“Sepatualang Edisi Jalan-jalan ke Belitung”
Karya Yunis Kartika
Balitong atau Belitong demikian penduduk setempat
menyebutnya. Pulau kecil penghasil timah ini kini dikenal dengan sebutan Negeri
Laskar Pelangi berkat tetralogi novel Laskar
Pelangi beserta filmnya yang menggambarkan keindahan panorama alam Pulau
Belitung dan budaya penduduk setempat.
Geliat pariwisata meningkat serta memengaruhi
kehidupan dan perekonomian penduduknya yang multietnis. Belitung pun dipercaya
sebagai salah satu lokasi pelaksanaan Konferensi Tingkat Tinggi G20 tahun 2022
lalu.
Pada edisi kedua seri jalan-jalan Sepatualang ini,
Olwen featuring 3Some Travelers mengajak Anda untuk menikmati pulau yang
kaya sejarah dan hasil bumi. Menikmati pantai-pantainya yang indah, airnya yang
biru jernih, berpasir putih, dengan gugusan batu-batu granitnya yang memesona
dan ombaknya yang jinak. Hopping islands atau berkeliling pulau-pulau
kecil dengan perahu merupakan kegiatan yang tak boleh dilewatkan. Bukan hanya
layak, Belitung begitu istimewa untuk Anda kunjungi.
#Sepatualang #Belitung #YunisKartika
@sepatusepatuyunis
Harga: Rp67.000
Pemesanan:
⭐
Stiletto Book
WA: 0881-2731-411
#BukuPerjalanan #CatatanPerjalanan #NonFiksi #ExploreBelitung
#Filosofi #CatatanSejarah #Travelling #BookstagramID #penerbitjogja
#penerbitbukujogja #PenerbitStilettoBook #StilettoBook
![]() |
| Cover buku Sepatualang Edisi Jalan-jalan ke Bangka, terbitan Stiletto Indie Book. |
“Perjalanan bukan hanya menjejaki waktu dan tempat
berbeda,
lebih dari itu mengembalikan semangat kekanakan,
kegembiraan, kepolosan,
keingintahuan, spontanitas, dan kedalaman empati
pelakunya.”
—Sepatualang—
Akhir tahun
2023 lalu, saya mulai menjalin komunikasi dengan Penerbit Stiletto Book Yogyakarta
perihal buku seri catatan perjalanan yang rencananya akan diterbitkan secara
berkala. Setelah melalui proses bersama, alhamdulillah buku perdana dari seri
Sepatualang yang berjudul “Sepatualang Edisi Jalan-jalan ke Bangka” akhirnya
rampung. Buku ini berisi kumpulan tulisan tentang perjalanan ke Bangka yang
sebagian besar sudah saya posting di blog sepatusepatuyunis, namun sudah
disesuaikan untuk kepentingan cetak buku.
Buku
terbitan Stiletto Indie Book ini merupakan buku Pre Order (PO) yang hanya
dijual secara online dan buku pesanan akan dicetak setelah pembeli melakukan
konfirmasi pembayaran dengan waktu cetak kurang lebih 14 hari kerja.
Harga buku
PO: Rp.72.000,-
Pemesanan:
⭐Stiletto Book
WA:
0881-2731-411
Kawan-kawan
juga bisa memesan didaftar tautan berikut:
𝐒𝐞𝐩𝐚𝐭𝐮𝐚𝐥𝐚𝐧𝐠 𝐄𝐝𝐢𝐬𝐢 𝐉𝐚𝐥𝐚𝐧-𝐉𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐤𝐞 𝐁𝐚𝐧𝐠𝐤𝐚
Link
Shopee:
https://shp.ee/tqzgs50
Link
Tokopedia:
https://tokopedia.link/WycQYxsviIb
Link
Google Play Book:
https://play.google.com/store/books/details?id=7Rv9EAAAQBAJ
![]() |
| Blurb buku Sepatualang Edisi Jalan-jalan ke Bangka, terbitan Stiletto Indie Book. |
Mari, sila ….
Ditunggu PO
bukunya dan terima kasih banyak untuk kawan-kawan yang sudah dan akan memesan buku ini.
Salam Sepatualang,
Yunis
Kartika, Olwen & 3Some Travelers.
#sepatualangedisijalanjalankebangka
#yuniskartika #sepatusepatuyunis #traveling #bangka #jalanjalan
#rekomendasibuku #bukuindie #stilettobook #stilettoindiebook #olwen #penerbitstilettobook
#3sometravelers
![]() |
| Pintu masuk keluar toko yang tak banyak berubah. |
“Setiap
kota menyimpan aroma yang khas. Bandung, bagi sebagian orang, harum tak hanya
dari kopi dan bunga, tetapi juga dari sepotong roti hangat. Roti yang tak hanya
mengenyangkan, melainkan mengikat kenangan.”
—Sepatualang—
Hari itu, langkah saya
membawa ke Jalan Oto Iskandardinata. Deru kendaraan bercampur dengan suara
pedagang kaki lima, papan parkir yang berderet, dan aroma tahu goreng dari
gerobak di depan toko. Di antara hiruk pikuk kota, mata saya menangkap papan
kayu dengan huruf besar berwarna merah: TOKO SIDODADI.
Tulisannya sederhana,
catnya sedikit pudar, tapi justru itulah yang memikat. Toko ini tidak sibuk
menampilkan wajah modern. Ia berdiri apa adanya, seakan berkata: “Kami sudah
ada jauh sebelummu, dan akan terus ada dengan cara kami sendiri.”
![]() |
| Beragam langkah berkumpul dalam satu barisan kecil. |
Di dinding pintu kayu,
terpampang kertas putih bertuliskan “Pintu Masuk” dan “Pintu Keluar.” Tidak ada
pintu kaca otomatis, tidak ada pendingin ruangan. Hanya sebuah lorong sempit
yang mengantar pembeli menuju meja kasir.
Saya masuk lewat pintu
yang ditunjuk, bergabung dengan barisan manusia yang sudah rapi mengular. Ada
ibu dengan kantong belanja, ada seorang bapak yang tampak terburu-buru, ada
pasangan muda yang saling berbisik, dan ada wisatawan dengan kamera tergantung di leher.
Semua sabar menunggu. Antrean itu bukan sekadar antrean, melainkan bagian dari
ritual Sidodadi. Sebuah perjumpaan antargenerasi, diikat oleh satu tujuan—sepotong
roti.
Begitu melangkah lebih
dalam, aroma roti panggang langsung menyapa. Wangi tepung yang baru matang,
gurih mentega, manis gula yang meleleh. Ada kehangatan yang merambat, membuat
perut tiba-tiba merasa lapar, sekaligus nyaman.
Etalase kaca sederhana
memajang roti-roti dengan aneka isian cokelat, srikaya, kismis, daging asap,
abon, dan keju. Tidak ada nama-nama asing, tidak ada bentuk yang rumit. Semua
tampil sederhana, padat, apa adanya, jenis roti yang sejak dulu menjadi andalan
dan tak pernah kehilangan penggemar.
Di titik itu, ingatan
saya melompat jauh ke masa kecil ketika mama sesekali pulang membawa roti isi
cokelat Sidodadi atau sebungkus roti tawarnya. Saat itu, saya belum paham apa
arti “legenda.” Yang saya tahu bahwa setiap gigitannya selalu membuat hari
terasa lebih manis. Puluhan tahun berlalu, dan rasa itu tetap setia tinggal.
![]() |
| Di antara gerobak gorengan dan toko roti Sidodadi, kota Bandung bernapas. |
Toko Sidodadi lahir di
Bandung pada tahun 1950-an, masa ketika kota ini tengah tumbuh dan membentuk
wajahnya sendiri. Nama “Sidodadi” sendiri bermakna harapan—sido berarti jadi,
dan dadi berarti terus jadi. Harapan itu bukan hanya untuk pemiliknya,
melainkan juga untuk setiap orang yang menggantungkan hidup dari roti-roti ini.
Di masa awal, roti adalah
makanan yang lekat dengan pengaruh kolonial Belanda. Namun, Sidodadi
menjadikannya lebih merakyat. Roti bukan lagi sekadar konsumsi bangsawan atau
orang Eropa, melainkan panganan sehari-hari orang Bandung. Dengan harga
terjangkau dan resep yang sederhana, roti ini pelan-pelan masuk ke rumah-rumah
warga, menjadi bagian dari sarapan, bekal, hingga oleh-oleh.
Di dalam toko, tak ada
yang istimewa kecuali kebersamaan. Siapa pun bisa masuk dan berdiri dalam
antrean yang sama. Tidak ada jalur khusus, tidak ada prioritas. Seorang pekerja
kantoran bisa berdiri di belakang mahasiswa, seorang wisatawan bisa bergantian
dengan tukang ojek, semuanya menunggu giliran dengan sabar.
Di sinilah Sidodadi
menjembatani perbedaan. Status sosial seakan luruh di hadapan etalase roti.
Setiap orang sibuk memilih isian favoritnya. Makanan, sekali lagi, membuktikan
kemampuannya meruntuhkan sekat.
Sidodadi juga merekam
wajah Bandung yang khas: kota yang membiarkan modernitas dan tradisi berjalan
berdampingan. Di satu sisi, kafe-kafe baru bermunculan dengan tampilan yang
serba Instagramable. Di sisi lain, toko tua seperti Sidodadi tetap
berdiri tenang, tak tergesa mengikuti zaman. Keduanya hidup berdampingan,
saling melengkapi cerita kota.
Meski bukan perusahaan
besar, denyut ekonomi Sidodadi terasa nyata. Setiap hari, dapur roti bekerja
tanpa henti—menguleni adonan, memanggang, membungkus, dan melayani pembeli.
Dari sana, tercipta lapangan kerja, sekaligus mata rantai ekonomi yang lebih luas; peternak telur, pemasok gula, hingga pedagang kecil di sekitar toko.
Dengan harga yang ramah,
Sidodadi menjaga roti tetap menjadi sahabat harian, bukan barang mewah. Sebuah
praktik ekonomi kerakyatan yang sering luput dari perhatian, namun setia
menopang kehidupan banyak orang.
Bagi pelancong, Sidodadi
adalah destinasi. Banyak wisatawan rela meluangkan waktu hanya untuk mengantre.
Ada yang ingin membuktikan cerita orang tuanya tentang roti legendaris, ada
pula yang sekadar penasaran mengapa toko sederhana ini begitu digandrungi.
Bungkus plastik putih
dengan cetakan merah kini menjadi ikon tersendiri. Saat melihat orang membawa
bungkusan itu, kita tahu bahwa mereka baru saja pulang dari Sidodadi. Bungkus
itu seperti paspor kuliner, tanda bahwa perjalanan ke Bandung sudah lengkap.
Wisata kuliner bukan
hanya soal rasa, tapi juga pengalaman. Dan pengalaman antre di toko tua,
menyelip di antara ramainya pembeli, lalu keluar sambil memeluk bungkusan roti
hangat—itulah yang membuat Sidodadi tak tergantikan.
![]() |
| Plastik putih, cetakan merah dan rasa roti yang tak lekang waktu. |
Ada pelajaran sunyi yang ditawarkan
Sidodadi yaitu kesetiaan pada kesederhanaan. Toko ini tidak tergoda untuk
mengubah diri, tidak terjebak pada tren. Justru karena itu ia bertahan. Di
zaman ketika segalanya bergerak cepat, manusia tetap mencari sesuatu yang bisa
dipercaya—sesuatu yang tak mudah berubah. Sidodadi menjawab kerinduan itu.
Saat menggigit roti isi cokelat,
waktu terasa melambat. Saya kembali menjadi anak kecil, duduk tenang, menikmati
roti yang baru dibeli mama. Di momen itu saya sadar, roti ini bukan hanya
makanan, melainkan pintu menuju kenangan.[yk]
“Ada
roti yang sekadar mengisi perut, ada roti yang mengisi jiwa. Sidodadi adalah
roti yang kedua. Ia lahir dari harapan, tumbuh dengan kesetiaan, dan terus
hidup di hati banyak orang. Sido dadi—jadi, dan akan terus jadi.”
—Sepatualang—
![]() |
| Kopi Klotok, kenikmatan khas Jogja. |
"Hidup
yang baik itu sederhana: secangkir kopi, pisang goreng panas,
dan
percakapan yang tak tergesa."
—Sepatualang—
Sore itu Jogja merunduk
perlahan di bawah langit jingga. Angin dari utara membawa dingin yang turun
pelan dari lereng Merapi. Mas Iqbal—pemandu yang menemani kami hari
itu—mengusulkan agar malam ditutup dengan santap sederhana; ngopi santai di
kawasan Kaliurang. Dengan semangat khas orang Jogja, ia bercerita bahwa tempat
yang akan kami tuju kerap jadi persinggahan para pemburu kuliner dan pencinta
kopi, terutama pelancong yang ingin merasakan sisi Jogja yang lebih bersahaja.
Jangan bayangkan kopi
mahal dengan mesin berkilau atau menu western berharga tinggi. Tempat
ini justru menawarkan wajah pedesaan sederhana, apa adanya, dan terasa hidup.
Jika siang hari, pemandangannya bersisian dengan sawah. Warung itu bernama Kopi
Klotok.
![]() |
| Dapur Kopi Klotok tempat kopi, pisang goreng, dan cerita dimasak bersamaan. |
Dari luar, bangunannya
tampak biasa saja—joglo kayu dengan dinding sederhana, dihiasi gantungan pisang
yang bergerombol di beberapa sudut. Namun begitu kaki melangkah masuk, aroma
khas langsung menyergap; kopi tubruk panas, pisang goreng renyah, dan asap
wajan yang seolah tak pernah benar-benar padam. Aku duduk di kursi kayu
panjang, menempelkan telapak tangan ke meja yang licin oleh waktu dan ribuan
cerita.
Segelas kopi klotok
terhidang di depanku. Kopi hitam dibanderol Rp5.000, kopi susu Rp7.500—harga
minuman, lauk pauk, hingga paket makan lainnya pun ramah di kantong.
Kesederhanaan yang jujur.
Nama “kopi klotok”
sendiri terdengar unik. Konon, ia lahir dari bunyi air mendidih di ketel
tradisional: klotok-klotok-klotok, suara yang terdengar sebelum air
benar-benar masak. Di Jogja, istilah itu kemudian melekat untuk menyebut kopi
tubruk yang diseduh dengan cara lama.
Seorang bapak di meja
sebelah tersenyum, lalu berkata pelan, “Kopi klotok itu bukan sekadar minum
kopi, Nak. Ini cara orang Jogja menikmati kopi. Dari bunyi air mendidihnya,
dari wangi bubuk kopi yang direbus langsung di ketel. Rasanya jadi beda.”
Aku mengangguk sambil
menyeruput perlahan. Rasanya pekat, getir, sekaligus menenangkan. Tak ada mesin
espresso, tak ada latte art. Hanya kopi hitam dalam gelas kaca
sederhana. Inilah Jogja—kota yang memilih mendidih perlahan, menolak gegas.
![]() |
| Sabar menunggu giliran demi telur dadar krispi. |
Warung Kopi Klotok berada
di kawasan Pakem, Kaliurang, sekitar 16 kilometer dari pusat Kota Jogja.
Mulanya, ia hanyalah tempat singgah sederhana. Namun sejak awal 2000-an,
popularitasnya menanjak, seiring konsistensi mereka merawat atmosfer
tradisional yang kian langka.
![]() |
| Menu andalan Kopi Klotok yang anti gagal. |
Menu yang disajikan pun
bukan sekadar kopi. Ada sayur lodeh, tempe goreng, telur dadar krispi berukuran
besar, pisang goreng, hingga jadah—makanan rumahan khas Jawa yang dihidangkan
secara prasmanan. Rasanya seperti pulang ke dapur nenek yang akrab, murah, dan tak
dibuat-buat. Tak heran Mas Iqbal begitu bersemangat mengajak kami kemari.
Sementara itu, Icky dan Jemmy sudah lebih dulu sibuk mengisi piring dengan nasi
dan lauk pilihannya.
Wisatawan lokal maupun
mancanegara silih berganti datang, terlebih setelah media sosial ramai
menyinggungnya. Namun meski popularitas meningkat, suasana warung tetap dijaga;
kayu tua, lampu temaram, dan bunyi kompor berpadu dengan percakapan pengunjung
yang bersahut-sahutan.
Kopi Klotok bukan sekadar
tempat minum kopi. Ia adalah cermin budaya Jogja yang menjunjung kesederhanaan
dan kebersamaan. Di sini, mahasiswa, seniman, keluarga, turis asing, hingga
pejabat duduk semeja tanpa sekat. Semua setara.
Seorang ibu paruh baya di
dapur sempat berujar ketika kutanya apakah ada tempat duduk khusus. “Mba, di
sini semua sama. Mau datang naik mobil mewah atau motor butut, kalau sudah
masuk ya duduknya sama. Makannya prasmanan. Cari tempat kosong saja.”
Nilai egaliter inilah
yang membuat Kopi Klotok istimewa. Ia bukan sekadar soal rasa, tetapi ruang
sosial yang mempraktikkan filosofi ngayomi—mengayomi siapa saja tanpa
memandang latar belakang.
Kehadirannya juga membawa
dampak ekonomi nyata bagi warga sekitar. Pisang yang digoreng, sayur yang
dimasak, hingga perabot kayu yang digunakan, semua melibatkan tangan-tangan
desa. Setiap hari, puluhan kilogram pisang habis. Berkarung-karung beras disulap
menjadi nasi hangat. Pedagang kecil di sekitar kawasan pun ikut menikmati
rezeki dari ramainya pengunjung.
Kini, Kopi Klotok tak
lagi berdiri sendiri. Cabangnya bermunculan di beberapa titik Jogja. Namun
cabang Pakem tetap menjadi yang paling ramai—barangkali karena suasananya yang
lekat dengan aroma lereng Merapi.
Kalau hanya ingin kopi,
Jogja punya banyak kafe modern. Namun orang datang ke Kopi Klotok bukan semata
untuk minum. Mereka datang untuk pengalaman. Di sinilah wisata kuliner
bertemu nostalgia. Warungnya terasa seperti rumah nenek di desa, lengkap dengan
kipas angin tua, rak kaca berisi toples gula jawa, dan genteng kayu yang
menyimpan panas siang hari.
Gelas kopi di depanku
tinggal separuh. Pisang goreng baru saja diangkat dari wajan, uapnya masih
menari. Aku menggigit perlahan—renyah di luar, lembut di dalam.
Mas Iqbal yang duduk di
seberang nyeletuk, “Kopi klotok ini sederhana. Tapi justru itu yang bikin
kangen. Ke Jogja rasanya belum lengkap kalau belum ke sini.”
Aku tersenyum. Ada
semacam ritual tak tertulis, setiap kembali ke Jogja, Kopi Klotok menjadi check
point. Tempat memastikan bahwa Jogja masih setia pada kesederhanaannya. Ia
adalah perlawanan halus terhadap arus modernitas yang serba cepat.
Saat kafe-kafe kekinian
menjual estetika industrial dan take away coffee, di sini kita diajak
duduk lama, menikmati obrolan, dan menghargai waktu. Jogja memang kota yang
tahu cara menjaga tempo. Ia tak ingin terburu-buru.
![]() |
| Tangan-tangan yang bekerja, wajan yang tak pernah dingin, dan kopi yang setia menunggu. |
Malam semakin larut.
Lampu di dapur mulai meredup. Aku meneguk sisa kopi terakhir, lalu meletakkan
gelas di piring kecil bermotif bunga lawas. Langkah kakiku bergerak keluar.
Dari kejauhan, suara klotok-klotok air mendidih masih terdengar samar. Aku tersenyum.
Kopi Klotok Jogja bukan
sekadar tempat minum kopi. Ia adalah ruang waktu yang membekukan nostalgia,
ruang sosial yang merawat kesetaraan, dan ruang wisata yang menghidupkan
ekonomi desa.
Yang terpenting, ia
adalah rumah—bagi siapa saja yang merindukan kehangatan sederhana.[yk]
"Jogja
bukan hanya kota. Ia adalah cara duduk pelan-pelan sambil menyeruput kopi
klotok, menunggu pisang goreng matang, dan bercakap tanpa batas waktu."
—Sepatualang—
Tentang Blogger
- Yunis Kartika
- Penulis | Pejalan | Pecinta Seni | Penikmat Kopi | Blogger Indonesia
Popular Posts
-
Romantisme Kota Arga Makmur Bengkulu Utara_ Edisi Lalungu
-
Jelajah Natuna Kepulauan Riau; Sebuah Pengabdian Untuk Negeri_ Edisi Leona
-
Capolaga Wisata Air Terjun di Subang_ Edisi Leona
-
Negeri Seribu Suluk Rokan Hulu Riau_ Edisi Latih
-
Kemegahan Padepokan Puri Tri Agung Bangka_ Edisi Olwen
-
"Sangrai Wangi" Sepenggal Kisah Kopi Dari PON XIX Jawa Barat 2016_ Edisi Lalungu
-
Gunung Tangkuban Perahu_ Edisi Latih
-
Museum House of Sampoerna Surabaya_ Edisi Latih
-
Kisah Pengasingan dan Perjuangan Diplomasi di Pasanggrahan BTW Muntok_ Edisi Olwen
-
“Tung Tau” Ngopi Klasik di Pulau Bangka_ Edisi Penikmat Kopi





.jpeg)

.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)


.jpeg)








-vert.jpg)
-vert.jpg)
