Pulau Kemaro: Menggali Jejak Sriwijaya dari Belakang Pasar 16 Ilir_ Edisi Raya

 

sepatualang_pulau kemaro, palembang
Raya di bawah Pagoda Pulau Kemaro dan langit Palembang yang mendung.


 

“Pulau kecil itu berdiri tenang di tengah Sungai Musi, seolah telah terlalu lama menyaksikan manusia jatuh cinta, karam, lalu kembali lagi.”

—Sepatualang—

 


 

Ada detak yang berbeda setiap kali tubuhku menapak di atas tanah Palembang. Berkali-kali Yunis membawaku melintasi kota ini—melewati jalan-jalan yang panas, trotoar yang sibuk, dan bayang-bayang besar Jembatan Ampera yang seperti tak pernah tidur—namun selalu saja ada sesuatu yang membuat langkah kami tertunda sebelum benar-benar sampai ke Pulau Kemaro. Seolah pulau kecil di tengah Sungai Musi itu belum ingin kami datangi terlalu cepat.

Hingga akhirnya, Sabtu siang, 16 Mei 2026, di bawah langit kelabu yang menggantung rendah di atas kota, kami benar-benar berdiri di dermaga belakang Pasar 16 Ilir. Tempat yang ramai, sempit, berisik, namun justru terasa hidup dengan cara yang sulit dijelaskan. Aku suka tempat seperti ini. Tempat yang membuatku ingin terus berjalan. Tempat yang membuatku ingin menarik langkah Yunis sambil berbisik: ayo, jangan lama-lama diam… kita jalan lagi.


sepatualang_pulau kemaro, palembang
Menuruni dermaga Pasar 16 Ilir, menuju lorong waktu bernama Sungai Musi.


Kami menuruni dermaga apung yang sempit, dengan lantai besi yang sedikit bergoyang setiap kali diinjak. Tepat di atas kepala kami, tiang merah raksasa Jembatan Ampera berdiri seperti penjaga tua Sungai Musi. Jarum jam di menara Ampera hampir menyentuh pukul satu siang ketika Yunis melangkah hati-hati sambil menggenggam kameranya.

Di bawah jembatan itu, Palembang terasa berbeda. Bau solar bercampur dengan aroma sungai, ikan, pasar, dan kayu perahu yang lembap. Para pengemudi ketek dan speedboat berseru menawarkan jasa mereka, suara mesinnya saling bersahutan dengan bunyi klakson kendaraan dari atas jembatan. Di tempat ini, kota modern dan kehidupan sungai seperti hidup berdampingan tanpa saling mengganggu. Di atas sana kendaraan melaju cepat mengejar waktu, sementara di bawah sini orang-orang masih menggantungkan hidup pada arus Musi yang tua.

Yunis dan suaminya akhirnya menyewa sebuah speedboat. Tiga ratus ribu rupiah untuk perjalanan pergi-pulang menuju Pulau Kemaro. Bagiku, itu bukan sekadar ongkos menyeberang. Itu seperti membeli tiket kecil untuk masuk ke lorong waktu Palembang.

Begitu mesin dinyalakan dan perahu mulai bergerak meninggalkan tepian Pasar 16 Ilir, aku langsung terdiam. Dari atas jembatan, Musi memang selalu tampak besar. Namun dari atas perahu kecil seperti ini, sungai itu terasa jauh lebih raksasa. Airnya cokelat pekat, bergerak deras sambil membawa ranting, lumpur, dan entah berapa banyak cerita yang sudah hanyut selama ratusan tahun.


sepatualang_pulau kemaro, palembang
Mesin boleh mati, tapi petualangan selalu menemukan jalannya untuk terus berjalan.


Aku bisa merasakan tenaga sungai itu bahkan dari telapak tubuhku. Perahu kecil kami seperti hanya serpihan kayu yang sedang menumpang lewat di tubuh raksasa tua bernama Musi. Namun rupanya sungai ini ingin mempermainkan kami sedikit. Baru beberapa menit perjalanan, mesin speedboat tiba-tiba batuk keras, lalu mati begitu saja. Suasana mendadak sunyi. Tak ada lagi suara raungan mesin. Yang tersisa hanya bunyi air menghantam lambung perahu dan desir angin sungai yang lembap. Kak Wandi, pengemudi perahu kami, mencoba menyalakan mesin berulang kali, tetapi perahu itu tetap diam mengambang di tengah arus.

Aku memandangi sekitar. Di dekat kami berdiri kapal-kapal logistik raksasa dan tanker batu bara dengan tubuh besi yang tinggi menjulang. Perahu kami terlihat sangat kecil di samping mereka. Kontras itu terasa aneh. Di jalur air yang dahulu membawa pedagang dan pelaut Sriwijaya, kini kapal industri modern melintas tanpa henti membawa muatan tambang dan logistik.

Akan tetapi Musi tetaplah Musi. Ia tetap mengalir dengan wajah tuanya sendiri. Cukup lama kami terombang-ambing di tengah sungai. Anehnya, Yunis dan suaminya justru tampak menikmati keadaan itu. Yunis beberapa kali tertawa kecil sambil memotret kapal-kapal besar dan arus sungai yang bergulung pelan. Sementara aku… entahlah. Aku justru merasa senang karena akhirnya kami dipaksa berhenti. Kadang perjalanan memang perlu jeda agar manusia mau benar-benar melihat.

Tak lama kemudian sebuah speedboat lain mendekat. Seutas tali dilemparkan, lalu perahu kami mulai ditarik perlahan membelah arus. Di tengah gerakan lambat itu, aku merasa seperti sedang memasuki lapisan lain dari Palembang. Lapisan yang tidak bisa ditemukan di mal, hotel, atau jalan raya. Lapisan yang masih menyimpan napas sungai. Di sanalah, di kejauhan yang mulai mendekat perlahan, Pulau Kemaro akhirnya muncul.

Shoe footprints



sepatualang_pulau kemaro, palembang
Gerbang klenteng dengan pilar-pilar merah dan deretan lampion.

 

Nama “Kemaro” konon berasal dari kata kemarau—pulau yang tetap muncul meski Sungai Musi sedang pasang tinggi. Ketika langkah pertama kami menyentuh daratannya, aku langsung merasakan suasana yang berbeda. Angin di pulau ini lebih tenang. Udara terasa lebih lembap, namun juga lebih pelan.

Gerbang klenteng berdiri menyambut dengan pilar-pilar merah dan deretan lampion yang menggantung di langit-langitnya. Tulisan “SERIWIJAYA PALEMBANG” membentang tegas di atas gerbang, seolah mengingatkan siapa saja bahwa tempat ini bukan sekadar pulau kecil wisata. Ini adalah potongan ingatan kota tua.

Yunis berdiri cukup lama di depan gerbang itu. Blus cokelat mudanya bergerak pelan tertiup angin sungai, sementara kameranya sibuk merekam detail-detail kecil yang mungkin luput dari mata orang lain.

Lalu aku melihat pagoda itu. Menjulang tinggi dengan warna merah, hijau, dan emas di bawah langit mendung yang kelabu. Cantik sekali. Aku segera menarik langkah Yunis lagi. Ayo… jalan lagi.

Setelah terlalu lama duduk di atas perahu yang rusak tadi, akhirnya aku kembali bebas menyentuh tanah. Yunis meluruskan kakinya di atas konblok merah halaman pulau, sementara aku merebah santai menikmati sejuk Kemaro. Dari bawah sini, pagoda sembilan lantai itu tampak jauh lebih megah. Seolah tumbuh langsung dari tubuh Sungai Musi menuju langit.


sepatualang_pulau kemaro, palembang
Lampion, angin sungai, dan langkah-langkah pelan yang mengendap di tanah tua.


Kami berjalan mengelilingi pulau itu. Sekali. Lalu dua kali. Aku memang selalu suka berjalan lebih jauh daripada yang direncanakan. Kami melewati pohon cinta, makam tua, altar sembahyang, dan sudut-sudut sunyi yang dipenuhi aroma dupa samar. Di sela langkah-langkah itu, Pulau Kemaro terus membisikkan kisah lama tentang Tan Bun An dan Siti Fatimah—tentang cinta yang karam bersama Sungai Musi dan akhirnya berubah menjadi legenda yang terus hidup sampai sekarang.


sepatualang_pulau kemaro, palembang
Ada rasa damai yang sulit dijelaskan ketika dupa, doa, dan angin sungai bertemu di tempat yang sama.


Makam muslim dan klenteng berdiri berdampingan tanpa terasa saling menjauh. Warung-warung kecil tetap hidup dari para peziarah dan wisatawan yang datang silih berganti. Perahu-perahu tetap hilir mudik membawa orang-orang yang ingin melihat sejarah dari dekat. Semuanya mengalir saja seperti air sungai.

Sebelum pulang, kami sempat singgah di sebuah warung terapung di tepi Musi. Yunis dan suaminya duduk berdampingan di kursi plastik jingga sambil menikmati pindang ikan baung, nasi putih hangat, dan es jeruk dingin. Aku menyukai momen seperti itu. Bukan tentang tempat mewah atau makanan mahal, tetapi tentang jeda setelah perjalanan.

Sore mulai turun ketika kami kembali menaiki speedboat. Dan kali ini, mesin perahu bekerja terlalu baik. Kak Wandi memacu perahu dengan kecepatan penuh membelah arus Musi yang bergelombang. Perahu kami melompat-lompat di atas air, sementara cipratan sungai berkali-kali menghantam tubuh Yunis dan suaminya hingga pakaian mereka basah. Aku ikut basah. Namun aku menyukainya. Air sungai terasa dingin dan liar. Di tengah hantaman itu, suami Yunis menyeka wajahnya sambil tertawa keras. “Jadi wong Plembang nian lah minum air Sungai Musi.” Kami semua tertawa.

Namun di balik candaan itu, ada kepercayaan lama yang diam-diam terasa hangat di hati. Orang-orang Palembang percaya, siapa pun yang pernah meminum air Musi, suatu hari nanti akan kembali lagi ke kota ini. Dan mungkin sore itu, tanpa sadar, Musi memang sedang menandai kami. Membasahi tubuh kami. Mengikat langkah kami. Membisikkan bahwa suatu hari nanti kami akan datang lagi.

Aku tahu itu. Karena bahkan ketika perahu mulai mendekati dermaga Pasar 16 Ilir dan perjalanan perlahan selesai, aku masih ingin terus berjalan. Masih ingin menarik langkah Yunis pelan-pelan sambil berkata: Ayo… kita jalan lagi.[yk]

 


 

“Dan mungkin benar kata orang-orang Palembang: sekali saja Musi menyentuh tubuhmu, sebagian langkahmu akan selalu tertinggal di sana.”

—Sepatualang—

 

 


 

Catatan Perjalanan Menuju Pulau Kemaro :

Jika suatu hari langkahmu membawamu ke Palembang, cobalah datang ke tepian Musi dari belakang Pasar 16 Ilir atau kawasan Benteng Kuto Besak (BKB). Dari sana, denyut sungai terasa jauh lebih nyata dibanding sekadar memandangnya dari atas Jembatan Ampera. Perahu-perahu ketek dan speedboat biasanya sudah berjajar sejak pagi.

¨     Kami berangkat sekitar pukul satu siang menggunakan speedboat dengan tarif Rp300.000 untuk perjalanan pulang-pergi menuju Pulau Kemaro. Tarif bisa berubah tergantung jenis perahu, jumlah penumpang, dan kemampuan menawar. Perahu ketek tradisional umumnya sedikit lebih murah, sementara speedboat membuat waktu tempuh lebih singkat.

¨     Dalam kondisi sungai yang bersahabat, perjalanan biasanya hanya memakan waktu sekitar 10–15 menit. Namun Sungai Musi kadang punya kehendaknya sendiri. Arus deras, lalu lintas kapal logistik, atau mesin perahu yang tiba-tiba rewel bisa membuat perjalanan lebih lama dari perkiraan. Dan justru di situlah petualangannya terasa.

¨     Pulau Kemaro sendiri dibuka untuk umum setiap hari. Waktu terbaik untuk datang menurutku adalah pagi menjelang siang atau sore hari ketika cahaya matahari mulai lembut dan angin sungai terasa lebih ramah untuk berjalan kaki mengelilingi pulau.

¨     Di sana sudah tersedia jalur pedestrian, warung kecil, area klenteng, pagoda sembilan lantai, makam bersejarah, hingga beberapa toko suvenir sederhana. Jangan berharap suasana wisata modern yang terlalu rapi. Daya tarik Kemaro justru terletak pada kesederhanaannya—pada rasa tua yang masih tinggal di sela pepohonan, dupa, dan angin sungai.

¨     Dan satu hal lagi. Jika menaiki speedboat saat sore hari, siapkan pelindung kamera atau kantong antiair. Gelombang Musi bisa cukup liar, dan cipratannya sering datang tanpa aba-aba. Siapa tahu, Sungai Musi juga sedang ingin “menandai” langkahmu seperti yang ia lakukan kepada kami sore itu.

0 comments:

Post a Comment