebagai kabupaten, akhirnya mewujud. Perjuangan dan dedikasi lokalitas atas nama cinta dan ketulusan pada Rokan Hulu.

Dua suasana yang berbeda dari keindahan Masjid Agung Madani Islamic Center

Salah satu bangunan yang menjadi ciri khas Kabupaten Rokan Hulu adalah  Masjid Agung Islamic Center dengan jalanjalan yang diterangi lampulampu bertuliskan Asmaul Husna. Masjid yang berdiri dengan anggun dan megahnya. Ketika malam tiba, seluruh bangunan Masjid akan bersinar terang namun menyejukan. Masjid yang memiliki banyak faedah. Selain fungsi utamanya sebagai tempat ibadah, juga menjadi ikon kota dan tempat wisata religi.

Akhir Perjalanan dari Rokan Hulu, Riau

Sebuah perjalanan tidak akan pernah menghasilkan kisah sama, kecuali semakin memuncakan kerinduan untuk terus berjalan, mengembara, mengumpulkan ingataningatan akan keindahan yang kadang tidak pula indah. Perjalanan adalah tentang mengumpulkan, memahami dan membangun kesadaran bahwa tidak ada yang benarbenar besar dan tidak ada yang benarbenar kecil. Perjalanan yang akan melagukan kisahkisah tak terduga dari mata, hati dan pikiran sang pengembara. Harapan, keyakinan serta iman. Betapa sang Khaliq begitu agung.yk[]

*kontributor tulisan : Eva Sri Rahayu dan Evi Sri Rezeki || *kontributor dokumentasi : Parmadi


Latih, narasi kali ini biar aku yang ambil bagian ya..

Kota Surabaya. Kota Buaya. Ada tahun dimana sangat enggan untuk kembali ke sana. Satu pengalaman pada suatu ketika dalam touring pertunjukan monolog, saya mempunyai kesan bahwa Surabaya hanyalah panas, gersang, dan tidak ramah. Namun, berangsur pada kunjungan kedua, ketiga dan keempat secara total kesan itu berubah. Bahkan pada kunjungan terakhir, saya merasa bahwa Surabaya sangat ramah dan sejuk.

Kesan romantis jelas tergambar ketika saya menjejakkan kaki di pusat kota. Terdapat gedunggedung tua di salah satu sudut kota Surabaya. –kita tidak akan membahas gedunggedung tua bersejarah peninggalan kolonial Belanda, ada haru menggelitik hati, merabaraba seperti apa seharusnya sejarah bercerita.



Tak jauh dari kompleks Jembatan Merah, sebuah museum berdiri. Inilah museum House of Sampoerna yang memang berada di kawasan kota tua, Surabaya. Hari itu tidak dipungkiri, panas cukup menyengat. Lagilagi, saya membuat perbandingan. Rasarasanya, panas cuaca tak seperti ingatan panas beberapa waklu lalu.

Kedatangan saya memang tidak sendiri, kebetulan pada kunjungan kala itu saya sedang dalam dinas. Otomatis saya menggunakan bus bersama rombongan. Bus yang saya tumpangi, terparkir cukup jauh dari gerbang museum, maka saya pun harus berjalan kaki untuk mencapai lokasi. Suasana tidak begitu ramai, malah cenderung sepi aktivitas. Ada beberapa becak yang “terparkir” di depan gerbang masuk. Sayangnya, saya tidak berkesempatan berkeliling kota dengan menggunakan becak.

Melewati gerbang, maka kita akan disuguhi dengan panorama gedung tua dengan deretan tamantaman tertata rapi. Beberapa petugas bersigap menyambut tamu. Bagian tengah bangunan berdiri kokoh dan megah dengan arsitektur tiangtiang penyangga dibuat menyerupai batangan rokok. Pada dinding bangunan terdapat sebuat plakat yang memberi informasi singkat, kapan dan bagaimana museum tersebut didirikan. Ditambah dengan sebuah penanda bahwa museum tersebut dengan kontribusinya telah memperoleh penghargaan dari suatu organisasi dunia.



Memasuki area dalam, udara terasa sangat kental dengan aroma tembakau dan cengkeh. Kemudian terdapat sebuah air mancur dan kolam mini yang dipenuhi ikanikan koi. Sebelah kiri-kanan ruangan terdapat koleksi berbagai barang yang pamerkan. Dari mulai sepeda tua yang digunakan pendiri Sampoerna untuk berdagang ketika masih muda, berbagai peralatan yang digunakan untuk mengolah tembakau dan cengkeh, hingga sebuah lemari yang berisi dengan beberapa set kebaya berwarna putih (baca: telah kekuningan karena waktu) yang digunakan oleh keluarga dari masa ke masa yang sengaja di-display beserta cerita yang melingkupinya. 

Jadi, Museum House of Sampoerna mulai menempati bangunan tua yang berdiri mulai tahun 1864. Bangunan ini memiliki dua buah lantai. Lantai pertama berfungsi sebagai ruang pamer, mulai dari beragam aneka bendabenda yang digunakan pada tahuntahun pertama berdirinya pabrik, hingga bajubaju kebaya tadi. Kemudian lantai kedua berfungsi sebagai menjadi ruang penjualan aneka souvenir dan track record prestasi dari yayaysan Sampoerna –terdapat display fotofoto perjalanan yayasan.



Ada sebuah replika menarik yang terdapat di lantai pertama atau dasar, yaitu warung sederhana seperti kioskios masa kini, namun kental dengan nuansa lampau. Warung sederhana ini adalah milik pendiri PT Sampoerna, yaitu Liem Seeng Tee dan istrinya, Siem Tjiang Nio. Replika warung tersebut dilengkapi dengan berbagai “asesoris” kewarungan, semisal stoples makanan, keranjang buah-buahan, serta display kotakkotak rokok.



Dari lantai dua, ada sebuah pemandangan yang menarik. Tentu saja selain bahwa lantai ini menyediakan marchendise Sampoerna yang dijual bebas. Dari atas, dengan leluasa kita bisa melihat area dimana para pekerja pabrik melinting rokok. Sayangnya, pada kunjungan tersebut para pekerja sedang libur, jadi saya hanya bisa menatap ruang kerja yang kosong saja. Pekerja rokok semuanya adalah perempuan. Ketika saya coba berkomunikasi dengan salah satu pegawai yang penunggu area penjualan kenapa pekerja pelinting rokok semuanya perempuan, jawabannya adalah; karena perempuan lebih teliti, cekatan dan tidak banyak menuntut. Menuntut? Saya kejar dengan pertanyaan selanjutnya, menuntut atau lebih murah? Tanya saya. Dengan terbata dan sedikit gugup, menyadari bahwa pertanyaan saya menyangkut gender, pegawai itu menutup dengan cepat: “Saya kurang tahu, itu kebijaksanaan perusahaan.” Giliran saya yang tersenyum. Kecut. Dengan kata lain bahwa perempuan masih lebih penurut, kirakira begitu yang ada dalam benak saya. Tapi, ya, toh saya pun tidak bisa berbuat banyak. Dengan kesadaran bahwa saya tidak bisa memberikan solusi, saya memutuskan untuk kembali ketujuan. Menikmati kunjungan ke museum ini.



Bagaimanapun, saya pikir bahwa museum yang didirikan oleh sebuah pabrik rokok ini telah memberikan cukup banyak kontribusi untuk negara. Meski pada akhirnya, perusahan ini pun di-merjer atau dibeli oleh perusahaan rokok asing juga. Jadi, kehadirannya tidak lagi menjadi amunisi dan properti negara. Sayang memang. Tapi begitulah realitasnya. Namun demikian, museum satu ini layak untuk dikunjungi. Ada sejarahsejarah yang bisa dipelajari. Sebagai manusia tidakkah kita harus bijak belajar dan menghargai sejarah? Jika sedang menikmati Surabaya, jangan lupa berkunjung ke Museum House of Sampoerna ya ^^. Salam.yk[]
Dokumentasi pribadi dan Tim ekspedisi, Natuna, Kepulauan Riau

sementara hari Ini
jejak dini hari, dingin
terayun di lautmu
muntahan air dari atap langitmu
lalu lagu angin
menerpa,
menyapa,
mengucapkan salam “selamat datang”

sementara hari ini
waktu mengalun lambat
berat tertahan gelombang laut Cina selatan

napas kita sarat harap
daratan cepat tertangkap
perahu segera merapat

sementara hari ini
kita masih terperangkap
-menuju Subi, Agustus 2007


Kepulauan Natuna, 2007

Hari Selasa, 7 Agustus 2007. 18 (delapan belas) personil yang terdiri dari kumpulan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi dengan niat pengabdian bertolak menuju Kepulauan Natuna. Penerbangan pukul 17.40 WIB dengan menggunakan pesawat Merpati, bertolak menuju Batam. Tepat pukul 20.00 waktu setempat, pesawat landing di bandara Hang Nadim. Tim penjemputan telah menunggu, mempersilahkan kami untuk beristirahat di kawasan Cendana, Batam.

Keesokan hari, pukul 11.30 waktu setempat, kami semua kembali menuju bandara Hang Nadim. Menunggu pesawat Riau Airlines pada penerbangan 13.55 membawa menuju Ranai, ibukota kepulauan Natuna. Disinilah petualangan dan kesabaran serta nyali diuji. Tepat pukul 15.00, pesawat mendarat. Deretan truk terlihat di sepanjang jalur jalan di luar bandara. Tidak ada penjemputan ekslusif dengan kendaraan ekslusif. Semua orang bergerak cepat. Kami pun bergerak cepat. Menggendong ranselransel yang beratnya luar biasa. Ranselransel yang dipenuhi amunisi untuk keperluan sosialisasi program pendidikan. Kami tidak pernah tahu bahwa medanmedan perjalanan yang tidak lazim akan mempengaruhi semangat pengabdian untuk beberapa waktu ke depan.

Dokumentasi Pribadi dan Tim Ekspedisi; Natuna, Kepulauan Riau


Truk yang kami tumpangi dari Ranai, menuju pelabuhan Penagih. Pelabuhan yang menghubungkan dengan tempattempat tujuan selanjutnya. Tujuan pertama adalah pulau Subi. Dengan menggunakan perahu besar bernama Perintis, gelombang ombak yang luar biasa dasyat memandu kami menuju Subi. Untuk sampai ke Subi, kami harus turun di tengah kegelapan dan lautan. Hanya dengan menggunakan pongpong atau perahu kecil pulau Subi bisa terjangkau.

Dokumentasi pribadi dan Tim Ekspedisi; perjuangan pelajar Natuna, Kepulauan Riau

Pulau Subi terbagi menjadi 5 (lima) desa; Meliah, Terayak, Pulau Panjang, Subi Kecil dan Subi Besar. Keempat desa ini disebut sebagai daratan Subi. Kesenian yang terkenal di Subi adalah Kampang, Hadroh, Zapin dan Pencak Silat. Terdapat pula cerita yang melegenda, yaitu Siti Balqis yang merupakan perempuan tercantik di Subi atau Tanah Merah. Cerita lainnya yang melegenda adalah Abdul Putih, seorang imam yang hidup di zaman bajak laut, dikeramatkan karena meninggal sebagai imam yang berdarah putih.

Dokumentasi pribadi dan Tim Ekspedisi, lautan Natuna, Kepulauan Riau

Tidak ada jadwal yang pasti. Transportasi bergantung pada kebaikan ombak dan kecerahan cuaca. Bisa jadi, jadwal yang telah direncakan molor hingga 1-2 hari. Jika gelombang pasang dan hujan turun dengan deras, maka dapat dipastikan tak ada satupun perahu sebagai satusatunya alat transportasi penghubung dari satu pulau ke pulau lainnya beroperasi. Jika begini, artinya semua rencana musti di jadwal ulang.

Dokemntasi pribadi; cantiknya pantai Sisi di Serasan, Natuna, Kepulauan Riau

Usai melaksanakan program pendidikan kesenian dan lainlainnya di Subi, tim bertolak menuju pulau Serasan. Setelah menunggu 2 (dua ) hari hingga badai mereda, akhirnya tim bisa melanjutkan perjalanan dengan menggunakan kapal kecil sewaan bernama pongpong tadi dengan harga 2 juta rupiah. Harga yang terbilang cukup mahal kala itu. Tidak banyak yang memiliki pongpong sewaan sehingga, kami sebagai pendatang tidak bisa melakukan pencarian untuk perbandingan harga yang sedikit lebih murah. Yang menyenangkan di pulau Serasan, setidaknya ada sebuah pantai cantik dengan pasir putih membentang. Bersih, tidak bising, penuh dengan penyupenyu penelur dan indah. Pantai Sisi. Menghabiskan hari usai melaksanakan program kerja, seperti menghabiskan waktu di pantai pribadi. Hanya 1-2 orang penduduk lokal, selebihnya, pantai milik kami.

Dokumentasi pribadi dan Tim Ekspedisi; warga Natuna, Kepulauan Riau, yang menunggu transportasi laut, 

Dengan jadwal yang ketat, 2 (dua) hari di pulau Serasan, tim melanjutkan perjalanan menuju pulau Letung dengan menggunakan kapal besar. Kali ini pulau yang akan kami singgahi adalah pulau yang dukup modern dibanding pulaupulau lain yang masuk dalam kepulauan Natuna.  Kabal besar bernama Bukit Raya ini bahkan bisa berlabuh langsung di Letung. Letung merupakan nama ibukota pulau ini, dengan kecamatannya Jemaja – Palmatak. Mata pencaharian masyarakatnya cukup beragam, selain perikanan, masyarakat juga memiliki perkebunana cengeh dan karet. Yang hebatnya lagi, di pulau ini anakanak sekolah mendapatkan paket bebas uang sekolah. Terdapat LSM dan pencinta alam. Hutanhutannya menyediakan kayukayu besar, dan terdapat di Jemaja serta Bunguran. Salah satu pantai kebanggaan yang menjadi tempat pariwisata adalah pantai Padang Melang, dengan hamparan pasir putih yang bersih serta udara yang yang bersih pula. Terhampar sepanjang 10 kilo meter.

Dokumentasi pribadi; suasana pasar apung pulau Tarempak, Natuna, kepulauan Riau

Hanya satu hari saja kegiatan di Letung. Esok harinya dengan menggunakan pongpong lagi, tim melanjutkan perjalanan menuju Palmatak. Kurang lebih 10 jam waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke Payalaman, perjalanan ini lebih panjang dari seharusnya dikarenakan tim memutar menuju Tokong Nanas, Pulau Batu tempat sebuah mercusuar berada. Perjalanan kemudian diteruskan melalui jalan darat dengan menggunakan kendaraan mobil bak terbuka menuju Air Payang. Di pulaupulau yang kami singgahi program pendidikan terus berkelanjutan.

Dokumentasi pribadi; suasana kehidupan di pulau Tarempak, Natuna, Kepulauan Riau

Tempat terakhir dari program ini adalah Pulau Laut. Sebuah pulau yang terletak paling luar dari gugusan pulaupulau yang termasuk dalam kepulauan Riau. Pulau terjauh. Pulau yang diselimuti aura magis, dengan jumlah penduduk yang sangat minim dan hidup dibawah ratarata. Menuju Pulau Laut, rintangan seolah menjadi ucapan selamat datang. Hampir kami berpikir bahwa perjalanan menuju Pulau Laut merupakan perjalan terakhir dalam kehidupan. Bagaimana tidak? Gelombang air pasang menggulung perahu kecil kami. Tidak kurang dari 2 meter ombak mengayun perahu. Dalam kegelapan kami hanya bisa berpasrah. Barangkali in titik dari perjalanan kami, begitulah kami berpikir. Tapi Tuhan masih dalam rancangan yang baik dan manis, kami dibimbing dan dirahmati. Meski gulita, angin kencang, hujan deras dan gelombang pasang mendera, kami tiba di Pulau Laut dengan sambutan mentari yang berlimpah cahaya. Usai badai, serta merta kehangatan mentari tersibak dan merangkul kami dalam kehangatan. Ya, tidak ada badai yang tidak usai. Pun tidak ada pesta yang tak usai pula.

Dokumentasi pribadi; kemeriahan acara HUT RI 17 Agustus, Natuna, Kepulauan Riau

Perjalan menuju pulaupulau di Natuna, kepulauan Riau membawa kesenangan dan kepahitan tersendiri. Ada suka cita yang menggelora, pun ada nestapa yang membungkus. Kau tahu, usai perjalanan ini aku khususnya merasa sangat kecil.  Indonesia yang begitu luas, indah dan sentimentil telah menorehkan beragam rasa dari perjalanan kali ini. Aku tidak hanya dirahmati untuk mengunjungi tempattempat indah. Namun, rasarasanya aku dikutuk dengan rasa yang tak bisa kujelaskan. Kesedihan akan kesenjangan sosial. Kesedihan bahwa mereka belum mendapat fasilitas dan kesempatan yang sama dengan kita yang hidup dan tinggal di Jawa.

Dokumentasi pribadi dan Tim Ekspedisi; suasana kehidupan di Natuna, Kepulauan Riau

9 tahun berlalu, namun sebuah percakapan masih terus terngiang dalam otakku. Seolaholah obrolan ini baru saja terjadi kemarin malam...
            “Dik, titip aspirasi ya... “ ucap seorang guru.
            “Aspirasi apa pak?” tanyaku mendengarkan dengan sungguhsungguh.
         “Aspirasi untuk membangun pulau ini. Pulau yang merupakan bagian dari Indonesia. Adik tahu? Perjalanan panjang melintas lautlaut dengan perahu bergantiganti dan badai, kadang membuat kami lelah, hingga begitu sampai di ibukota kami lupa apa yang hendak kami sampaikan.” Tutur guru itu dengan lugu dan penuh harap.

Dokumentasi pribadi; Pulau Laut, pulau terjauh Indonesia, Natuna, Kepulauan Riau

Aku terpaku, tak bisa berkatakata. Indonesia-ku. Indonesia yang indah dan luas. 9 tahun berlalu, ketika kutanyakan apakah ada perubahan di sana pada guru itu, jawabnya; “Belum dik, masih sama dengan ketika adik kemari 9 tahun lalu...”

Dokumentasi pribadi dan Tim Ekspedisi; kecantikan misterius dan mencekam sore menjelang malam di Pulau Laut, Natuna, Kepulauan Riau


Lalu lidahku kelu. Perjalananku dan tim ini 9 tahun lalu adalah nebar harap. Lalu kurasa kini, bahwa harap itu masih sebatas harap. Tibatiba aku disergap rasa bersalah. Yang bisa kulakukan adalah menulis, kemudian berharap pula bahwa tulisan ini akan terbang pada suatu keajaiban yang bisa membawa perubahan pada mereka nun jauh di sana. Semoga.yk[]